After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
31


Suara pintu kamar terbuka, membuat Kai yang tengah duduk bersandar di ranjang sambil bermain ponsel hanya menoleh sekilas pada Meysa yang baru saja kembali dari dapur setelah mencuci piring bekas makan malam tadi.


Kai tersenyum, Ia lekas menggeser duduk, menyisakan area kosong agar Meysa segera duduk di sampingnya.


Meysa yang melihat itu pun tersenyum, dengan penuh semangat ia berhambur ke dalam dekapan sang suami yang merentangkan tangan menerimanya.


“Capek ya?" Kai mendarat kan kecupan di kening dan puncak kepala Meysa secara bertubi-tubi, perasaannya pada sang istri begitu menggebu-gebu.


Meysa menggeleng, lalu memperbaiki posisi. “Nggaklah, masak cuma cuci piring udah capek. Aku gak selemah itu kali bang!" ujarnya sambil melirik Kai yang tak henti menampakkan senyum mengembang.


“Iya-ya, istriku kan wanita perkasa," puji Kai, tangannya tergerak mengusap kepala Meysa dengan penuh sayang.


Meysa sama sekali tak menjawab, Ia hanya menampakkan wajah bangga. Tangannya teralih meraih ponsel yang Kai genggam.


“Lagi lihat apa tadi?" tanyanya saat ponsel Kai sudah berada di tangannya.


“Gak ada, cuma nonton YouTube aja, bee." Melihat Meysa yang berusaha membuka ponselnya yang terkunci, Kai lalu bantu membuka dengan menekan angka yang menjadi password lockscreen ponselnya.


Dengan posisi merangkul Meysa yang bersandar di dada bidangnya, Kai terus memerhatikan jemari Meysa yang begitu lincah menscroll ponsel. Hal yang pertama kali Meysa buka adalah galeri.


Tidak begitu banyak foto pribadi yang Kai koleksi, hanya beberapa foto saat Ia touring dan pergi menjelajah alam bersama kawan-kawan, ada foto pemandangan yang begitu estetik dan juga beberapa foto proyek.


“Ini hp baru?" tanya Meysa sembari memerhatikan ponsel Kai.


“Iya, yang dulu kan hilang pas touring di Sumbar, bee!"


Meysa yang sempat kecewa sebab berpikir jika Kai sama sekali tak menyimpan fotonya sedikit merasa lega mendengar ucapan Kai, hampir saja Ia berprasangka buruk pada Kai. Meysa lupa jika Kai pernah kehilangan ponsel.


“Kenapa, kamu kira fotomu gak ada?"


Meysa menoleh sambil cengengesan, Kai bisa menebak apa yang ada di kepalanya.


Kai yang merasa tebakannya benar pun langsung mengarahkan jari dan mencari aplikasi tempat Ia mencadangkan file lama. Sudah diduga, jika tidak dijelaskan mungkin Meysa masih berprasangka buruk padanya.


“Gak usah soudzon dulu lah, gak mungkinlah Aku gak nyimpan foto kamu."


"Ya kali aja," sahut Meysa menanggapi celetukan Kai.


”Tuh!" seru Kai saat berhasil memasukkan akun emailnya dan menampilkan banyak foto miliknya, mulai dari foto screenshot-an saat mereka sedang melakukan panggilan video, pap dari Meysa, dan bahkan foto serta video saat mereka bertemu dulu pun masih ada.


Meysa tersenyum penuh arti sambil menoleh pada Kai.


“Makanya, jangan langsung marah dulu, kan bisa nanya!" protes Kai yang begitu tahu sifat Meysa. Dulu saat masih LDR-an, jika hal seperti ini terjadi mungkin Meysa akan langsung marah. Namun, untungnya kini mereka sudah mengakhiri hubungan jarak jauh yang menyiksa itu dan Kai pun bisa dengan mudah mengatasi dan menjelaskan jika terjadi sesuatu yang membuat mereka akan salah paham seperti kejadian sebenarnya, paling sering salah paham karena masalah kabar.


“Hehe, maaf!" Meysa hanya berkata lirih sambil menscroll foto-foto lamanya yang Kai simpan.


Kai tersenyum, Ia kemudian meletakkan dagunya di bahu Meysa. “Kayaknya kalau lengket gini tiap hari aku gak akan bisa marah sama kamu!" tutur Kai sambil menghirup dalam aroma wangi sang istri.


“Kenapa tuh?"


Kai membenarkan memalingkan wajah, menelisik wajah Meysa yang hanya berada beberapa centi dari pandangannya.


“Gimana bisa marah kalau tiap hari lihat istriku yang secantik ini."


“Gombal kali lah bang!" Meysa yang tersipu mengarahkan tangan mengusap wajah Kai tanpa menoleh, netranya masih sibuk mengecek ponsel sang suami.


“Gak ada Aku gombal, bee. Ini serius!"


Merasa diperhatikan Kai seperti ini membuat Meysa jadi salah tingkah.


Namun, bukannya berhenti. Kai malah makin dibuat gemas melihat sikap Meysa yang seperti ini, berada di dekat Meysa benar-benar membuat sesuatu dalam dirinya tegak setiap saat, namun ini bukan tiang.


“Ternyata nikah senikmat ini, tahu gini dari dulu Aku kerja keras biar bisa langsung nikahin kamu pas kita baru kenal."


Mendengar celetukan Kai membuat Meysa menoleh, Ia terkekeh sembari mengacak-acak wajah suaminya itu.


“Bisa aja sih gombalnya, Bang!"


“Ih bee, Aku serius tau, bee." Kai menatap Meysa dengan begitu dalam, istrinya ini masih saja menanggapi ucapannya dengan candaan padahal Ia mengungkapkan semua tulus dari lubuk hati yang paling dalam.


“Iya-Iya, Aku juga serius nih." Meysa menampakkan wajah serius dan balik menatap Kai dengan dalam, walau akhirnya harus gagal karena ia terus-menerus tertawa.


“Ih, ngejek kali lah bee. Kalau gini kan Aku jadi pengen produksi anak!" Kai yang sejak tadi sudah merasakan sesuatu yang tegak pada dirinya langsung menarik Meysa kembali ke dalam dekapannya, menciumi ceruk leher sang istri dengan penuh semangat. Meski begitu Meysa masih saja tertawa karena merasa geli.


“Ih bee, geli tau, haha!"


“Kamu apain Aku sih bee, kenapa Aku bisa sesayang ini dan setergila-gila ini sama kamu, padahal kamu orang asing, hmmm."


Seketika Meysa berhenti terkekeh saat Kai menggenggam kedua bahunya dan menatapnya dengan tatapan yang dalam dan serius. Tatapan yang selalu berhasil membuat Meysa luluh dan terpesona.


“Ih, bee!" sela Meysa yang hampir menangis, Ia terlalu cengeng jika membahas hal-hal seperti ini, apalagi jika mengingat bagaimana perjuangan Kai dan banyak hal yang mereka lalui. Sejujurnya Meysa juga masih tak menyangka, sosok virtual yang Ia temui malam itu benar-benar sudah menjadi pasangan halalnya.


“Tahu gak, Aku merasa jadi laki-laki yang paling beruntung karena ditemani berproses sama sosok tangguh seperti kamu!" Kai meraih tangan Meysa dan menggenggamnya dengan erat.


"Materi jadi halangan nomor satu yang bikin Aku tak berdaya dan baru bisa menjemputmu sekarang."


"Jarak kita jauh tapi kamu mau setia samaku."


“Itu Karena kamu juga setia sama Aku!" sela Meysa menjawab ucapan Kai. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.


“Bahkan disaat Aku tertinggal jauh kamu masih mau menunggu, Aku jarang ada kabar kamu juga masih nungguin, padahal Aku sering kali ngecewain kamu waktu itu, bee!"


Meysa menarik Kai ke dalam dekapannya, ternyata seperti inilah kehidupan pasangan LDR setelah menikah, hari panjang dan melelahkan yang pernah dilalui bersama menjadi kenangan dan pembahasan yang memilukan jika diingat seperti sekarang. Apa saja yang yang sudah dilalui dulu pastinya akan menjadi kenangan penuh perjuangan yang seharusnya patut dibanggakan, sebab tak semua pasangan bisa melalui hubungan seperti ini hingga finis. Bahkan setelah finis masih ada garis star baru yang menjadi gerbang sesungguhnya dalam menjalin hubungan.


Tok, tok tok...


Kedua pasangan yang tengah menikmati pelukan itu sama-sama menoleh ke arah pintu kamar saat mendengar suara ketukan.


“Meysa, dipanggil sama Mamak!"


Suara Eka dari balik pintu membuat Meysa menatap Kai terlebih dahulu sebelum menyahutinya.


“Iya Kak, sebentar!"


“Ajak Kai juga!"


Setelah itu suara Eka tak terdengar lagi, Meysa dan Kai masih duduk berhadapan dengan sorot mata yang saling menyiratkan tanya tentang untuk apa mereka dipanggil.


“Padahal baru juga mau mulai produksi baby." Kai berseloroh, meski begitu Ia tetap beranjak dari tempat tidur, tak lupa mengarahkan tangan pada Meysa yang minta bantuan untuk beranjak dari ranjang.


Wanita itu tersenyum lebar mendengar celetukan sang suami yang kedengarannya begitu bersemangat jika membahas soal reproduksi.


“Emang gak capek produksi mulu?"


“Dua hari dua malam itu terus kerjanya, mana tadi sore juga udah. Emang gak capek apa?" celetuk Meysa yang berjalan di belakang Kai sambil memegang pundak suaminya itu.


Kai lalu menoleh dengan wajah berseri-seri. Mood kedua pengantin baru ini sepertinya begitu cepat berubah, baru saja tadi bersedih, saling mengungkap rasa, kini sudah kembali ceria dan membahas soal reproduksi.


“Ya nggaklah bee, bayangin aja udah berapa lama kita nungguin moment ini?"


Meysa tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, Kita?" tanyanya saat Kai sudah membuka pintu kamar.


“Gak salah tuh, mungkin kamu aja kali yang nunggu." Meysa membenarkan ucapan Kai, sebab tak mau dianggap ikut menunggu moment ini sejak lama.


“Iya bee Iya, cuma Aku yang nunggu."


“Pasrahan sekali yah anda!" ejek Meysa, ia nampak begitu manja pada Kai.


“Ya gimana gak pasrahan, emang kenyataannya gitu."


“Aku ngaku kalau emang udah lama nungguin ini bee, gak tahu aja kamu gimana laki-laki kalau menyangkut hal ginian, bee," celetuk Kai panjang lebar.


Meysa masih saja terkekeh, kini mereka sudah keluar kamar dan mencari keberadaan mamak.


“Emang mau produksi anak berapa nih Pak Kai?" Meysa menyelipkan tangan di lengan Kai, lalu melingkarkannya disana.


“Yang jelasnya harus produksi Bulan dan Bintang dulu, kalau mereka udah ada, ya berarti selebihnya bonus!"


Meysa kembali dibuat terkekeh dnegan celetukan suaminya, terlebih lagi wajah Kai nampak datar tanpa ekspresi saat menyampaikan hal tersebut.


“Tapi kamu gak beneran kasih mereka nama Bulan dan Bintang, kan?" Meysa menelisik wajah Kai dengan serius.


“Emmmnt, gimana bagusnya ya bee?" Kai nampak berpikir.


"Nanti ya bee kita pikirin, tuh Mamak lagi duduk di teras!"


Meysa yang tadi masih mengamati wajah Kai langsung melepaskan pelukannya dari lengan Kai, tadi Ia berani bermesraan karena memang sepenjang keluar kamar tidak ada orang di ruang tengang, jujur Meysa dan Kai sama-sama sungkan jika harus menunjukkan kemesraan di depan umum, apalagi di depan keluarga.