After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
26.


“Eh bee, Aku loh penasaran sama cerita kok Rena sama Erza bisa nikah, padahal kan setahuku si Erza suka sama kamu, kok bisa berpaling sama sahabatmu gitu?" tanya Kai bisik-bisik, Ia membuka obrolan saat mereka baru saja berlaku dari rumah orang tua Rena.


Kai yang tahu jika Erza sempat menyukai Meysa beberapa tahun lalu itu begitu penasaran dengan kisah dua pasutri itu, sebab dulu ketika Meysa memberi tahu soal pernikahan keduanya Kai hanya bisa mengucapkan selamat dan tidak kepo. Tetapi sekarang Ia ingin tahu.


Tentu hal itu membuat kening Meysa mengkertut sebab suaminya malah baru penasaran sekarang.


“Ngapain tanya-tanya gitu?" tanya Meysa sembari naik ke atas motor. Belum juga pergi jauh, suaminya sudah ajak bergibah. Sepertinya mulai sekarang Meysa menemukan partner gibah yang baru.


“Ya mau tahu lah bee, penasaran. Dulu kan aku gak sempat nanya-nanya."


“Gimana mau nanya orang dulu kamu kerjanya ngilang, sok sibuk ..."


“Ih bee!" Kai memotong ucapan Meysa, Ia menoleh pada sang istri yang malah membahas kesalahannya yang dulu-dulu. “Jangan dibahas lah bee, kan tahu sendiri Aku waktu itu sibuk ngejar target, cari cuan buat halalin kamu juga kan."


Meysa memutar mata malas, jujur dia selalu saja dibuat kesal jika mengingat bagaimana sibuknya Kai dulu hingga tak ada sempat untuk sedikit meluangkan waktu untuknya.


“Emang adek halal bang!" celetuk Meysa sembari menepuk bahu Kai, suaminya itu mulai melajukan motor keluar dari halaman rumah Rena. Akan menjelajah dengan ditunjukkan jalan oleh Meysa


“Emang haram loh bee, nih buktinya baru bisa dihalalin!" sahut Kai sambil menahan senyum.


Meysa terkekeh, Kai selalu punya jawaban unik yang membuatnya tertawa.


“Ini kemana lagi bee?" tanya Kai yang mulai kebingungan menentukan arah ketika hampir mendekati perempatan di lorong rumah Rena.


“Belok kanan, abis itu lurus terus. Nanti kalau lihat rumah yang paling besar, punya pagar kita belok kesitu." Meysa memberikan arahan, Kai mengangguk mengerti sembari melajukan motor sesuai arahan yang Meysa beritahu.


“Bee, kamu belum ceritain soal Erza Rena loh bee, kenapa mereka bisa sampai nikah." Kai menagih Meysa yang sudah tak ingin membahas hal itu. “Aku kan belum tahu cerita jelasnya, kamu gak ceritain!"


“Ih, nantilah bee kalau di rumah aku ceritain!" tolak Meysa yang enggan bercerita di jalan.


“Iya ya, janji, nanti sebelum itu kita cerita dulu!"


Plak...


“Apaa sih kamu, pikirannya kesitu mulu!" Dengan wajah malu-malu Meysa melayangkan tepukan ke bahu Kai. Ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu. Meysa tak menyangka jika ternyata Kai bisa semesum ini.


Kai terkekeh, Ia mengusap bahu yang pedis karena dipukuli Meysa. “Hahaha kenap sih, bee. kan gak ada salahnya susun planing buat kegiatan nanti."


“Planing planing, otakmu tuh mesum!" cibir Meysa, kini tangannya teralih mencubiti pinggang Kai. Membuat Kai harus sedikit menghindar. Bingung kenapa wanita suka sekali main fisik,tapi tak apa. Selama itu Meysa Kai suka dan terima, apalagi kalau. ahh, pikiran Kai kembali bertraveling sambil tersenyum lebar.


“Aku gak nyangka ternyata suamiku semesum ini!" lanjut Meysa lagi.


“Ya gak masalah lah bee mesum sama istri sendiri, kan udah halal juga."


“Kebanyakan bergaul sama bapak-bapak otak kamu jadi gak beres!"


“Ih nggak ya bee, ini wajar!" sahut Kai membenarkan. “Malah dulu katanya pas mereka jadi pengantin baru gak mau keluar kamar saking giatnya bereproduksi!"


Semakin diladeni ucapan Kai benar-benar semakin menjadi. Meysa dibuat terheran-heran. Ia merasa melihat sesuatu yang baru pada diri Kai. Tak menyangka jika ternyata laki-laki begitu memikirkan hal seperti itu. Tanpa Meysa tahu jika setelah menikah seluruh sikap dan sifat tersembunyi akan muncul satu persatu ke permukaan, begitupun dengan dirinya. Sebab setelah menikah, sikap dan kebiasaan kedua pasangan yang belum diketahui akan mulai terlihat.


“Kalau gak percaya tanya aja Bang Faza!"


Meysa memutar mata malas. “Iya-Iya, kamu mah emang segiat itu bereproduksi. Gak usah tanya Abang, aku percaya kok!"


Kai tersenyum bangga melihat Meysa mengalah. “Ya ampun pengertiannya istriku!" puji Kai sambil menatap Meysa dari pantulan kaca spion. Meysa lalu menampakkan senyum lebar lalu menepuk bahu Kai.


“Depan situ belok ya suamiku sayang!" puji Meysa.


Dengan senyum tak pernah pudar Kai lalu mengarahkan motor ke rumah besar tersebut, melalui pagar yang memang sudah terbuka sejak tadi.


“Ini rumah siapa bee? Besar juga?" Pandangan Kai mengitari area rumah haji Nurani yang luas dan besar. Ada banyak mobil yang berjejer,mulai dari truck, pick up dan mobil pribadi.


“Rumah haji Nurani, ingat ibu-ibu yang sama Mamaknya Rena gak?"


Kai terdiam sejenak mendengar pertanyaan Meysa.


“Ituloh bee, ibu-ibu yang temenin kalian pas melamar dulu."


“Oh yang katanya masih ada hubungan keluarga sama mamak itu ya?" tanya Kai saat mengingat sosok haji Nurani yang pernah ikut serta dalam proses lamaran mereka waktu itu.


Meysa mengangguk mengiyakan. Istrinya itu sudah turun dari motor, ia menunggu uluran rantang yang Kai taruh di bagian depan motor matic tersebut.


“Ibu-ibu yang kemarin pakai baju adat warna biru navy itu kan bee, yang sarungnya merah hitam?" tanya Kai sembari meraih rantang dan menyerahkannya pada Meysa.


Meysa meraih rantang sambil menganggukan kepala. Yang Kai katakan memang benar, kemarin haji Nurani memang mengenakan pakaian dengan warna yang Kai sebutkan.


“Ayo, mau ikut masuk gak?" tanya Meysa saat melihat Kai malah meraih ponsel dari saku celana cargo pendek yang digunakan.


“Bentar bee, aku Nerima telepon dari klien dulu ya!"


Meysa menganggukkan kepala sembari tersenyum saat Kai melihatkan layar ponselnya, dimana tertera nama seorang klien disana. “Yaudah aku duluan ya, nanti nyusul!" Meysa memaklumi kesibukan sang suami, apalagi sebulan ke depan Kai memang mendapat izin cuti, meski begitu Ia tetap mengambil beberapa job desain yang bisa dikerjakan dari rumah.


Meysa melangkah menuju rumah besar haji Nurani, sedangkan Kai yang hendak mengangkat telepon berjalan ke sisi pagar. Suami Meysa itu menerima telepon disana.