Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Syndicate


Kami lalu masuk ke dalam rumah, aku sebenarnya masih penasaran dengan orang yang mengintip kami berdua. Kemungkinan dia memang sedang menyelidiki keberadaanku di rumah ini. 'Om Fadil dan William sangat tidak mungkin, karena mereka saat ini sedang di kantor, lalu Devin pun masih tertidur karena dia baru saja pulang pukul empat pagi dalam keadaan mabuk. Apa di rumah ini ada orang lain yang harus kucurigai?' gumamku dalam hati.


Aku memikirkan kejadian ini, sambil menyusuri seluruh rumah ini, 'Mungkin aku bisa menemukan bukti jika kususuri rumah ini.' batinku dalam hati. Hingga tanpa sadar kini aku sudah berdiri di samping kolam renang di taman belakang rumah.


"Nyonya Kanaya." tiba-tiba suara seorang pembantu telah berdiri di sampingku.


"Nyonya, ini saya buatkan teh untuk anda dan Nyonya Lidya, ini adalah jam minum teh untuk Nyonya Lidya."


"Taruh saja disini Bi, nanti saya minum."


"Baik Nyonya."


Saat akan meminum teh yang ada di depanku, tiba-tiba ponselku berdering. 'William.' gumamku dalam hati. Tak ingin ada orang yang curiga aku lalu mengangkat telepon William di dalam kamar.


[Hallo William.]


[Temui aku nanti di D'Best Hotel saat jam makan siang.]


[Tapi Willi.]


[Tidak ada tapi-tapian, temui aku atau kuboorkan rahasia kita.]


[Baik.]


[Bagus, tenang saja aku tak akan melakukan apapun padamu, aku hanya ingin berbicara padamu tanpa seorang pun tahu.]


Aku lalu menutup telepon dari William, lalu pergi ke taman belakang kembali tempatku akan meminum teh dengan Tante Lidya.


Baru saja aku akan meminum teh itu, aku dikejutkan oleh semut yang mengerubuti tehku semua dalam keadaan mati. 'Pasti ada racun di dalam teh ini.' batinku dalam hati.


Aku lalu membuang teh yang ada di depanku. 'Ku*ang *jar, tampaknya dia memang tidak menyukai kehadiranku di rumah ini, tapi siapa? Devin, Om Fadil, William? Semua patut dicurigai karena saat pembantu tadi meletakkan teh ini, lalu aku meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar saat menerima telepon dari William. Pasti ada seseorang yang telah menaruh racun di teh ini saat aku pergi. Jika mereka semua memiliki alibi untuk tidak melakukannya, pasti mereka telah menyuruh seseorang untuk melakukan ini semua.' gumamku dalam hati.


"Kanaya." tiba-tiba suara Tante Lidya memanggilku.


'Sebaiknya kurahasiakan dulu semua ini dari Tante Lidya.'


"Tante, Kanaya sudah menunggu Tante, tapi teh yang akan kita minum sudah banyak diminum oleh semut, jadi Kanaya buang saja tehnya."


"Oh ya sudah biarkan Bibi yang membuatkan teh lagi untuk kita. Biiiii... Bibi tolong buatkan teh lagi."


Pembantu itu lalu datang ke arah kami berdua, saat dia akan pergi ke dapur, aku menghentikan langkahnya. "Tunggu aku ikut."


"Nyonya mau ikut? Untuk apa?"


"Aku hanya ingin melihat-lihat dapur rumah ini. Boleh kan Tante Lidya?"


"Tentu boleh sayang."


Aku lalu mengikuti pembantu itu ke dapur, dia lalu membuatkan teh untuk kami berdua. 'Tidak ada yang mencurigakan, tapi apa itu?' Ketika aku akan mengambil suatu bungkusan plastik suara Bibi mengagetkanku.


"Nyonya Kanaya, ini tehnya sudah siap."


"Oh iya Bi, sini biar saya yang bawa ke belakang."


"Baik Nyonya."


Aku lalu membawa teh ke belakang tempat Tante Lidya duduk. Kami lalu menghabiskan waktu selama satu jam bercengkrama, namun kami tidak membicarakan mengenai keluarga Tante Lidya, aku sadar jika kami berbicara terlalu banyak hari ini akan sangat berbahaya bagi keselamatan kami berdua. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, aku lalu pamit untuk menemui William.


"Tante, maaf saya harus menemui seseorang."


"Siapa Kanaya?"


"Seseorang yang ingin menyewa apartemen Kanaya tante, sayang kalau apartemennya kosong nanti rusak, jadi Kanaya bermaksud menyewakan apartemen itu."


"Benar katamu Kanaya, temuilah orang itu."


"Hati-hati di jalan Nak."


Kini aku sudah sampai di hotel tempat aku akan bertemu dengan William, sungguh hatiku sangat tidak menentu. Jantungku berdetak dengan begitu kencang, tanganku pun sampai gemetar, kaki ini begitu sulit untuk melangkah. Sebenarnya aku begitu ragu dan ingin kuurungkan niatku, namun sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke dalam ponselku.


[Kanaya aku sudah di kamar 501. Jangan mencoba kabur dariku. Ingat jika kamu tidak datang, aku akan membocorkan semua pada Mama.]


[Tenang saja William, aku bukanlah seorang pengecut, aku sudah di hotel tempatmu menungguku.]


[Bagus, cepat temui aku di kamar.]


Aku lalu masuk ke dalam hotel dan menanyakan pada resepsionis kamar 501. " Ayo saya antar Nyonya, Tuan William sudah menunggu."


Dengan diantar resepsionis hotel, aku lalu menuju kamar 501. Pelan-pelan kubuka pintu kamar itu, jantung yang sudah berdetak begitu kencang hampir tak bisa kukendalikan saat melihat sosok William kini sudah berdiri di hadapanku.


"William."


"Duduklah Kanaya, tenang aku tidak akan berbuat macam-macam ataupun menyakitimu."


Aku lalu duduk di sampingnya. "Kanaya, tidak usah berbohong lagi padaku, aku sudah tahu semua rencanamu dan Mama."


"Jadi kamu yang sudah mengintai kami Willi?"


"Mengintai? Apa maksudmu?"


"Maaf, tadi saat aku sedang berbincang-bincang dengan Tante Lidya, ada seseorang yang mengintai kami berdua."


"Percayalah itu bukan aku Kanaya. Aku sebenarnya sudah tahu jika ada yang mengincar keselamatan Mama, itulah sebabnya aku mengalami kecelakaan saat pulang dari Bandara Kanaya."


"Tapi bukankah kamu bilang jika kamu mengalami kecelakaan untuk menyelamatkan nyawaku?"


"Ya itu benar Kanaya, sepulang dari Bandara sesaat setelah kita berpisah aku mendapat telepon dari seseorang yang mengancam keselamatan nyawamu, lihatlah semua bukti di ponselku, aku sudah memulihkan lagi semua pesan yang tersimpan di emailku sebagai bukti jika suatu saat aku membutuhkannya."


Aku lalu melihat ponsel milik William, begitu banyak ancaman yang ditujukan untuknya yang bertujuan mengancam keselamatanku dengan Tante Lidya. Melihat bukti-bukti ini aku mengambil kesimpulan jika bukan William yang menginginkan kematian Tante Lidya.


"Bukankah kamu mengatakan jika kita pulang dari rumah karena Devin berulah?"


"Itu hanya alasanku Kanaya, karena tidak ingin kamu khawatir padaku. Aku langsung menyusulmu menuju apartemen, namun saat aku baru saja turun dari taksi, aku melihat seseorang mengarahkan senapan padamu, aku lalu berlari, akhirnya aku yang terkena tembakan tersebut, sekaligus mengalami tabrak lari."


"William maafkan aku, aku tak tahu, saat itu aku begitu panik karena Tania berulangkali menelponku."


"Tidak apa Kanaya, semua sudah berlalu."


"William, apa yang sebenarnya telah terjadi pada keluarga kalian? Bukankah Tante Lidya orang yang baik mengapa dia harus mendapat ancaman seperti ini?"


"Ini tidak semudah yang kamu duga Kanaya, ada begitu banyak konspirasi karena Mama memegang rahasia beberapa orang-orang penting di negeri ini."


"Lalu kenapa Tente Lidya hanya mencurigai kalian bertiga?"


"Kanaya, Mama adalah orang yang sangat baik dan polos, dia tak pernah berfikir jika dia bergaul dengan lingkungan toxic yang bisa membahayakan nyawanya jika Mama tidak menuruti keinginan mereka. Sudah berulangkali aku menyelamatkan Mama dari ancaman pembunuhan yang mereka lakukan tanpa Mama ketahui."


"Kenapa kamu tidak membicarakan ini semua pada Tante Lidya, William?"


"Sebenarnya ini begitu rumit, dan Mama tak semudah itu percaya, kamu harus membantuku menyelamatkan Mama Kanaya, dan orang yang pantas kau curigai di rumahku adalah Papa dan Devin."


"Om Fadil dan Devin?"


"Ya Papa, dia pernah memiliki hubungan terlarang dengan Tante Lia, apakah kamu tahu Kanaya, jika Tante Lia termasuk bagian sindikat perdagangan wanita? Dan yang mereka takutkan jika mereka tertangkap adalah Mama akan membocorkan rahasia mereka semua pada pihak kepolisian dan publik, sedangkan kamu tahu sendiri Tante Lia adalah orang yang haus pujian."


Aku begitu terkejut mendengar semua kenyataan dari William. 'Tuhan, kenapa aku jadi masuk dalam pusaran yang begitu rumit seperti ini?' gumamku dalam hati.


"Lalu Devin?"


"Dia menginginkan seluruh harta kekayaan Mama, dia ingin menyingkirkanku dan anak kandung Mama, Casandra."