
Begitu selesai shalat isya, Meysa langsung mencari keberadaan Bapak. Ayahnya itu sedang duduk di teras, tengah mengobrol dengan rekan sebayanya. Pak Abdul dan Haji Tawang, duduk bertiga sambil menikmati kopi panas dan bercerita.
Meysa yang berniat memberi tahu soal Kai dan Keluarga yang akan datang melamar lantas urung, sebab tak mungkin jika memberi tahu Bapak sekarang. Selain itu, sebenarnya Ia juga tak punya keberanian untuk mengatakan niat baik Kai secara langsung pada Bapak.
Meysa lalu kembali ke kamar. Kini gadis yang mengenakan piyama tedy bear itu tengah mondar-mandir sambil mencoba merangkai kata yang akan ia sampaikan saat memberi tahu Faza nanti. Meysa berniat menyampaikan hal ini lebih dulu pada Faza, nanti biar Faza yang menyampaikan semua pada Mamak dan Bapak.
Kejadian beberapa lamaran gagal yang Ia tolak beberapa bulan lalu itu membuat Meysa takut berbicara langsung pada Mamak dan Bapak. Takut dikira akan mempermainkan perasaan orang seperti dulu dan ia akan mendapat amukan dari Bapak. Gadis 26 tahun itu tak mau kejadian demikian terjadi.
“Kak, Kai mau melamar. Beberapa hari lagi keluarganya mau datang, Kak Faza bantu kasih tahu Mamak sama Bapak ya supaya siap-siap menyambut kedatangan mereka." Meysa mencoba mengatakan kalimat yang berhasil dirangkai oleh otaknya.
“Ih, kenapa kayak tidak nyambung?!" gerutunya. Gadis yang biasanya begitu mudah membuat narasi untuk cerita fiksinya itu malah kesulitan merangkai kalimat yang akan dia katakan pada sang kakak.
“Ck!"
Lelah mondar mandir akhirnya Meysa duduk di depan meja rias, Ia menarik kuris tunggal yang sering digunakan saat menulis di meja samping rak buku.
“Kalau begini?" tanyanya seraya memandangi sebuah teks yang sudah ia rangkai di ponselnya.
Meysa menjentik-jentikkan telunjuk di bibir, nampak seperti orang yang tengah berpikir berat.
“Ahh, langsung saja!" Akhirnya Meysa menyerah juga, lama berpikir tapi tak kunjung mendapat hasil memuaskan, Ia pun memutuskan untuk menghubungi Faza lebih dulu.
Sambil menunggu sang kakak menjawab teleponnya, Meysa terlihat fokus menatap wajahnya dari pantulan cermin.
“Kenapa ada jerawat, tanggal h@idku kan masih lama!" lirih Meysa saat memerhatikan ada satu benalu yang muncul di dekat hidung minimalisnya yang tak terlalu pesek itu dan bisa dibilang cukup mancung, Ya sedang-sedang untuk standar kecantikan Indonesia.
Setiap menjelang datang bulan, biasanya benalu itu akan muncul di wajahnya sebagai tanda. Tapi kali ini lebih cepat dari biasa, yang mana jadwal datang bulannya selalu di akhir bulan. Sedangkan saat ini baru tanggal belasan, tapi tanda-tandanya sudah muncul , mmebuat Meysa bertanya-tanya apakah jadwal periodnya akan datang lebih cepat.
“Assalamualaikum."
“Halo, kenapa?"
Suara Faza yang baru saja mengangkat panggilannya membuat Meysa yang tengah menatap jerawat di hidupnya itu hampir terperanjat saat mendengar suara sang Kakak. Kini Ia kembali fokus memikirkan niat untuk menyampaikan niat Kai pada Faza.
“Halo!"
“Eh, iya kak!" seru Meysa menjawab dengan cepat.
“Kenapa?” tanya Faza yang terdengar tengah berada di dalam mobil.
“Itu, A-anu...” Meysa malah gelagapan, Ia tiba-tiba tak punya keberanian untuk mengatakan semua. Namun, mau tidak mau Ia harus mengatakannya sesegera mungkin, agar Mamak bisa datang dan bersama-sama menyambut kedatangan keluarga Kai.
“Anu apa?" tanya Faza penasaran.
Sedangkan Meysa yang tengah berpikir malah dibuat tidak fokus ketika mendengar suara ponakannya memanggil dari seberang sana.
“Onty Meysa, Cia sama adek, Mama dan Papa mau ke Grand Mall!" teriak pamer bocah yang hampir berusia 10 tahun itu.
Namun, Meysa malas menghiraukan ucapan keponakannya yang cerewet. Ia lebih memilih fokus memikirkan apa yang harus dikatakan pada Faza.
“Onty, Cia punya kucing anggora!"
"Adek Kia punya kelinci di rumah oma!"
“Diam dulu Cia, onty Meysa mau bicara!"
“Cia, coba duduk diam sama adek di belakang!" kini suara kakak Ipar Meysa mulai ikut nimbrung, memberi perintah agar anak sulung mereka tidak mengganggu.
“Kak!" seru Meysa saat tak mendengar Faza mengatakan apapun. Kakaknya yang tengah fokus mengemudi itu memilih diam sambil menunggu apa yang ingin Ia katakan.
“Hmmm." Faza menyahut hanya dengan deheman. Membuat Meysa memutar mata malas, sepertinya sang kakak sedang dalam mode badmood.
“Apa Meysa? Dari tadi Kakak-kakak terus tapi tidak tahu apa yang mau kau bilang!" protes Faza yang kesal karena Meysa tak kunjung menyampaikan maksud.
“Hehe." Bukannya ngomong, Meysa malah cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang gatal. Sepertinya Meysa ikut kutuan karena tidur dengan salah satu teman satu timnya waktu itu.
“Apa Meysa? Kenapa?" cecar Faza. Bapak dua anak yang memang sedang badmood karena waktu istirahatnya diganggu oleh istri dan anaknya yang merengek minta diantar jalan-jalan ke mall. Membuat Faza kesal setengah mati. Ia jelas kalah, tiga lawan satu. Eka dan Cia sangat cerewet. Meski Kia, anak bungsunya yang baru berusia hampir tiga tahun itu tidak ikut merengek, tapi Eka dan Cia malah menjadikan Kia alasan agar mau diantar jalan dan main di mall.
“Kai mau datang melamar dengan keluarganya."
“Apa?" sergah Faza dari seberang telepon. Wajah yang tadinya kusut seperti jemuran itu seketika jadi serius sembarai fokus memerhatikan kendaraan yang ada di depan.
“Kai mau datang melamar?" ulangnya sekali lagi. Berusaha mencerna apa yang adiknya sampaikan.
“Ho'oh!"
“Kai abang-abang teman onty yang pernah datang itu ya, Ma?"
Bahkan si cerewet Ciara yang mendengar nama Kai disebut pun ikut menanyakan hal itu pada sang ibu.
Namun, bukan Eka namanya jika tak mampu membuat anaknya kicep.
“Ck, diam Ciara! Tidak usah ikut-ikutan kalau orang tua sedang bicara. Anak kecil tidak boleh seperti itu!" suara kakak iparnya itu terdengar memberi penjelasan pada bocil sepuluh tahun yang sejak balita memang cerewet dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Berbeda dengan sang adik, Kia lebih kalem.
“Bukannya kau sama Kai sudah lama putus?" tanya Faza penasaran. Sebab sedari beberapa bulan lalu, dimana Meysa didekati beberapa pria, dan bahkan sampai hampir dilamar. Membuat Faza sempat mengira jika hubungan dua anak muda itu sudah berakhir sejak saat itu.
Apalagi jika mengingat saat Meysa menangis menyesali kekacauan yang Ia perbuat membuat dugaan Faza soal kandasnya hubungan Meysa dengan Kai semakin besar.
“Tidak." Meysa menyahut dengan lantang.
Ia menyesali kejadian dan tindakannya saat itu. Mengingat bagaimana Kai selama ini menutupi soal kandasnya hubungan mereka, pun membuat Meysa memilih melakukan hal yang sama seperti yang Kai lakukan. Meski bisa dibilang terlambat karena Ia baru melakukannya sekarang, tapi setidaknya Meysa bisa menutupi itu dari sang kakak.
“Terus waktu itu kenapa kau bikin masalah?" tanya Faza. Kakak Meysa itu malah beralih membahas masalah yang Meysa buat.
Meysa menghela napas sembari berdecak mendengar ucapan Faza. “Ck, sudahlah kak. Jangan ungkit masalah yang lalu!" pintanya yang enggan mendengar Faza mengungkit kesalahannya waktu itu.
Faza balik menghela napas. Sebagai kakak yang baik iapun mencoba memahami perasaan adik satu-satunya itu dengan fokus membahas inti dari apa yang Meysa sampaikan.
“Jadi kapan rencananya mau datang?" tanya Faza serius.
“Emmnt ... Kalau bukan dua hari atau tiga hari lagi."
Faza yang tengah menyetir mobil manggut-manggut, terlihat seperti orang yang sudah mendapatkan solusi. Namun tak lekas disampaikan, mungkin nanti. Sebab ia masih berada di jalan.
“Iya, nanti saya sampai ke Mamak sama Bapak."
“Sudah dulu Mey, ini sudah mau sampai. Nanti kutelepon lagi!"
Akhirnya panggilan itu pun terputus, sebab Faza sudah harus masuk ke area parkir mall. Meski kelihatan cuek, sebenarnya Faza begitu memikirkan apa yang baru saja adik perempuan satu-satunya itu sampaikan.
Lamaran! Satu langkah menuju sebuah kehidupan baru yang bernama pernikahan. Yang mana artinya sebentar lagi tanggung jawab Ia dan orang tuanya akan berpindah sepenuhnya pada orang yang akan menikahi sang adik.
Ternyata saat ini tiba juga. Dengan pandangan dan tangan yang fokus menyetir, mencari tempat parkir Faza membatin. Memikirkan semu itu membuat hatinya diterpa kesedihan. Tak menyangka jika adiknya sudah berada di titik ini.