After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
25


Kedua pengantin baru yang tengah giat-giatnya menikmati hari jadi pasangan halal itu kini terlihat tengah sibuk setelah sebelumnya sempat mengambil jatah bebeberapa ronde. Maklum, mereka masih anak baru jadi sedang gencar-gencarnya bereproduksi.


Meysa terlihat tengah berbenah di dalam rumah, gadis yang tak tahu hendak mengerjakan apa itu hanya duduk sambil melihat ibunya mengemas sebagian sisa lauk pauk acara yang hendak dibagikan ke tetangga.


“Ini nanti kau antar ke rumahnya Rena, ini ke rumah mamaknya Anca." Buk Samsuri menunjuk rantang makanan yang sudah disusun. Ia memberikan tugas kepada sang anak untuk membagi-bagikan makanan. Daripada mubazir, alangkah baiknya dibagikan, begitu Mamak Meysa berpikir.


Meysa terdiam sejenak memikirkan sesuatu kemudian segera berceletuk. " Aih Mak, kalau ke rumah Anca suruh yang lain saja!"


Mamak lantas menoleh mendengar ucapan Meysa, Ia tahu apa yang anaknya itu khawatirkan. “Anca 'kan ndak ada di rumah Mey."


Meysa menghela napas, Ia terlalu enggan bertemu dengan Anca. Lelaki yang sempat hendak melamarnya beberapa bulan yang lalu itu mendadak memutus silaturahmi setelah mengetahui Ia hendak menikah. Padahal sebelumnya Anca sama sekali tidak marah dan keberatan saat tahu alasan kenapa Ia menolak lamarannya. Namun, begitu tahu Ia sudah di lamar, lelaki itu tak pernah mau membalas sapaannya. Meski begitu, orang tua Anca yang masih punya hubungan keluarga dengan Mamak Meysa tetap berhubungan baik.


“Antar saja, habis itu langsung pulang. Lagi pula kan Anca katanya liburannya dua bulanan.”


Meysa menghela napas, meski tahu Anca memang pergi berlibur ke kota sejak sebulan yang lalu, tetapi rasanya Ia enggan kalau harus menginjakkan kaki di rumah laki-laki itu.


“Ih, Mak suruh yang lain saja!" ujar Meysa.


Mamak berdecak, kini tangannya terus tergerak membungkus daging sapi dan sayur sup.


“Kau saja Mey, sekalian ajak Kai. Jalan-jalan biar tahu daerah sini juga!"


Keputusan Mamak yang tak bisa ditolak akhirnya membuat Meysa mau tidak mau segera melaksanakan perintah sang kanjeng ratu. Namun, sebelum itu Meysa terlebih dulu pergi menuju kamar untuk mengambil jilbab.


Sementara di halaman depan, sekumpulan bapak-bapak terlihat tengah menikmati hidangan kue dan kopi setelah selesai membongkar tenda terowongan dan membersihkan halaman rumah Meysa.


Salah satu pria berkaos hitam yang menjadi bintang utama di acara kemarin itu pun nampak berbaur disana. Kai duduk tak jauh di samping Faza, kakak iparnya yang tengah mengobrol dengan bapak-bapak yang ada menggunakan bahasa daerah mereka.


Tadinya Albi ada menemani Ia yang begitu asing di lingkungan orang-orang itu. Namun Albi pamit lebih dulu sebab sore nanti sudah haru kembali ke Ria, sedangkan seminggu kemudian Ia dan Meysa baru akan menyusul.


“Biasanya pengantin baru itu sukanya mengurung diri di kamar."


Dari yang tadi membahas asal usul dan menanyakan bagaimana Ia bisa kenal dengan Meysa. Kini para bapak-bapak itu malah mengalihkan pembahasan.


Jika tadi kebanyakan bapak-bapak tersebut berbicara menggunakan bahasa daerah dan Ia dibantu translate oleh Faza, tapi kini Kai bisa mengerti karena salah satu diantara mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Membuat Ia jelas mengerti meski tak begitu paham apa inti pembahasan itu.


“Bagaimana Kai, semalam berhasil tembus berapa ronde?"


“Pastinya langsung terobos banyak-banyak, kan Kai?"


Kai hanya mengkerutkan kening mendengar pertanyaan yang membuat otaknya sulit mencerna, meski begitu Ia hanya tersenyum samara sambil melirik ke arah Faza Kakaknya Ipar itu terlihat menunduk sambil menahan tawa mendengar perkataan para bapak-bapak yang di tujukan padanya.


“Jadi bagaimana Kai, gampang apa susah?"


Merek semua tertawa. Kai yang sama sekali tak mengerti hanya bisa menggaruk kepala dan pura-pura ikut tertawa.


“Kalau saya dulu gampang, kan sudah dicicil."


Kini Faza yang menggeleng mendengar ucapan salah seorang yang begitu jujur. Namun semua menanggapi hanya dengan kekehan.


“Kau dulu bagaimana Faza, dicicil dulu atau bagaimana?"


“Kalau Kai kayaknya tidak, kan dia sama Meysa berjauhan."


Mendengar itu akhirnya Kai mengerti pembahasan yang dimaksud. Wajah Kai yang notabene adalah pengantin baru seketika bersemu merah mendengar obrolan para bapak-bapak yang begitu frontal dan inti itu. Ah, seketika pikirannya malah tertuju pada kegiatan enak-enak yang Ia lakukan dengan Meysa. Rasanya ia ingin segera melakukannya lagi. Hmmmnt, dasar Kai!


“Kalau sudah menikah bahas beginian itu ndak usah malu!"


Kai sama sekali tak berniat menyahuti. Apapun yang mereka katakan, itu sama sekali tak merubah pola pikir Kai, sebab baginya urusan intim seperti ini tak seharusnya diceritakan. Apalagi disana ada kakak iparnya, sungguh Kai malu jika harus membahas hal seperti itu di dekat sang kakak ipar.


“Kai, dipanggil Meysa!"


Kai yang menunduk seketika menoleh ke arah rumah saat mendengar ucapan Faza jika Meysa sedang mencarinya.


Pria itu lalu menoleh mencari keberadaan Meysa, dilihatnya Meysa tengah berdiri di teras sambil melambaikan tangan padanya.


“Kai kesana dulu, Bang!"


Faza mengangguk mempersilahkan sang adik ipar untuk beranjak.


“Wih, dipanggil Abang kau Faza!"


“Keren kan dipanggil Abang?" sahut Faza bangga.


Obrolan sang Kakak ipar yang ternyata bangga dipanggil Abang itu menghiasi Teling Kai yang mulai melangkah ke arah Meysa. Dalam hati Ia senang mengetahui ternyata Faza sesenang itu dipanggil Abang. Hal ini membuat Kai makin merasa dekat dengan sang kakak Ipar.


Senyum Kai semakin lebar saat langkahnya semakin dekat dengan sosok wanita yang mengenakan hijab pashmina hitam dipadukan dengan dress polos dengan outer rajut berwarna maroon itu sedang berdiri dengan menampakkan senyum manis padanya.


“Mau kemana?" tanya Kai yang penasaran sebab melihat Meysa berpenampilan demikian sambil memegang dua rantang berwarna putih dengan motif bunga.


“Antar ini ke rumah Rena yuk!"


“Eh, ayo!" sahut Kai dengan begitu bersemangat. Membuat Meysa tersenyum bangga, dalam hati terlintas syukur tak terhingga, betapa bahagia dan beruntungnya Ia memiliki sosok Kai, begitupun sebaliknya. Kedua pengantin baru itu memiliki perasaan yang menggebu-gebu.


“Tapi kamu udah makan, kan?" tanya Meysa memastikan. Sebab tadi sesudah mandi Kai keluar lebih dulu, jadi Ia tak tahu apakah suaminya itu sudah makan atau belum.


Kai mengangguk. “Udah bee, tadi disiapin sama Mamak!" ujarnya yang memang tadi makan dengan disiapkan oleh Mama mertua.


“Yaudah berangkat sekarang yok." Meysa memberikan kunci motor pada Kai.


Kedua pengantin baru itu pun berboncengan dengan begitu harmonis. Sepanjang jalan keduanya mengobrol banyak hal. Termasuk Kai yang juga menceritakan soal pembahasan para bapak-bapak tadi.


“Ternyata para bapak-bapak kalau lagi ngumpul bahasannya mesum semua!" ujar Kai tak habis pikir, tak menyangka jika circel bapak-bapak ternyata seperti itu.


“Bukannya kalau pengantin baru emang suka diledekin begitu, kan." Meysa menimpali sambil menempelkan dagu di bahu Kai.


“Nggak tau sih bee, soalnya aku kan anak baru."


Perkataan Kai membuat Meysa terkekeh, ucapan suaminya itu memang benar.


“Eh, jangan salah bee. Dulu Rena juga cerita, pas pengantin baru katanya dia juga suka diledekin gitu, Erza juga!"


Penjelasan Meysa membuat Kai manggut-manggut, “Berarti normal ya bee ya, kek kita lagi diospek gitu ya!"


“Haha iya bee, anggap aja gitu. Diberi bekal buat jadi bapak-bapak sesungguhnya."


“Tanpa dikasih bekal aku udah pro banget kok bee!"


Melihat kedipan penuh makna Kai dari pantulan spion membuat Meysa menepuk pelan punggung suaminya itu.


“Kenapa bee, kamu nggak mau?" goda Kai yang semakin membuat Meysa tersenyum malu-malu. Canggung Kai malah membahas hal demikian di atas motornya.


“Enak loh bee, emang kamu gak rasain enaknya?"


Meysa berdecak sambil menepuk pelan punggung Kai. “Ih, bee, jangan bahas gituan!"


“Hehe iya-iya. Tapi nanti malam kita ulang lagi ya!" Kai mengedipkan mata. Membuat Meysa geleng-geleng. Ternyata Kai sangat doyan bercocok tanam.


“Nggak mau ya bee, kalau kamu gak mau berhenti bahas gituan!"


“Katanya gak mau jadi istri durhaka kalah nolak suami!" Sela Kai dengan senyum tertahan. Sejak semalam Meysa mengatakan takut jadi istri durhaka, Ia malah senang mengatakan itu untuk dijadikan senjata dan berakhir dengan Meysa yang tak bisa menolak keinginannya.


“Ih, iya-iya."


“Nah gitu dong istri abang!"


Percakapan itu pun berakhir dengan Meysa yang mengalah, sebab Kai selalu menggunakan senjata ampuh agar Ia mau menurut. Selain itu, motor yang sudah masuk ke halaman rumah Rena membuat obrolan soal adegan anu-anu itu harus berhenti sampai disana.