
Setelah malam dimana Albi memberitahu orang tua mereka soal niat Kai yang meminta untuk segera meminang kekasih hatinya.
Dengan kedua orang tua yang menerima niat baik Kai. Mereka tak banyak protes ataupun mempermasalahkan asal usul calon menantu mereka yang merupakan orang jauh. Memiliki perbedaan suku, adat, bahasa dan budaya. Namun, itu tak lantas menjadi penghalang untuk memberikan restu pada niat baik anak laki-laki mereka yang ternyata sudah begitu siap untuk menghalalkan anak dara orang dan menuju ke jenjang yang lebih serius.
“Suruhlah besok Kai pulang dulu, kita bahas sama-sama di rumah. Kalau bisa kau pun datanglah!"
Ayah dan Emak pun meminta Albi untuk menyuruh Kai pulang terlebih dulu. Bahkan begitu tiba di rumah, orang tua Kai hanya menanyakan beberapa hal inti yang akan menjadi fondasi dalam membina rumah tangga.
“Apa Kau benar-benar siap lahir batin jadi suami?"
“Apa kau benar-benar bisa dipercaya sama orang tua Meysa untuk memberikan tanggung jawab penuh anak mereka kepada Kau?"
“Menikah bukan perkara sehari atau dua hari Kai, ini soal hidup, bahkan cara kau membimbing keluarga kau pun akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak."
Dan semua pertanyaan dari Emak dan Ayah itu Kai jawab dengan penuh keyakinan jika Ia menyanggupi segala yang Ayah tanyakan dan Ia pun sudah memikirkan semua secara matang. Bahkan dari jauh hari, Ia dan Meysa juga sudah pernah membahas bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nanti.
Malam ini keluarga Kai tengah mempersiapkan rangkaian seperangkat alat meminang yang akan di bawa ke rumah calon menantu mereka besok.
“Apa semuanya memang harus dipersiapkan dari sini? Apa nanti gak masalah kalau diperiksa di Bandara?" tanya sepupu Kai yang baru datang sambil menimang anak perempuannya yang berusia dua tahun.
“Ya nggak lah, kan bukan barang berbahaya. Cuma beginian!" seru Bu Yuliati, mamak Kai menunjuk tepak sirih, rangkaian bunga rampai, kue khas dan beberapa jenis buah yang sudah disusun ke dalam kotak yang dihias sedemikian rupa. Yang mana nantinya semua itu digunakan sebagai seserahan dari mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita.
Sebenarnya bisa saja mereka membeli rangkaian seserahan di kota Meysa nanti, hanya saja keluarga Kai sepakat membawa kue khas daerah mereka untuk mencegah jika saja disana tidak ada jenis kue yang diinginkan.
Beberapa bingkisan yang sudah dihias itupun dipacking ke dalam kardus oleh bibik Kai, ibu dari sepupunya.
“Cincinya belum ado?" tanya Paman menggunakan bahasa melayu yang hampir mirip dengan dialek minang. Bagaimana menjelaskannya?
Ah, ya, dikatakan demikian sebab seperti ini ... Walaupun kabupaten tempat tinggal Kai memang masuk provinsi Riau yang orang-orangnya mayoritas melayu, tetapi secara budaya dan bahasa mereka lebih ke minang. Sebab nenek moyang kabupaten mereka memang berasal dari Minang. Kurang lebih demikian.
Sementara itu keluarga Kai masih saja bercakap di ruang tamu. Tak banyak yang hadir, hanya beberapa orang saja. Toh baru lamaran, belum acara intinya. Begitu orang tua Kai berpikir hingga tak memanggil banyak orang. Apalagi mengingat daerah calon menantu mereka sangat jauh, tidak memungkinkan kalau banyak yang ikut dalam proses lamaran.
“Cincin lamaran biar besok di beli di kota," sahut Bibik Kai, saudari Ayah. Yang mana membuat semua mengangguk setuju.
Obrolan itupun masih berlanjut, semua keluarga Kai bercakap menggunakan bahasa daerah mereka. Berbaur membicarakan siapa saja yang ikut dalam perjalanan untuk meminang besok.
Sebenarnya Kai ingin banyak keluarga yang ikut, tapi Ayah dan Emak menyarankan agar untuk lamaran yang pergi cukup beberapa orang saja demi menghemat bajet.
"Lagian si Kai nyari bini orang jauh, harus nyeberang lautan dan pulau dulu baru bisa sampai."
“Ya, gimana lah. Jodohkan sudah ada yang atur, mungkin Kai emang ditakdirkan dapat yang jauh!" sahut Ayah dengan bijak.
Beberapa keluarga Kai memang sempat terkejut saat mendengar kabar jika Kai akan melangsungkan lamaran tetapi bukan dengan orang daerah mereka atau sepulau, melainkan dengan orang jauh. Tentu hal itu membuat mereka heran dan bertanya-tanya darimana Kai bisa kenal dan menjalin hubungan dengan orang sejauh itu.
Kai yang kebingungan merasa beruntung setiap kali Ayahnya membantu memberikan jawaban. Rasanya Kai tak mampu kalau harus menjelaskan panjang lebar bagaimana awal pertemuannya dengan Meysa pada orang lain yang terkesan unik dan lanka.
Kai ingat betul bagaimana kesusahannya Ia saat menjelaskan semua pada Ayah dan Emak. Mereka terheran-heran dan tak percaya jika Kai malah menjalin hubungan seperti itu. Namun, Kai berhasil menjelaskan dengan bantuan Abang, dimana saat itu juga bukti foto saat Ia menemui Meysa begitu mendukung.
Dari situ Kai malas menjelaskan soal awal pertemuannya dengan Meysa. Sebab tak ingin kewalahan menjelaskan panjang lebar.
“Berarti nanti bini Kai ini satu-satunya keluarga kita yang paling jauh."
“Ya, mau bagaimana lagi."
Ponsel Kai yang berdering membuat pria itu segera beranjak meninggalkan keluarga yang masih asik mengobrol membahas soal Ia dan calon istrinya.
Suara riuh obrolan menggunakan bahasa daerah pun mulai samar-samar terdengar saat Kai keluar rumah dan memilih menjawab telepon di halaman yang cukup luas.
“Iya Mey?" sahut Kai menjawab panggilan yang ternyata dari Meysa.
Pria yang menggunakan sarung dipadukan kaos hitam itu melepas sarung yang dikenakan dan menggantungkannya di bahu, menyisakan celana bola berwarna hitam dengan garis putih. Kai terlihat seperti orang yang hendak meronda.
Dengan sandal jepit andalan berwarna hijau putih Ia mulai melangkah keluar halaman rumah. Menyusuri jalan kampung yang masih krikil sebagian dan ada juga yang sudah teraspal. Dan lorong rumah Kai kebagian jalan berkerikil. Meski begitu kampung Kai begitu asri dan bersih. Lampu penerang berjejer di pinggir jalan, berada tepat di depan masing-masing rumah warga.
“Nak kemano, Def?" Kai yang tengah menempelkan benda pipih di telinga berteriak menggunakan bahasa daerahnya ketika dua pengendara motor lewat di sampingnya.
“Ke rumah si Awan!" sahut kedua pria itu secara bersamaan. Membuat Kai balas menggunakan tangan melambai dengan mata berkedip menahan senyum.
Sedangkan Meysa yang mendengar itu segera melayangkan tanya pada Kai.
“Lagi di luar" tanyanya yang juga mendengar suara motor dan teriakan Kai barusan.
“Oh, kirain dimana."
“Nggak dimana-mana bee, cuma lagi depan rumah." Kai yang masih berdiri sambil menyanggah tangan menggunakan sarung yang melingkar di bahunya itu nampak tersenyum.
Sebenarnya Ia tahu Meysa pasti kesal sebab semenjak Ia menyampaikan lamaran melalui pesan, mereka sama sekali belum pernah melakukan video call dan Meysa pun tak pernah meminta. Meski begitu kepekaan Kai yang sudah meningkat seratus persen tahu betul apa yang Meysa rasa, sebab Ia pun merasakan hal yang sama.
Hanya saja Kai sengaja menahan diri untuk tidak mengajak Meysa video call, karena ia ingin melihat tambatan hatinya itu secara langsung saat datang lamaran nanti. Setelah sekian lama dan bertemu saat lamaran, pasti rasanya begitu menggebu-gebu. Ah, sungguh Kai tak bisa membayangkan hal itu.
“Besok berangkat jam berapa?" tanya Meysa saat mereka sempat sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Menebak bagaimana kekesalan yang Meysa rasakan karena tak mengajak gadis itu VC berhasil membuat Kai senyum-senyum sendiri sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari orang terkasih.
“Jam tiga berangkat dari sini, soalnya pesawatnya take off jam 10.45 pagi, jadi jam sembilan udah harus chek-in." Sambil menjawab, Kai meneruskan langkah ke arah jalan sebelah kiri rumahnya. Pria itu terlihat seperti setrikaan yang menelepon dengan terus bergerak.
“Cepet banget!" seru Meysa yang sedikit terkejut mendengar jam berangkat Kai dan keluarga menuju Kota Pekanbaru. Jam keberangkatan yang paling Meysa benci!
Perjalanan subuh membuat Meysa merasakan mual duluan, padahal bukan dia yang akan melangsungkan perjalanan. Selain dingin, perut yang masih kosong di jam segitu membuat Meysa bisa membayangkan rasanya bepergian dini hari.
“Yakan perjalanan dari sini ke kota lima jaman bee, udah bener itu berangkat jam segitu!" jelas Kai yang kembali melangkah ke depan rumahnya.
Dari balik telepon, Meysa terlihat sibuk menghitung waktu perjalanan menggunakan jari “Empat, lima, enam, tujuh, delapan. Berarti sampai Pekanbaru sekitar jam delapan, ya?" tanya Meysa setelah berhasil menghitung waktu lima jam yang Kai maksud.
“Ya, kurang lebih gitu bee. Belum lagi sampai sana harus beli cincin dulu, soalnya emak belum ada beli cincin buat lamaran."
“Nggak usahlah, cincin cukup buat mahar aja."
“Gak usah apa pulak." Kai menyela ucapan Meysa. Saking tidak ingin memberatkan, calon istrinya ini selalu saja mengatakan tidak usah pada setiap hal yang ingin Kai lakukan. Kai yang merasa gemas, ingin sekali membuat Meysa paham, jika hal seperti ini memang harus ada. Selain itu, Kai memang bertekad memberikan yang terbaik untuk Meysa.
“Cincin harus ada, sebagai tanda pengikat setelah lamaran. Ceritanya kayak tunangan gitu."
"Tapi di tempatku biar gak pakai cincin juga gak apa, lamaran aja udah cukup!" seru Meysa yang masih kekeh. Dasar Meysa, disaat wanita lain berlomba-lomba mendapat mahar luar biasa dan seserahan yang fantastis, Ia malah ingin meringankan semua pada Kai. Betapa murninya hati calon istri Kai ini.
“Udah ah, kamu diam aja! Sekali-kali ngikut kenapa!"
Meysa terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan dari Kai. Dengan wajah ditekuk menahan kesal, Meysa menggigit ujung kukunya.
Selain pasrah karena ucapan Kai, gadis yang tengah menelepon sambil menelisik ke arah luar jendela itu sebenarnya agak kesal dan bertanya-tanya dalam hati sebab sudah dua hari mereka berbaikan setelah ia menyetujui lamaran pria itu, tetapi Kai sama sekali tak pernah mengajaknya untuk video call. Padahal ia sangat merindukan dan ingin melihat wajah Kai yang sudah lama absen dari matanya.
Namun, rasa gengsi membuat Ia enggan mengatakan lebih dulu. Kalau Kai tidak minta duluan, ya aku juga nggak! Begitu pikir Meysa. Tanpa tahu jika Kai punya rencana tersendiri.
“Yaudah sana tidur, jangan sampai lambat!"
Kai menahan senyum mendengar ucapan ketus Meysa. “Kenapa, takut ya kalau abang lambat datang?" goda Kai dengan tersenyum lebar, menampakkan jejeran giginya.
“Takut kalau abang gak jadi datang ngelamar ya?"
“Ck, apasih!" sela Meysa yang terdengar jutek dan malas digoda, padahal aslinya Ia sedang menahan senyum.
“Aku gak takut ya, mau kamu gak jadi datang itu terserah kamu. Toh kamu sendiri yang dosa karena mainin perasaan orang!" sentak Meysa dengan sok mengancam. Yang ujung-ujungnya membuat Kai menyerah, tak mau membuat Ayang marah. Idih!
"Ih, bee, kok gak takut. Aku loh takut kalau sampai gak jadi!" seloroh Kai setelah memilih mengalah.
“Salah sendiri kenapa ngomong begitu!" sahut Meysa yang sok-sokan tidak takut. Padahal dia sendiri takut setengah mati dan terus-terusan berdo'a dalam hati agar Kai dan keluarga diberikan kesehatan dan umur panjang, Bisa datang dan pulang dengan selamat agar Ia dan Kai bisa bersatu secepatnya. Meysa juga berdo'a agar prosesi lamaran nanti berjalan dengan mulus.
“Iya-iya-iya, maaf buk bos!" Kai menyerah, mendebat wanita adalah hal yang sia-sia. Ia pasti kalah.
“Ini aku mau otw tidur biar gak lambat bangun!" Kai pun melangkah ke halaman rumah.
"Nah gitu dong!" seru Meysa dengan bangga.
Tanpa tahu jika itu hanya akal-akalan Kai untuk menenangkannya. Lagi pula ini masih pagi untuk jam tidurnya, selain karena belum ngantuk Kai juga merasa nervous. Jujur, sejak mengutarakan niat lamaran dan kedua pihak keluarga setuju, Ia malah dibuat tidak tenang. Hatinya seperti carut-marut memikirkan hal sakeral yang akan segera berlangsung setelah melewati tahapan ini. Selain itu, mau begadang sekali pun ia akan tetap bangun tepat waktu.
Semenjak bekerja Kai memang sudah lebih disiplin. Bukan lagi Kai yang dulu, yang mana selalu bangun kesiangan seperti saat masih kuliah dan belum kerja. Tak jarang Meysa sering membantu membangunkan melalui panggilan ketika mereka baru mulai merajut hubungan saat itu.
“Yaudah sayang bobo gih, jaga kesehatan ya. Sampai ketemu besok malam, love you, bul!" ujar Kai sebelum mengakhiri panggilan.
Seperti kebiasaan lama, Meysa malah balas menggunakan senyum seraya mengangguk. Tanpa menyadari jika Kai tak akan bisa melihat hal itu.
“Semoga selamat sampai tujuan ya Abang dan Keluarga, Aku tunggu kedatangannya. love you more!" Balas Meysa dan panggilan itu pun benar-benar berakhir setelahnya.