
"Menikahkan William?" kataku.
"Ya, bukankah itu rencana yang bagus Kanaya?"
'Bagus buat loe, tapi ga buat gue.' batinku.
"Sepertinya itu rencana yang buruk Om."
"Rencananya yang buruk bagaimana Kanaya? Bukankah jika William sudah menikah, dia akan lebih fokus untuk mengurusi istrinya dibandingkan Lidya?"
"Coba Mas Fadil berpikir panjang, jika William memiliki seorang istri, bukankah kesempatan William akan lebih besar menguasai harta Tante Lidya."
"Apa maksudmu Kanaya?"
"Mas, jika William menikah bukankah dia akan memiliki seorang anak? Tante Lidya pasti akan menyayangi anak William karena dia adalah cucu pertamanya. Bahkan kemungkinan besar, dia akan memberikan seluruh harta miliknya pada anak tersebut."
"Benar juga apa yang kau katakan Kanaya! Lalu bagaimana kita menghadapi William agar tak mencampuri rencana kita?"
"Serahkan semua pada Kanaya Om, biar Kanaya yang menaklukkan William."
"Tapi kamu harus berjanji agar tak jatuh hati pada William."
"Iya tenang aja Om, William itu terlalu dingin, bukan tipeku."
Om Fadil kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Saat menikmati makan malam, aku berpura-pura mengedipkan mataku pada Om Fadil untuk menjalankan rencana kami.
"Emh, William begini, tadi Kanaya mengatakan ingin belajar tentang bisnis, jadi Papa sarankan agar dia belajar padamu, setelah makan malam, tolong ajari Kanaya sebentar, malam ini Papa juga akan tidur di kamar Mama."
Aku lalu mengedipkan mataku pada Tante Lidya seakan-akan memberitahu jika ini adalah bagian dari rencanaku, dan Tante Lidya pun mengerti, dia lalu ikut berbicara pada William. "Benar Willi, sepertinya kamu harus mengajari Kanaya sedikit berbisnis, karena Mama lihat dia wanita yang cukup pintar, dan kita tidak boleh menyia-nyiakan kemampuan yang dimiliki oleh Kanaya."
"Baik Pa, Ma." jawab William dengan begitu dingin dan cuek.
'Buset ga nyangka gue, ni cowo bisa akting juga.' kataku dalam hati.
Setelah makan malam, William lalu mengajakku masuk ke dalam ruang kerjanya. Sedangkan Om Fadil dan Tante Lidya telah masuk ke dalam kamar mereka. Setelah pintu ruangan ditutup, William mendekatkan tubuhnya padaku.
"Benar-benar licik kamu sayang, apa yang telah kamu katakan pada mereka agar kita bisa berduaan seperti ini?"
"Hahahaha, jangan bilang aku Kanaya jika tidak bisa menguasai Papamu yang buaya darat itu."
William hanya tersenyum mendengar kata-kataku. "Bagaimana Kanaya?"
"Seperti yang sudah kubilang tadi Willi, jika Papamu memiliki alibi yang kuat, dia tidak pernah mencoba membunuh Tante Lidya."
"Lalu siapa?"
"Entahlah, untuk saat ini hanya Devin yang kemungkinan melakukan semuanya, namun jika bukan dia pelakunya, berarti kita harus lebih berhati-hati William, karena pasti ada penyusup di rumah ini yang telah diperintahkan untuk membunuh Tante Lidya."
"Penyusup? Bagaimana mungkin Kanaya? Bukankah kamu tahu jika di rumah ini hanya ada kami, dua orang pembantu, serta satpam yang berjaga di depan rumah."
"Siapapun itu kita tetap harus berhati-hati William, tahukah kamu jika kemarin aku hampir saja mati karena teh yang akan kuminum ternyata beracun."
"Racun?"
"Ya."
"Ku*ang Ajar. Bre*gsek, akan kucek CCTV di rumah ini Kanaya."
William lalu menyalakan laptop dan membuka video CCTV yang ada di rumah mereka, namun ternyata semua CCTV di rumah itu telah rusak. "Br*ngsek, benar katamu Kanaya, penjahatnya ada di rumah ini karena dia sampai memiliki akses untuk merusak CCTV di rumah, besok akan langsung kuperbaiki agar mempersulit gerak mereka."
"Benar, Willi. Besok aku juga akan mencari informasi dari Devin dan bertemu dengan Tante Lia, akan kuselidiki juga keterlibatan mereka semua, aku juga akan menyelidiki orang yang sudah menembakmu Willi."
"Terimakasih Kanaya."
"Sudah malam Willi, sebaiknya kamu tidur."
"Willi, kendalikan dirimu, disini terlalu berbahaya."
"Sebentar saja, lagipula semua jendela dan pintu sudah kukunci."
Aku akhirnya tak bisa menolaknya lagi, kami lalu menghabiskan malam ini bersama, sampai menjelang pagi kami baru kembali ke kamar kami masing-masing.
Pagi ini, aku bagun agak kesiangan dan di rumah ini tinggal menyisakan aku dan William karena Om Fadil dan Tante Lidya telah pergi pagi-pagi ke Bandung untuk menghadiri pemakaman salah satu teman mereka. Aku dan William meskipun hanya berdua, mencoba bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada hubungan apa-apa diantara kami, bahkan tak ada sepatah katapun yang kami bicarakan sampai akhirnya William berangkat ke kantor.
Saat akan beranjak dari meja makan tiba-tiba Devin pulang dan langsung menghampiriku. "Halo Nina Kanaya." katanya dengan tatapan sedikit mengejek.
"Halo Tuan Besar, bagaimana apakah kamu sudah menemukan Casandra?"
"B*engsek, bagaimana kamu bisa tahu aku sedang mencarinya?"
"Hahahaha, bukan hal yang sulit bagiku untuk mengetahui segala aktivitasmu diluar sana Devin." kataku sambil tersenyum.
"Kamu tahu Devin, kamu tak akan pernah bisa menemukan Casandra, dan hidupmu hanya akan dibayang-bayangi oleh Casandra yang sewaktu-waktu bisa merebut harta yang kau milikki. Aku tahu, sekeras apapun William bekerja, dia tidak akan pernah bisa mewarisi seluruh harta kekayaan Tante Lidya, karena bagaimanapun juga William bukanlah anak kandung dari Mamamu! Musuhmu yang sebenarnya adalah Casandra, Devin."
Devin hanya terdiam mendengar kata-kataku, wajahnyapun tampak berfikir begitu keras. "Mau kubantu mencari Casandra?" kataku sambil tersenyum menyeringai.
"Apa maksudmu? Bisa apa kamu?"
"Ingat Devin, aku sudah lama hidup di jalanan, bukankah Casandra dulu hilang karena diculik pengamen jalanan? Sangat mudah bagiku untuk menelusuri semua itu."
Aku hanya tersenyum melihat Devin terdiam dan mulai terpancing oleh kata-kataku.
"Cepat katakan apa yang kau inginkan tidak usah banyak berbasa-basi."
"Kita bicara di luar Kevin, disini terlalu berbahaya." kataku sedikit berbisik.
Devin pun akhirnya mengangguk. "Flamboyan Cafe pukul sepuluh pagi." kataku sambil berlalu pergi meninggalkannya.
Aku lalu pergi terlebih dahulu dibandingkan Devin karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Setelah pukul sepuluh pagi, Devin akhirnya pun datang menghampiriku.
"Kanaya, ada apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah kita? Apa kamu mencurigai seseorang?"
"Tidak ada yang kucurigai Devin, sebenarnya kaulah yang kucurigai."
"Br*ngsek, kamu mau mempermainkanku Kanaya, apa maksud kata-katamu!"
"Tenangkan dirimu Devin, tahukah kamu kemarin hampir saja aku dan Tante Lidya mati karena teh yang kami minum ternyata mengandung racun."
"Apa racun?"
"Ya, dan aku curiga yang melakukannya adalah kamu karena hanya kamulah yang ada di rumah itu, sedangkan William dan Om Fadil tidak ada di rumah saat itu, jadi pelakunya kamu kan Devin, mengaku saja."
"Aku tidak mungkin melakukan semua itu Kanaya, aku tidak akan pernah tega membunuh Mami, meskipun aku membencinya karena sudah menikah dengan laki-laki itu, tapi dalam hatiku yang paling dalam aku begitu menyayanginya, jika aku tak menyayangi Mami untuk apa tua bangka itu kusuntikkan obat ke*iri!"
"Lalu jika bukan kamu, siapa Devin?"
"Bisa saja Papa Fadil atau William."
"Tidak mungkin, aku bahkan sudah menyadap ponsel mereka dan tidak ada percakapan mencurigakan diantara keduanya."
"Lalu siapa Kanaya?"
"Entahlah Devin, makannya aku ingin bertemu denganmu, aku ingin kita membuat kesepakatan."
"Kesepakatan apa?"
"Aku berjanji akan membantumu mencari Casandra dan menyingkirkan Om Fadil serta William dalam kehidupanmu. Namun kau juga harus membantuku Devin."
"Aku suka kata-katamu Kanaya." kata Devin sambil tersenyum menyeringai.