
Tidak Mungkin Willi, saat ini Mami sedang tidak ada di rumah, sedangkan Papi sudah meninggal."
"Bisa saja Devin, orang yang sudah meninggal masih bisa melakukan tes DNA meskipun sudah meninggal selama bertahun-tahun. Kita bisa mengambil sample nya di makam Papimu." kata William sambil tersenyum.
'****.' gumam Devin.
"Tenang saja Devin, aku tidak ingin menginginkan harta Tante Lidya. Aku hanya ingin kepastian apakah Tante Lidya benar-benar Ibu kandungku. Kau tak pernah mengalami betapa beratnya hidupku selama tinggal di jalanan. Aku hanya ingin tahu siapa orang tuaku, itu saja." kata Kanaya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
William lalu mendekat pada Kanaya. "Sayang, tenanglah, akan kuurus semua ini." kata William lalu mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Kita akan melakukan tes DNA besok, aku sudah menghubungi temanku yang bekerja di rumah sakit, kita akan melakukan semua prosedur tes DNA dengan mengambil sample di makam Papimu, dan kami membutuhkan persetujuanmu sebagai anak kandungnya Devin."
"Baik akan kulakukan, tapi ingat jangan pernah coba-coba untuk menguasai harta milik Mami sendirian." kata Devin.
"Aku setuju." jawab Kanaya.
"Tenangkan dirimu Kanaya, hapus air matamu dan tabahkan hatimu, kita masih harus mencari keberadaan Mama."
"Bagaimana aku bisa tenang Willi, aku tahu kebenaran ini di saat kondisi sudah begitu sulit. Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaan Tante Lidya."
"Tenang Kanaya, kita pasti akan menemukannya."
"Apa yang sebaiknya harus kita lakukan?"
"Kita cari bukti lagi, di dunia ini tidak ada kejahatan yang sempurna Kanaya."
"Benar Willi, ayo kita mulai mencari bukti-bukti lagi, kita mulai dari kamar Om Fadil."
Mereka lalu pergi ke kamar Fadil, namun tak ada satupun hal yang mencurigakan di kamar itu. "Tak ada apapun benda ataupun jejak yang mencurigakan di sinj, kamar ini masih sama seperti saat tadi pagi kutinggalkan, jadi kemungkinan Om Fadil belum pulang ke rumah ini." kata Kanaya.
"Benar Kanaya. Kita ke kamar Bi Anti." kata William.
"Willi, tidak mungkin Bi Anti berbuat jahat pada Mami, dia sudah ikut bersama kami selama puluhan tahun."
"Devin, semua kemungkinan bisa saja terjadi."
"Baik kita ke kamar Bi Anti sekarang."
Mereka lalu menuju kamar Anti yang terletak di dekat dapur. Devin memeriksa seluruh laci, sedangkan Kanaya dan William memeriksa lemari baju milik Bi Anti. "Disini juga tidak ada apa-apa." kata Devin.
"****. Tak ada bukti sama sekali yang dia tinggalkan, permainan mereka benar-benar rapi."
"Ada tiga kemungkinan, yang pertama pelakunya adalah Om Fadil lalu dia menyekap Tante Lidya dan Bi Anti. Kemungkinan kedua, pelakunya adalah Bi Anti, jika Bi Anti pelakunya maka dia akan menyekap Tante Lidya dan Om Fadil. Lalu kemungkinan ketiga, pelakunya adalah orang luar dan mereka menyekap Om Fadil, Tante Lidya dan Bi Anti."
"Bagus juga pola pikirmu Kanaya, kau seperti Papi yang sangat cerdas."
"Aku tak butuh pujianmu Devin."
"Hahahaha secara tidak sengaja kau sudah mengakui jika Kanaya adalah Casandra."
"Tidak, sebelum dia melakukan tes DNA, aku tak akan mengakui jika dia adalah Casandra."
"Kalian tolong diam, dan biarkan aku berfikir." kata Kanaya sambil meninggalkan Devin dan William, lalu berjalan ke kamar Lidya.
Dia lalu mengambil foto-foto yang masih tercecer. Lalu memungutinya satu per satu. Kanaya lalu duduk di meja rias sambil meletakan foto-foto itu kembali ke dalam album. Setelah foto itu rapi seperti sedia kala, Kanaya lalu mengambil salah satu album yang lain di dalam laci. Kanaya lalu membuka satu per satu album itu. Tampak beberapa foto Devin saat dia merayakan ulang tahunnya yang ke tiga, sudah tidak ada lagi foto Casandra karena Casandra hilang sejak Devin berumur dua tahun.
Netra Casandra lalu tertuju pada salah satu foto, dia lalu mengambil foto itu dan berlari ke luar kamar menghampiri William dan Devin yang masih duduk di depan televisi sambil termenung.
"Devin katakan padaku siapa ini?" kata Kanaya sambil menunjuk seseorang dalam foto tersebut.
***
Lidya membuka kedua matanya, tubuhnya terasa begitu lemas dan rasa sakit di dada sebelah kirinya terasa begitu menyiksanya. "Dimana aku?" kata Lidya dengan nafas yang semakin tersengal-senggal. Dia ingin bergerak tapi tidak bisa, dia lalu memandang ke arah bawah, dan melihat jika tubuhnya terikat di sebuah kursi kayu.
"Ka... Kamu, kenapa kamu tiba-tiba berbuat jahat padaku? Apakah kurang kebaikan yang selama ini kuberikan padamu?"
"Hahaha.. Hahahhahaha, kebaikan katamu? Kebaikan apa?"
"Bahkan kau tak menyadarinya?"
"Lidya, aku hanya ingin mengambil semua yang menjadi milikku!!!"
"Apa maksudmu???"
"Kekayaan yang kau miliki, aku juga memiliki hak atas semua itu Lidya. Awalnya aku memang tulus padamu, namun setelah beberapa tahun aku tinggal denganmu baru kusadari jika kau dan Ibumu adalah sumber kehancuran bagi keluargaku!!!"
"Jangan pernah bermimpi untuk memiliki semua itu, karena kau tidaklah berhak!"
"Aku tidak bermimpi, dan aku memang memiliki hak untuk itu semua. Lihat ini!!!"
"Lidya lalu melihat foto yang ada di hadapannya."
"Ayah. Ayah Hasan."
"Yaaaa Ayah, Hasan Ayah tirimu adalah Ayah kandungku Lidya!!!"
Lidya begitu terperanjat mendengar kenyataan itu. "Bagaiman mungkin itu semua bisa terjadi?"
"Tentu bisa Lidya, karena Ayahku terpikat oleh rayuan janda nakal seperti ibumu!!!"
"Jangan pernah menjelek-jelekkan Ibuku si*lan!!!"
"Kau berani mengumpatku?"
"Tentu saja berani karena Ibuku tidak seperti yang kau bicarakan!!! Dia adalah wanita baik yang begitu penyayang. Dan kekayaan yang didapat, adalah hasil kerja keras Ayah Hasan dan Ibuku, jadi kau tidak berhak untuk mengakui kekayaan itu secara sepihak!"
"Jika Ibumu adalah wanita baik, tentu tidak akan menghancurkan perkawinan orang tuaku!!"
"Perlu kamu tahu jika Ibuku tak pernah merebut Ayahmu! Dia mendekati Ibu saat dia sudah bercerai dari Ibumu, dan perlu kau tahu jika Ayahmu mengusir Ibumu karena Ibumu telah berselingkuh! Bahkan aku tahu jika kau bukanlah anak kandung dari Ayah Hasan, kau adalah hasil perselingkuhan antara Ibumu dengan selingkuhannya! Hahahaha."
PLAKKK PLAKKKK
"Diam!!! Kau sudah berani menantangku Lidya!!! Rasakan ini!!!"
BUGHH BUGHHHH
Lidya lalu jatuh terkulai dengan kursi yang masih menopang tubuhnya, saat tubuhnya mendapat pukulan yang bertubi-tubi. Mata Lidya seakan ingin terpejam, namun dia mencoba untuk bertahan.
"Lidya sekarang aku akan membuatmu semakin tersiksa di akhir hidupmu! Lihat anak kecil ini!!"
"Casandra." kata Lidya lirih.
"Dimana Casandra? Jangan sakiti Casandra." kata Lidya.
"Lidya, kau begitu bod*h, selama ini kau bahkan tidak menyadari jika yang hidup bersamamu adalah Casandra."
"Apa maksudmu?"
"Dasar bo*oh, kau tak bisa mengerti kata-kataku!!"
"Kanaya?" kata Lidya semakin lemah.
"Ya, Kanaya adalah Casandra, putrimu yang kau cari selama ini. Hahahaha."
"Kanaya putriku." kata Lidya lirih sambil diiringi sebutir air mata yang jatuh, matanya pun kian terpejam dengan sempurna.