
“Alhamdulillah selesai!" lirih Kai begitu keluar dari ruangan penyuluhan.
Ia dan Meysa menyelesaikan bimbingan nikah tepat sebelum waktu dzuhur tiba. Di dalam tadi, keduanya sama-sama ditanya tentang kesiapan berkas dan mental sebelum menikah. Apakah benar-benar sudah matang dan siap secara lahir batin untuk melangsungkan perintah Allah.
Bahkan yang ditanyakan oleh pihak penyuluh tak hanya seputar itu, melainkan beberapa materi dalam mempersiapkan diri membangun keluarga dengan pondasi yang kuat, mulai dari segi agama, sosial, ekonomi, hingga kesehatan. Kai dan Meysa menjawab dengan begitu kompak, seluruh pertanyaan soal agama dan yang lainnya juga mereka jawab dengan benar. Membuat Pak penyuluh menatap bangga. Menilai jika keduanya begitu sudah matang. Dalam hati Pak penyuluh berdo'a agar kedua calon mempelai diberikan kehidupan bahagia dan rumah tangga sakinah mawadah warahmah sampai kelak.
Bimbingan pernikahan itu pun berakhir dengan petugas KUA yang meminta agar diberi tahu tanggal pernikahan secepatnya.
“Habis ini see you on Pelaminan, bee-bee!" Kai kembali mengoceh sambil melangkah. Membuat Meysa yang tengah mencari keberadaan Erza dan Rena langsung menoleh pada calon suaminya itu.
“Mau langsung berangkat ya abis ini?" tanya Meysa yang tiba-tiba di terpa kesedihan saat tahu Kai sudah harus kembali ke Pekanbaru.
Kai mengangguk mengiyakan. “Iya bee, jam keberangkatan pesawatnya jam sepulu malam nanti."
Sambil mengobrol keduanya terus melangkah keluar dari sana. Mencari keberadaan pasutri yang ternyata sedang membeli pop ice di warung depan kantor KUA. Pantas saja tak ada di dalam, ternyata sedang jajan. Meysa bisa menebak jika itu pasti keinginan Rena. Maklum, bumil!
“Hmmmnt!" lirih Meysa. Rasanya berat jika harus berpisah untuk kesekian kalinya. Meski kali ini hanya sebentar, tetapi tetap saja Meysa merasakan kesedihan.
Melihat wajah Meysa yang berubah murung, Kai lalu mengarahkan tangan mengusap kepala Meysa.
“Cuma bentar, abis itu kan udah gak ada LDR lagi." Kai mencoba menenangkan.
Sedangkan Meysa yang mendengar itu hanya mengangguk sembari menghela napas berat.
“Selamat sampai tujuan ya, baik-baik disana. Jaga hati!"
” Ingat, bentar lagi kita mau nikah!" ujar Meysa memperingatkan.
Kai tersenyum lembut saat Meysa menoleh padanya dengan menunjukkan wajah galak. “Kamu juga baik-baik disini!"
“Jaga diri, jaga kesehatan dan yang pastinya jaga hati juga!"
“Kamu jangan khawatir, insyaallah semua akan baik-baik aja!"
Obrolan kedua calon suami istri itu pun harus terputus saat Rena dan Erza datang dan memberikan dua minuman pada mereka.
“Langsung pulang?" tanya Erza memastikan.
“Iya, udah mau berangkat juga!" jawab Kai.
Dua laki-laki yang pernah menyukai perempuan yang sama itu terlihat akrab satu sama lain.
Mereka semua pun naik ke mobil. Erza lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan kantor KUA.
Kini Kai, Meysa juga Erza dan Rena sudah sampai di rumah. Keluarga Meysa terlihat sibuk mempersiapkan barang sebelum pulang. Hari ini Kai akan berangkat bersama Faza dan keluarga kecilnya.
“Selamat sampai tujuan ya, Kai! Maaf ndak bisa mengantar, harus masuk kantor lagi!" ujar Erza saat berpamitan pada Kai. Sumi Rena itu memang sudah harus kembali ke kantor.
“Aamiin, makasih bro!" ujar Kai seraya berjabat tangan dengan suami Rena itu.
Setelah kepergian Erza. Rena, Kai dan Meysa pun melangkah ke halaman rumah.
“Makan dulu Kai, Mamak sudah siapkan makanan di dalam!" Sosok mamak yang akan tinggal sampai hari-H nanti muncul dari dalam dengan tergopoh-gopoh ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Ia tahu jika hari ini Kai akan langsung pulang setelah menyelesaikan semua urusan.
Selama beberapa hari ini Kai memang tinggal di rumah yang di tempati keluarganya waktu itu, dan untuk urusan makan Kai, semuanya disiapkan oleh keluarga Meysa. Walau sebenarnya Kai sempat menolak karena sungkan dan lebih memilih makan di luar agar tak merepotkan. Tetapi Mamak kekeh dan mengatakan jika mereka adalah keluarga dan sudah sewajarnya memperlakukan Kai dengan baik, termasuk menyiapkan makanan.
“Iya mak, makasih. Tapi Kai masih kenyang!" jawab Kai sambil melangkah ke teras rumah dan memilih duduk di emperan teras. Sedangkan Meysa dan Rena sama-sama duduk di kursi kayu.
Faza dan Eka yang akan berangkat ke Palu hari ini bersama Kai terlihat siap-siap dan mengangkut barang mereka keluar.
“Makan dulu Kai, Papanya Cia juga baru mau susun barang. Paling berangkatnya habis shalat zuhur!" Eka menunjuk suaminya yang tengah bersiap menyusun barang-barang ke dalam mobil.
Kai yang melihat itu langsung beranjak, hendak membantu tapi di larang oleh Faza.
“Ndak usah Kai, kau makan saja dulu."
Mau tak mau akhirnya Kai pun masuk, tapi sebelum makan. Ia memilih shalat zuhur terlebih dulu. Setelah itu baru makan bersama calon bapak Mertua dan kedua keponakan Meysa yang riweh, keduanya sama-sama berebutan mau disuap oleh Kakeknya.
“Jangan ganggu kakek makan Cia, Kia. Sini adek mama suap, Cia makan sendiri!" ujar Eka melarang kedua anaknya untuk tidak mengganggu waktu makan bapak mertuanya.
Celetukan mantan calon istri yang bernada julid membuat Bapak yang tengah makan hanya memutar mata malas.
“Cia, Kia, Sini! Duduk diam-diam supaya nasinya tidak terhambur!" ujar Bapak. Pusing melihat dua cucunya yang begitu aktif.
Hingga akhirnya Eka yang kesal pun mendaratkan cubitan di lengan Cia, membuat anak sulungnya itu diam dan tak lagi banyak goyang.
“Mamak bilang jangan banyak goyang kalau makan!" hardik Eka dengan mata melotot. Membuat Cia menyuapkan nasi dengan mata berkaca-kaca, hendak menangis tapi takut mengeluarkan suara. Bisa-bisa akan membuat sang mama semakin marah.
Sementara Kia, ia langsung digendong oleh Eka. Ibu dua anak itu mengamankan dua bocilnya agar tak mengganggu waktu makan Kai dan Bapak. Eka membawa sepiring nasi dan botol air minum ke teras belakang, Ia hendak menyuapi Kia sambil duduk dengan Mamak yang sedang tapis beras.
Kai yang menyaksikan kericuhan barusan hanya menahan senyum. Kepalanya seketika membayangkan bagaimana jika Ia dan Meysa dikaruniai dua anak super aktif seperti keponakan calon istrinya itu, sudah dipastikan Meysa akan langsung berubah jadi kuda lumping.
Selain itu Kai senang bisa ada diantara keluarga Meysa.
Kai sedikit salut dengan interaksi kedua calon mertuanya. Meski berpisah sejak lama tapi mereka nampak masih harmonis dan terkadang saling melempar candaan satu sama lain. Dalam hati Kai berharap agar mereka bisa balikan sehingga keluarga Meysa bisa lengkap dan utuh seperti dulu lagi.
Setelah makan siang, Kai, Eka dan Faza beserta dua bocil pun bersiap berangkat. Sebenarnya Meysa ingin ikut mengantar Kai ke Palu, tapi Mamak melarang karena katanya calon pengantin yang sudah diikat tidak boleh sering keluar rumah apalagi menempuh perjalanan jauh. Takut terjadi sesuatu.
“Ndak usah ikut, biar kakakmu saja yang antar!" begitu tadi mamak melarang saat ia minta izin untuk ikut. Namun, tidak diizinkan. Bukan hanya mamak, bahkan yang lain juga melarang untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
Mata Meysa nampak berkaca-kaca menatap sosok pria yang tengah mengikat tali sepatu vans hitam di teras.
“Jangan sedih, LDR kali ini cuma sementara. Habis itu kalian akan sama-sama terus!" bisik Rena berusaha menenangkan seraya mengusap punggung Meysa yang ada di sampingnya.
Faza pun keluar, ia berjalan ke arah mobilnya dan membuka pintu lalu mulai menyalakan mesin mobil agar panas.
“Nek, Cia mau tinggal disini sama nenek!" rengek bocah yang kelihatan enggan untuk kembali ke rumah. Ia senang tinggal di kampung, apalagi sekarang neneknya ada disana. Ia senang tinggal dengan nenek dan kakek.
“Bulan depan kan Cia sama adek bisa datang lagi." Buk Samsuri mencoba memberi pengertian pada sang cucu. Sebenarnya bisa saja ia meminta Eka dan Faza untuk tidak membawa Cia, hanya saja cucunya itu harus masuk sekolah dan tidka boleh menambah izin. Toh bulan depan mereka akan kembali lagi.
“Cia, masuk mobil!" ucap Faza memberi perintah. Yang mana membuat bocah itu menampakkan wajah kesal.
Namun, seketika berubah senang saat Ibunya menyebut nama Kai.
"Duduk di belakang Kak, sama Abang Kai."
Wajah bocah yang tadi kusut mengkerut itu langsung bersemangat. Ia yang hendak masuk ke pintu depan mobil, bergegas buru-buru ke belakang saat tahu akan duduk dengan Kai. Dari dulu Cia memang suka dengan Kai, bocah itu suka melihat tampang Kai yang menurutnya menggemaskan. Ternyata bocil juga suka lihat yang bening-bening.
“Mak, Pak. Kai pamit dulu." Kai mengulurkan tangan mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.
Mamak dan Bapak Meysa membalas uluran tangan Kai sambil mengusap punggung calon menantu mereka.
“Iya nak, selamat sampai tujuan!" ujar Mamak dan Bapak secara bersamaan.
Kini Kai beralih menatap Meysa. Ia menahan senyum melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca.
“Aku pamit ya!" ujar Kai sambil mengulurkan tangan. Jika tidak banyak orang mungkin ia pun sudah menarik Meysa ke dalam pelukannya.
Melihat Meysa yang tak kunjung membalas uluran tangan Kai dan malah bengong seperti orang bodoh membuat semua ingin terkekeh.
Lalu mamak pun menyahuti. "Kai cuma pamit sebentar, nanti juga datang lagi!"
"Kayak orang mau ditinggal lama saja kau ini,” seloroh Mamak dengan setengah mengejek. Membuat Meysa mencebik, dengan cepat ia segera membalas uluran tangan Kai.
"Maklum mak, sudah lama jadi pejuang LDR! Wajar kalau takut ditinggal lagi."
Celetukan Faza membuat Kai menunduk sambil terkekeh. Gemas mendengar semua ucapan keluarga Meysa.
Berbeda dengan Kai yang merasa lucu, Meysa sendiri terlihat setengah mati menahan malu dan kesal karena ucapan Mamak dan Faza. Ia tidak suka diejek.
“Sudah, sudah. Kalian berangkatlah, sudah jam dua, mana mendung juga ini!" sahut Bapak menimpali seraya mendongak menatap langit yang perlahan berubah gelap.
“Ayo Kai!" Faza mengajak lalu masuk ke dalam mobil.
Sementara Kai yang sudah tak lagi menggenggam tangan Meysa hanya menoleh sekilas pada calon istrinya itu. Dalam hati Kai bergumam. "Tunggu aku sekali lagi untuk menjadi kita, aku janji ini LDR kita yang terakhir!" lirih Kai dengan perasaan yang tak kalah sedihnya, hanya saja Ia berusaha menutupi dan tak ingin menunjukkan di hadapan orang lain.