
Pagi hari, Kanaya pulang ke rumah lalu langsung menuju ke meja makan, tampak Devin sedang asyik menikmati sarapannya. Melihat kedatangan Kanaya, Devin pun tersenyum.
"Sepertinya kau dan William begitu menikmati kepergian Mami dan Papa, setiap hari kalian begitu bebas menyalurkan naf*u kalian dimanapun kalian berada."
"Jangan ikut campur urusan pribadiku dengan William, itu bukan urusanmu Devin, yang terpenting adalah kerjakan tugasmu dengan baik dan setelah itu aku akan membantumu."
"Aku sudah melakukan tugasku dengan baik Kanaya, apakah kau tidak ingin tahu yang kutemukan kemarin?"
Mata Kanaya melotot mendengar kata-kata Devin. "Apa yang kau temukan?"
Devin lalu mengambil sebuah botol kecil di salah satu saku jaketnya. "Lihat ini Kanaya, dan aku sudah memeriksakan samplenya di laboratorium, ini adalah racun yang berfungsi untuk melemahkan jantung."
"Apaaaa? Dimana kau menemukannya?"
"Bahkan aku jauh lebih pintar darimu Kanaya karena penjahat di rumah ini adalah orang yang kucurigai."
"Jadi, Mba Reni yang melakukan semua itu?"
"Ya, aku melihat dia mengendap-endap di dapur, lalu aku mengikutinya ke kamar, setelah itu aku melihat dia menyimpan botol ini di lemarinya. Lalu aku berpura-pura menyuruhnya untuk membelikan makanan untukku dan saat dia keluar rumah aku mengambil botol ini."
"Lumayan juga hasil kerjamu Devin."
"Ada apa ini?"
"William lihat, kita sudah menemukan siapa yang meracuni Tante Lidya."
William lalu mengerutkan keningnya. "Hari ini kau pasti akan memuji kehebatanku William karena aku jauh lebih pintar darimu." kata Devin sambil menyunggingkan senyum dan memegang botol racun di tangannya.
"Kita harus memanggil Mba Reni sekarang."
"Panggil Reni Kanaya."
Beberapa saat kemudian Reni datang bersama Kanaya disertai kecemasan di wajahnya. "Maaf ada apa Tuan dan Nyonya memanggil saya."
Devin lalu mendekat pada Reni dan memegang dagunya. "Lihat apa ini yang kutemukan di lemarimu Reni? Jelaskan pada kami obat apa ini?"
"Emh..E.. Itu, anu Tuan."
"Katakan yang jelas!"
"Saya juga menemukan itu di dapur Tuan."
"Jangan berbohong kamu Reni, pasti kamu yang telah meracuni Mami selama ini!"
"Ampun Tuan bukan saya pelakunya."
"Jangan banyak alasan, aku sudah tahu semuanya. Cepat katakan pada kami siapa yang sudah menyuruhmu melakukan ini semua?"
"Ampun Tuan, saya benar-benar tidak tahu." kata Reni sambil menagis.
"Alah, mau alasan apa lagi kamu." kata Devin sambil menjambak rambut Reni.
"Devin jangan emosi, sabar Devin."
"Jangan emosi katamu Willi? dia sudah meracuni Mami dan kamu masih mau membelanya?"
"Bukan begitu Devin, kita harus berhati-hati dalam bertindak, karena kita belum tahu siapa dalang dibalik semua ini, lebih baik kita laporkan saja Mba Reni pada Polisi."
"Ampun Tuan, saya cuma orang miskin yang tak tahu apa-apa, jangan laporkan saya pada polisi Tuan, saya takut, anak saya masih kecil-kecil."
Kanaya lalu mendekat pada Devin dan William. "Aku mau bicara pada kalian berdua."
"Mba Reni disini dulu, jangan kemana-mana." kata Kanaya.
William dan Devin lalu mengikuti Kanaya pergi ke ruang tengah. Beberapa saat kemudian mereka menghampiri Reni yang masih berdiri di dekat meja makan sambil menangis. Kanaya lalu mengusap bahu Reni dan menyuruhnya duduk.
"Mba Reni, duduklah, saya dan anak-anak Tante Lidya sudah mengambil keputusan jika Mba Reni tidak akan kami laporkan ke polisi."
"Apa itu benar Nyonya?"
"Ya, tapi Mba Reni harus angkat kaki secepatnya dari rumah ini."
"Mba, ini sudah menjadi keputusan kami, Mba Reni harus meninggalkan rumah ini, atau Mba Reni lebih memilih untuk kami laporkan pada polisi?"
"Oh... oh tidak Nyonya, saya akan pergi dari rumah ini secepatnya."
"Baik, cepat kemasi barang-barang Mba Reni, dan ini ada sedikit uang untuk pulang." kata Kanaya sambil memberikan beberapa uang berwarna merah.
"Baik Nyonya Kanaya, terimakasih."
Reni lalu bergegas masuk kamar untuk mengemasi barang-barangnya. "Devin, kamu ikuti Reni, dia akan membawa kita pada pelaku sebenarnya."
"Baik Kanaya, kuakui kau memang cerdik."
"Tentu Devin, karena itulah aku begitu mencintainya." kata William sambil mengecup kening Kanaya.
"Menjijikan." balas Devin.
"Assalamualaikum. Anak-anak, mami pulang."
William dan Devin begitu terkejut mendengar suara Lidya. "Loh kalian lagi ngapain kumpul di sini? Apa kepergian mami sudah bikin kalian semua jadi akrab?" kata Lidya.
"Tante, kami baru saja selesai sarapan." kata Kanaya sambil melihat Lidya dan Fadil. Seketika Fadil pun mengedipkan sebelah matanya untuk meledek Kanaya.
'Menjijikan.' batin Kanaya.
"Oh, mami pikir kalian lagi ngobrol."
"Mama, William berangkat ke kantor dulu ya."
"Iya Willi, kamu hati-hati di jalan."
"Iya Ma." jawab William lalu pergi meninggalkan rumah itu. Beberapa saat kemudian Reni pun datang menghampiri mereka dengan membawa tas dan barang-barangnya. "Loh, Reni kamu mau kemana?" kata Lidya.
"Emh anu Nyonya."
"Reni ijin pulang kampung Tante, ada sanak saudara yang sakit, tadi udah ijin sama Kanaya."
"Oh ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan ya Ren."
"Baik Nyonya, terimakasih."
Lidya lalu masuk ke dalam kamar sementara Fadil pergi ke dapur untuk menyusul Kanaya. Reni lalu pergi dari rumah sambil tertunduk lesu. Tanpa Reni sadari sepasang mata tengah mengamati kepergian Reni dengan senyum menyeringai di wajahnya.
Kanaya yang asyik memainkan ponselnya begitu terkejut saat Fadil tiba-tiba memeluknya. "Om ngagetin Kanaya aja deh."
"Kanaya, Om rindu sama kamu. Hari-hari Om begitu hampa tanpamu Kanaya."
"Iiihh Om, kan ada Tante Lidya."
"Beda dong sayang, Lidya kan udah tua dan penyakitan, kemarin saja di Bandung dia sempat drop, makanya kami harus menunda kepulangan kami, padahal aku sudah sangat merindukanmu sayang."
Kanaya hanya tersenyum mendengar kata-kata Fadil. "Ya, udah Om lebih baik mandi dulu aja deh, kangen-kangenannya nanti kalau udah mandi ya biar seger."
"Baik cantik." kata Fadil sambil mencium pipi Kanaya, lalu masuk ke kamar mandi. Kanaya lalu menghapus bekas ciuman Fadil di pipinya, kemudia dia bergegas pergi ke kamar Lidya.
"Ada apa Kanaya?"
"Tante, lebih baik kita bicarakan semua ini diluar, ada Om Fadil nanti dia bisa curiga."
"Baik Kanaya, ayo kita pergi sekarang juga."
Saat mereka keluar kamar, tampak Fadil keluar dari kamar mandi. "Loh Mama sama Kanaya mau kemana?"
"Kami pergi sebentar ya Pa, Mama minta temenin Kanaya untuk ikut ke acara pembukaan rumah makan milik Sinta."
"Iya Ma, kalian hati-hati ya di jalan." kata Fadil sambil tersenyum. 'Sial.' batin Fadil dalam hati.
Kanaya dan Lidya lalu pergi meninggalkan rumah. Tampak sepasang mata mengawasi mereka sambil menyunggingkan senyum kecutnya.
"Sebentar lagi saat itu akan tiba."