
Pagi itu, keluarga Kai terlihat tengah menikmati hidangan yang diantar oleh Mamak dan Eka. Semua senang dengan cara Keluarga Meysa menyambut dan memperlakukan mereka dengan baik. Bahkan sampai menyediakan tempat tinggal dan repot-repot menyiapkan hidangan seperti ini.
Buk Yuliati dan Pak Ahmad begitu berterimakasih karena bakal calon besan menerima dengan tangan terbuka.
"Selamat dinikmati hidangan ala kadarnya, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang, nanti saya atau Eka bisa bantu." Tangan buk Samsuri masih berjabatan dengan tangan Bu Yuliati. Dua wanita itu terlihat akrab.
Kai yang baru pertama kali melihat Ibu Samsuri, Mamaknya Meysa secara langsung pun sedikit terpukau sebab bakal calon mertuanya itu.
“Kau kenal juga sama Ibu si Meysa?" tanya Albi membuka obrolan ketika Eka dan Mertuanya sudah melangkah ke dalam mobil merah yang tadi malam mereka kendarai saat dijemput Faza.
Kai menggeleng dengan pandangan yang masih tertuju mengiringi kepergian dua ibu-ibu beda generasi yang kini sudah masuk mobil dengan Eka yang mengemudi.
“Baru lihat juga, soalnya semenjak pisah Ibunya Meysa tinggal di kampung halamannya," papar Kai memberi informasi yang Ia ketahui. “Kalau yang satunya sering. Kak Eka, itu istrinya Bang Faza!" lanjutnya menjelaskan soal Eka.
Albi hanya manggut-manggut, tanpa diberitahu lagi Ia juga dengar tadi Eka memperkenalkan diri sebagai kakak ipar Meysa, yang artinya dia istri Faza.
“Kalau ibunya punya kampung halaman berarti ini bukan kampung aslinya?" Ayah yang baru keluar dari dalam rumah pun ikut menimpali.
“Bukan, mereka kemari tuh kayak transmigrasi gitu dan akhirnya menetap disini." Kai menjelaskan dengan begitu detail, sudah cocok jadi bagian dari keluarga Meysa karena dia tahu banyak hal tentang keluarga calon istrinya itu.
Albi dan Ayah mengangguk mengerti. Kini paman Kai yang juga ada di teras terlihat hendak menyahuti.
“Ternyata disini banyak sawit juga ya, sama kayak di Riau!" seru paman ketika mengingat sepanjang jalan yang dilalui semalam merupakan perkebunan sawit, bahkan masuk ke kampung ini pun jalannya melalui sawit-sawit.
“Iya, kan sawit gak cuma ada di Sumatera, ada juga di Kalimantan, disini juga." Albi ikut menyahuti.
Keempat pria beda generasi itu pun akhirnya menikmati pagi di kampung Meysa yang masih asri. Mengobrol sambil menyantap jajanan dan kopi hangat yang tadi Ibu dan ipar Meysa bawa.
Sedangkan itu Buk Yuliati yang berada di dalam rumah, terlihat tengah mengeluarkan bingkisan yang akan di bawa malam nanti.
.
.
.
Sementara di rumah lain. Eka dan Mamak terlihat tengah menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan keluarga Kai malam nanti. Mamak melarang menyebarkan berita ini pada siapapun sebelum benar-benar selesai.
Di saat semua tengah sibuk bergelut di dapur, Meysa malah terlihat mondar mandir di depan kamar Faza yang pintunya terbuka, menampakkan seorang pria masih tidur nyenyak di dalam sana.
Meysa ingin masuk menerobos dan membangunkan sang kakak untuk membahas hal penting, tetapi Ia tak punya keberanian sebab sudah dipastikan Faza akan murka jika tidurnya diganggu. Apalagi semalam Ia tiba larut malam.
“Onty kenapa?" tanya Cia yang hendak masuk ke kamar untuk mengambil mainan yang Ia bawa. Bocah itu sibuk menghamburkan mainan barbie dan masak-memasaknya di ruang tamu bersama dengan sang adik
“Tidak kenapa-kenapa," pungkas Meysa berbohong. Tak ingin menyampaikan niatnya pada Cia. Bisa-bisa bocah cerewet itu akan nekat membangunkan sang Ayah dan Ia akan menjadi sasaran amukan Faza. Jadi, Meysa memilih jalur aman saja dengan tetap menunggu sampai Faza bangun.
Cia pun kembali ke ruang tamu setelah mengambil kresek berisi mainannya yang lain.
Penantian Meysa akhirnya membuahkan hasil di siang hari. Tepat setelah shalat dzuhur, Faza yang baru pulang shalat dari mesjid dengan Bapak langsung mencegah sang kakak di ambang pintu, sudah seperti preman yang hendak beraksi.
Pria yang melangkah di belakang Bapaknya itu menoleh dengan raut wajah heran pada Meysa. Sambil melepaskan peci dari kepala, Faza mengikuti langkah Meysa yang menariknya ke teras sebelah kanan.
“Apa?" kening pria yang mengenakan baju koko warna hijau army itu nampak mengkerut.
Meysa celingak-celinguk, mengintip dari luar jendela memastikan jika Bapak tidak sedang duduk di ruang tamu. Ia ingin berbicara empat mata secara aman sentosa, damai dengan Faza.
Meysa menarik napas dalam dan mulai berbicara.
“Kakak tahu kan syarat menikah itu tidak harus mewah dengan mahar yang besar, yang penting sah di mata Allah dan bagaimana kehidupan setelah menikah nantinya, ini inti dari pernikahan, 'kan?!"
“Dan ada juga hadits yang bilang kalau wanita yang baik adalah dia yang tidak memberatkan calon suaminya dalam urusan mahar."
Faza mengangguk mengerti mendengar apa yang Meysa sampaikan. Bapak dua anak itu lalu mengarahkan tangan mengelus kepala sang adik yang berlapis hijab bergo instan warna pink. Ada sedikit bangga dalam hati melihat perubahan besar pada Meysa, selain tak pernah lagi buka tutup aurat, kini adiknya itu paham inti dari sebuah pernikahan bukan terletak pada mewah dan besarnya mahar tetapi yang terpenting adalah bagaimana menjalani kehidupan setelah menikah nanti.
“Perempuan yang baik memang tidak akan memberikan mahar yang sulit, tapi laki-laki yang baik akan memberikan mahar terbaik, itu sebagai cara mereka memuliakan istrinya," balas Faza seraya mengusap kepala sang adik. Ia paham kecemasan yang adiknya itu khawatirkan.
“Ih, kak!" Meysa berdecak sembari menghentakkan kaki. Kesal sebab Faza malah mengembalikan kata-kata yang ia sampaikan.
“Masalahnya saya sama Kai sudah punya kesepakatan!" desak Meysa agar permintaannya dituruti.
Akhirnya Faza pun mengiyakan karena tak mau mendebat sang adik, sebab Ia ingin segera melanjutkan tidurnya. Bolak balik dari Palu membuat Ia kelelahan.
“Iya, tenang tuan putri, bisa dibicarakan!" ujar Faza sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Meysa yang ditinggalkan hanya bisa mencebikkan bibir. “Awas kalau tidak!" Ancamnya agar Faza tidak lupa.
Membuat pria yang sudah masuk ke dalam rumah itu hanya mengacungkan jempol sambil melangkah menuju kamar.
.
.
.
Malam harinya, tepat setelah shalat Isya keluarga Kai datang di rumah Meysa dengan di jemput oleh Erza. Tak lupa Mama mertua Erza, bu Fatma dan Ibu Anca, haji Nurani diminta mamak untuk mendampingi keluarga Kai.
Pihak pria datang dengan membawa seperangkat alat meminang yang sebelumya sudah disiapkan oleh keluarga Kai.
Semua masuk ke dalam ruang tamu rumah Meysa, disambut oleh seorang pemuka agama yang Pak Rusdi undang untuk menjadi penengah dalam pembicaraan kedua belah pihak nantinya.
Ruang tamu di rumah Meysa nampak lebih luas dengan sofa yang sengaja dipindahkan ke ruang tengah agar semua lebih leluasa duduk melantai bersama dalam acara lamaran ini.
Semua orang sudah duduk di atas karpet permadani berwarna merah. Jejeran hidangan sudah tersaji di dalam bosara berwarna gold dengan tutup bening berbentuk payung, nampak mewah. Sedangkan seserahan meminang yang Keluarga Kai bawa diletakkan di tengah-tengah.
Suasana riuh itu lantas tercipta ketika kedua keluarga saling menyapa dengan begitu ramah dan berhenti ketika Erza yang ditugaskan sebagai pembawa acara mulai membuka acara dan membacakan serangkaian prosesi.