
Perlahan mata seorang gadis yang masih terlelap di balik selimut itu mulai mengerjap saat cahaya mentari pagi menelusup melalui celah ruangan.
Si pemilik tubuh menggeliat menarik selimut, untuk menutupi bagian tubuh yang terasa dingin diterpa tiupan angin dari kipas yang ada di kamar tersebut. Mata indah di bawah bulu mata lentik itu pun terbuka sempurna. Samar-samar penglihatannya mulai melirik juntaian bunga dan kain warna pink putih yang menghiasi kamar.
Wanita itu adalah Meysa, dengan cepat Ia memperbaiki selimut dan menutupi tubuhnya dengan sempurna saat ingatannya tertuju pada kejadian sebelum subuh tadi.
“Bee, boleh sekarang?" Suara laki-laki yang begitu Ia kenal mulia berbisik saat ia masih merasakan kantuk berat.
Meysa menggeleng cepat sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Mengingat adegan yang ternyata begitu mengasyikkan sebelum subuh tadi membuat pipinya merona. Kai berhasil mengambil jatahnya sebagai suami.
Suara desal*han dan erangan Kai saat berusaha memasuki goa membuat jantung Meysa kian berdegup kencang. Ia tak menyadari ternyata setelah sakit yang cukup perih Ia bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika Kai mulai mengayun tubuh dan memacu gerak di atasnya. Memberi kantuknya subuh tadi lenyap seketika. Rasa sakit itu berubah menjadi nikmat yang tak bisa diungkapkan.
Meysa tersenyum, Ia menoleh menatap sisi tempat tidur yang sudah kosong. Suami tercintanya sudah tidak ada disana. Meysa melipat kaki di balik slimut lalu menyilangkan tubuh di depan dada. Wajahnya bersemu merah mengingat bagaimana Ia dan Kai meledak berkali-kali subuh tadi sebelum akhirnya kembali tertidur pulas dalam pelukan laki-laki yang tak hanya menjadi pemilik hatinya, tetapi pemilik hak penuh atas dirinya dan tubuhnya.
Ceklek...
Suara pintu yang terbuka membuat Meysa menoleh. Dilihatnya sosok Kai yang sepertinya baru selesai mandi masuk ke dalam kamar dengan mengalungkan handuk di lehernya. Senyum manis yang Kai lemparkan membuat Meysa mengulas senyum dengan tak kalah manisnya.
“Kirain belum bangun." Sambil melangkah menuju tempat tidur, tangan Kai terus mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk yang terlingkar di lehernya. Pria itu duduk di sisi tempat tidur, tepat di depan Meysa.
Bibirnya tak henti-henti mengulas senyum pada sosok istrinya yang terlihat malu-malu sambil mengertkan selimut yang membalut tubuh polosnya.
Cup.
Kai mendaratkan kecupan di kening Meysa, membuat istrinya itu kian menunduk malu. "Makasih ya bee!" lirihnya sambil mengarahkan tangan mengusap lembut pipi Meysa.
Perlahan kepala Meysa mendongak menatap Kai, jantungnya dibuat berdebar apalagi jika mengingat kegiatan mengasyikkan yang dilakukan subuh tadi. Bibir Meysa seperti dibuat bungkam, Ia tak mampu mengatakan apapun.
“Kamu kenapa gitu?" tanya Kai saat melihat Meysa malah tersenyum tanpa mau mengatakan sesuatu.
“Malu?" Kai menebak sambil menahan senyum, gemas melihat tingkah Meysa.
“Ih bee!" Akhirnya tawa Kai pecah melihat sikap Meysa. Ia lalu menarik sang istri ke dalam dekapan. ”Masa iya malu sih bee, kan udah sah."
Kai melepas pelukannya sembari memegang bahu Meysa yang malah kian menundukkan pandangan sembari menutupi wajah dengan telapak tangan.
“Ini malu apa keenakan sih." Goda Kai seraya mencolek perut Meysa yang terbalut selimut tebal.
“Ih bee!" seru Meysa yang tak terima dengan ucapan Kai. Walau sebenarnya tak bisa dipungkiri apa yang Kai ucapkan memang benar. Kegiatan subuh tadi begitu enak dan ada rasa ingin tambah. Tapi Meysa masih terlalu malu kalau sampai Kai tahu isi pikirannya.
“Ya terus apa?"
“Aku gak apa-apa." Meysa mencebikkan bibir, bertingkah manja di hadapan sang suami.
“Yakin gak apa-apa?" tanya Kai sembari menahan senyum. ”Kalau aku sih jujur mau lagi, soalnya enak!" Kai mengedipkan mata, membuat Meysa segera mencubit perut Kai yang terbalut kaos hitam.
Pria itu meringis menahan perih dicubit sang istri. Meski begitu Kai tetep terkekeh. “Ih beneranlah bee, emang enak tahu. Mau lagi tapi gak sekarang, soalnya harus bantu yang lain beres-beres." Tadi setelah mandi Kai memang sempat keluar melihat keluarga Kai yang dibantu beberapa warga tengah membongkar tenda dan berbenah. Bahkan orang tua dan keluarganya juga ada disana.
“Oh, astaga iya. Kok bisa-bisanya aku malah nyantai begini!" Meysa terlihat panik, Ia membenarkan selimut yang membalut tubuh dan bersiap turun dari tempat tidur.
Kai mengernyitkan kening. “Emang kenapa, kamu mau apa?" tanyanya yang heran melihat sang istri nampak panik dan buru-buru.
“Ya mau bantuin orang beres-bereslah, mau apalagi?"
Kai manggut-manggut mendengar ucapan Meysa.
“Mau keluar kayak begini?" tanya Kai sambil menyorot tubuh Meysa.
“Ya nggaklah bee..."
“Emmnt makanya kamu ambilin aku baju mandi yang kamu lempar semalam!" Meysa tersenyum sembari memainkan alis. Meminta tolong pada sang suami agar Kai mau membantu.
Kai tersenyum gemas seraya mengacak-acak rambut Meysa lalu segera mengambil baju mandi yang semalam ia lempar asal tapi sudah Ia perbaiki dan gantung di tempat semula pagi tadi.
“Ini baju mandinya istriku tercinta!" Dengan mulut terkatup dan senyum merekah Ia memberikan apa yang Meysa minta.
Meysa menerima dengan hati berbunga-bunga. Hari kedua pengantin baru itu bagai dihiasi ribuan kupu-kupu dan ribuan bunga, keduanya nampak bahagia satu sama lain.
“Makasih suamiku!" ujar Meysa dengan senyum tertahan. Ia hendak menyingkirkan selimut dari tubuh, tapi Ia lupa jika saat ini tubuhnya benar-benar polos sedangkan disini masih ada Kai.
Dengan kening mengkerut, Kai heran melihat Meysa yang tak lekas memakai baju mandinya dan malah bengong. “Kenapa?" tanya Kai heran.
Ragu-ragu Meysa menjawab dengan isyarat, menggunakan jari Ia memberi kode agar Kai mau memalingkan wajah dari hadapannya. Meysa sungkan jika Kai menatap tubuhnya dalam keadaan terang seperti ini.
“Masa Iya harus balik badan, kamu malu dilihat suami sendiri?"
Ucapan Kai membuat Meysa mendesah berat sambil mengangguk ragu. "Aku malu!"
“Apa pulak yang dimaluin bee, aku kan udah lihat semua." Kai memainkan alis dengan pikiran yang kembali mengingat setiap inci lakukan di tubuh Meysa. Walau baru pertama, tapi Ia sudah menghafalnya dengan baik.
“Gimana gak malu kalau kamu ngejek gitu, ih." Bibir Meysa mencebik, kesal digoda Kai.
“Ih bee, aku gak ngejek loh." Kai kembali duduk di hadapan Meysa. “Sini biar aku bantuin, kenapa sih harus malu sama suami sendiri," ujar Kai sambil menarik selimut Meysa hingga menampakkan tubuh polosnya.
“Iya, nggak kok, aman!"
“Cuma mau bantu pakai ini!" ujar Kai sambil menunjukkan baju mandi di tangan.
“Bee!" seru Meysa saat tangan Kai malah bergerilia nakal. Ia tidak ingin jik kegiatan mengasyikkan itu dilanjutkan sekarang.
“Iya-iya!" Kai tersenyum jahil. Jujur matanya tak bisa teralihkan dari tubuh polos Meysa yang sudah ia beri jejak kissmark disana. Belum lagi pesona gunung Everest di tubuh Meysa membuat sesuatu di tubuh Kai kembali tegap gagah perkasa.
Bulu kuduk Meysa meremang saat Kai dengan nakal mengarahkan tangan mendaki gunung. Meski kegiatan itu menyenangkan, tapi rasa pedih membuat Meysa untuk tidak ingin kembali melakukannya pagi ini.
“Jangan macam-macam bee, kamu udah mandi loh!" peringat Meysa lagi saat Kai malah keenakan bermain-main dan merebahkan diri di pangkuannya. Meski mulut menolak tapi Meysa sama sekali tak melakukan protes berlebihan dan terlihat seperti orang pasrah saat Kai kembali melancarkan aksi. Sial, ternyata dia pun menikmati sentuhan Kai.
Kalau gini ceritanya mandinya pasti tertunda, dia juga pastinya bakal mandi lagi. Meysa berkata lirih dalam hati sembari meremas rambut Kai yang kembali melancarkan aksi di hadapannya.
“Pengennya si udah, tapi gak bisa. Ini tuh candu banget!" lirih Kai dengan suara berat. Bahkan matanya kembali diselimuti kabut hal berbau anu-anu.
Meysa menundukkan tubuh, tangannya tergerak menyusup ke dalam kaos Kai, memeluk suaminya dengan erat. Membuat Pakaian suaminya itu sedikit tersingkap. Hingga menampakkan pinggang Kai, mata Meysa yang juga hendak terpejam seketika berfokus pada sebuah luka jahitan yang panjang, terbentang dari pinggang kiri sampai di satu jengkal bawah lengan.
“Ini bekas luka apa?" tanya Meysa sembari menyentuh bekas jahitan yang sedikit menyembul itu.
“Hmmm, bekas jatuh bee." Kai menjawab dengan suara berat, Ia masih bekerja keras di tubuh Meysa.
Meysa yang baru sempat memerhatikan itu lantas terpaku, padahal dari semalam Ia dan Kai tidur tanpa sehelai benang tapi kenapa Ia baru melihat bekas luka itu sekarang. Seketika ingatan Meysa tertuju pada kejadian beberapa tahun lalu, dimana Kai pernah kecelakaan saat pulang dari camping dan touring. Kejadian naas membuat Kai celaka.
“Aku gak tahu kalau ternyata luka yang ini lumayan parah, bee!" Meysa masih fokus memerhatikan bekas luka yang ada di tubuh Kai itu. Bekas jahitan yang timbul membuat Meysa senang memegangnya.
“Kenapa dulu gak ngasih tahu sih!" protesnya.
Kai kian mengeratkan lingkaran tangan di tubuh Meysa. “Kan waktu itu aku udh ngasih tahu bee."
“Lagi pula kan udah sembuh juga lukanya, sayang."
Meysa hanya diam, matanya seperti ingin tertutup menikmati sentuhan yang Kai berikan. Rasanya Ia tak lagi berpijak di bumi, Kai membuatnya seperti terbang menembus awan. Meysa yang tadinya enggan melakukannya lagi karena masih terlalu nyeri seketika ingin mengulang dan meledak bersama dengan Kai lagi.
“Bee!" Erang Meysa, yanga mana membuat Kai mendongak sambil tersenyum. Lalu beranjak untuk merebahkan tubuh Meysa ke tempat tidur. Bersiap untuk menjelajah bersama.
“Kamu mau langsung punya baby?" tanya Meysa disela usaha Kai menyatukan tubuh mereka.
“Sedikasihnya aja bee, Kalau dikasih cepat ya Alhamdulillah kalau nggak juga ya nggak apa-apa. Kita bisa nikmati masa pacaran berdua."
Meysa tersenyum bahagia, Ia mengarahkan tangan pada rahang tegas Kai. Di mata Meysa, ketampanan Kai kian bertambah berkali lipat jika sedang bekerja keras seperti ini.
“Kamu ganteng banget kalau dilihat dari posisi seperti ini!"
“Yaudah kalau gitu kita harus sering begini biar gantengnya pake banget!"
Meysa terkekeh mendengar ucapan Kai, merekapun kembali saling memacu satu sama lain. Kai bekerja keras untuk menabur benih di ladang, Meysa sendiri terkadang menyemangati Kai yang sedang semangat-semangatnya bercocok tanam.
....
Sementara itu di luar, keluarga Meysa dan keluarga Kai terlihat tengah sarapan bersama. Tapi mamak memanggil keluarga Kai untuk datang dan menikmati sarapan di rumahnya.
Dua keluarga yang memiliki banyak perbedaan itu terlihat akrab satu sama lain.
“Nanti kalau datang ke Riau, pokoknya Bu Samsuri harus coba makanan khas kami."
“Iya, nanti kalau acara disana Ibu Suri datang 'kan?" sahut Buk Yuliati menengahi obrolan sang Kakak dengan besannya.
Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut, Mamak menganggukkan kepala. “Insyaallah buk kalau gak ada halangan, sekalian jalan-jalan."
“Nah nanti kalau sampai disana, Kau bikin makanan khas kita biar keluarga Kai disana bisa ikut coba." Bahkan saudara dari Bu Samsuri pun ikut memberi saran.
Semua tertawa senang, ternyata punya keluarga dari daerah, budaya dan suku berbeda bisa dijadikan ajang untuk saling memperkenalkan makanan atau bahkan budaya masing-masing.
“Pokoknya nanti disana kita buat lah acara makan-makan khusu buat makanan khas masing-masing."
Para bapak-bapak hanya terkekeh mendengar obrolan dan rencana para pihak wanita. Termasuk Alby, Faza, Ayah dan Bapak hanya tersenyum. Mereka semua tengah menikmati sarapan pagi sambil bersenda gurau. Semua ada disana, kecuali kedua mempelai yang sibuk bekerja keras untuk mengais rejeki.
“Pengantin barunya gak ikut sarapan?" celetuk Satria membuka obrolan saat tak melihat batang hidung Kai dan Meysa disana, yang mana membuat semua orang menoleh.
“Lagian kau juga, ngapain sih ikut nyeletuk kayak begitu!" Bahkan Ojik ikut menyikut Satria sambil berbisik pelan. Membuat sahabatnya itu bungkam karena salah tingkah. Tak menyangka jika pertanyaannya akan mengundang perhatian seperti ini.
Beruntung salah satu keluarga Meysa menyahuti dengan jawaban yang mencairkan suasana.
“Pengantin baru itu ndak usah ditanya. Sudah pasti mereka sibuk..."
“Sibuk bercocok tanam!"
Semua orang kembali terkekeh, sebab memiliki pikiran yang sama persis.