
Selepas beristirahat sejenak dan melaksanakan shalat di rumah Faza. Kini Faza dan Erza sudah membawa mereka makan sore di salah satu rumah makan ternama yang sering Ia kunjungi.
“Saya kesana sebentar."Faza beranjak dari duduk setelah menghabiskan makanannya dan melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari semua. Tak lupa Erza yang hendak ke kamar mandi segera menyusul.
Menyisakan Kai dan keluarganya yang baru selesai menikmati makanan.
"Faza dan Erza ini orang baik, ramah dan tidak sombong," puji Emak yang mulai membuka obrolan selepas kepergian Faza dan Erza.
“Mereka memang baik," sahut Kai sembari mengikuti arah pandang Emak yang masih menatap langkah Faza.
“Beruntunglah kau bisa diterima dengan baik, jangan pulak rusak kepercayaan keluarga orang dengan menyakiti perasaan anak mereka nantinya!" ujar Buk Yuliati memberi petuah, yang mana langsung dijawab anggukan oleh Kai.
“Si Erza ini kelihatannya masih muda ya Kai." Semua keluarga menoleh pada Albi yang malah tertarik membahas soal Erza. Ia merasa salut melihat anak muda yang memiliki attitude bagus seperti Erza.
“Kalau gak salah kami beda tiga atau dua tahun, anatara itu! Emang tuaan dia," ujar Kai yang mencoba mengingat umur Erza, tapi hanya samar-samar diingatan.
“Masih muda lah!"
“Dia anak purnawirawan polisi, PNS muda pulak."
“Wih, pantaslah gaya dia keren." Albi mwmuji lagi. Kedua bersaudara itu seperti tengah bergosip.
Sedangkan ketiga orang tua itu hanya jadi pengamat diantara obrolan dua anak mereka yang malah bahas kesuksesan orang lain.
“Emang sebaik itulah si Erza ini. Gitu-gitu pernah ditolak sama Meysa," seloroh Kai, tanpa sadar Ia malah keterusan mengungkapkan sesuatu yang sebentar lagi akan membuatnya terpojok.
“Hah?" sela Albi heran. Ia mencoba membenarkan pendengaran, apakah ia yang salah cerna atau memang pendengarannya yang rusak.
“Pernah ditolak sama Meysa maksudnya?" Beruntung Ayah langsung turut menyahuti, membuat Albi tak jadi mengira telinganya rusak. Ternyata ia tak salah dengar ataupun salah cerna. Bahkan Ayah pun dengar dengan jelas.
“Berarti Erza pernah suka Meysa?" tanya Albi memastikan.
"Iya, tapi Meysa tolak."
“Jangan bilang Meysa tolak karena lebih milih kau."
“Yaiyalah, Meysa kan bucinnya ke aku. lagi pula itu dulu, sekarang si Erza udah ada bini. Gak suka Meysa lagi!" ucapan Kai membuat Albi terkekeh. Ternyata percintaan adiknya cukup rumit. Jika saja Meysa tak setia, mungkin dia sudah di tikung sejak lama oleh Erza.
“Apalah si Meysa, lebih milih orang kayak Kau. Udah jelas si Erza mapan dan ganteng pulak."
Kai memutar mata malas mendengar Albi yang malah meledeknya dan membela orang lain. Ingin rasanya Kai berteriak, kalau begitu jadikanlah Erza adikmu. Biar ia beradik kakak dengan Faza saja, toh Faza mau menerima ia apa adanya. Begitu pikir Kai yang merasa terzolimi.
“Setia juga si Meysa, di depan mata ada godaan besar malah pilih anak kita yang baru bisa ngasih kepastian setelah bertahun-tahun."
Bahkan Emak pun ikut mengucilkannya, membuat Kai menyesal mengatakan semua pada keluarganya. Seketika Kai merasa seperti anak terbuang. Berharap dibela Ayah tapi ayah pun ikut terkekeh mendengar ledekan Emak dan Albi.
"Ya gimana, emang cinta bisa dipaksa. Bagus dong kalau gitu, itu artinya calon istriku kesetiannya udah teruji."
Albi dan emak manggut-manggut mendengar ucapan Kai yang memang benar adanya. Hal ini membuktikan jika Meysa patut diapresiasi karena sudah mau memilih Kai disaat banyak godaan seperti Erza salah satunya.
Buk Yuliati yang mendengar itu merasa kasihan pada Meysa. Ia yang tak pernah memandang dari aspek tertentu bisa merasakan dan mengerti bagaimana keadaan Meysa.
“Pantaslah kalau Meysa nolak, mungkin kalau emaknya baik si Meysa bakal terima." ujar Emak yang masih saja menggoda Kai, mencoba meruntuhkan mental sang anak. Namun, Kai hanya memutar mata malas. Ia sama sekali tak bergeming.
“Eh tapi si Erza udah nikah?" tanya Albi yang masih saja membahas Erza. Sepertinya abang Kai itu ngefans dengan Erza.
“Udah, baru delapan bulan yang lalu. Nikah sama sahabat si Meysa dia."
Albi nampak geleng-geleng, ternyata dunia begitu sempit. Erza yang pernah menyukai Meysa malah menikahi sahabat gadis itu sendiri.
Keluarga yang tengah membahas soal Erza itu seketika berhenti saat faza dan si bintang utama datang. Mereka terdiam dan beralih menyambut keduanya dengan senyuman.
“Sudah selesai?" tanya Faza berbasa-basi saat melihat semua sudah selesai makan.
“Iya ini Alhamdulillah sudah." Ayah menyahut seraya tersenyum.
Faza balas tersenyum, pria itu masih berdiri dan tak kunjung duduk, sebab ia ingin langsung mengajak mereka untuk meneruskan perjalanan.
“Berarti sudah bisa lanjut?" tanyanya hati-hati, yang mana langsung disetujui oleh semua.
“Oh iya boleh!"
Semua keluarga Kai pun turut bangun dari duduknya.
"Biar abang aja, kai!" cegah Albi ketika Kai hendak melangkah menuju kasir untuk membayar.
Namun, selanjutnya Faza menimpali. membuat Albi tak jadi melangkah.
"Kita langsung berangkat aja, saya sudah bayar." Faza memberi tahu dengan bibir yang tak lepas dari senyuman.
“Eh, mana boleh begitu. Nanti merepotkan!" Albi mengeluarkan dua lembar uang merah dan menyodorkan pada Faza sebagai ganti.
Faza lekas menolak dengan menangkup kedua tangan. “Tidak usah, ini tanggung jawab saya. Kalian tamu saya dan keluarga. Sudah sewajarnya begini."
Sungguh ucapan Faza yang begitu memuliakan membuat Keluarga Kai makin terharu dengan kebaikan saudara laki-laki Meysa itu.
“Kalau begitu, makasih banyak nak Faza." ujar Ayah sembari tersenyum dan menepuk bahu Faza.
Membuat Faza mengangguk mengiyakan.
“Makasih sudah menerima kami sekeluarga dengan baik." kini Albi yang menimpali.
“sudah sewajarnya, bukankah sebentar lagi kita akan jadi keluarga juga?" ujar Faza seraya menepuk bahu Albi, kemudian mempersilahkan untuk jalan bersama. Mereka akan meneruskan perjalanan menuju kampung halaman Faza.
Sebenarnya tidak bisa dikatakan kampung halaman juga, sebab kakek nenek dan orang tua Faza dulunya hanyalah orang pendatang dan membeli perkebunan disana, sama seperti warga yang lain hingga akhirnya mereka jadi warga asli daerah itu.