After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
19. Akad


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini, bertepatan pada hari Jum'at, tanggal tiga maret. Seorang Zayankara Kai'ulani akan melangsungkan pernikahan dengan gadis yang dikenalnya empat tahun lalu, gadis asing yang tak sengaja ia temukan disebuah bot chat random, yang mana kegabutannya pada pekat malam itu menumbuhkan sebuah rasa antara Ia dan calon istrinya. Hingga akhirnya mereka sama-sama menyemai rasa dan menjalin hubungan yang cukup lama sampai akhirnya hari spesial ini pun tiba.


Kai masih tak menyangka jika penantian dan perjuangannya selama empat tahun ini akan segera berbuah manis.


Pria berbalutkan jas tuksedo berwarna hitam dengan tanjak yang melingkar di kepala, nampak tersenyum haru ketika turun dari mobil pengantin. Ia di dampingi oleh kedua orang tua, saudara dan kakak ipar berserta teman, juga beberapa keluarga yang ikut mengantar.


Air matanya seperti ingin menetes saat menatap jejeran tamu yang menyambut kedatangannya di rumah Meysa. Halaman rumah yang di depannya berdiri tenda yang sudah dihias sedemikian rupa ini kian membuat Kai semakin sadar jika yang terjadi hari ini bukanlah sebuah mimpi belaka, melainkan mimpinya yang sebentar lagi akan terwujud menjadi nyata.


Butiran beras berwarna kuning yang menerpa wajah sebagai bentuk penyambutan membuat rasa haru kian menyeruak dalam hati Kai. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi hari ini.


Sedangkan di halaman rumah, para tamu undangan yang menyambut kedatangan Kai dan rombongan mulai berbisik sambil menatap kagum pada sosok calon suami Meysa.


”Wih, calon suaminya Meysa Masyaallah sekali!" ujar salah satu tamu membuka obrolan.


Melihat orang asing yang menjadi calon suami Meysa membuat mereka saling menyahuti. Ada yang memuji dan tak sedikit pula yang menanyakan bagaimana mereka bisa bertemu dan menjalin hubungan hingga ke jenjang yang serius seperti sekarang.


“Katanya orang jauh."


“Iya, katanya orang Pekanbaru!"


“Jauh juga Meysa cari jodoh. Pantas selama ini kelihatan jomblo dan tidak mau buka hati, ternyata ada hati yang memang dia jaga!"


“Iya ya, jadi sebenarnya mereka kenal dimana?"


Para tamu undangan mulai berbisi menanyakan soal asal-usul Kai. Dari cerita yabg beredar mereka mengetahui asal usul Kai, tapi tidak dengan awal pertemuan dan perkenalan mereka. Tidak ada yang tahu pasti soal itu kecuali orang terdekat. Tentu hal itu semakin membuat mereka penasaran tentang bagaimana awal mula Meysa bisa kenal dan menerima pinangan orang jauh.


“Tidak disangka-sangka Meysa berjodoh dengan orang jauh. Jadi penasaran bagaimana awal perkenalannya." Seorang ibu-ibu terlihat begitu penasaran sembari menatap rombongan asing itu.


“Mungkin kenal di Palu, bisa jadi calon suaminya pernah kesana dulu."


“Atau mungkin kenal di pesbuk!" ucap mereka mulai menerka-nerka.


“Ya begitulaah kalau jodoh ibu-ibu. Mau sejauh apa dan seasing apa kalau memang takdirnya sudah tertulis untuk bersama ya pasti ketemu juga." Ibu-ibu berpakaian syar'i menengahi dengan bijak. Membuat beberapa diantara mereka lalu terdiam dan tak lagi banyak tanya. Lebih memilih fokus terhadap prosesi penyambutan pada calon mempelai pria.


“Silahkan masuk!" Seorang wanita dan pria parauh baya yang ditugaskan menerima calon mempelai mulai mempersilahkan pihak mempelai pria untuk memasuki area resepsi untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Ayo!" Bisikan Emak yang berada tepat di telinga kemudian disusul dengan langkah yang menarik Kai membuat Kai yang sempat terpaku seketika tersentak sadar, dengan segera ia menyeimbangkan langkah memasuki tenda yang sudah disulap indah.


Payung agung yang dipegang oleh Satria mulai dilepas ketika mereka semua sudah memasuki area resepsi.


Kai terlihat tak henti-hentinya menarik napas dalam sambil terus melangkah dengan melempar senyum pada. Sungguh Ia masih tak percaya jika hari ini benar-benar telah tiba.


Kini langkah laki-laki itu mulai memasuki area ruang tamu rumah calon istrinya yang akan dijadikan tempat ijab qabul sebentar lagi.


“Silahkan duduk!"


Pemuka agama dan tuan rumah mulai mempersilahkan tamu mereka untuk duduk setelah berjabat tangan saling menyapa satu sama lain.


Kai duduk tepat di depan meja panjang berukuran kecil. Beberapa perlengkapan, mulai dari surat-surat, rangkaian seperangkat alat shalat dan sekotak emas yang akan dijadikan maskawin yang baru diserahkan oleh pihak keluega mempelai pria pun diletakkan di atas sana.


“Seserahannya kami terima!" ujar Haji Nurani, Wanita dengan penampilan makmur dengan pakaian adat berbentuk kebaya dan sarung serta tangan berbalutkan emas itu berperan sebagai penerima seserahan dari pihak laki-laki. Yang kemudian diletakkan di tengah.


“Bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang pria yang akan menjadi pembawa acara.


Para bapak-bapak yang ada mulai saling tatap dan mempersilahkan.


“Silahkan!"


“Silahkan!"


Kai mendadak gerogi ketika mendengar seorang pria yang mengenakan jas tutu dipadukan sarung khas adat bugis mulai buka suara untuk membacakan rangkaian acara.


Menggunakan ujung mata, Kai mengitari seluruh ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa. Jantungnya kian berdetak begitu kencang saat menatap orang-orang yang akan menjadi saksi ketika Ia mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan sebentar lagi.


Tak ingin merusak fokus, Kai lebih memilih menundukkan kepala sambil terus berdoa agar semua diberi kelancaran, tak lupa pula ia terus mengulang kalimat ijab qabul yang sudah Ia hafalkan dari jauh-jauh hari.


Bersamaan dengan segala rangakain yang terus bergantian, kini tiba saatnya seorang ustadz mulai memberikan khutbah nikah sebelum Ijab Qabul yang membuat dada Kai kian bergemuruh, hatinya bergetar hebat mendengar isi khutbah nikah yang disampaikan.


“...Ananda Kai dan Adinda Meysa," panggil sang ustadz setelah sebelumnya membacakan potongan ayat tentang pernikahan.


“Perlu diketahui, istrimu bukanlah bidadari dan kau pun bukan malaikat. Kalian dan kita semua adalah makhluk biasa, yang tak lepas dan luput dari berbuat dosa dan kesalahan.”


“Maka jika suatu hari Kai atau Meysa menemukan masalah dan kekurangan masing-masing ketika sudah berumah tangga, maka bersabarlah, maafkan! Sebab bisa jadi, pasangan kita yang saat ini kelihatan sempurna, kelihatan luar biasa baiknya dan ketika Allah uji dengan menunjukkan kekurangan pada diri masing-masing, jangan sampai... Jangan sampai itu membuat kita berpaling atau bahkan membenci karena menganggap pasangan kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan."


“Tidak ada rumah tangga yang benar-benar sempurna, pasti ada pasang dan surutnya sebagai ujian dari Allah. Kai sebagai suami harus bisa mmuliakan istrinya sebaik mungkin, dan adinda Meysa, jadilah istri yang taat dan berbakti kepada suami."


Sungguh makna dalam khutbah nikah itu membuat hati Kai bergetar. Pada diri Ia berjanji dan akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Meysa. Sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz barusan. Belum lagi, dari jauh-jauh hari Ia memang sering mengikuti kajian islami. Kai benar-benar mencari bekal untuk mengarungi bahtera rumah tangga nantinya.


Setelah khutbah nikah berakhir, kemudian dilanjut dengan pembacaan istighfar dan shalawat sebelum ijab qabul dilafalkan.


Rasa gerogi kian mendera di relung hati Kai saat pembawa acara mulai mempersilahkan Ia berjabat tangan dengan Bapak.


Sosok yang mengenakan jas tutu berwarna putih tulang dengan peci senada persis dengan apa yang Faza kenakan itu mulai mengulurkan tangan pada Kai. Membuat detak jantung Kai berpacu lebih cepat. Berulang kali Ia menarik napas untuk menenangkan diri.


Pak Rusdi akan menjadi wali nikah untuk putri bungsunya itu. Kini tangan Kai sudah berjabat tangan dengan calon Bapak mertuanya.


Bapak mengulas senyum teduh sebelum akhirnya mulai melafalkan ijab pada Kai.


“Ananda Zayankara Kai'ulani bin Ahmad Kharuddin, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Haneendya Meysa binti Rusdi Hartono dengan maskawin seperangkat alat shalat dan dua cincin emas dibayar tu--nai...”


Tanpa ragu Kai dengan cepat menjawab Qabul dari Ijab yang calon mertuanya berikan.


“Saya terima nikah dan kawinnya Haneendya Meysa binti Rusdi Hartono dengan maskawin tersebut tunai karena Allah!"


Tak terasa air mata Kai mentes saat Ia dengan lantang dan satu tarikan napas berhasil melaflkan qabul dari ijab yang diucapkan pak Rusdi barusan. Yang mana kalimat sakeral itu merupakan tanda dan janji yang membuat status Meysa berubah menjadi istrinya yang sah secara agama dan hukum. Kalimat yang ia lafalkan bukan hanya disaksikan oleh orang-orang melainkan didengar langsung oleh Allah dan disaksikan oleh para malaikatnya.


”Bagaimana saksi?” Penghulu menoleh kepada dua saksi yang kemudian dijawab dengan kata "Sah!"


Setelah itu, para hadirin pun turun menyahuti “Sah!" teriak mereka dengan serentak. Terutama Satria, Ojik dan beberapa teman Kai yang ikut begitu bersemangat saat meneriakkan kata tersebut.


Kai mengusap kedua tangan di wajah sebagai bentuk rasa syukur, tak lupa Ia meng-aamiinkan setiap do'a yang dipanjatkan oleh Pak Ustadz.