
Saluran televisi swasta tampak ramai menyiarkan operasi tangkap tangan seorang mafia perdagangan manusia. Tak hanya itu, di berbagai portal berita online maupun akun gosip media sosial juga dipenuhi dengan headline penangkapan seorang wanita yang memiliki jabatan tinggi di jajaran pemerintahan.
Lidya dan Kanaya tersenyum penuh kemenangan di dalam kamar sambil menonton saluran televisi yang bahkan menyiarkan detik-detik penangkapan wanita tersebut.
"Luar biasa Tante, apa tante yang memberi tahu media tentang penangkapan Tante Lia?"
"Tentu saja Kanaya, ini adalah sebuah hal besar yang harus diketahui publik. Selama ini dia dan suaminya telah membangun image sebagai pasangan rumah tangga yang begitu harmonis dan dermawan. Namun tak seorangpun tahu dibalik topeng yang penuh pencitraan tersebut, mereka adalah penjahat yang menghancurkan masa depan seseorang untuk kepentingan pribadi mereka."
"Benar Tante, sudah saatnya Tante Lia mendapatkan balasan atas semua kejahatannya." kata Kanaya sambil tersenyum.
"Sekarang Tente bisa hidup dengan tenang karena Tante Lia sudah masuk penjara dan sebentar lagi kita akan tahu dalang yang menginginkan kematian Tante, tinggal menunggu kabar dari Devin."
"Iya Kanaya, terimakasih banyak kamu sudah banyak membantu." kata Lidya sambil menggenggam tangan Kanaya.
"Sama-sama. Tante, besok Kanaya ijin pergi ke lokalisasi milik Mami Cindy ya?"
"Buat apa kamu kesana Kanaya?"
"Ada sesuatu yang harus Kanaya selesaikan Tante." kata Kanaya sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Baik, lakukanlah apa yang menurutmu baik Kanaya. Malam ini, kamu jadi tidur sama Tante kan?"
Kanaya lalu mengangguk. "Tente tahu, Om Fadil sudah mulai genit padamu Kanaya, tapi dia belum bisa berkutik karena dia telah dik*biri oleh Devin hahahaha."
"Jadi itu alasan Tante menyuruhku untuk menikah dengan Om Fadil karena Tante yakin dia tidak akan pernah bisa menyentuhku?"
"Ya Kanaya, awalnya dia tak mau tapi tante yang membujuknya dengan iming-iming jika kelaki-lakiannya bisa bangkit saat menikah dengan wanita muda yang cantik sepertimu hahahhahaha."
Kanaya dan Lidya lalu tertawa bersama, sedangkan di luar tembok tampak Fadil tengah mengendap-endap menuju ke belakang rumah.
"Papa, Papa lagi ngapain?"
"Eh Willi."
"Emh Papa mau ambil minum ke belakang."
"Oh, tapi kenapa harus mengendap-endap seperti maling?"
"Emh Papa cuma takut membangunkan Mama, Mama hari ini agak kurang sehat jadi Papa ga mau tiba-tiba terbangun dari tidurnya."
"Oh ya sudah Willi ke kamar dulu."
"Iya Nak."
'Aneh.' gumam William.
Saat hari beranjak siang, netranya tiba-tiba terbuka begitu lebar saat seorang wanita dengan dua orang anak kecil keluar dari rumah tersebut. Wanita itu lalu keluar dari dalam rumah bersama dua orang anak kecil. 'Heh, ngapain tu orang bawa anak kecil.' gumam Devin. Dia berjalan melewati jalan raya yang sejauh dua kilo meter, sesekali dia menggendong salah satu anaknya secara bergantian. 'Dasar be*o, ngapain coba pake jalan kaki, bukannya dia punya duit hasil jadi mata-mata, bikin gue cape aja.' gumam Devin.
Beberapa saat kemudian dia masuk ke sebuah gang, dan berhenti di depan rumah yang bertuliskan "PANTI ASUHAN". Wanita itu mengetuk pintu, tak lama seorang wanita muda yang sangat cantik dan memakai hijab keluar dan menyambut kedatangannya. Sepintas Devin terpana oleh kecantikan wanita berhijab itu. "Eh, Mba Reni, mari masuk."
"Dinda, Mba di luar saja ya. Mba terburu-buru, titip anak-anak ya Dinda."
"Loh Mba Reni mau kemana?"
Devin pun semakin mendekat ke arah halaman Panti.
"Mba mau cari pekerjaan lagi Din, Mba udah dipecat dari pekerjaan yang lama karena ada yang memfitnah Mba, sekarang Mba sudah ga punya uang, Mba harus mencari pekerjaan. Mba titip anak-anak sebentar ya. Dulu waktu Mba kerja, biasanya tetangga yang jagain anak-anak tapi sekarang Mba udah ga punya uang sama sekali, mereka pasti ga ada yang mau jaga Revan dan Lani kalau ga dikasih upah. Yatim piatu seperti kita terkadang memang serba salah Din, apalagi kita ga punya sanak saudara."
Wanita bernama Dinda itu lalu menggenggam tangan Reni. "Mba, Mba Reni tenang saja Revan dan Lani biar Dinda yang jaga, Mba ga usah khawatir. Bukankah dari dulu kita sudah hidup bersama di panti ini dan menganggap saudara satu sama lain?"
"Ya Din, makasih." jawab Reni sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Dia kemudian pergi meninggalkan Panti itu dan kembali melewati jalan raya yang tadi dilaluinya.
'Dasar penjahat banyak drama. Sekarang kau akan membawaku ke orang yang sudah menyuruhmu.' gumam Devin.
Reni lalu berjalan sejauh satu kilo meter, dia lalu berhenti di sebuah lampu merah, dan berjalan masuk ke sebuah celah-celah beton fly over. Beberapa saat kemudian dia sudah berganti pakaian dan berdandan layaknya seorang badut. 'Buset, ngapain tu orang jadi badut.'
Reni yang sudah berkostum badut lalu menghibur beberapa pengendara kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah tersebut dengan berbagai tingkah lucunya. Tampak beberapa orang pengendara memberi Reni imbalan dengan uang receh, entah mereka benar-benar terhibur dengan tingkah lucu Reni, atau hanya kasihan saja.
Rasa kasihan pun mulai timbul dalam hati Devin, namun dia mengabaikan semua perasaannya dan kembali memantau gerak-gerik Reni sampai hari beranjak sore, dan Reni kembali ke panti asuhan tersebut untuk mengambil kedua anaknya.
Menjelang petang, Reni dan kedua anaknya telah kembali ke rumah mereka. Devin sebenarnya merasa begitu kesal karena beberapa hari ini dia terasa begitu sia-sia karena Reni tak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Devin lalu mendekati rumah tersebut dan menguping pembicaraan Reni dan kedua anaknya. Namun yang Devin dengar, Reni hanya mengajarkan kedua anaknya mengaji dan membaca.
"Bu, kapan Ibu beli televisi untuk Lani? Lani kan pengen kaya Fisya yang setiap hari nonton kartun di TV, bahkan Lani tidak pernah paham jika teman-teman Lani bercerita tentang Upin Ipin dan Spongebob. Mereka itu siapa sih Bu?"
"Sabar ya sayang, kalau Ibu sudah punya uang pasti Ibu belikan televisi untuk kalian." kata Reni.
Devin semakin bingung mendengar percakapan Reni dan anak-anaknya. 'Jangan-jangan bukan Reni pelakunya.' dia lalu mengetuk rumah itu untuk mendapatkan penjelasan dari Reni tentang apa yang telah terjadi saat itu.
TOK TOK TOK.
Reni lalu membuka pintu rumahnya, dia begitu terkejut dengan kedatangan Devin. "Tuan Devin." kata Reni disertai raut kecemasan di wajahnya.
***
Di dalam sebuah rumah mewah yang tampak begitu sepi, Lidya membuka salah satu laci di meja rias miliknya, dia lalu mengambil album foto di dalam tumpukan buku di laci tersebut. Satu per satu halaman album pun dibukanya, tak terasa air mata kini sudah mengalir deras di wajahnya. "Casandra, Mami rindu, bagaimana keadaanmu Nak? Sudah dua puluh tahun, tapi Mami tak pernah bisa menemukanmu."
Tiba-tiba lamunan Lidya dikejutkan oleh pintu kamarnya yang terbuka. "Ada apa tiba-tiba kamu masuk ke dalam kamar saya?" kata Lidya. Namun orang yang masuk ke dalam kamar tersebut hanya tersenyum sinis dan berjalan semakin mendekat ke arahnya. "Inilah saatnya Lidya."