After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
20. Sah


Sementara itu di dalam kamar yabg sudah dihias sedemikian rupa. Meysa terlihat tak kuasa menahan tangis mendengar ijab qabul yang baru saja Bapak dan Kai lafalkan.


Rasa haru sekaligus sedih yang menyeruak membuat air mata Meysa menetes. Dalam sekejap tanggung jawab bapak berpindah pada Kai, laki-laki yang ia cintai, laki-laki asing yang selama empat tahun ini masih menjadi pemilik hatinya. Meski begitu, sebagai seorang anak Ia teramat sangat merasakan sedih karena lepas dari tanggung jawab orang tua dan akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama sang pasangan pilihan.


Meysa berharap dia dan Kai akan menjadi pasangan suami-istri yang sakinah, mawadah warahmah hingga tua nanti. Bahkan hingga akhirat kelak, Meysa berharap Kai adalah pasangan terakhir dan berdo'a agar kehidupan pernikahannya dengan suami tercinta tidak akan berakhir seperti pernikahan kedua orang tuanya. Meysa ingin sehidup semati dengan Kai.


“Cie, yang sudah sah jadi istri!" ujar Rena seraya memeluk Meysa yang duduk di atas tempat tidur yang indah.


Meysa menoleh dengan mata berkaca-kaca dibalik softlens yang melekat di mata. Sungguh Ia tak bisa menyembunyikan rasa haru yang menerpa.


Eka, kakak iparnya yang begitu peka akan kondisi segera beranjak dari duduknya dan mendekati Meysa.


“Berdo'a supaya pernikahan kalian diberkahi oleh Allah!"


“Jangan sedih, nanti make up mu luntur!" ujar Eka yang mencoba menghibur hati Meysa sembari mengusap lembut punggungnya.


Gadis yang nampak cantik dengan riasan di wajah itu terlihat begitu menawan. Tiara khas adat melekat indah di kepala yang dibalut hijab senada dengan pakaian pengantin berwarna hijau gold.


Meysa menerima tisu yang diberikan oleh Rena, lalu dengan pelan menyeka air mata yang hendak menetes. Masih tak menyangka jika saat ini ia sudah menjadi istri sah dari seorang Kai. Wanita yang berhak sepenuhnya atas laki-laki itu, begitupun sebaliknya.


Bacaan do'a yang terdengar dari pengeras suara kini mulai berganti setelah pembawa acara kembali mengambil alih dan Kai dipersilahkan membacakan sigat taklik, pria itu tengah membaca perjanjian pernikahan yang tercantum dalam akta nikah.


Setelah semua selesai, kini Kai dituntun menjemput Meysa di kamar.


Mempelai pria nampak begitu terharu saat berhadapan dengan gadis yang sangat Ia cintai. Tak menyangka jika akhirnya mereka bisa dipersatukan juga setelah melalui segala macam rintangan dan perjalanan yang cukup panjang.


Sesuai arahan, Kai meraih tangan Meysa kemudian memasangkan dua cincin di jari manis dan jari tengah wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


“Sekarang salaman!" ujar seorang memberi arahan.


Lalu Meysa mencium tangan Kai dengan begitu khidmat, air mata gadis itu menetes seketika. Apalagi ketika kai menyentuh bagian punggungnya dengan begitu lembut.


Setelah Meysa mencium punggung tangannya, Kai mengarahkan telapak tangan kanan untuk menyentuh kepala Meysa. Ia menengadahkan tangan kirinya sembari membaca sebuah do'a dalam hati.


“Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."


Kai telah menghafal do'a itu dari jauh-jauh hari. Sebelum menikah, Kai memang sering menonton kajian-kajian Islam, mempelajari bagaimana kehidupan berumah tangga sebagai persiapan sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.


Mulai saat ini dan seterusnya, Kai telah mengemban tanggung jawab yang begitu besar. Sebagai suami dari Meysa.


“Cium kening sebagai simbol sentuhan pertama!"


Ucapan seseorang membuat Kai yang masih menatap Meysa dengan ekspresi yang sulit diungkapkan pun segera tersadar. Kini Kai diarahkan untuk mendaratkan ciuman pada kening Meysa. Pria itu lalu memegang kedua bahu Meysa dan mendaratkan kecupan di kening sang istri.


Begitu seluruh prosesi selesai, kini kedua mempelai akan keluar kamar untuk melangsungkan resepsi. Namun, terlebih dahulu Kai harus berganti pakaian. Menggunakan pakaian senada seperti yang Meysa kenakan.


Dengan dibantu pihak MUA, Kai yang tadinya mengenakan jas dan tanjak mulai berganti pakaian mengenakan baju kurung dengan hiasan kepala berwarna gold.


Kedua pengantin pun dipersilahkan keluarga. Sebelum duduk di pelaminan. Terlebih dulu Keduanya harus melangsungkan prosesi sungkem terhadap orang tua dan saudara secara bersamaan.


“Kai, bapak titip Meysa. Jaga dia dan cintai dia!" ujar Pak Rusdi seraya mengusap lembut punggung sang menantu. “Meysa memang kadang keras kepala, tapi percayalah dia anaknya lemah lembut kalau bisa diambil hatinya. Dia akan bersikap keras kalau dikerasi, jadi sebagai suami bapak harap kelak kamu bisa bersabar dan mau membimbing Meysa dengan baik."


Tak hanya Kai, Meysa yang mendengar apa yang bapak sampaikan merasa begitu tersentuh. Ia dan Kai lalu bersama memeluk Bapak. Setelah itu baru beralih ke hadapan Mamak yang mengenakan seragam senada dengan Bapak, Faza dan juga Eka.


“Meysa sayang mamak dan bapak!" lirih Meysa dengan begitu menyentuh.


Setelah itu, lalu beralih sungkeman di hadapan orang tua Kai yang juga mengenakan seragam keluarga dan duduk di ujung kiri pelaminan.


Ayah dan Emak pun memberikan petuah yang baik pada anak dan menantu mereka.


“Kai, jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab, sayangi istrimu dan muliakan dia seperti kata ceramah tadi!" ucap Ayah memberi petuah pada Kai yang menunduk bersimpuh di hadapan mereka.


“Sudah punya istri, berarti kau harus tahu batasan. Harus lebih mengutamakan istrimu dalam segala hal. Suami istri itu haru berbagi, susah senang harus dilewati bersama!" ujar Emak ikut menyahuti. Kemudian Kai dan Meysa bergantian memeluk orang tua Kai.


Prosesi sungkem dengan kedua orang tua sudah selesai. Kini pembawa acara mempersilahkan kedua mempelai untuk sungkem kepada saudara, dimulai dari kaka Meysa terlebih dulu.


Faza tersenyum menatap kedua mempelai yang kini berada di hadapannya. Ia yang dulu pernah mengejek kisah percintaan Meysa pun merasa salut setelah melihat perjuangan dan penantian dua orang itu sampai akhirnya benar-benar dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang sah seperti sekarang.


Faza salut terhadap kesetiaan dan komitmen kuat antara Meysa dan Kai. Waktu LDR yang terbilang cukup lama itu ternyata bisa keduanya lalui.


“Selamat menempuh hidup baru Bulan dan Bintang!"


Ucapan Faza membuat kedua pengantin itu mendongak dengan wajah heran. Merasa janggal dengan apa yang baru saja Faza ucapkan.


Sialan! rasanya Meysa ingin mengumpat mendengar ucapan Faza yang terdengar mengejek. Ya, kakak Meysa itu malah mengejek menggunakan sebutan Bulan dan Bintang. Yang mana sebutan itu merupakan panggilan sayang yang pernah mereka sematkan satu sama lain saat pertama kali kenal empat tahun lalu.


Dalam hati Meysa menyesal pernah menceritakan dan memberi tahu hal itu pada Faza. Bahkan semua bisa bocor karena sang kakak memaksanya untuk bercerita dan sekarang malah diejek seperti ini. Meysa merasa sangat terbuly.


"Akhirnya bintang dan bulan bisa bersatu dan bisa melewati malam sama-sama.”


“Ih, kakak!" Meysa memukul paha Faza.


Tawa Faza hampir saja pecah. Sementara Kai, ia terlihat setengah mati menahan kebengekan karena ternyata Faza mengetahui soal panggilan Bulan dan Bintang. Kai tersenyum menahan malu, telinganya sedikit memerah mendengar ejekan dari kakak ipar.


Momen yang seharusnya jadi moment kebahagiaan yang mengharu biru itu malah jadi ajang lawakan saat mereka harus sungkem pada Faza dan mendengar celetukan randomnya.


"Jangan mengejek!" sentak Meysa dengan sedikit kesal.


“Iya-iya!" Faza menyerah, tak ingin jadi pusat perhatian karena orang-orang mulai memerhatikan interaksi mereka.


Faza kemudian meraih kepala sang adik untuk dicium.


“Selamat ya dekku, akhirnya anak ingusan ini sudah menikah, padahal dulu masih suka kencing celana, ingus dimana-mana, ndak nyangka ternyata sekarang sudah jadi istri orang..."


“Auwww!" Belum juga Faza menyelesaikan ucapannya. Satu cubitan yang mendarat di pinggang membuat bapak satu anak itu memekik tertahan.


Faza dicubit sekaligus disikut oleh Eka karena malah alih profesi sebagai pelawak di waktu yang tidak tepat.


Meysa yang mulai terharu malah beralih tertawa setelah mendengar ucapan Faza, bahkan saat melihat kakaknya itu dimarahi oleh sang istri. Moment sedih itu seketika berubah bercampur tawa. Hingga membuat Meysa harus menangis sambil tertawa. Ia senang di hari bahagia ini bisa melihat sang Kakak seperti ini.


“Serius!" Peringat Eka. “Kakaknya Kai juga belum, jangan korupsi waktu!"


Dan akhirnya Faza benar-benar melakukan semua dengan benar, pria itu menangis haru melepas sang adik mengarungi bahtera rumah tangga dengan orang jauh, rasanya ia masih belum rela melihat adiknya itu menikah. Bagi Faza Meysa akan selalu menjadi anak kecil, sementara saat ini anak kecil itu sudah sah menjadi Istri dari laki-laki pilihannya.


“Kai, titip Meysa ya, jaga baik-baik! Jangan sakiti dia!" ucap Faza memberi wejangan.


Kai tak bisa menjawab, ia hanya mengangguk sambil menahan haru yang bercampur dengan rasa syukur dan bahagia yang luar biasa. Kai masih tak menyangka jika hari ini benar-benar tiba. Padahal rasanya baru kemarin ia mengenal Meysa dari sebuah aplikasi di kala pekatnya malam. Kini Bulannya itu sudah menjadi istrinya. Tak terasa waktu LDR yang mereka jalani ternyata sudah selama ini, berjalan empat tahun. Bukan waktu yang singkat, Mereka telah bersama selama itu, mengasah kesetiaan dengan jarak, berjuang dan mempertahankan cinta hingga bisa dipersatukan seperti sekarang.