
Pov Author
Setelah selesai menemui Lia, Kanaya bergegas masuk ke dalam mobil lalu menelpon William.
[Halo, Willi.]
[Ya, bagaimana Kanaya?]
[Willi, ternyata bukan Tante Lia pelakunya.]
[Lalu siapa?]
[Entahlah Willi, ini semua semakin begitu rumit. Namun, aku kini sudah tahu siapa yang menabrakmu saat kamu sedang menuju apartemenku.]
[Siapa pelakunya Kanaya?]
[Tante Lia, dia yang menabrakmu karena ingin melenyapkanmu, dia tahu kau begitu melindungi Tante Lidya, jadi dia berfikir untuk melenyapkanmu terlebih dahulu sebelum membunuh Tante Lidya, jadi William pelakunya memang bukan Tante Lia ataupun Devin.]
[Lalu siapa dalang dibalik semua ini Kanaya? Apakah mereka semua juga sudah menipu kita dengan membentuk alibi mereka masing-masing?]
[Entahlah Willi, kita harus tetap berhati-hati dan menyelidiki mereka semua.]
[Ya, kamu benar Kanaya.]
[Emh, William ada yang ingin kutanyakan padamu?]
[Apa sayang?]
[Darimana Devin tahu hubungan kita?]
[Devin selalu tahu semua aktivitasku Kanaya, bahkan dia pun tahu semua aktivitas kita saat berlibur ke Eropa.]
[Apa itu tidak berbahaya bagi kita William?]
[Tidak Kanaya, Devin hanya kekanak-kanakan, dia begitu takut aku merebut kekayaan milik Mama sampai dia berbuat seperti itu.]
[Ya sudah, aku tutup teleponnya dulu William, aku harus pulang ke rumah secepatnya.]
[Ya Kanaya, hati-hati sayang.]
Saat akan melajukan mobilnya, tiba-tiba ponsel Kanaya kembali berbunyi. 'Tante Lidya.' gumamnya dalam hati.
[Halo Kanaya.]
[Iya Tante, ada apa?]
[Kanaya, sepertinya malam ini Om dan Tante akan menginap di Bandung selama tiga hari. Tante titip rumah ya sayang.]
[Baik Tante.]
[Bagaimana apa kamu sudah mendapatkan sedikit petunjuk?]
[Ya, Tante, besok saat Tante pulang akan kuceritakan semua.]
[Baik Kanaya, Terimakasih.]
Kanaya lalu langsung pulang ke rumah, suasana rumah tampak begitu sepi. 'Kemana Devin.' gumam Kanaya dalam hati.
"Bi, Bi Anti, kemana Devin Bi?"
"Oh, Tuan Devin tadi sore pergi dengan teman-temannya."
"Oh ya sudah kalau begitu."
'Dasar tidak becus, kusuruh mengawasi semua orang di rumah ini malah pergi begitu saja.' gumam Kanaya. Akhirnya dia pun masuk ke dalam kamarnya.
Selesai mandi, Kanaya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan hanya memakai handuk kimono, hari ini terasa begitu melelahkan baginya. 'Aku lelah.' kata Kanaya sambil memejamkan matanya.
"Sayang." tiba-tiba sebuah suara sudah ada di sampingnya.
Kanaya lalu membuka matanya, dia begitu terkejut saat melihat seseorang sudah duduk di atas tempat tidurnya." Willi, kapan kamu masuk?"
"Saat kamu mandi." jawabnya sambil tersenyum.
"Apa ini tidak berbahaya Willi?"
"Yang mereka incar adalah Mama, Kanaya bukan kita?"
"Tapi Willi."
"Sudahlah apakah kau tidak merindukan aku?"
Kanaya hanya tersenyum mendengar kata-kata William. Dia akhirnya mendekat tubuh kekasihnya lalu bergelayut manja di atas dada bidangnya.
"Apa yang kamu inginkan sayang?"
"Menikmati malam ini bersamamu."
"Kanaya, aku rindu sayang."
Kanaya hanya tersenyum mendengarnya, kemudian dia mendorong tubuh William hingga tertidur di atas kasur dan mulai menc*mbu semua bagian tubuh William.
"Kamu memang hebat Kanaya." kata William sambil menggoda.
"Kamu yang membuatku seperti ini Willi."
William lalu duduk dan membuka handuk yang masih menempel di tubuh Kanaya. "Jadilah milikku selamanya Kanaya." kata William sambil mengulum b*bir dan mere*as gunung kembar milik Kanaya yang membuat Kanaya semakin men*esah. D*sahan Kanaya semakin membuat naluri kelaki-lakian William semakin memuncak. Kini yang terdengar hanyalah d*sahan dan era*gan yang bersahut-sahutan di kamar itu.
Tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di balik tembok sambil menyunggingkan senyum liciknya. "Bersenang-senanglah kalian, sebelum akhirnya kalian menangis."
"William." kata Kanaya.
"Apa sayang? kamu mau bermain-main denganku lagi?" goda William.
"Tidak, aku sudah lelah."
"Willi, aku lelah, aku ingin semuanya cepat berakhir. Namun setiap harinya aku merasa teka-teki ini semakin sulit kupecahkan."
"Sabar Kanaya, aku pasti akan membantumu, apa rencanamu selanjutnya Kanaya?"
"Aku akan menjebak Tante Lia, aku harus balas dendam atas kematian Tania."
"Kamu harus berhati-hati Kanaya, aku akan menyuruh anak buahku untuk menjagamu."
"Terimakasih Willi." kata Kanaya sambil mengecup bibir kekasihnya. William lalu keluar dari kamar Kanaya, sebelum suara adzan subuh berkumandang.
Saat Kanaya duduk di meja makan, Devin tampak sudah terlebih dahulu menikmati sarapannya.
"Selamat pagi Kanaya."
"Selamat pagi Devin."
"Sepertinya kalian telah melewatkan malam yang begitu indah." kata Devin sambil tersenyum menyeringai.
"Jadi kamu mengintip kami berdua?"
"Untuk apa aku melakukannya Kanaya, buang-buang waktu saja."
Namun Kanaya tidak percaya pada ucapan Devin, dia masih menatap Devin dengan penuh curiga. "Tidak usah menatapku seperti itu Kanaya, lihat di tengkuk dan lehermu, berapa banyak bekas gigitan William yang dia tinggalkan untukmu, tanpa mengintip kalian, aku pun tahu jika kalian telah melakukan permainan yang begitu panas. Hahahaha."
"Ada apa ini?" kata William sambil ikut duduk di meja makan.
"Aku pikir kamu itu pintar William, tapi ternyata kalian begitu bodoh."
"Apa maksudmu Devin?"
"Cepat buang seluruh tanda cinta untukmu di tubuh Kanaya sebelum Papa dan Mami pulang tiga hari lagi." kata Devin.
Kanaya lalu menatap William dengan tatapan tajam. "Maaf aku lupa Kanaya." kata William sambil tersenyum.
Menjelang siang, Kanaya pergi untuk menemui Lia. Kanaya keluar dari rumah dengan mengenakan syal di leher untuk menutupi semua bekas gigitan William di lehernya.
Wajah Kanaya menyunggingkan senyum saat melihat Lia sudah duduk dan menunggunya di dalam sebuah cafe. Melihat kedatangan Kanaya, dia lalu melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
"Sudah lama Tante?"
"Belum, tante baru saja sampai. Hei, kenapa denganmu Kanaya? Apa kamu sakit sehingga harus memakai syal saat cuaca begitu panas seperti ini?"
"Oooh ini Tante, leher Kanaya agak sedikit alergi, jika dibuka akan semakin gatal, jadi Kanaya menutupnya dengan syal."
"Oh, lebih baik kamu datang ke dokter kulit Kanaya, tante tidak ingin kulit mulusmu rusak." katanya sambil tersenyum.
'Dasar si*l gara-gara William aku jadi seperti ini.' batin Kanaya.
"Sudah Tante, lebih baik kita bicarakan saja bisnis kita."
"Benar Kanaya, begini akhir-akhir ini, Tante dan Mami Cindy sedang kesulitan untuk mencari wanita muda untuk dijadikan pekerja di tempat kami, selain itu anak-anak jalanan pun stoknya kian menipis sehingga tante sedikit kesulitan dalam bisnis human traficking ini."
"Lalu?"
"Kamu tentu mau kan Kanaya membantu Tante, bukankah kamu dulu pernah hidup di jalan? tentu kamu tahu dimana saja anak-anak jalanan itu tinggal dan berkumpul."
"Tentu, Kanaya akan membantu Tante."
"Bagus Kanaya."
'Dasar bede*ah, takkan kubiarkan kau menyentuh anak-anak itu untuk dijadikan sumber penghasilanmu! Sebelum kau melakukannya akan kubuat kau mendekam dulu di balik penjara. Tunggu pembalasaku mulai hari ini Lia!' batin Kanaya. Tangannya kini kian sibuk memainkan ponsel di bawah meja.
"Tante, bolehkan Kanaya ikut dengan Tante, tempat Tante menyembunyikan anak-anak itu sebelum di jual ke pasar bebas? Kanaya hanya ingin memastikan jika mereka adalah anak-anak yang sehat, karena tante tahu sendiri hidup di jalan sangat rentan dengan penyakit."
"Tentu Kanaya, ayo kita kesana sekarang."