Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Missing


"Willi, lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Tetaplah bersikap seperti biasa Kanaya, rahasia ini hanya kita yang tahu, awasi semua orang yang ada di rumah karena kamu memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya. Dan tetap dekati Papa, dekati Papa sampai dia mau mengatakan semua rahasianya."


"Willi, dia adalah orang tua kandungmu, bagaimana jika semua ini akan berdampak buruk pada hubungan kalian?"


"Setiap orang memiliki pilihan Kanaya, Mama Lidya adalah orang yang begitu baik. Dia sudah merawatku sejak aku kecil dengan penuh kasih sayang, aku tak mau ada seorang pun yang menyakitinya termasuk orang tua kandungku."


"Baik Willi jika itu maumu, kita akan bersama-sama menjaga Tante Lidya."


"Ada satu lagi Kanaya yang harus kita lakukan."


"Apa itu?"


"Mencari Casandra."


"Tentu, kita akan bersama-sama mencarinya. Willi, aku harus pulang, aku tak mau meninggalkan Tante Lidya terlalu lama sendiri."


Aku lalu melangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar ini, namun tiba-tiba William mendekapku dari belakang.


"Tunggu Kanaya, beri aku sedikit waktu untuk bersamamu meluapkan rasa rinduku."


"Tapi Willi, aku adalah istri Papamu."


"Aku tahu kamu tidak akan pernah melakukan apapun dengannya, karena hatimu hanya untukku Kanaya."


Aku terdiam tak bisa berkata apapun, kuakui aku juga begitu merindukkannya, meski perasaan ini sudah kuredam namun memang begitu sulit. William lalu membalikkan tubuhku lalu mulai memelukku, bahkan aku tak bisa melawan saat dia mulai menci*m bi*irku. Rasanya aku begitu sulit untuk lari dari keadaan ini.


"Aku merindukanmu Kanaya, apa kau juga merindukanku?"


Aku pun hanya bisa mengangguk, kami lalu berciuman kembali dengan penuh gairah, perasaan rindu yang membuncah tak bisa lagi kami tahan.


"William, aku harus pergi."


"Sebentar saja Kanaya."


William memelukku kian erat, dia mulai menc*um leher dan membuka kancing bajuku satu persatu, aku tak bisa lagi menahannya dan menghentikan semua ini. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku pun menginginkannya dan begitu merindukkannya.


Selama satu jam kami bermesraan di hotel ini, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul satu siang. "Willi, aku harus pulang."


William lalu mengangguk. "Ingat kata-kata ku Kanaya, berhati-hatilah dengan semua orang yang ada di rumah, jaga dirimu baik-baik."


Aku lalu mengangguk, ketika aku akan pergi, William menarik tubuhku, lalu mencium keningku.


"Kanaya, kita harus bersabar melalui semua ini. Kamu harus berjanji jika kau hanya akan menjadi milikku."


"Tentu William."


"Aku akan selalu menunggu saat yang tepat untuk bisa menikahimu Kanaya."


Aku lalu tersenyum dan mengangguk, kemudian aku masuk ke dalam mobilku dan pergi meninggalkan hotel ini setelah memastikan semua keadaan di sekitarku aman. Saat aku sampai di rumah, keadaan rumah begitu sepi. Aku lalu mencari Tante Lidya di kamarnya, namun juga tidak ada.


"Bi, Tante Lidya kemana?"


"Oh Nyonya tadi pergi dengan teman-temannya."


'Sial, gue kecolongan.' batinku dalam hati.


"Bibi tau ga dia pergi kemana?"


"Paling ke Mall Non, seperti biasa."


"Oh ya sudah."


Aku lalu mengambil ponselku dan menghubungi Tante Lidya, tapi tak ada jawaban.


"Hei wani*a bayaran, loe lagi ngapain kaya orang bingung gitu."


Tiba-tiba sebuh suara mengagetkanku. "Devin."


"Apa? Ada yang salah sama kata-kata gue? Emang bener kan loe wanita bayaran? Dibayar berapa loe sama Papa sampe mau jadi istri laki-laki im*oten kaya dia? Hahahaha."


'Apa maksud Devin?' batinku dalam hati.


"Kaget loe bokap udah imp*ten? Hahahaha."


"Sejak dia selingkuh sama Tante Lia, gue udah bikin hidup dia menderita sampai ga bisa hidup normal kayak laki-laki yang lain."


'Jadi, dia sudah tidak bisa hidup normal layaknya pria pada umumnya, pantas saja Tante Lidya dan William begitu yakin dia tidak akan menyentuhku.' batinku dalam hati.


Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil meninggalkan Devin, aku lalu masuk ke dalam kamar untuk menelpon William.


[Hallo.]


[Ya Kanaya?]


[Willi, Tante Lidya ga ada di rumah, kata Bibi dia pergi sama teman-temannya.]


[Tenang Kanaya, anak buahku ada yang kuperintahkan untuk mengikuti Mama, untuk saat ini Mama masih aman bergaul dengan mereka.]


[Oh ya sudah kalau seperti itu. Emhhh tunggu Willi.]


[Kenapa sayang? Kamu sudah merindukanku? Sebentar lagi aku juga sudah sampai di rumah Kanaya.]


[Bukan itu, ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan padamu.]


[Apa?]


[Willi, apakah kamu tahu jika Papamu sudah tidak seperti laki-laki normal pada umumnya?]


[Hahahaha... Hahahaha.]


[Kenapa kamu hanya tertawa Willi?]


[Tentu saja aku tahu Kanaya, Devin yang melakukan semua itu pada Papa saat Papa ketahuan selingkuh dengan Tante Lia.]


[Pantas saja kau yakin dia tak akan bisa berbuat macam-macam padaku.]


[Hahahaha, sudah kubilang kau hanya milikku Kanaya.]


[Sudah dulu William, sepertinya Tante Lidya sudah pulang.]


Setelah selesai menelpon William, aku lalu keluar dari dalam kamar. Dan seperti dugaanku, Tante Lidya sudah pulang ke rumah, aku lalu langsung menghampirinya.


"Tante. Habis darimana?"


"Arisan dengan teman-teman tante, sebenarnya tadi tante ingin mengajakmu, tapi kamu sudah memiliki rencana sendiri ya sudah tante pergi sendirian."


"Oh iya, mungkin lain kali. Tante, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan pada Tante?"


"Apa sayang?"


"Tentang William."


"William?"


"Ya. Kanaya sudah menemukan bukti tentang transaksi Willian selama beberapa bulan terakhir ini Tante."


"Darimana kamu mendapatkannya Kanaya?"


"Dari email William, Kanaya berhasil menjebol email milik William tante." kataku berbohong, padahal rincian email tersebut William yang memberikannya padaku. Bagaimana aku mau mencuri data, kalau menggunakan laptop saja aku tak bisa.' gumamku dalam hati.


"Apa yang kamu temukan Kanaya? Apa sebenarnya yang telah diperbuat William selama beberapa bulan terakhir ini sampai mengeluarkan uang yang begitu banyak."


"Lihat ini Tante, kataku sambil mengeluarkan satu bendel kertas."


"Pengeluaran William selama beberapa bulan terakhir adalah untuk bersenang-senang dengan teman-temannya, lihat berapa banyak uang uang dia keluarkan untuk menyewa beberapa hotel dan restauran mewah selama dia berada di Eropa."


"Benar juga Kanaya, semua pengeluaran William hanya untuk kebutuhan pribadinya dengan teman-temannya, dan sepertinya tidak ada kaitannya dengan Tante."


"Iya Tante."


"Jadi kecurigaan Tante selama ini pada William sudah salah?"


Aku lalu mengangguk mendengar kata-kata Tante Lidya.


"Tante, apakah tante tidak pernah berfikir jika ada orang lain selain keluarga tante yang ingin berbuat buruk pada Tante?"


"Siapa Kanaya?"


"Entahlah, Kanaya pun tak tahu, yang Tante harus lakukan saat ini adalah berhati-hati dengan orang-orang terdekat. Semua orang bisa menjadi musuh."


"Apakah itu termasuk kamu Kanaya?"


Aku begitu gugup mendengar kata-kata Tante Lidya.