
“Sudah Mey bilang jangan minta banyak-banyak, kemampuan Kai dan keluarga tuh cuma segitu Mak,” seloroh Meysa dengan air mata menetes.
Lamaran tahap pertama tadi tak langsung menemukan kesepakatan sebab Keluarga Kai perlu diskusi terlebih dulu untuk membicarakan permintaan Bu Samsuri yang terbilang cukup fantastis.
Acara yang awalnya berlangsung damai itu seketika jadi sedikit canggung setelah mamak Meysa ikut menyebutkan apa saja yang Ia inginkan.
Beberapa pihak yang ikut dalam prosesi lamaran tadi juga sudah pulang, menyisakan orang tua Meysa, Faza dan Eka yang masih duduk di ruang tamu. Meysa yang tadi sepanjang acara berada di kamar bersama Rena, sedikit tidak mendengar apa saja yang dibicarakan. Ia kesal saat mendengar Mamak meminta uang panai banyak-banyak dan terkesan memberatkan.
“Kak Faza juga!" Dengan air mata mentes Meysa melirik Faza, membuat sang kakak langsung menunduk karena tak menuruti permintaan Meysa dengan mengatakan apa yang adiknya itu inginkan.
“Jangan bikin keluarga Kai kecewa, mereka jauh-jauh datang kesini dengan niat baik. Saya juga sudah menunggu Kai dari lama, sekalinya mereka datang malah kalian persulit seperti ini." Meysa menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia tak perduli lagi dengan apapun.
Bapak yang paham kegundahan Meysa hanya mengelus punggung anak perempuannya yang tengah menangis sesenggukan. Bapak yang berhati seperti agar-agar tak tega melihat Meysa menangis.
Sedangkan bu Samsuri yang merasa Meysa sangat berlebihan karena sampai menangis seperti ini pun langsung ngegas.
“Kau itu sudah dibesarkan susah payah Mey, masa dihargai sebegitu. Mamak dan yang lain minta segitu bukan karena mau mempersulit, toh nantinya uangnya juga untuk kamu!" sergah mamak kesal. Tak suka disalakan Meysa seperti ini. Padahal dalam lamaran kejadian seperti ini sangat wajar terjadi.
“Takut sekali kalau gagal nikah sama, Kai!" seloroh Mamak lagi.
“Toh keluarga Kai tidak bilang mereka tidak sanggup, mereka cuma minta waktu untuk berdiskusi. Tapi kenapa kau malah marah-marah?!."
Kini Meysa yang dibuat bungkam mendengar ucapan mamak yang bali memarahinya. Apa yang Mamak katakan memang tak sepenuhnya salah, hanya saja Ia yang terlalu takut kalau tak sampa jadi dengan Kai.
Menjalin hubungan dam waktu lama dan pernah beberapa kali kandas membuat ia takut jika harus gagal lagi hanya karena masalah ini. Meysa tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya ia kalau sampai tidak jadi bersatu dengan pria itu.
“Lagi pula kalau batal berarti dia memang tidak seseriu itu sama kau! Kalau dia betul-betul serius pasti dia usahakan kasih yang terbaik."
Perkataan mamak menghantam telak di hatinya, membuat ia bungkam dan tak bisa berkata-kata. Meysa terdiam menahan tangis yang membuatnya sesegukan. Dalam hati bertanya-tanya, kenapa hidupnya tak pernah berjalan mulus seperti hidup orang lain ataupun hidup Rena yang semulus jalan tol. Ia ingat betul dan menjadi saksi ketika sahabatnya itu melangsungkan lamaran. Semua berjalan mulus dan tak banyak hambatan seperti yang terjadi pada dirinya. Itu semua membuat Meysa sedih. Sejenak merasa dunia tak adil ketika mengingat segala permasalahan yang pernah menghinggapi.
“Sudah, jangan sedih. Besokkan keluarga Kai datang lagi. Kenapa harus panik!" seloroh Bapak ikut menenangkan.
Meysa yang merasa sedih lebih memilih beranjak dan melangkah ke dapur. Meninggalkan semua yang masih diam sembari menatap kepergiannya.
Melihat Meysa seperti ini membuat seluruh keluarga menyimpulkan jika perasaan Meysa terhadap Kai memanhlah begitu besar, sebesar jagat raya(😏).
Hingga Bapak dan Mamaknya pun ikut membantin, pantas saja jika selama ini Meysa banyak menolak orang lain. Ternyata di hatinya sudah ada Kai dan hubungan mereka pun terjalin cukup lama.
Berbeda dengan Eka dan Faza yang sudah tahu sejak lama sama sekali tidak heran.
“Benar-benar dimabuk cinta!" gerutu Mamak sambil geleng-geleng menggunakan bahasa daerah mereka.
“Kayak tidak pernah muda saja kau!" celetuk Bapak menyahuti. Yang mana membuat mamak menoleh sambil mencebik.
"Kenal dimana adekmu sama Kai?" Mamak yang malas meladeni Bapak lebih memilih mengalihkan pembahasan dengan menanyakan soal Meysa dan Kai pada Faza.
“Diam-diam dapat suami orang jauh itu anak!" Lanjut buk Samsuri yang tak habis pikir .
“Panjang ceritanya, susah ki mengerti kalau dijelaskan, Mak!" sahut Faza apa adanya.
.
.
.
Di sisi lain, Kai dan keluarga yang baru tiba di rumah beberapa menit yang lalu terlihat tengah duduk berdiskusi di ruang tamu.
Sebelum pulang, Bu Fatma dan Haji Nurani yang mendampingi keluarga Kai sempat menjelaskan sedikit banyak tentang tradisi dalam suku mereka. Dari situ keluarga Kai mulai mengerti dengan permintaan Buk Samsuri yang sempat membuat mereka syok karena nilai yang diminta cukup fantastis.
“Bagaimana Kai, sanggup?" tanya Ayah membuka obrolan. “Ayah ada tapi cuma sekian, selebihnya Kai tambahkan."
“Abang juga bisa tambahkan segini!" ujar Albi seraya menyebutkan nominal yang akan Ia beri untuk menambah biaya pernikahan sang adik.
“Iya, apalagi sisa duit tu jugaa mau kita pakai untuk mengadakan acara kecil-kecilan di kampung. Yang rencananya nanti akan diadakan setelah acara pernikahan kalian disini. Tapi sebelum itu, Emak juga maunya kita bikin acara sebelum kau berangkat akad nantinya!"
Kai mengangguk mengerti dengan apa yang Keluarganya katakan. Kai senang karena Abang dan orang tuanya sudah berbaik hati mau membantu.
Walau awalnya Kai sempat berpikir keras, sebenarnya dia punya tabungan yang sudah ia sisihkan untuk biaya perencanaan tertentu. Dia juga sudah menyiapkan uang nikahan sekaligus mahar untuk pernikahan mereka dari jauh-jauh hari, tapi permintaan keluarga Meysa benar-benar jauh dari yang sudah khusus ia siapkan. Tetapi hal ini membuat Kai mau tak mau mengorek tabungan yang sudah ia siapkan untuk biaya hidup mereka setelah menikah nantinya. Selain itu, Kai juga tidak ingin merepotkan orang tuanya. Ia tidak bangga kalau harus menikah dari biaya orang tua, Kai baru akan merasa bangga jika bisa bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Salah satunya seperti sekarang ini.
“Gak usah Mak, Ayah, Bang. Kai ada kok, cukup!" seru Kai yang tak ingin membebankan apapun pada keluarganya.
"Ya, nggak bisa gitulah Kai, abangmu aja dulu dibantu juga masa sekarang kamu nikah kami nggak bantu. Sebagai orang tua kami merasa gak berlaku adil kalau kayak begitu."
“Bukannya mau nolak, tapi Kai beneran ada kok."
“Kalau Emak dan Ayah mau, uang yang udah kalian siapin tu biarlah dipakai buat biaya di kampung nantinya. Belum lagi buat biaya datang kalau nikahan nanti."
Keluarga Kai dibuat terharu mendengar ucapan Kai. Mereka tak menyangka, dibalik sikap Kai yang cuek dan terlihat sederhana ternyata Ia memiliki pemikiran yang dewasa dan bertanggung jawab.
Semua begitu bangga pada Kai.
“Banyak juga tabungan, kau!" seru Albi sembari menepuk bahu sang adik dengan bangga.
“Nggak banyak juga, tapi cukuplah!" lagi-lagi Kai memberi jawaban yang sama persis seperti tempo hari.