
Setelah melalui perjalanan hampir enam jam dari kota, akhirnya Kai dan Meysa beserta kawan-kawannya pun tiba di rumah orang tua Kai.
Keluarga Meysa sudah tiba sejam lebih dulu dan bahkan disambut dengan begitu baik oleh keluarga Kai. Begitu juga saat ini, orang tua Kai begitu senang menyambut anak mereka yang datang membawa istrinya. Meysa di peluk dan dicium oleh Emak dan bibik beserta sepupu-sepupu Kai secara bergantian.
“Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai juga." Bu Yuliati langsung menyambut Meysa dengan begitu spesial ketika mendengar kabar jika anak dan menantunya sudah tiba.
“Sehat-sehat kan, nak?"
“Selama disana Kai nggak ada ngerepotin Meysa, kan?" tanyanya lagi sembari menghambur ciuman di wajah Meysa.
Meysa tersenyum haru melihat perlakuan ibu mertuanya. Begitu pula dengan Faza dan orang tua Meysa yang merasa beruntung melihat bagaimana Meysa diperlakukan dengan baik.
Bahkan beberapa kerabat dan yang memenuhi rumah Kai turut menyaksikan hal tersebut. Mereka semua nampak antusias dan tersenyum haru menyambut kedatangan Kai.
Meysa menggeleng seraya mengusap lembut lengan sang mertua. “Nggak kok, mak. Abang gak ngerepotin, dia baik." Meysa berujar sambil menoleh pada Kai yang baru saja selesai memarkirkan motor dan menyusul ke samping sang istri.
“Tau sendiri kan anak emak ini anak baik." Kai berceletuk sambil menyodorkan tangan untuk mencium tangan sang Ibu.
Dari memeluk Meysa, bu Yuliati lalu menepuk tangan Kai, tetapi bukan hanya untuk sekedar membalas uluran tangan sang anak. Melainkan bu Yuliati langsung menarik Kai ke dalam pelukannya.
Kai menampakkan senyum, untuk pertama kalinya Ia merasa begitu spesial. Biasanya sang Ibu tak pernah memeluknya seperti ini, toh selama ini Ia tak pernah berjauhan seperti ini dengan keluarganya.
Meski tak mengutarakan secara langsung, sangat jelas terpancar jika Bu Yuliati begitu sedih dan memikirkan sang anak selama seminggu ini. Memang untuk pertama kalinya mereka berjauhan begitu jauh.
“Ingat kata emak sama Ayah, jadi suami yang baik," lirih emak yang berusaha menutupi kesedihan sambil menepuk bahu Kai.
Setelah itu, Kai dan Meysa pun dituntun masuk oleh bu Yuliati dengan dibantu Tiwi dan beberapa sepupu Kai yang lain.
“Gini lah rumah kita, Mey. Sederhana, gak ada yang mewah-mewah disini," ujar Bu Yuliati saat tengah mengantar Meysa dan Kai ke kamar yang sudah disediakan.
Bu Samsuri yang sejak kedatangannya tadi mendengar kata-kata itu diucapkan sang besan lalu bergegas mendekat sambil merangkulnya.
“Apalah bu, sama aja. Rumah kami pun gitu, bukan dari mewahnya kan yang penting bisa ditempati dan nyaman buat ditinggali."
Bu Yuliati tersenyum mendengar penuturan sang besan. Keduanya terlihat begitu akrab. Meski baru tiba beberapa jam tapi Ibu Meysa itu sudah sangat akrab dengan orang-orang sana. Bu Samsuri memang mudah bergaul, begitupun dengan Eka sang menantu. Tak kenal lelah, keduanya tadi sudah mulai bantu mengerjakan hal-hal ringan.
“Istirahat dulu kalian sambil nunggu disiapin makanan dulu, ya."
“Iya nak, tunggu bentar ya. Bentar lagi makanannya siap terus kita makan malam ramai-ramai." Bu Yuliati menimpali ucapan Tiwi pada Meysa dan Kai. Kedua pengantin baru itu hanya mengangguk mengiyakan.
Kini hanya tinggal pengantin baru itu saja berdua setelah semua keluar. Kai membantu Meysa untuk menyusun barang-barang yang bisa dikeluarkan.
“Kalo skincare-nya taro di atas situ aja bee, biar gak susah-susah kalau mau pakai.” Kai memberi saran sambil menunjuk sebuah meja yang berada di sisi lemari pada kamar berukuran tiga kali empat itu.
“Boleh." Mesya menyetujui sambil menaruh pouch kecil yang memang berisi peralatan kecantikan dan sejenisnya.
Begitu selesai keduanya duduk diam di tepi ranjang dengan sama-sama menopang tangan ke belakang. Manik bening Meysa tampak mengitari kamar tersebut.
“Ini kamar kamu?" tanya Meysa disela suara bising dari obrolan para ibu-ibu di luar.
Kai mengangguk, tangannya tergerak menutup mulut yang menguap.
“Kenapa, jelek ya?"
Pertanyaan Kai itu membuat Meysa langsung melayangkan bogeman tak seberapa di lengan sang suami.
Meysa sama sekali tak merasa bersalah, sorot mata tajam di bawah alis yang bertaut menandakan jika Ia sedang kesal.
“Gak suka ya kamu bilang begitu padahal aku sama sekali gak bilang apa-apa."
“Orang cuma nanya juga." Meysa mengomel panjang lebar, pandangannya kembali sibuk mengitari kamar sang suami.
“Omongan yang mana lagi sih, bee?"
“Yang mana-yang mana.” Meysa menirukan gaya bicara Kai, membuat suaminya itu terkekeh gemas.
“Ya maaf, lagian kamarnya emang jelek kan." Kai yang peka langsung menyadari kesalahan ucapannya.
“Tapi aku gak pernah bilang jelek, kamu aja yang ngomong sendiri."
Cara syukuran yang akan dilakukan besok pagi itu membuat rumah Kai dipenuhi oleh keluarga yang berjibaku mempersiapkan segalanya untuk besok.
....
Pagi hari menjelang, cuaca yang cerah seakan mendukung berlangsungnya acara syukuran sederhana yang dilakukan keluarga Kai dalam menyambut menantu dan anak merek yang telah melangsungkan akad pernikahan seminggu yang lalu.
Kai yang menggunakan pakaian adat moderen senada berwarna putih yang sudah disiapkan langsung oleh kakak ipar Kai, Tiwi.
“Meysa cocok kan pakai ini?” tanya Kak Tiwi semalam saat memberikan pakaian yang akan mereka gunakan untuk hari ini.
Tiwi nampak mencocokkan dress adat yang sengaja ia minta didesain modern untuk Meysa. “Sengaja Aku panjangin, tahu kamu emang lebih tinggi dariku."
Meysa hanya tersenyum melihat perlakuan Kak Tiwi. Dalam hati Meysa berharap keakraban antar kedua menantu dalam keluarga Kai ini bisa akrab selamanya tanpa ada masalah.
“Kalau punya Kai gak pakai tanjak pun gak apa, bisa pakai peci aja. Ini kain songketnya."
"Wih, warna suci dan bersih." Puji Kai dengan senyum sumringah.
Kini kedu pengantin baru itu nampak duduk menyambut tamu yang hadir memberikan do'a dan ucapan selamat. Senyum terulas dari bibir Meysa setiap mendengar bagaimana orang-orang yang memberi selamat tahu alasan di balik kenapa Kai selama ini nampak seperti jomblo mengenaskan hanya karena berusaha setia menjaga hati untuknya yang berada jauh saat itu.
“Pantaslah selama ini gak pernah lihat kau dekat dengan gadis manapun, ternyata jodoh kau orang jauh," ujar seorang lelaki yang sepertinya seumuran dengan Kai, tengah memberi selamat sambil menepuk bahunya.
"Kupikir dulu kau gak doyan cewek." Mereka semua sama-sama terkekeh, begitu juga dengan Kai.
“Ya nggaklah, buktinya nih." Kai menunjuk Meysa yang nampak cantik meski hanya menggunakan polesan make-up seadanya, tak seperti saay acara pernikahan di rumahnya waktu itu.
Beberapa teman sekolah dan teman main Kai di kampung itu pun beralih menatap Meysa yang sejak tadi tak henti mengulas senyum.
“Selamat ya kak, semoga langgeng sampai akhirat.”
“Dikasih, keturunan yang soleh soleha.”
“Terimakasih do'a baiknya." Meysa membalas ramah.
Acara sederhana itu terasa begitu meriah dan khidmat. Kedua keluarga yang semula asing nampak berbaur dengan akrab. Bahkan Samsuri, Ibu Meysa rela sibuk-sibuk di dapur tanpa mengenal gengsi dan lelah.
Ibu Meysa dan Eka senang karena orang-orang di kampung itu begitu ramah dan memperlakukan mereka seperti keluarga.