After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
28


“Meysa, kenapa suamimu Kau ajak pulang. Kitakan baru mau cerita-cerita!"


Meysa sama sekali tak menghiraukan teriakan Anca yang ternyata sudah keluar dari dalam rumah. Wanita yang baru kemarin menyandang status istri dari seorang Zayankara Kai'ulani itu lebih memilih melingkarkan tangan di tubuh Kai ketika suaminya hendak menoleh ke belakang, melihat sosok Anca yang memanggil mereka.


Air mata Meysa rasanya ingin menetes, Ia takut jika saja Kai akan marah karena hal tersebut. Selain itu Meysa merasa malu Kai mengetahui semua, Ia malu sebab selama ini suaminya itu benar-benar menutupi soal hubungan mereka yang sempat kandas dan menjaga hati sedangkan Ia malah melakukan sebaliknya.


“Kita pulang ya bee, Anca itu gak usah didengar!" lirih Meysa yang tak lagi memikirkan rasa malu karena dilihat orang berpelukan di depan umum, toh Ia dan Kai sudah sah menjadi suami istri. Apalagi yang ada di kepalanya saat ini hanya bagaimana cara agar Kai mau diajak pergi dari rumah Anca.


Perlahan Kai melepaskan pelukan dari Meysa, Ia menatap sang istri sembari tersenyum lembut, lalu mengusap lengannya dengan penuh sayang.


Kai mengangguk, tanda Ia menyetujui ajakan sang istri untuk pulang.


“Yok naik," ujar Kai. Ia naik lebih dulu ke atas motor, menyalakan mesin motor sembari menunggu Meysa benar-benar naik dan duduk dengan benar.


“Gak mau peluk?" tanya Kai saat motor yang mereka kendarai sudah melaju meninggalkan rumah Anca dan melaju di jalanan kampung yang asri.


Tanpa aba dan kata Meysa lekas melingkarkan tangan di pinggang Kai. Ia begitu menyayangi suaminya itu, Meysa takut Kai marah dan kecewa karena apa yang Anca katakan. Namun, sikap yang Kai tunjukkan malah membuatnya tenang. Sang suami sama sekali tak menunjukkan gelagat marah sedikitpun.


“Langsung pulang, kan?" tanya Kai disela tangannya yang tergerak mengusap punggung tangan Meysa yang melingkar di perutnya.


“Aku pengen bantuin Emak dan Ibunya Azka siap-siap." Meysa menjawab dengan lirih. Dengan bersandar di punggung Kai, Ia bisa merasakan jika suaminya itu menjawab keinginannya dengan anggukan.


Meysa tak lagi banyak bicara, ia menikmati pelukannya pada Kai tanpa memberi arahan apapun. Membiarkan Kai melajukan motor tanpa arahan, Ia yakin suaminya sudah menghafal jalan. Buktinya Kai tak lagi banyak tanya.


Ia merasa nyaman menyandarkan kepala di punggung Kai, tak perduli dengan tatapan para warga yang melihat interaksi mereka sebagai pengantin baru.


“Wih, romantis sekali pengantin baru!"


“Iya, menempel seperti perangko!"


“Kalau pengantin baru memang begitu, masih manis-manisnya. Belum merasakan garam habis, token habis, beras habis dan minyak habis secara bersamaan!"


“Iya, masih hangat-hangatnya. Kita semua kan dulu begitu waktu pengantin baru. Nanti lama-lama juga kayak orang musuhan!"


Ujar para ibu-ibu saling menyahuti. Ada yang berkomentar positif dan ada juga yang julid. Demikianlah hidup, setiap langkah yang dilakukan pasti akan ada saja yang jadi komentator. Meski hal baik sekalipun, orang-orang pasti akan memberikan komentar mereka.


.....


Sejak sampai di rumah yang di tempati oleh keluarga Kai selama beberapa hari tinggal disana. Meysa terlihat senang bisa akrab dengan keluarga sang suami.


Meski memiliki perbedaan bahasa dan aksen dalam berkomunikasi, tapi Meysa merasa nyaman berada diantara mereka. Ia benar-benar senang punya keluarga baru, apalagi keluarga Kai begitu ramah dan menyambutnya dengan hangat.


“Kalau dari sini ke kota Makassar berapa hari Meysa?" tanya Alby, abang Kai itu baru saja memesan tiket jalur laut.


Setelah memperhitungkan ongkos dan memperbincangkan jalur alternatif untuk keberangkatan pulang, keluarga Kai memilih menggunakan transportasi laut untuk pulang ke Riau. Saran itu didapatkan setelah berbincang dengan keluarga Meysa pagi tadi saat beres-beres pasca acara kemarin.


“Kalau pakai pesawat, pasti bajetnya lumayan banyak itu ya, apalagi yang datang cukup banyak!" Begitu tadi salah satu keluarga Meysa menyahuti saat membahas soal bajet transportasi yang keluarga Kai habiskan untuk perjalanan pulang pergi.


“Bukan lumayan lagi, tapi wow!" Alby menyahuti dnegan sedikit candaan. Membuat kedua keluarga saling terkekeh. “Untungnya kayak kawan-kawan Kai dan beberapa keluarga yang lain ngerti jadi mereka siapin biaya sendiri." Alby menjelaskan panjang lebar.


Kemudian Faza memberikan saran yang efektif. “Kenapa gak coba naik kapal laut aja, walaupun perjalanannya lama, tapi biayayanya murah. Kan anggap aja lagi liburan di kapal!" Begitu Faza memberi saran dan ternyata disetujui oleh semua.


Bahkan doa kamvret dan teman-teman Kai yang lain senang mendengar saran dari kakak ipar Kai. “Asyik tuh bang, bisa sekalian naik kapal, nikmati perjalanan di laut. Kebetulan kami belum pernah naik kapal penumpang!" Begitu mereka saling menyahuti dan yang lain pun ikut manggut-manggut menyetujui. Tak sabar membayangkan rasanya naik kapal, menikmati pelayaran dengan keluarga. Meski hanya kapal penumpang, pasti itu sangat menyenangkan.


Oleh sebab itu Albi langsung mencari situs resmi kapal penumpang Indonesia lalu memesan beberapa tiket disana.


Meysa yang tengah memangku Azka yang nampak akrab denganya itu lalu menoleh pada Albi


"Berangkat sore, besok udah sampai."


“Berarti pas ya Meysa, soalnya jadwal berangkat kapalnya jam 10 malam."


Iya bang, masih ada waktu buat istirahat sebelum kapal berangkat."


Meysa manggut-manggut, tak menyangka jika saran dari sang kakak ternyata efektif dan disetujui oleh keluarga sang suami. Hal ini membuat Meysa senang, bahagia Faza bisa berguna bagi sesama.


“Kalau tahu gini dari awal mending ke sininya naik kapal air!" Albi menyesal, setelah membandingkan harga tiket pesawat dengan kapal air ternyata lebih hemat kapal air meski waktu perjalanan lebih lama. Hal itu membuat ia menyesal, kenapa dari dulu tidak kepikiran kesana. Maklum, selama ini mereka tak pernah bepergian keluar pulau, apalagi menyebrang laut. Jadi, wajar saja jika tidak tahu dan tidak kepikiran sampai kesana. Yang ada di kepala hanya transportasi pesawat saja.


“Sekarang kan udah tahu, jadi nanti kalau mau jalan-jalan ke sini bisa naik kapal air," sahut Ayah menimpali.


“Tapi untuk berangkat abis ini naik pesawat aja dulu ya nak, soalnya takut gak keburu sampai, kan kita mau sedikit ngadain acara di rumah!" lanjut Emak memberi tahu niatnya pada sang menantu.


Meysa yang berada di sana hanya tersenyum hangat mendengar ucapan sang mertua. Di ruangan itu memang tidak ada Kai, tapi Ia tetap merasa akrab meski tanpa kehadiran suaminya itu. Mesya berharap hubungannya dengan keluarga suaminya bisa terus harmonis seperti ini sampai nanti.


Dalam hati Meysa juga senang karena saran Faza bisa membantu mengurangi bajeting bagi keluarga Kai yang awak tak kepikiran menggunakan transportasi laut. Memang tak diragukan lagi, Faza jelas tahu hal itu, sebab dia memiliki teman yang kerja di pelabuhan, bagian agen tiket dan Faza juga pernah berpergian menggunakan transportasi tersebut.


Berbeda dengan Meysa, Kai sendiri terlihat tengah sibuk duduk di halaman bersama teman-temannya yang baru selesai mengambil kelapa muda yang pohonnya berada di halaman rumah itu.


Kai dan teman-teman tengah menikmati kelapa muda di siang bolong.


“Weh, tawarin orang dalam lah, kali aja mereka mau juga!" ujar Aan memberi saran.


Kai yang baru selesai meneguk air kelapa langsung dari buahnya segera mengangguk sembari mengusap bulir air kelapa yang melengket ada di sisi bibirnya.


“Sat, ambil yang banyak!" Perintah Kai pada Satria yang memang sejak tadi bertugas memetik buah kelapa yang tidak terlalu tinggi itu.


“Capek anjir, aku mulu dari tadi!" Satria yang sudah lelah enggan beranjak dari tempatnya. Sahabat Kai itu lebih memilih menikmati daging buah kelapa yang sudah dibuka. Sebab dari tadi Ia sudah melaksanakan tugasnya memetik kelapa. “Kau lagi lah Jik, dari tadi kerjaan kau cuma makan sambil duduk!" Kai melempar Ojik menggunakan potongan kulit kelapa muda tersebut.


“Kotor Bangsat!" umpat Ojik yang kesal karena lemparan kulit kelapa yang masih ada air dan tanah yang menempel pada kulitnya itu mengenai kaki ojik, hingga kaki pria itu basah dan sedikit kotor.


Meski begitu, ojik tetap beranjak dan pergi memanjat pohon kelapa yang tak terlalu tinggi.


“Ntar habis pulak buah kelapa itu!" celetuk Aan, ia yang kenyang beranjak dari duduk sambil memegang parang, sebab sedari tadi Ia bertugas membuka kelapa.


“Eh iyo lah weh, nanti marah lah yang punya!" sahut Valdi ketika menyadari buah dua pohon kelapa itu mulai berkurang.


“Nggak ada yang marah, ini punya nenek Meysa!"


Semua menoleh setelah mendengar celetukan dari Kai, lalu mereka tersenyum penuh arti. Bukan senyum, lebih tepatnya mengejek penuh arti. Bersiap menjadikan Kai bahan bulian. Terutama Satria, wajahnya berseri-seri seketika, bersiap untuk mengejek.


“Nggak akan ada yang marah lah we, orang nenek Meysa kan udah jadi nenek Kai juga, jadi kelapa ini ya punya si Kai juga!" celetukan Satria membuat mereka semua terkekeh. Bersamaan dengan bunyi 'bugh' suara dari kelapa yang Ojik lempar dari atas pohon.


“Enak lah we, si Kai dah ada koneksi. Jalur orang dalam dia, cok!" Bahkan Ojik yang berada di atas pohon pun ikut menimpali.. Mereka semua nampak senang menjadikan pengantin baru itu bahan olokan.


Namun, Kai hanya memutar mata malas mendengar ucapan laknat para teman-temanya. Meski kesal tapi Ia sama sekali tak perduli pada apa yang teman-temannya katakan, Ia bahkan tak pernah mengambil hati ocehan mereka.


“An, bukain satu lagi!" Perintahnya yang terlihat acuh tak acuh dan memilih menyuruh Aan untuk kembali buka kelapa.


“Lah bukannya kau udah dua?" tanya Aan heran saat menyadari sejak tadi Kai sudah menghabisi dua kelapa. "Simpanin buat orang yang di dalam juga lah weh!" serunya memperingatkan. Tak ingin Kai menjadi tamak karena bagian kelapanya lebih banyak sedang yang lain belum kebagian.


Kai berdecak sembari menunduk mengambil kelapa yang Ojik lempar lalu kembali melemparkan ke arah Aan. “Buat biniku lah, anjir! Dia belum kebagian" seru Kai dengan wajah serius, pria berkaos hitam dengan celana cargo cokelat pendek itu menepuk kedua tangan untuk menghilangkan kotoran yang melekat.


“Wih suami siaga lah si Kai."


“Oh manisnya Pengantin baru!" timpal Satria sembari tersenyum lebar. “Eh, btw semalam habis berapa ronde, ceritain lah ke kami yang belum tahu rasanya," lanjutnya berceloteh penasaran.


Kai memutar mata malas mendengar pertanyaan random Satria yang malah bertanya hal privasi, meski begitu Ia akan tetap menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Kenapa pulak nanya ke Aku, tuh tanya ke si Aan sama Valdi yang lebih berpengalaman!" jawab Kai sambil menujuk kedua temannya yang memang sudah menikah lebih dulu.


“Lah, aku nanyanya di kau lah. Pengen tahu rasa unboxing versi kaum LDR-an, pasti menggebu-gebu!" Goda Satria yang begitu senang mencecar Kai. Membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Kai yang sudah menyiapkan stok sabar dalam menghadapi para teman-teman lucknutnya itu pun segera menjawab, tentunya Ia punya jawabannya yang bisa membungkam Satria. Kai tersenyum licik atas jawaban yang akan Ia berikan.


“Uh, enak banget Sat, pokoknya enaknya tuh gak bisa diungkapin sama kata-kata. Rasanya kayak lagi terbang." Kai bercerita dengan penuh penghayatan.


Matanya nampak terpejam dan terbuka saking penuh penghayatannnya. Bagaimana tidak, ia bercerita sambil membayangkan bagaimana ia melakukannya dengan Meysa.


Dan benar saja, jawabannya berhasil membuat Satria dan beberapa jomblo yang ada memalingkan wajah. Enggan mendengar cerita Kai yang bisa bikin tegang.


“Anjir, penuh penghayatan bener, bangsat!" umpat Satria. Membuat semua terkekeh melihat tingkah Kai yang berhasil membuat beberapa perjaka yang ada menelan ludah.


Sampai-sampai Satria enggan mendengar cerita lanjutan dari Kai.


“Pokoknya terabas sampai lemas!" Kai kembali menyahut dengan penuh semangat.


“Diam kai, nggak usah diterusin bangsat!" seru Satria sambil melempar Kai menggunakan kulit kelapa, kesal sebab niat mengerjai Kai dengan mengintrogasi soal malam pertama, tapi Kai malah membuatnya tegang karena turut membayangkan hal tersebut, Sial!