
Perlahan Kai menarik bantal yang tersusun di atas mereka. Ia merebahkan kepala Meysa di bantal, sehingga kini meysa terlentang sempurna di bawahnya. Gunung yang terpampang di bawah gelap nampak menantang untuk segera di daki. Kai tak sabar ingin menyentuhnya, napasnya terlihat naik turun memerhatikan le*kuk tubuh Meysa yang samar-samar.
Ia yang masih bertumpu pada satu tangan kembali membaca basmalah lalu mendaratkan kecupan di wajah Meysa, terakhir di bibir. Meninggalkan lum*atan lembut dan panas, cukup lama keduanya bermain bibir dengan tangan Meysa yang perlahan menyentuh punggung mulus Kai, lalu beralih naik dan mengalungkannya disana.
Puas meng*ecup, bibir kai beranjak turun ke leher, menyusuri disana. Membuat napas Meysa tercekat, tangannya terlepas dan mencengkram seprai saat merasakan sensasi yang luar biasa. Seperti dibuat terbang.
“Kamu wangi banget sih!" puji Kai disela leng*uhannya. Ia meninggalkan jejak yang cukup banyak disana.
“Aku mencintaimu, Haneedya Meysa!" seru Kai saat bibirnya mulai mencoba mendaki gunung.
“Hmmmnt, Kai!" meysa melenguh, tangannya hendak melingkar di leher Kai, tapi tangan kai menahannya. Menyatukan telapak tangan mereka di atas tempat tidur, mencengkram dengan mulut yang kini men*gulum penuh puncak teringgi gunung terindah yang ada di dunia.
Sementara tangan yang satu terus bekerja keras mengerjakan hal lain. Bibir Kai terlihat rakus, berganti dan menjelajah dari gunung yang satu menuju gunung yang satunya lagi.
“Hmmm, sayang!" lenguhan Kai dan des*ahan Meysa terdengar saling bersahutan menikmati sensasi pendakian yang luar biasa.
Mata Meysa terkadang terbelalak dan terpejam setiap Kali gunungnya di daki dan dibasahi oleh hujan yang mengguyur. Pertama kalinya gunung itu dibasahi oleh hujan rintik-rintik.
“Sekarang ya, bee!" Kai minta izin untuk melangsungkan unboxing setelah puas mendaki gunung. Moment yang sudah lama ia nanti, dan kini saatnya tiba. Ia tidak mau buang-buang waktu lagi.
Meysa yang tengah dilanda nikmat tak lagi bisa menjawab. Tangannya teralih memeluk erat Kai ketika kai mengarahkan tangannya untuk menarik lejing Meysa, lalu membuka celana pendeknya dan melemparnya asal. Tongkat saktinya siap mencoblos dengan semangat 45.
Suara de**han dan tangan Meysa yang menyentuh leher dan rambutnya dengan lembut membuat jiwa Kai makin bergelora.
“Aku sayang kamu bee! Sayang, banget!" Ungkap Kai dengan tangan menggenggam tombak.
"Aku lebih sayang kamu bee!" Balas meysa
“Sekarang ya bee!" Mata Kai nampak diliputi kabut ga*irah yang mendebarkan, Ia terhipnotis dengan keindahan yang ada di hadapannya
Meysa mengangguk dengan samar, membuat semangat Kai kian berkobar. Ia tersenyum miring, lengan kekarnya Ia selipkan di bawah leher Meysa.
“Katanya sih agak sedikit sakit, tapi aku akan pelan ya bee!"
Suara Kai yang sensual membuat jantung Meysa berdebar, Ia hanya bisa mengangguk sembari menelan saliva, tak kuat menahan desiran aneh dalam diri. Sontak tubuhnya seperti dialiri sengatan listrik saat sesuatu memberi salam di dalam goa.
“Kenapa bee?"
” Sakit ya?" Kai menghentikan aksinya. Baru juga memberi salam, si pemilik goa malah terkejut. Membuat ia urung mengetuk.
Meysa menggeleng. “Belum sih, cuma kaget aja!" pipi Meysa merona, Ia malu-malu.
Kai balas tersenyum, lalu mendaratkan kecupan di kening dan bibir Meysa. “Kalau sakit, cakar aku aja ya sayang! Aku gak mau kamu sakit sendiri.x
Meysa dibuat terharu, entahlah. Ia merasa sikap Kai makin manis. Oh, inikah rasanya malam pertama, pantas saja disebut surga dunia. Meysa tersenyum penuh arti sambil menikmati sentuhan Kai. Selama ini, Ia hanya tahu menulis adegan romantis untuk cerita fiksinya dengan bermodalkan imajinasi dan hasil menonton drama Korea. Meysa tak menyangka jika praktek langsung ternyata semenyenangkan ini. Tersadar dari pikiran kotornya, Meysa beralih menatap wajah suaminya yang tengah bekerja keras. Melancarkan aksi unboxing.
“I love you!" Tangan Meysa teralih mengusap lembut rahang tegas sang suami. Ia tersenyum memberikan semangat.
Kai balas tersenyum manis, saking tak sabar Ia terlihat tengah mengelus tongkat sakti yang siap menjelajah. Sudah lama ia mendambakan adegan ini, hanya bersama Meysa dan ingin Meysa saja. Sayangnya setelah beberapa tahun adegan impiannya baru bisa terlaksana sekarang.
“Aku masukin ya!" Kai minta izin.
Meysa manggut-manggut sembari membuang wajah seraya menggigit bibir bagian bawah. Alisnya bertaut dengan kening yang mengkerut menahan gejolak di dera napas yang memburu.
Baru kepala tongkat yang masuk Meysa sudah merasakan sesuatu yang mengganjal tapi enak. Dia belum tahu jika ini baru permulaan, sebelum enak-enak yang lebih dari ini ia harus merasakan sakit yang luar biasa.
“Auwhh!" Meysa meringis sambil menggeliat, Ia merasakan nyeri yang luar biasa. Goa yang ia jaga sepenuh hati selama 26 tahun hidup di dunia terasa terkoyak diterobos tongkat sakti milik Kai.
Melihat reaksi Meysa membuat aksi Kai terjeda, Ia berhenti sejenak sambil menatap wajah istri tercinta. “Sakit kali ya bee?" Ia bertanya dengan wajah panik. Tapi tak berniat menarik keluar tongkatnya, sudah terlanjur enak. Kepalang tanggung jika harus di tarik sekarang.
Meysa harus bisa tahan, Kai bahkan tak bisa lagi jika acara bertamu ke dalam goa harus gagal lagi. Penantiannya sudah sangat lama, harus selesai sekarang. Tak ingin sabun mandi dan handbody kembali menjadi korban. Ah, tiba-tiba ingatan Kai tertuju pada nasib malang saat masih perjaka. Meski begitu, tak bisa dipungkiri jika anak muda sepertinya di luar sana pasti pernah hilaf dengan mengorbankan sabun mandi seperti yang Ia lakukan. Kai menggeleng cepat, membuat ingatan mengenaskan. Sekarang sudah ada istri, dia tidak mau lagi mengorbankan sabun mandi.
“Punyamu besar banget ya?"
“Kok sakit sih?"
Sambil mengeluh Meysa menggerakkan tubuh, mencoba lepas dari kukungan Kai. Maklum, dia masih anak baru. Belum terbiasa dengan rasa sakit.
“Eh, nggak banget ya bee!" sergah Kai membela diri. Ia menunduk menatap anunya yang sedang-sedang tapi perkasa. Tidak mau istri ketakutan dan malah gagal anu-anu.
“Tapi kok sakit!" sahut Meysa sambil mendesah menahan perih.
Kai berdehem, Ia mengarahkan tangan mengusap pipi sang istri. Meysa tak boleh takut, Ia berusaha menenangkan. “Namanya juga pertama bee, masih sempit. Nanti kalau udah biasa pasti enak dan gak sakit lagi!" Ia tersenyum menenangkan. Deru napasnya terdengar berat. Tak sanggup kalau harus terlalu lama bernegosiasi dengan Meysa.
"Ehmm, huh, kata siapa?" Meysa bertanya disela ******* dan perih yang mendera. Tangannya meremas lengan Kai dengan kuat. Meysa tak sanggup melewati fase ini. Ia tidak suka hal yang membuat sakit.
“Kok kamu bisa tahu?" tanyanya yang ternyata lebih tertarik membahas apa yang Kai katakan barusan.
Kai menoleh sekilas, sambil terus bekerja keras Ia siap menjawab "Taulah bee, kan aku cari tahu!" ujar Kai apa adanya.
“Aih bee, apa pulak pernah. Suaminya dituduh yg enggak-enggak!" Kai melayangkan protes. Sedang susah-susah bekerja keras Meysa malah mengira Ia pernah berbuat enak-enak. Tentu tidak pernah, itu sama saja Ia mengkhianati Meysa jika melakukannya.
“Sama orang gak, aku seringnya servis sendiri."
“Servis gimana?" tanya Meysa tak mengerti. Gadis itu memang terkadang lambat mencerna dan dalam waktu tertentu ia begitu peka dan cepat mengerti.
Kai yang tengah fokus sama sekali tak menjawab. Ia berhasil menyorong tubuhnya lebih dalam. “Huh!" Kai juga merasa ujung tongkat saktinya agak lecet.
Hal itu membuat Meysa melayangkan pukulan yang berakhir dengan cengkraman erat di bahu Kai.
“Jangan dicakar bee!" Merasakan dua rasa sakit disela usaha kerja kerasnya membuat Kai lupa jika tadi dirinya lah yang meminta Meysa untuk mencakar saja jika merasa sakit. Padahal tanpa diminta sekalipun Meysa sudah pasti melakukannya.
“Auwhh, sakit bee!"
“Udah bee, udah!" Meysa tak menghiraukan ucapan Kai. Ia tak mampu menahan sakit di area goa dan meminta kai untuk menyudahi.
Kai yang tidak tega dan tak mau memaksa pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Ia menarik tongkat sakti dari tempat peraduan. Padahal baru mengetuk, belum juga masuk tapi malah disuruh keluar.
“Baru juga mulai bee!" keluh Kai sambil beranjak dari depan Meysa. Ia menyingkir dan berbaring di samping sang istri yang mengkerut heran sambil menahan sakit.
“Maaf!" Meysa diterpa rasa bersalah, apalagi ketika melihat Kai seperti tersiksa sambil memegang tongkat.
Dalam hati Meysa berpikir jika mulai saat ini sepertinya mata sucinya harus mulai terbiasa melihat Kai seperti ini. Seketika Meysa tersentak, tak menyangka jika hubungannya dengan Kai benar-benar sudah sejauh ini. Bahkan mereka baru saja hendak memulai kewajiban sebagai suami istri, tapi gagal karena Ia yang tak tahan sakit.
“Besok ya bee, aku janji besok aku akan tahan!" Meysa mendekatkan tubuh dan memeluk tubuh Kai. Membuat kulit Keduanya benar-benar bersentuhan.
Melihat Kai seperti ini membuat Meysa teringat dengan artikel yang pernah Ia baca. “Katanya kalau gak keluar bisa bikin sakit kepala ya?" Meysa mendongak menatap wajah Kai yang terlihat setengah mati menahan sesuatu dalam diri. Meysa yang kasihan melihat itu langsung mendaratkan kecupan.
“Maaf!" lirihnya lagi.
Kai memejamkan mata sambil mengusap punggung polos sang istri. Meski ingin dan h@sratnya sulit dibendung tapi Kai tak ingin jadi suami egois yang memaksa disaat istri belum sepenuhnya siap.
“Gak apa-apa kok, aku gak apa-apa!" dengan nada suara lembut Kai berusaha menenangkan.
“Aku takut jadi istri durhaka."
Kai dibuat tersenyum dengan apa yang Meysa katakan. Sambil menelan ludah Ia menatap sang istri yang tengah menempel di tubuhnya.
“Gak mau jadi istri durhaka kan?" tanya Kai sambil mengulum senyum.
Meysa mengangguk seperti anak kucing menggemaskan, membuat Kai gemas. Ia menyatukan hidungnya dengan Meysa, tak bisa diungkapkan lagi jika Ia sangat mencintai istrinya.
“Kamu ada handbody gak?"
Pertanyaan Kai membuat Meysa mengkerutkan kening.
“Ada." Meysa menjawab sambil menunjuk ke arah meja rias yang berada tidak jauh dari tempat tidur, tempat handbodynya bersemayam.
“Buat apa?"
Kai tersenyum penuh arti. Jika tak berhasil menuntaskan di goa, setidaknya Ia bisa meminta bantuan Meysa untuk menuntaskan.
“Buat ini!" Kai melirik ke bawah kemudian menoleh pada Meysa dengan senyuman penuh makna.
Seketika Meysa peka, Ia sama sekali tak melayangkan protes sebab Meysa tahu jika hal ini terjadi karena salahnya yang tak bisa menahan sakit.
“Daripada ke kamar mandi bee, nanti orang-orang pada curiga. Entar malah diejek.”
“Iya-iya, maaf!" Meysa yang merasa memiliki tanggung jawab penuh atas kejadian ini pun segera beranjak untuk mengambil Kai handbody.
Namun, baru Ia hendak melepaskan pelukan dari tubuh suaminya, Kai sudah menahannya agar tidak kemana-mana.
“Mau kemana?" tanya Kai sembari mendaratkan kecupan di hidung Meysa yang sedikit terpaku karena ditahan Kai.
“Mau ambilin handbody!" ujar Meysa yang tengah menatap dalam netra Kai yang begitu menghipnotis.
Kai tersenyum, “Gak usah, kamu disini aja. Biar Aku yang ambil." Pria itu lalu turun dari tempat tidur.
Pergerakannya tak lepas dari pantauan Meysa yang menatap kagum pada sang suami. Ada debaran luar biasa yang Ia rasakan setiap kali menatap Kai, apalagi saat ini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Setelah itu Kai kembali merebahkan diri ke tempat tidur, membawa Meysa ke dalam dekapannya.
Malam pun berlalu, dengan dibantu Meysa Kai harus kembali mengorbankan handbody.
Bukannya malam pertama di goa istri, ia malah malam pertama dengan handbody karena gagal dengan Meysa. Sebab malas ke kamar mandi, akhirnya handbody lah satu-satunya jalam ninja. Ia malas ke kamar mandi, di luar masih ramai. Ia malu dan tak ingin orang-orang mengejek dan bertanya-tanya soal malam pertama.