Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Mata-mata


Kanya menatap seorang wanita yang tergolek lemas di balik dinding kaca ruang ICU. 'Mami' gumam Kanaya. William lalu menggenggam tangannya. "Tabahkan hatimu Kanaya."


Perlahan air mata pun mulai mengalir membasahi pipi Kanaya. Hatinya begitu sakit melihat kenyataan yang ada di hadapannya. 'Mami, kenapa baru sekarang aku tahu kau adalah ibu kandungku?' gumam Kanaya sembari mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


"Tenangkan dirimu Kanaya." kata William. Fadil yang melihat William memperlakukan Kanaya dengan begitu mesra menatap mereka dengan tatapan tajam.


"William, dia ibu tirimu, kenapa kau begitu perhatian padanya." kata Fadil.


Seketika semua orang pun tersentak mendengar kata-kata Fadil. "Jadi benar yang Sapto katakan jika Kanaya adalah mata-mata Mama untuk mengawasi kita semua."


"Lebih baik kita tidak membicarakan hal ini dulu Pa." jawab William.


"Tapi papa membutuhkan jawaban dari kalian William."


"Memangnya kenapa jika Kanaya memata-matai kita?" kata Devin menimpali.


"Mami berhak mencurigai semua orang yang ada di dalam rumah untuk menjaga keselamatan dirinya." lanjut Devin.


"Tapi apakah papa juga perlu dicurigai sampai perlu menikahkan papa dengan Kanaya."


"Kenapa tidak Pa? Bukankah Papa pernah berselingkuh dengan Tante Lia? Papa bahkan tidak memiliki alibi yang kuat. Bahkan beberapa saat sebelum Papa pulang ke rumah, kami juga mencurigai jika Papa lah dalang dari semua ini."


Fadil hanya terdiam mendengar kata-kata Devin, dia lalu mengalihkan pandangannya pada William. "William, kenapa kau begitu perhatian pada Kanaya? Apakah kau memiliki hubungan di belakangku?"


William dan Kanaya pun terdiam. "Hahahaha Papa, mereka sudah memiliki hubungan jauh sebelum Kanaya menikah denganmu." kata Devin. Raut wajah Fadil pun berubah menjadi merah. "Willi, benarkah yang dikatakan Devin?"


Namun William hanya terdiam. "William, papa bertanya padamu, benarkah yang dikatakan Devin?"


William lalu mengangguk perlahan. Perasaan Fadil pun kian berkecamuk menahan amarah, dia merasa dipecundangi oleh semua orang, apalagi dia sempat begitu tertarik pada Kanaya.


"Jadi kalian semua mempermainkanku." kata Fadil.


"Maafkan William Pa, Willi juga tidak tahu kalau Mama akan menikahkan Kanaya dengan Papa. Kami terpaksa melakukan semua ini untuk Mama."


"Hei tua bangka, sudah tidak usah marah, ingat bagaimana kau dulu berselingkuh dan mempermainkan Mami. Mami sudah sangat baik padamu dan memaafkan semua kesalahanmu. Seharusnya kau sadar betapa sakitnya Mami menghadapi semua tingkah lakumu. Sebagai suami, kau bahkan tidak pernah bisa melindungi Mami sampai dia mengalami kejadian seperti ini." kata Devin


Fadil begitu terkejut mendengar kata-kata Devin. "Benar yang dikatakan Devin, Mami berhak melindungi dirinya termasuk dari suami yang selalu mempermainkannya." kata Kanaya.


Fadil semakin tertekan mendengar kata-kata Kanaya. Dia lalu mendekat ke dinding kaca ruang ICU dan menatap Lidya dengan perasaan sendu. "Maafkan papa ma, papa tidak pernah bisa menjadi suami yang berguna untuk Mama. Papa tidak pernah bisa melindungi Mama." kata Fadil. Dia lalu berbalik memandangi anak-anaknya satu per satu.


"Papa minta maaf pada kalian semua. Papa tidak pernah menjadi orang tua yang baik untuk kalian, papa tidak pernah bisa menjadi kepala keluarga yang mampu melindungi anak-anak dan istrinya." kata Fadil sambil sedikit terisak. William lalu mendekat pada Fadil. "Sudah pa, semua sudah berlalu, lebih baik kita memperbaiki keadaan saat ini, dan yang paling penting adalah kesembuhan Mama."


"Iya Willi." kata Fadil. Dia lalu mengarahkan pandangannya pada Kanaya, dan perlahan mendekatinya.


"Kanaya maafkan aku, mulai saat ini juga kujatuhkan talak padamu Kanaya. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya, dan kau menikahlah dengan William."


DEGGGG


Kanaya begitu terkejut mendengar kata-kata Fadil. "Benarkah yang Om katakan?"


"Terimakasih Pa." kata William.


Tiba-tiba seorang dokter keluar dari pintu ruangan ICU. "Kalian keluarga dari Nyonya Lidya?"


"Ya saya suaminya." jawab Fadil.


"Adakah disini yang bernama Casandra?"


"Saya Casandra." jawab Kanaya.


"Nona Casandra, mari ikut dengan saya, Nyonya Lidya ingin bertemu dengan anda."


"Baik Dok." jawab Kanaya.


Kanaya lalu masuk ke dalam ruang ICU, setelah dipersilahkan oleh dokter dia lalu mendekat pada seorang wanita yang terbaring dengan begitu lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya dipenuhi berbagai selang dan peralatan medis lainnya.


"Mami." kata Kanaya. Lidya pun perlahan membuka matanya.


"Casandra, kau ada di sini." kata Lidya lirih.


"Iya Mami, mami cepat sembuh, Casandra akan selalu ada di samping Mami dan merawat Mami." kata Kanaya sambil membelai rambut Lidya dan mengecup keningnya.


"Jadi kau juga sudah tahu jika kau adalah putriku Nak?"


Kanaya lalu mengangguk. "Mami bertahan ya, Casandra ingin Mami sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kami semua." kata Kanaya sambil menangis tersedu-sedu. Lidya menatap Kanaya dengan tatapan yang begitu sendu sambil tersenyum. Tiba-tiba mata Lidya perlahan tertutup, alat elektrokardiograf yang ada di sampingnya pun berbunyi dan layarnya menunjukkan sebuah garis lurus yang membuat Kanaya begitu panik. Kemudian, dokter pun datang mendekatinya. "Nona Casandra, tolong anda keluar dulu, saya akan mencoba menangani Nyonya Lidya.


Kanaya lalu keluar dari ruang ICU kemudian melihat dokter yang beberapa kali menempelkan alat pacu jantung di dada Lidya. Tubuh Lidya beberapa kali terangkat, namun sampai beberapa menit dokter mengambil tindakan, tak ada respon lagi dari tubuh Lidya, dan alat elektrokardiograf pun berbunyi kian nyaring.


Tubuh Kanaya terhempas ke lantai, air mata begitu deras membasahi wajahnya. William kemudian memeluknya "Tenangkan dirimu Kanaya."


"William kenapa semua ini terjadi padaku? Baru saja aku tahu jika dia adalah ibu kandungku, kenapa di saat ini juga aku harus kehilangan dirinya Willi, kenapa Tuhan tidak pernah adil padaku????"


"Kanaya, tenanglah, ini sudah takdir."


"Kenapa takdir begitu kejam padaku William? Apakah aku tidak berhak mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku? Aku bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan saat aku bertemu dengannya kami pun harus berpisah."


"Casandra, ada aku." kata Devin yang tiba-tiba mendekat pada Kanaya.


"Casandra, aku adalah adikmu, kita lahir dari darah yang sama, aku dulu memang begitu membencimu, namun hari ini aku sadar bagaimanapun juga kita adalah saudara, aku berjanji untuk menyayangimu sampai kapanpun." kata Devin sambil sedikit terisak.


Kanaya begitu terkejut mendengar perkataan Devin. "Devin, kauuu."


"Ya Casandra, aku tidak akan pernah lagi membencimu, kita sekarang hanya tinggal hidup berdua, kita harus saling menjaga dan menyayangi Casandra, selama Mami hidup, aku bahkan tidak pernah berusaha membahagiakan Mami, kini aku benar-benar menyesal."


"Devin, aku juga menyayangimu, kau adalah adikku Devin." jawab Kanaya kemudian memeluk Devin. William dan Fadil melihat keduanya sambil menyunggingkan sedikit senyuman. Rasa sedih karena kehilangan Lidya kini bercampur penuh keharuan.