
*Flashback*
"Ayah, kita mau kemana?" kata seorang anak kecil berusia delapan tahun.
"Kita akan ke rumah barumu Nak."
"Ayah juga ikut tinggal bersama kami kan?" Laki-laki itu lalu menggeleng.
"Kita sudah sampai Nak." kata laki-laki itu.
"Ayo kita turun." kata seorang wanita yang ada di dalam mobil.
"Marta, aku minta kau menjaga anak-anakmu dengan baik. Tenang saja, setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk kalian. Aku sudah menganggap mereka sebagai anak kandungku."
Namun wanita bernama Marta tidak mengindahkan kata-kata laki-laki itu. Dia turun begitu saja dari mobil tanpa memandang ke arah mantan suaminya.
"Anak-anak ayo turun."
"Anak-anak kalian jaga diri kalian baik-baik ya sayang. Ayah akan sering mengunjungi kalian."
"Baik Yah."
Mereka lalu masuk ke sebuah rumah sederhana yang terletak di salah satu perkampungan di pinggiran kota Bandung.
"Si"l... Si*l gara-gara kalian, nasib kita jadi seperti ini."
"Memangnya apa salah kami Bu?"
"Karena kebodohan kalian, Ayahmu jadi tahu perselingkuhan yang ibu lakukan!"
"Ibu, kata Bu Guru, kami harus bicara jujur, jadi saat Ayah tanya kemana Ibu pergi, kami bilang saja Ibu sedang di rumah tetangga kita, Om Heru."
"Itulah kesalahan kalian, seharusnya kalian menyadarinya!!!" kata wanita itu sambil membentak dan menampar mereka satu per satu.
Dua orang anak kecil itu hanya berlari ketakutan lalu masuk ke dalam kamar. "Mba, aku takut kalau Ibu marah-marah."
"Tenang, di sini ada Mba, kamu aman."
"Iya Mba."
Bertahun-tahun dua orang anak itu melewati hari-hari bersama Ibunya dengan penuh kesedihan. Setiap hari yang dikerjakan ibunya hanya pergi bersama seorang laki-laki lalu kembali di malam hari, mereka mengurus diri mereka seorang diri sedari kecil hingga dewasa. Sesekali Hasan, Ayah mereka menemui mereka di sekolah dan memberikan uang saku.
Tak terasa hari dan tahun berganti. Kedua orang anak itu telah tumbuh menjadi seorang remaja. Suatu hari, saat mereka akan berangkat ke Sekolah, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang begitu keras. Beberapa orang laki-laki bertubuh besar tiba-tiba datang ke rumah itu.
"Heiiiii keluar kalian, keluar!"
"Maaf, kenapa anda berteriak-teriak di rumah kami?"
"Rumah kalian? Hahahaha, jangan bermimpi! Mulai hari ini rumah ini sudah menjadi milik kami!!!"
"Bagaimana mungkin? Ayah memberikan rumah ini untuk kami!"
"Tapi Ibu kalian sudah menjual rumah ini pada kami! Hahahaha, jadi sekarang kalian angkat kaki dari rumah ini!!! Cepat atau kalian akan kuusir secara paksa dengan kekerasan!!!"
"Mba, kita harus bagaimana?"
"Sabar dek, kita memang harus pergi dari rumah ini karena Ibu sudah menjualnya."
"Kenapa Ibu tega pada kita Mba?"
"Jangan bersedih, Mba akan selalu ada untukmu."
Dua oran kakak beradik itu lalu pergi dari rumah yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun.
"Mba kita harus kemana?"
"Kita ke rumah Ayah Hasan."
"Iya Mba."
"Mba lalu kita harus kemana?"
"Sabar dek, kita sementara hidup di jalanan dulu ya. Kita bisa bekerja apapun untuk bertahan. Kita pasti bisa menjalani ini semua."
"Iya Mba."
Bertahun-tahun kedua kakak beradik itu hidup di jalanan, berbagai pekerjaan mereka jalani. Hingga saat usia mereka menginjak dua puluh tahun, akhirnya sang kakak mendapatkan pekerjaan sebagai buruh cuci piring di rumah makan, dan kehidupan keduanya pun mulai membaik. Mereka tinggal di rumah makan tersebut sehingga mereka tidak perlu lagi hidup di kolong jembatan ataupun rumah bedeng yang sewaktu-waktu roboh terkena hujan dan angin.
Paras sang kakak yang cantik, membuat sang pemilik rumah makan terpikat pada kecantikan sang kakak. Akhirnya mereka pun menikah, meski orang tua laki-laki tersebut tidak begitu menyetujui pernikahan mereka. Tak berapa lama, wanita itu pun hamil. Sang suami pun semakin mencintai istrinya, sedangkan sang ibu semakin membencinya.
Akhirnya, waktu kelahiran pun tiba. Wanita itu melahirkan seorang bayi yang cantik. Pasangan suami istri itu lalu memberi nama "Kanaya." pada bayi mereka. Rumah tangga mereka kini kian lengkap dan bahagia karena Kanaya tumbuh menjadi anak yang cantik dan lincah, hingga akhirnya sebuah kemalangan pun menimpa mereka saat Kanaya berusia empat tahun.
Saat wanita itu membawa Kanaya berjalan-jalan di sebuah pasar malam, sebuah kecelakaan terjadi saat Kanaya menaiki salah satu wahana di pasar malam tersebut. Salah satu pengait di bianglala yang dinaikinya tiba-tiba terlepas, dan tubuh Kanaya terpental jatuh ke tanah saat dia ketakutan dan mencoba turun dari bianglala tersebut.
Wanita itu begitu panik melihat tubuh putrinya bersimbah darah di depannya. Bantuan medis yang datang pun tak dapat membantu, karena Kanaya telah pergi untuk selama-lamanya. Dengan perasaan hancur, dia membawa jenazah putrinya kembali ke rumah dengan tubuh penuh luka.
Suaminya begitu marah padanya melihat kenyataan pahit yang harus dialami putrinya. Dia lalu menampar dan memukul tubuh istrinya dengan bertubi-tubi. Sang Ibu yang membencinya pun ikut menghasut laki-laki itu untuk mengusir istrinya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, sudah bagus kuangkat derajatmu dari seorang wanita jalanan menjadi seorang wanita terhormat, tapi menjaga seorang anak pun tak bisa!! Dasar bodoh!!! Sekarang angkat kakimu dari rumah ini!!"
"Tapi Mas, ini bukanlah kesalahanku, ini adalah sebuah kecelakaan."
"Kecelakaan katamu? Apa kau menemani Kanaya saat menaiki bianglala terkutuk itu? Kau hanya berdiri di bawah kan, sedang anakmu menaikinya sendirian!!!"
"Maaf Mas, aku takut ketinggian jadi kusuruh Kanaya menaiki bianglala itu sendiri."
"Lihat itulah kebodohanmu dan kau tak mengakuinya!!!"
"Maaf Mas."
"Sekarang kau dan adikmu pergi dari rumah ini dan jangan pernah perlihatkan wajahmu kembali padaku!!"
Akhirnya kedua kakak beradik itu pun pergi dari rumah laki-laki itu. Mereka kembali lontang lantung hidup di jalanan. Sejak kejadian itu, kejiwaan sang kakak sedikit terguncang, jika melihat seorang gadis kecil dia selalu menganggap itu adalah putrinya.
Hingga suatu hari saat mereka sedang mengemis di sebuah taman di kota Bandung. Ada segerombolan satpol PP yang sedang melakukan sidak. Mereka pun lari tunggang-langgang menghindari kejaran para Satpol PP. Namun tiba-tiba netra sang kakak tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil menikmati es krim cokelat, dia lalu menghampiri gadis itu kemudian menggendongnya.
"Mba, apa yang kau lakukan? ini anak siapa?" kata sang adik pada kakaknya.
"Sudahlah, siapa tahu anak ini berguna untukku."
"Mba kalau orang tuanya mencarinya gimana? Dia masih kecil, mungkin usianya masih empat tahun. Mba bisa kena kasus penculikan anak."
"Sudah jangan banyak bicara, ayo cepat kita masuk ke mobil itu."
Namun belum sempat sang adik masuk ke dalam mobil sang adik sudah tertangkap dahulu oleh gerombolan Satpol PP.
"Santiii... Santiiii..."
"Mba Renaaaa..."
Mereka hanya bisa berteriak satu sama lain karena inilah untuk pertama kalinya hidup mereka terpisah. Sebelum satpol PP itu memasukkan tubuhnya ke dalam mobil, Santi akhirnya bisa melepaskan dirinya dengan menggigit tangan beberapa orang petugas kemudian bersembunyi di salah satu semak-semak. Saat keadaan dirasa cukup aman, dia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Namun, saat Santi akan berjalan keluar taman, dia melihat seorang wanita tampak menagis kebingungan sambil sedikit berteriak.
'Jangan-jangan, wanita itu adalah orang tua dari anak yang dibawa Mba Rena.' gumam Santi. Dia lalu mendekat pada wanita yang sedang menangis tersebut.
"Bu, apa yang terjadi? Kenapa Ibu terlihat panik?"
"Putri saya Mba, Casandra, putri saya hilang, dia masih kecil baru berusia empat tahun."
'Jadi benar, dia adalah orang tua anak yang dibawa Mba Rena.' gumam Santi.
"Bolehkah saya ikut mencarikan Bu?"
"Tentu boleh, terimakasih. Siapa namamu?"
Santi lalu terdiam dan termenung. "Siapa namamu? Saya Lidya." kata wanita itu lagi pada Santi.
"Saya Anti."