After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
27


Ting tong...


“Assalamualaikum," panggil Meysa dengan sedikit berteriak setelah memencet bel. Sambil sesekali menoleh ke belakang, melihat sang suami yang tengah berteleponan di sisi pagar.


Lalu Meysa kembali menatap pintu, bersiap mengucap salam untuk kedua kalinya. Namun, betapa terkejutnya Ia saat melihat sosok laki-laki sudah bersandar di sisi pintu, menatapnya dengan tatapan tajam dan datar, hingga Meysa harus memundurkan tubuh saking terkejutnya.


“Anca?!" lirih Meysa. Ia terkejut melihat Anca yang tiba-tiba ada di rumah. Kehadiran pria itu mengejutkannya. Setahu Meysa, Anca sedang pergi liburan di rumah keluarganya yang ada di Kalimantan, Ia tak menyangka jika pria itu ternyata sudah ada di rumah.


Meysa kembali menoleh pada Kai, Ia khawatir jika suaminya itu akan bertemu dengan laki-laki yang sempat menyukainya ini.


“Kenapa?" sergah Anca. Membuat Meysa lekas mengalihkan pandangan dari menatap Kai dan kembali fokus pada sosok pria berwajah datar di depannya itu.


Meysa tidak mau berada di situasi ini apalagi melihat wajah tak bersahabat dari Anca. Dulu, pria yang sempat menyukainya dan masih ada hubungan keluarga dengannya itu sudah menerima keputusannya dengan lapang dada saat Ia menolak niat lamaran keluarga tersebut dan bahkan setelahnya mereka masih akrab satu sama lain. Namun, Meysa sama sekali tak mengerti kenapa Anca tiba-tiba berubah, pria itu menjadi cuek dan ketus setelah berita lamarannya beredar. Dan laki-laki itu bahkan pergi setelah Ia dan Kai melangsungkan lamaran.


“Jadi itu laki-laki yang berhasil menjadikanmu istri?"


Meysa masih terpaku saat Anca menunjuk Kai dengan dagu, tatapan dinginnya ikut menyorot Kai yang sedang berteleponan.


Tak ingin suasana tetap canggung, Meysa menarik napas dan berdehem sebelum akhirnya mencoba menjawab dengan santai. Berharap bisa mencairkan suasana.


“Ehmm, Iya." Meysa nampak hati-hati dalam memilih kata yang akan diucapkan. Tak ingin mengundang keributan, apalagi mengingat bagaimana watak Anca dan bukan tak mungkin jika Kai akan melawan kalau saja ia merasa tersentil. Meysa harus hati-hati, Ia takut apa yang dipikirkan itu terjadi.


“Kau Anca, tega sekali tidak hadir di acara pernikahanku."


Anca tersenyum kecut mendengar perkataan Meysa. “Untuk apa hadir, bikin sakit hati saja."


Meysa dibuat terpaku dengan kata-kata menohok pria itu. Ternyata memang benar ia masih menaruh kesal karena penolakan hari itu.


“Kau masih marah karena masalah waktu itu?" tanya Meysa to the point. Jujur Ia tak suka berada di situasi seperti ini. Masalah penolakan itu sudah berlalu lama, lagipula semua tahu apa alasannya dan Meysa tak ingin Anca terus membahas semua itu. Memangnya hati bisa dipaksa, bagi Meysa perasaan Anca adalah urusannya. Hal itu bukan tanggung jawabnya jika Ia menolak dengan alasan tak cinta, apalagi saat itu hati Meysa masih milik Kai. Lalu dimana salahnya?


“Kalau kau marah karena saya lebih pilih orang lain, saya rasa itu bukan urusanmu. Kau tidak punya hak untuk marah karena itu pilihanku. Lagipula bukannya kau sudah tahu jelas apa alasannya kan." Meysa tak menyangka Ia punya keberanian untuk mengatakan hal itu di hadapan Anca di saat laki-laki itu sama sekali belum mengatakan apapun. Namun satu yang pasti, Meysa hanya tak ingin masalah ini berlarut dengan Anca yang tak bisa menerima semua, sementara kenyataannya Ia sudah menjadi istri orang.


Anca manggut-manggut, ia tersenyum simpul mendengar ucapan panjang lebar dari sepupu sekaligus teman yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.


“Memang tidak salah Mey, tapi saya cuma ndak nyangka kenapa kau bisa lebih memilih orang asing yang tidak kau tahu pasti bagaimana kesehariannya di sana dibandingkan orang yang sudah jelas dan kau lihat sehari-hari." Anca mengedikkan bahu sembari mencebik. Hal itu membuat Meysa kesal, merasa Anca sudah sangat berlebihan dan sok tahu soal Kai.


“Bisa-bisanya kau yakin dengan lebih memilih orang jauh."


“Kau ndak ada hak menilai dan mengomentari pilihanku, Anca!" sela Meysa tak suka. Dadanya panas mendengar komentar dari Anca yang sudah seperti netizen. Setelah sekian lama, sikap tengil dan menyebalkan laki-laki itu akhirnya muncul juga.


Meysa tak habis pikir dengan pikiran buntu Anca, hanya karena masalah tempo hari ia malah jadi seperti ini. Padahal keluarga yang lain sama sekali tak lagi mempermasalahkan hal ini. Bahkan orang tua Anca sendiri turut serta dalam acara pernikahannya kemarin.


“Bagaimanapun dia dan bagaimanapun kehidupan kami nantinya, kau ndak punya hak ikut campur."


Anca kembali menunjukkan ekspresi menyebalkan. Rasanya Meysa ingin sekali mencakar wajah itu. Namun, suara Kai yang muncul lebih dulu membuat niat Meysa hanya terkubur dalam hati.


“Kok rantangnya belum dikasih?" tanya Kai saat menghampiri Meysa sembari memasukkan ponsel ke dalam saku.


Kai menolehkan pandangan menatap sosok tuan rumah yang berdiri di pintu. Ia menampakkan senyum ramah, membuat sosok Anca yang enggan tersenyum balas memberikan senyum pada sosok Kai.


“Mey!" Panggil Kai saat melihat Meysa malah terdiam sejak kemunculannya disana.


“Eh, Iya!" Meysa tersentak. Wanita itu gelagapan, takut jika saja Anca malah membahas hal tadi di hadapan Kai.


Sungguh Meysa tak ingin hal itu diungkit, Ia tak ingin Kai tahu jika selama mereka break Ia pernah beternak buaya dan pernah di lamar oleh Anca juga. Meysa tak ingin Kai kecewa jika tahu fakta itu.


“Mey, kasih!" Panggil Kai, menyebut sang istri hanya deng menggunakan nama. Di depan umum dan orang lain, Kai memang tak ingin memanggil istrinya dengan panggilan sayang. Sebab menurut Kai, keromantisan tak harus dipublikasikan. Ia hanya akan berikap romantis saat berdua saja.


“Ini, makanan buat tante haji!" Dengan segera Meysa menyodorkan rantang itu pada Anca.


“Makasih, nanti saya sampaikan!" Jawab pria itu dengan singkat.


Sebagai tamu dan orang baru di kampung itu, Kai hanya mengangguk dan tak lupa menampakkan senyumannya yang khas. Meski sedari tadi Kai merasa jika tatapan laki-laki pemilik rumah ini nampak lain pada Meysa, tapi ia tetap berusaha seramah mungkin.


“Ohiya, selamat ya atas pernikahan kalian."


Baru Kai ingin mengajak Meysa pamit, pria itu kembali bersuara. ia lekas menoleh dengan senyuman. Sementara Meysa terlihat berulang kali menelan saliva, takut jika Anca si tempramental malah nekat mengatakan hal itu.


“Terimakasih banyak ucapannya."


Anca mengangguk serasa tersenyum kecil melihat keramahan suami Meysa. “Maaf tidak sempat hadir, saya terlambat. Padahal sebelumnya sudah pesan tiket, tapi tidak ada jadwal keberangkatan di dua hari sebelum pernikahan kalian. Adanya sehari sebelumnya."


Kening Meysa mengkerut mendengar ucapan Anca. Entah pria itu sedang membual atau apa. Yang pastinya Meysa tidak suka, sebab tadi saat di hadapannya pria itu sempat mengatakan jika ia memang tidak berniat menghadiri acara pernikahan Ia dan Kai yang membuat sakit hati. Namun, di hadapan Kai, Anca malah mengatakan hal lain, berbeda dengan sebelumnya. Sungguh Meysa dibuat kesal.


Kai mengangguk mendengar niat baik pria itu, tanpa menoleh pada istrinya yang menampakkan wajah ditekuk. "Do'a saja sudah lebih dari cukup!" ujarnya dengan tulus, tanpa tahu Anca hampir menjadi suami Meysa jika saja saat itu wanita yang kini menjadi istrinya ini menerima lamaran dari keluarga pria tersebut.


Meysa semakin dibuat melotot saat Anca malah mengulurkan tangan pada Kai. Apa-apaan dia ini, bukannya berhenti malah mengajak kenalan! Meysa menggerutu kesal.


“Anca!"


“Kai!" ujar Kai membalas uluran tangan Anca.


“Mamakku dengan Mamaknya Meysa sepupu satu kali, Meysa pasti belum cerita ya?" Anca melirik sekilas pada Meysa yang nampak makin geram.


“Sudah," jawab Kai sambil mengangguk samar. “Kalau ibu abang kebetulan saya tahu sejak beliau bantu lamaran waktu itu," jelas Kai panjang lebar. Senang bisa mengenal keluarga dari sang istri, apalagi bisa akrab seperti ini.


“Ya, itu mamakku!" Anca menjawab dengan sumringah. Ia terlihat sengaja mengajak Kai mengobrol. Apalagi saat melihat gerak-gerik Meysa yang sudah begitu ingin pergi dari sana.


“Kita pulang sekarang yok, Kai. Sekalian mampir bantuin Emak dan Ayah packing, mereka udah harus pulang sore, kan?" ujar Meysa yang berusaha mengajak Kai pergi dari sana. Ia tak ingin ada masalah pada pernikahannya yang baru berumur sehari itu jika saja Anca malah menceritakan semua.


Sungguh Meysa sangat merasa bersalah jika Kai sampai tahu kejadian yang sebenarnya. Meysa malu sebab selama break dengannya, Kai bisa menjaga hati sementara Ia malah buka hati sana sini dan beternak buaya hanya untuk melupakan pria yang ujung-ujungnya menjadi takdirnya itu. Meysa malu jika mengingat semua tindakan konyolnya, Ia menyesali tindakan bodohnya beberapa bulan yang lalu itu.


Namun, bukannya mengiyakan ajakan Meysa, Kai malah terlihat betah berada di sana meski tak dipersilahkan masuk oleh si pemilik rumah. Apalagi ketika pria bernama Anca terlihat ingin mengatakan sesuatu, membuat Kai menunggu.


“Dulu saya sama Meysa hampir nikah loh, tapi mungkin memang belum jodoh dan dia berjodohnya malah dengan kamu," ujar Anca dengan santai tanpa rasa bersalah. Tak melihat Meysa yang seketika seperti orang sakit begitu mendengar apa yang ia sampaikan.


Lutut Meysa terasa lemas, tak menyangka jika Anca kan benar-benar mengatakan hal itu. Apalagi ketika wanita itu menoleh, melihat raut wajah Kai yang berubah. Di waktu yang bersamaan, sang suami menoleh padanya dengan wajah bingung. Meski begitu Kai tetap berusaha terlihat santai.


Terbukti dengan senyuman yang Ia lemparkan setelahnya. “Mau dijodohkan ceritanya?" tanya Kai penasaran.


“Bee, udah. Pulang yuk, aku pengen ketemu Emak!" rengek Meysa. Meski kai terlihat tenang, tapi Ia tahu betul apa yang suaminya jtu rasakan.


“Ah, masa iya Meysa ndak pernah cerita?" lanjut Anca sudah seperti kompor.


Rasanya Meysa ingin sekali menerjang wajah sialan Anca yang ternyata begitu lihai bersandiwara. Sudah seperti aktor pemeran antagonis yang bermuka dua.


“Jadi beberapa bulan yang lalu itu kami sempat..."


Belum sempat Anca menyelesaikan ucapannya, Meysa malah mendorong pria itu ke dalam rumah. Lalu menutup pintu dari luar. Ia tak perduli akan tindakannya. Yang jelas ia sudah tak tahan dengan sikap sialan Anca.


Kai yang melihat hal itu hanya terpaku heran. ia terlihat seperti orang yang kesulitan mencerna apa yang baru saja di dengar dan tindakan yang Meysa lakukan barusan.


“Udah, dia gak usah didengar, kita pulang yuk!" Meysa menarik Kai yang seperti terpaku di teras rumah Anca.


“Kamu kenapa sih bee?" tanya Kai heran. Meski begitu Ia tetap mengikuti langkah sang istri yang menariknya ke arah motor berada.