Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Perpisahan


Kami bangun keesokan harinya, William masih tidur di sampingku sambil mendekap tubuhku.


"Tuan bangun."


"Jam berapa sekarang?"


"Jam delapan pagi."


"Saya mandi dulu Tuan."


Saat aku akan melangkah meninggalkan tempat tidur, tiba-tiba William memegang tanganku.


"Aku ikut."


"Haaaahhhhh."


"Hahaha becanda." katanya sambil tertawa.


'Dasar, sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki itu.'


Selesai mandi kami lalu pergi sarapan, tak membutuhkan waktu yang lama kami menghabiskan sarapan di depan kami, karena kami sudah merasa begitu kelaparan setelah tadi malam kami begitu banyak menghabiskan tenaga.


Satu setengah jam kemudian kami sudah ada di Edinburgh Castle. Edinburgh Castle merupakan landmark kota Edinburgh. Kami lalu berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto di kastil ini. William juga bercerita jika kastil ini merupakan kastil yang dulunya menjadi kediaman sekaligus tempat lahirnya seorang raja, dan merupakan inspirasi bagi J.K Rowling dalam membuat Hogwarts. Padahal aku pun tak tahu siapa itu J.K Rowling dan apa itu Hogwarts, aku hanya mengiyakan semua kata-katanya.


Berseberangan dengan Kastil Edinburgh, ada sebuah istana megah nan indah bernama Istana Holyrood. Istana yang pernah menjadi kediaman Ratu Elizabeth II saat di Skotlandia ini juga memiliki keindahan pada arsitektur bangunannya.


Aku tak berhenti berdecak kagum melihat bangunan-bangunan itu, setelah puas berjalan-jalan dan berfoto kami lalu melanjutkan dengan makan siang di sebuah restaurant halal bernama The Original Mosque Kitchen and Cafe.


"Tanpa kau minta, aku sudah mengajakmu ke restaurant yang memiliki menu nasi Nona Kanaya."


"Terimakasih Tuan William." kataku sambil tersenyum.


Ternyata rumah makan ini bergaya prasmanan, kami bisa mengambil makanan apapun yang kami inginkan disini. Aku lalu mengambil Nasi Biryani dengan daging ayam, buncis, dan samosa. Sedangkan William lebih memilih Nasi Biryani dengan daging domba.


Selesai makan kami lalu menghabiskan sore ini di Princes Street Gardens sambil melihat hiruk pikuk ramainya kota Edinburgh. Setelah merasa bosan, kami lalu kembali ke kamar dan berkemas karena besok pagi kami harus ke Zurich untuk bertemu dengan teman-teman William. Kami makan malam di dalam kamar yang telah dipesan William pada petugas hotel, karena kami sudah terlalu lelah untuk mencari makan di bawah.


Setelah kenyang kami pun tertidur. Jam 09.00 pagi, kami sudah dalam penerbangan ke Zurich, dan menghabiskan perjalanan selama dua jam. Kami sampai di Zurich pukul 12 siang waktu Zurich karena waktu di Swiss lebih cepat satu jam dibandingkan Edinburgh.


Kami lalu masuk ke dalam mobil jemputan hotel. Mobil itu mengantarkan kami ke sebuah hotel yang bernama Hotel Storchen yang ada di pusat kota Zurich.


Kami lalu masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat indah, jika di Edinburgh kamar kami menghadap ke Kastil Edinburgh, maka kamar yang kami tempati saat ini memiliki pemandangan Sungai Limmat dan Kota Tua yang indah.


"Beristirahatlah Kanaya, nanti malam kita akan bertemu dengan teman-temanku, ingat perkenalkan dirimu sebagai kekasihku."


"Baik Tuan." kataku sambil merebahkan tubuh di atas tempat tidur.


Hari pun berganti malam, William memintaku untuk sedikit berdandan dan mengenakan gaun yang sudah dia pilihkan untukku.


Aku memakai gaun berwarna cream sepanjang mata kaki namun terbuka di bagian punggung. Dan rambutku pun sudah kutata rapi dengan tatanan rambut Side Bangs Up Do.


"Sempurna." kata William.


Kami lalu bertemu teman-teman William di sebuah rumah makan mewah dekat dengan hotel tempat kami menginap.


"Your girlfriend very amazing." kata salah seorang temannya.


Ternyata teman-teman William semuanya adalah orang asing, dan sungguh aku tak mengerti dengan apa yang mereka katakan. Yang kutahu hanya mereka seringkali memujiku dengan kata-kata "beautiful".


'Sungguh membosankan.' gumamku dalam hati.


"Ada apa Kanaya?"


"Gapapa."


"Kamu bosan?"


"Sedikit."


"Baik kita pulang sekarang."


"Tuan, darimana anda mereka mengenal mereka semua?"


"Mereka adalah teman kuliahku Kanaya."


"Memang, Tuan kuliah dimana dulu?"


"Oxford."


"Oxford? itu dimana?"


"Hahaha." William hanya tertawa mendengar kata-kataku.


"Suatu saat kamu akan tahu Oxford berada dimana Kanaya." kata William sambil terus menahan tawa.


"Terimakasih Kanaya."


"Untuk apa?"


"Karena kamu, kini aku sudah bisa menunjukkan kepada teman-temanku jika aku bukanlah pria yang tidak pernah bisa memiliki seorang kekasih."


"Hahaha jadi kamu membawaku sampai ke sini hanya untuk menunjukkan pada temanmu jika kamu adalah pria normal? hahahaha."


"Enak saja kamu berbicara seperti itu."


Aku masih belum bisa berhenti tertawa saat tiba-tiba tubuhnya menerjang tubuhku dan mulai menc*um bi*irku dan bagian tubuhku yang lain.


"Kita lihat Kanaya, apa setelah ini kamu akan bisa menertawakanku lagi."


Aku hanya bisa tersenyum sambil menikmati suasana ini dengannya. Keesokan harinya kami berbelanja di Bahnhofstrasse, yang menjadi pusat perbelanjaan di kota Zurich.


Selesai berbelanja kami lalu bergegas pulang ke hotel karena sore harinya kami harus sudah bersiap pulang ke Indonesia. Hal ini memang sedikit di luar dugaan, karena rencananya kami di Zurich akan menginap selama tiga hari, namun tiba-tiba William mendapat kabar jika ada kekacauan terjadi di perusahaannya.


"Si*l benar-benar dia tak pernah bisa berubah."


"Siapa?"


"Devin, adik tiriku."


"Kamu memiliki adik tiri?"


"Ya, ayahku dulu menikah dengan seorang janda saat aku berusia tujuh tahun, dan semua kekayaan ini sebenarnya adalah miliknya. Meskipun dia ibu tiriku, namun dia begitu baik padaku, dia tak pernah membeda-bedakan aku dan Devin. Taukah kau Kanaya, aku begitu menyayangi Ibu tiriku, dia adalah wanita terbaik yang pernah kutemui. Namun hubunganku dengan Devin tidak pernah bisa dekat." kata William.


Dan karena hal inilah kami mengubah rencana liburan kami menjadi lebih singkat. Kami lalu pulang ke Indonesia dengan penerbangan malam hari. Sebenarnya aku merasa sedikit sedih karena kebersamaanku dengannya akan segera berakhir.


Perjalanan pulang kali ini sedikit berbeda dengan keberangkatan kami. William tidaklah sedingin saat seperti kami berangkat, dia begitu banyak bercerita tentang kehidupannya yang tertutup dan tidak bisa mendekati wanita dengan mudah.


"Lalu kenapa kamu menghubungiku?"


"Entahlah, sejak aku melihatmu aku tak pernah berhenti memikirkanmu."


"Dimana kamu pertama kali melihatku?"


"Kanaya, banyak pengusaha yang membicarakanmu, tak sulit untuk mencari akun sosial media milikmu."


"Oh jadi itu jawabannya kenapa kamu bisa tahu aku begitu aktif di sosial media?"


William hanya tersenyum. Tak terasa kami telah menempuh perjalanan selama tujuh belas jam. Ketika kaki ini melangkah keluar dari bandara rasanya hatiku tak rela berpisah dengan William, rasanya bahkan begitu sakit.


'Kamu harus sadar diri Kanaya.' kataku dalam hati.


Saat aku akan pergi meninggalkannya tiba-tiba William menggenggam tanganku. "Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi."


Hatiku yang sudah begitu sakit tak mampu lagi menahan air mataku, akupun menangis, dan kemudian dia memelukku.


"Pasti kita akan bertemu lagi, berhentilah dari pekerjaanmu saat ini Kanaya. Tunggu aku, suatu saat nanti, aku akan datang menjemputmu untuk menikahimu."