Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Penangkapan


Kanaya mengendarai mobilnya masuk ke sebuah Mall di kawasan Jakarta Pusat. Saat mereka turun dari mobil syal yang dikenakan Kanaya untuk menutup lehernya tiba-tiba terjatuh.


"Kanaya, ini syal milikmu terjatuh."


"Emh terimakasih Tante." kata Kanaya sambil terburu-buru memakai syal itu kembali untuk menutupi bekas gigitan William.


"Tumben Kanaya, kamu memakai syal."


"Oh ini Tante, kemarin Kanaya sedikit gatal-gatal karena alergi di leher, jika terkena angin akan semakin gatal, makanya Kanaya tutup pake syal."


"Kamu sudah ke dokter untuk memeriksakan alergimu? Jangan anggap sepele alergi loh Kanaya!"


"Belum Tante, besok Kanaya ke dokter."


"Perlu Tante temani?"


"Tidak usah, lebih baik Tante istirahat saja."


Mereka lalu masuk ke sebuah cafe di Mall tersebut, sambil menunggu Kanaya bercerita, Lidya memperhatikan Kanaya yang sedang merapikan syal di lehernya.


"Kanaya, Tante perhatikan syalmu ini tampak usang."


"Iya Tante ini peninggalan Mama Kanaya."


"Oh, jadi Mamamu sudah meninggal?"


"Iya, Mama sudah meninggal kira-kira saat Kanaya berusia lima tahun, sejak itu Kanaya mulai hidup sendirian di jalan."


"Ya ampun, jadi kamu sejak kecil hidup sendirian di jalan Kanaya?"


Kanaya mengangguk, air matanya menetes. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat mendekap tubuhnya. "Tante."


"Nak, mulai hari ini kamu anggap Tente ini sebagai Ibumu sendiri ya sayang, katakan semua apa yang kamu minta." kata Lidya sambil meneteskan air mata.


"Tante, tidak usah, Tante sudah memberikan begitu banyak fasilitas pada Kanaya."


"Tapi itu hanya sebatas kompromi Kanaya, mulai hari ini kamu adalah anakku dan kuanggap menjadi bagian hidupku, sama seperti William dan Devin."


"Sudah Tante, Tante jangan sedih, lebih baik kita membahas hal lain yang lebih penting, banyak yang ingin Kanaya bicarakan."


"Iya Kanaya, Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan bukti lagi?"


"Tante, sebenarnya selain Om Fadil, William, dan Devin, Kanaya sempat mencurigai seseorang."


"Siapa Kanaya?"


"Tante Lia, dia memang berniat membunuh Tante yang mengetahui semua bisnis haramnya, namun ternyata bukan dia pelakunya."


"Iya Kanaya, Tante tahu semua bisnis haram milik Lia, namun Tante tak memiliki barang bukti."


Kanaya lalu menyunggingkan senyum dan memperlihatkan ponselnya. "Lihat Tante, semua bukti kejahatan Tante Lia ada di sini." kata Kanaya sambil memperlihatkan foto-foton serta rekaman suara milik Lia.


"Bagus Kanaya, kamu luar biasa, kita bisa menyelamatkan orang-orang tidak berdosa. Tante akan melaporkan pada Om Gatot, dia sepupu Tante yang ada di kepolisian, dan memiliki jabatan yang cukup tinggi. Tante akan membuat Lia tak berkutik." kat Lidya sambil tersenyum kecut.


"Ada satu lagi Tante."


"Apa Kanaya? Apa masih berhubungan dengan Lia?"


Kanaya lalu mengangguk. "Tante Lia memang belum pernah mencoba membunuh Tante, namun dia memiliki rencana untuk membunuh Tante dengan cara menghabisi William terlebih dahulu."


"Aa.. Apa maksudmu Kanaya?"


"Tante Lia tahu jika William sangat menyayangi Tante, oleh karena itu dia berniat membunuh William dengan menabrak William saat pulang dari Eropa."


"Dasar kejam, wanita b*engsek, berani-beraninya dia menyakiti William!!! Kanaya, kita harus cepat bertindak."


"Sabar Tante, Kanaya belum menceritakan semua."


Lidya lalu menenangkan hatinya kembali. "Apa lagi Kanaya?"


"Tente, Kanaya curiga jika yang berniat jahat pada Tante adalah salah satu penghuni rumah kita, karena itu Kanaya menyuruh Devin untuk memata-matai semua pembantu, dan dia kemarin berhasil menangkap Mba Reni saat menyimpan obat pelemah jantung."


"APAAAA kurang a*ar Reni, aku sudah berbaik hati menolongnya memberikan dia pekerjaan karena dia adalah janda. Namun ternyata dia berniat jahat padaku! Lalu apa motifnya Kanaya? Kenapa tadi pagi Reni kau lepaskan begitu saja? dan tidak langsung kita laporkan pada polisi?"


"Sabar Tante, jangan gegabah, kita harus bertindak dengan kepala dingin. Kanaya yakin, Reni hanya diperintah saja, kita harus menemukan pelaku sebenarnya dengan cara melepaskan Reni, dia yang akan membawa kita pada dalang semua ini. Setelah dipecat, dia pasti akan kembali menemui orang yang menyuruhnya untuk meminta bayaran."


"Iya Tante, untuk sementara kita lebih baik fokus pada Tante Lia terlebih dahulu, karena besok dia akan mengirimkan orang-orang tak berdosa itu ke luar negeri."


"Baik, akan kuhubungi Gatot. Aku juga akan menelepon orang suruhanku untuk meminta CCTV saat William tertabrak, aku hanya berfikir itu hanya kasus tabrak lari biasa dan berfokus pada penembak yang sampai saat ini masih kucari."


"Jadi Tante masih mencari penembak dari William?"


"Tentu Kanaya, Tante akan selalu mencarinya sampai dia ditemukan."


Kemudian Lidya mengambil ponselnya dan sibuk menelepon seseorang. Dia juga mengirimkan bukti-bukti yang telah diberikan oleh Kanaya.


"Sudah Kanaya, biar Gatot yang memproses ini semua, aku juga sudah menghubungi anak buahku untuk mencari jejak mobil yang telah menabrak William, kita harus mencari mobil dan pelakunya sebagai bukti supaya Lia bisa dikenakan pasal berlapis atas semua kejahatan yang dilakukannya."


Kanaya lalu mengangguk. 'Tente Lia, rasakan pembalasaku, kau harus membayar mahal karena kau telah membuat hidup Tania menderita!!!' l gumam Kanaya sambil menyunggingkan senyum di bibir.


"Kanaya, kita harus pulang sekarang, sepertinya badan Tante terasa sedikit lelah."


"Iya Tante, wajah Tante pucat, lebih baik secepatnya istirahat."


Kanaya dan Lidya lalu pulang ke rumah, Bi Anti yang membukakan pintunya. "Kok sepi? Papa kemana bi?" tanya Lidya.


"Emh itu Tuan."


"Iya dimana suami saya apa dia berangkat ke kantor?"


"Ehhhh Mama udah pulang? Gimana tadi Grand Openingnya?" kata Fadil sambil keluar dari dapur.


"Mama cuma datang sebentar Pa, kondisi Mama sepertinya memburuk."


"Oh iya wajah Mama begitu pucat, Mama langsung masuk ke kamar saja." kata Fadil sambil melirik Kanaya.


"Om sepertinya malam ini Kanaya mau tidur sama Tante Lidya, Kanaya takut sesuatu hal buruk terjadi pada Tante Lidya."


"Iya Pa, Mama ingin ditemani Kanaya, Mama tenang kalau ada Kanaya di samping Mama. Ayo Kanaya kita masuk ke kamar."


Lidya dan Kanaya lalu masuk ke dalam kamar. 'Sial.' gerutu Fadil


***


Gerimis yang membasahi dalam gelapnya malam tak menyurutkan langkah seorang wanita untuk berjalan dengan langkah yang begitu cepat diantara beberapa lajur kontainer. Langkahnya terhenti saat melihat sepuluh orang lelaki berbadan besar yang sedang mengawasi beberapa orang yang akan masuk ke dalam kapal.


"Bagaimana Frans?"


"Lancar Nyonya, seperti biasanya, kita tinggal menunggu keberangkatan."


"Bagus."


Namun tiba-tiba suara desingan peluru pecah di keheningan malam.


DORRRR DORRRRR


"Anda semua sudah kami kepung."


"Apa-apaan ini? Frans, kau bilang semuanya sudah beres kenapa bisa terjadi seperti ini?"


"Saya juga tidak tahu Nyonya."


Tiba-tiba puluhan polisi dengan mengenakan senjata laras panjang telah mengepung mereka, lalu seorang polisi berpakaian preman mendekat pada wanita itu.


"Maaf Nyonya Lia, anda kami tangkap karena anda terbukti melakukan kejahatan perdagangan manusia."


"B*engsek, siapa yang melakukan ini padaku! Pak saya difitnah!"


"Anda bisa jelaskan semua ini di kantor Nyonya Lia."


"Ba*ingan, akan kubuat perhitungan dengan orang yang telah melakukan semua ini padaku!"


"Nyonya, ayo ikut kami." kata salah seorang polisi sambil mencekal tangan Lia.


"Lepaskan, saya bisa jalan sendiri."


'Aku akan mencari tahu siapa yang menjebakku, tunggu saja akan kubuat perhitungan dengan kalian.' gumam Lia sambil menatap tajam pada langit-langit malam.