
"Lalu apa yang harus kulakukan untukmu Kanaya?"
"Awasi semua pembantu di rumah kita, kamu sudah mengenal mereka sejak lama kan?"
"Tentu, bahkan Bi Anti sudah merawatku sejak aku masih kecil, kemungkinan bukan dia pelakunya. Mba Reni baru bekerja dengan kami beberapa bulan yang lalu, sedangkan Pak Sapto dan Pak Seno, satpam di rumah kita sudah bekerja selama puluhan tahun juga. Aku curiga pada Reni, Kanaya."
"Jangan gegabah menarik kesimpulan Devin, siapapun bisa menjadi pelakunya, tetap waspada dan berhati-hati."
"Mengapa aku juga harus mencurigai Bi Anti? Dia yang merawatku sejak kecil."
"Sudah kubilang, kita harus berhati-hati pada semua orang yang ada di rumah kita, semua kemungkinan bisa saja terjadi, dan kau tak ingin kemungkinan buruk itu terjadi kan?"
"Baiklah jika itu maumu Kanaya."
"Baik, aku pergi dulu, aku ada urusan dengan seseorang."
"Apakah aku juga harus percaya padamu Kanaya jika kau tak ingin menyakiti Mami?"
Aku lalu mendekatkan wajahku pada telinga Devin. "Aku berhutang nyawa temanku pada Tante Lidya, apapun akan kulakukan untuk melindunginya, ingat itu Devin!!"
"Bagaimana jika aku pun tahu kalau kau adalah kekasih William? Apakah aku juga harus tetap percaya padamu?"
Aku begitu terkejut mendengar kata-kata Devin. "Itu bukan urusanmu, yang terpenting bagiku adalah melindungi Tante Lidya."
"Apa kau dan William juga berniat menyingkirkanku saat kalian sudah tahu siapa dalang yang ingin mencelakakan Mami?"
"Bukankah sudah kuberitahu jika William tidak memiliki hak sebanyak dirimu dan Casandra? Jika William ingin menguasai harta milik Tante Lidya, sudah dia lakukan dari dulu."
"Baik untuk sementara aku percaya pada kata-katamu, akan kuselidiki semua pembantu yang ada di rumah."
"Baik, terimakasih, aku pergi dulu."
Devin hanya tersenyum kecut melihat kepergianku. Aku hanya bisa berharap dia menjalankan semua rencana yang telah kususun dengan baik, agar aku cepat menemukan siapa yang ingin membunuh Tante Lidya sebenarnya.
Selanjutnya, aku akan menemui Tante Lia, seperti yang telah Om Fadil janjikan, aku akan menemui Tante Lia di restaurant di dalam sebuah Mall. Saat aku melangkahkan kakiku, kulihat sosoknya sudah duduk di salah satu meja di bagian sudut restaurant dengan view pemandangan ibu kota. Dia tampak sedang asyik menghisap rokoknya sambil memainkan ponsel miliknya.
"Selamat siang Tante Lia."
"Kanaya, kamu sudah datang? Lama tak berjumpa denganmu, kamu terlihat begitu cantik Kanaya!".
Aku hanya tersenyum manis mendengar kata-katanya. "Anda juga sangat cantik dan begitu terlihat muda Tante, sepertinya anda sudah menemukan sugar baby baru untuk suami anda Tante."
"Itu yang sebenarnya ingin kubicarakan padamu Kanaya."
"Ingin dibicarakan? Apa maksud Tante?"
"Apakah Lidya sudah banyak bercerita tentangku?"
"Tidak, dia tidak pernah mengatakan apapun tentangmu, yang dia katakan hanya menyuruhku untuk menjadi istri suaminya agar dia tak memiliki hubungan lagi dengan wanita seperti anda Tante Lia." kataku sambil tertawa.
"Dasar, br*ngsek Lidya, berani-beraninya dia menjelekkanku. Kalau saja dia tak menyimpan semua rahasiaku, sudah lama dia kulenyapkan."
"Hahahaha... melenyapkan Tante Lidya? Tahukah anda jika itu yang sebenarnya ingin kulakukan."
Seketika wajah Tante Lia berubah dan menatapku begitu tajam. "Apa yang kau katakan Kanaya? Apa kau bersungguh-sungguh mengatakan itu?"
"Tentu saja, aku memiliki banyak alasan untuk melenyapkan Tante Lidya, jika dia mati, semua harta miliknya akan menjadi milikku. Hahahaha."
"Benarkah yang kau katakan? Atau kau hanya sekedar ingin menjebakku?"
"Untuk apa aku berbohong padamu Tante, apa untungnya bagiku?"
"Jadi karena itu kamu meminta Fadil untuk membuat janji denganku?"
"Hahahaha bagus Kanaya, bagus! Tak kusangka kehadiranmu akan menguntungkanku."
Aku tersenyum kecut mendengar kata-katanya. 'Akhirnya terpancing juga kamu Lia!' batinku dalam hati.
"Tante, apakah Tante pernah mencoba membunuh Tante Lidya?"
"Tentu tidak Kanaya, aku belum pernah mencoba melakukannya, membunuh Lidya bukanlah perkara yang mudah, kematiannya secara tiba-tiba akan merugikan diriku sendiri Kanaya. Semua sahabat kami tahu jika aku memiliki hubungan yang tidak baik dengan Lidya, bahkan Lidya memiliki semua bukti bisnis gelapku, jika Lidya tiba-tiba mati tanpa sebab yang jelas, tentu aku akan menjadi tersangka utama dalam kasus ini."
'Si*l jadi siapa yang ingin membunuh Tante Lidya, jika Tante Lia juga bukan pelakunya.' kataku dalam hati.
"Kenapa kamu diam Kanaya? Apakah kamu ragu untuk melanjutkan rencana kita?"
"Tidak Tante, aku hanya sedang berfikir bagaimana caranya melenyapkan Tante Lidya jika ternyata kondisinya begitu sulit seperti ini."
"Lebih baik kamu melihat kondisi di rumah kalian dulu, kita harus berhati-hati dengan William karena dia akan melindungi Lidya."
"William? Apakah ini ada kaitannya dengan penembakan William?"
"Penembakan?"
"Ya penembakan yang membuat William koma."
"Tidak Kanaya, aku tidak pernah menembak William, aku hanya memerintahkan anak buahku untuk menabraknya saat dia sedang berjalan di depan sebuah apartemen, namun aku tidak tidak pernah menembaknya."
'Oh jadi Tante Lia yang sudah menabrak William, lalu siapa yang menembaknya? Tuhan, kenapa begitu sulit misteri ini kupecahkan.' gumamku dalam hati.
Aku tersenyum mendengar kata-kata Tante Lia "Sayangnya rencanamu untuk William gagal Tante."
"Ya, sayang sekali, padahal dia sudah mengalami koma selama enam bulan lamanya. Sepertinya dia memiliki seribu nyawa."
"Hahahaha anda memang belum beruntung jika belum bekerjasama denganku Tante."
"Sepertinya memang harus seperti itu Kanaya, kita harus melenyapkan mereka secara pelan-pelan, dan aku membutuhkanmu untuk melakukan semua itu." kata Tante Lia sambil tersenyum menyeringai.
"Tentu aku akan membantumu karena tujuan kita adalah sama."
"Terimakasih Kanaya, sekarang kita akan membahas bisnis kita selanjutnya."
"Bisnis?" kataku sambil mengerutkan kening.
"Ya, bukankah kau bilang pada Fadil jika kamu memiliki banyak teman wanita jalanan yang akan melancarkan bisnisku?"
"Oh ya Tante, maaf Kanaya sampai lupa karena terlalu bersemangat membicarakan Tante Lidya."
Tante Lia lalu tersenyum. "Sabar Kanaya, kita pasti bisa melenyapkan mereka secara pelan-pelan."
Kami lalu tertawa bersama. 'Dasar wanita br*ngsek, sebelum kamu berani melenyapkan Tante Lidya, sudah lebih dulu kumasukkan kau ke penjara.' batinku dalam hati.
"Tapi Kanaya ada satu hal penting lagi yang harus kau berikan padaku."
"Apa itu Tante?"
"Aku juga sedang mencari sugar baby untuk suamiku Kanaya, sejak kematian Tania, aku begitu kesulitan mencari sugar baby untuk suamiku, mungkin diantara circle kalian sudah banyak yang tahu tentang kondisi suamiku."
Aku menyunggingkan sedikit senyum 'Itu karena aku yang menyebarkan aib tentang penyakit suamimu Lia!sekarang rasakan akibatnya.' kataku dalam hati.
Aku lalu mendekatkan wajahku pada Tante Lia. "Tidak usah khawatir Tante, itulah gunanya aku disini.
Lalu kami pun tertawa bersama sambil menyulangkan minuman.