Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Babak Belur


"Bagaimana caranya Kanaya?" kata William dan Devin bersamaan.


"Coba kalian pikir, apakah postur tubuh Bi Anti dan Tante Lidya itu sama?"


"Tentu tidak, postur tubuh Mami lebih besar dibandingkan Bi Anti."


"Lalu?"


"Bagaimana mungkin Bi Anti bisa mengangkat Tante Lidya sendiri."


"Jadi ada orang lain yang membantunya?" tanya Devin.


"Ya, itu pasti." kata William.


"Dan orang itu adalah Pak Sapto." jawab Kanaya.


"Bagaimana kau membuat kesimpulan seperti itu Kanaya?" kata William.


"William, apa kau tak sadar jika hari ini adalah tugas Pak Sapto untuk berjaga, tapi kenapa yang berjaga adalah Pak Seno?"


"Sapto kemarin ijin padaku jika dia ada urusan keluarga." kata William.


"Itu hanya alasan, Devin cepat panggilkan Pak Seno kesini, dia pasti sekarang sudah sadar."


"Iya Kanaya." kata Devin lalu bergegas lari ke depan rumah. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan Seno yang berjalan di belakangnya.


"Ma.. Maafkan saya Tuan, Nyonya, saya sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah ini. Tadi siang saya hanya meminum teh yang diberikan Bi Anti, setelah itu Sapto datang ke rumah ini, dia beralasan mengambil barang miliknya yang tertinggal di garasi mobil. Setelah itu saya tidur berjam-jam, dan ketika saya membuka mata hari sudah gelap. Ampun Tuan Nyonya." kata Seno sambil menangis.


"Sudahlah Pak, semua sudah terjadi, sekarang aku ingin bertanya padamu!"


"Ya Nyonya Kanaya."


"Apakah kau tahu dimana rumah Sapto?"


"Tentu Nyonya, saya tahu rumahnya."


"Antarkan kami sekarang juga ke rumah Sapto."


"Baik Nyonya."


Mereka semua lalu menaiki mobil milik Devin dan pergi ke rumah Sapto. Mereka lalu sampai di sebuah rumah kecil semi permanen yang terbuat dari tembok dan triplek yang menurut Seno adalah rumah Sapto.


TOK TOK TOK


Beberapa kali Kanaya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Hampir sepuluh menit mereka berdiri, akhirnya pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita berumur sekitar 40 tahun dengan memakai stelan gamis dan hijab lusuh berwarna cokelat tampak tersenyum melihat kedatangan Kanaya.


"Permisi Bu, saya bisa bertemu Pak Sapto?"


"Bapak sedang pergi Nyonya." jawab wanita itu. Namun Devin tidak percaya mendengar kata-kata perempuan itu, matanya tampak mengamati seisi rumah. Namun rumah itu terlihat sepi.


"Bolehkah saya ijin untuk buang air kecil ke belakang Bu?" tanya Fadil.


"Oh tentu saja Tuan, silahkan masuk." jawab wanita itu sambil mengantar Fadil ke belakang. Devin lalu ikut masuk ke dalam rumah, dan mencoba membuka kamar satu-satunya yang ada di rumah itu, namun kamar itu pun kosong.


"Kosong." kata Devin pada William dan Kanaya dengan sedikit lemas.


William lalu melangkahkan kakinya ke sebuah gang tepat di samping rumah itu untuk menyalakan rokok sambil menunggu Fadil yang berbasa-basi di dalam rumah. Saat korek api milik William menyala, dalam samar cahaya korek api miliknya, tiba-tiba netranya melihat seseorang yang sedang berdiri di samping sebuah pohon di belakang rumah itu. William berbalik ke depan rumah Sapto untuk memanggil Kanaya dan Devin.


"Cepat ikut aku." kata Devin sambil berbisik pada Kanaya dan Devin.


"Di balik pohon Devin."


Tubuh kurus Devin lalu secepat kilat berlari, namun sosok yang bersembunyi di balik itu pun kemudian ikut berlari menjauh dari mereka.


"Kanaya, kau dan Papa tunggu kami di mobil." kata William.


Mereka lalu berlarian dalam gang-gang sempit, masuk ke dalam celah-celah antar rumah bahkan memasuki pekarangan yang membuat pemiliknya marah.


William lalu melihat segerombolan orang yang sedang berkerumun di pos ronda, seketika dia pun berteriak. "Pencuri.. Pencuri.." teriak William sambil menunjuk-nunjuk Sapto yang berlari di depannya.


Orang-orang di pos tersebut lalu menghadang Sapto yang ada di dekat pos ronda. Sapto yang panik karena sudah terkepung akhirnya pun bersimpuh dengan keringat bercucuran dan nafas yang tersengal-sengal. William dan Devin yang juga tampak kelelahan lalu mendekat pada Sapto sambil menghubungi Kanaya untuk mendekat ke lokasi mereka saat ini.


"Ampun Tuan.. Ampun Tuan William, Tuan Devin." kata Sapto sambil terengah-engah.


"Bapak-bapak terimakasih sudah membantu kami, orang ini sudah menculik Ibu saya." kata Devin dengan berapi-api dan menunjuk-nunjuk ke wajah Sapto.


"Wahhh penculik, ayo kita hajar rame-rame." kata warga yang masih mengerubungi Sapto. Mereka lalu bergantian menghajar Sapto dengan beringas.


"Sudah bapak-bapak, sudah cukup, kami akan membawa dia ke pihak yang berwajib namun sebelumnya dia harus mengantarkan kami terlebih dahulu ke tempat dia menyembunyikan Ibu kami." kata William.


"Baik Tuan, kami akan mengantar orang ini ke dalam mobil kalian, agar dia tidak kabur." kata salah satu warga.


"Baik Terimakasih." jawab William.


"Tunggu, kita harus mengikat orang ini agar dia tidak kabur." kata Devin.


Salah seorang warga lalu mengambil tali di rumah mereka, kemudian mengikat Sapto dan mengaraknya ke mobil yang telah dibawa oleh Kanaya mendekat ke lokasi mereka meringkus Sapto saat ini.


"Terimakasih atas bantuannya bapak-bapak, saya permisi dulu." kata William saat akan masuk ke dalam mobil sambil memberikan sebuah amplop pada mereka.


Mereka tampak begitu bahagia mendapat amplop yang cukup tebal dari William. "Sama-sama Tuan." jawab mereka serempak.


Di dalam mobil, Sapto yang babak belur hanya bisa bersandar di jok belakang mobil. "Maafkan saya Tuan, saya terpaksa karena membutuhkan uang untuk pengobatan anak saya di rumah sakit."


"Tidak usah banyak alasan Sapto, bukankah kau bisa meminta pada kami. Sekarang diamlah dan tunjukkan dimana kau dan Anti menyekap Mami." kata Devin.


Kanaya yang duduk di depan mobil bersama William lalu menoleh pada Sapto. "Memangnya aku tak tahu hubunganmu dengan Bi Anti?" kata Kanaya sambil menyunggingkan senyum.


***


Lidya membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa begitu lemas dan tak bertenaga. "Kanaya, Kanaya adalah putriku? Apa Kanaya adalah Casandra?" kata Lidya lirih sambil tersenyum.


"Hai wanita jal*ng, kau sudah bangun?" kata sebuah suara.


"Anti, tolong lepaskan aku, aku ingin bertemu dengan putriku Casandra. Apakah itu semua benar? Kau tidak berbohong kan?" tanya Lidya.


"Apa untungnya aku membohongimu? Kau juga sudah akan mati. Hahahahaha."


"Darimana kau tahu semua itu Anti?"


"Memangnya apa tujuanku mendekatimu saat kau pertama kali kehilangan Casandra? Aku mendekatimu agar kau tak menemukan Casandra, karena kakakku lah yang telah menculik Casandra, aku takut jika kau menemukan mereka, kau akan melaporkan kakakku ke polisi. Hidup kakakku sudah begitu tragis, aku tak mau hidupnya semakin berantakan jika kau melaporkan dia ke polisi. Lalu apakah kau ingat syal lusuh yang dipakai Kanaya? Syal itu adalah milik Mba Rena, kakak perempuanku."


"Jadi selama dua puluh tahun terakhir ini kau yang selalu menggagalkan usahaku untuk menemukan Casandra."


"Tentu, dan satu yang perlu kau tahu, jika namaku adalah Santi bukan Anti, aku merubah namaku untuk menghilangkan jejak agar kau tak curiga saat bertemu orang-orang yang mengenal kami berdua."


"Dasar bia*ab." kata Lidya, dada kanannya terasa begitu sakit, nafasnya pun mulai tak beraturan, dan matanya seakan ingin tertutup karena sudah tak kuat menahan rasa sakit di dadanya."


"Lidya, jangan mati dulu Lidya, kau belum menandatangani surat pengalihan hartamu untukku." kata Santi disertai raut wajahnya yang panik.


"Lidyaaaa... Lidyaaaa." kata Santi dengan sedikit berteriak.


"LIDYYYAAAAAA."