
Setelah pertemuan siang tadi dengan Meysa. Dan Kai kembali meyakinkan keluarga jika Ia benar-benar menyanggupi permintaan keluarga Meysa. Akhirnya Ayah dan Albi menghubungi Faza jika mereka menyanggupi permintaan itu.
Hingga akhirnya malam ini bukan lagi proses tawar menawar dan mencari kesepakatan, melainkan malam ini akan dilangsungkan acara lamaran resmi sekaligus tunangan dan penyerahan uang. Semua dipersingkat dan dipersatukan dalam satu malam, mengingat keluarga Kai berasal dari daerah yang jauh. Tidak memungkinkan kalau harus datang lagi hanya untuk menyerahkan uang dan tanda jadi.
Ruang tamu rumah Meysa bahkan sudah dihias sedemikian rupa untuk melangsungkan prosesi lamaran inti dan tunangan malam nanti. Yang mana Eka sendirilah yang langsung turun tangan untuk menghias kediaman sang mertua dengan dekorasi simple ala acara tunangan pada umumnya.
Eka yang sudah menggeluti hal itu sejak lama melakukan semua dengan senang hati. Bahkan ia sudah mempersiapkan semua dari malam saat Meysa mengadukan niat Kai pada Faza. Eka datang dengan membawa perlengkapan dekor dari usaha floristnya, usaha yang Ia dan Faza rintis sejak awal menikah dulu. Sebelum ia resmi jadi pegawai negeri di tempatnya bekerja.
Malam hari pun tiba. Ruang tamu yang sudah di dekorasi dengan simpel itu nampak dipenuhi dengan kedua keluarga calon mempelai dan beberapa tamu yang memang sengaja diundang. Memang bukan acara besar-besaran, tapi nampak begitu meriah dengan kedua belah pihak yang terlihat begitu bahagia.
Kai dan Meysa nampak serasi mengenakan pakaian dengan warna hampir senada. Meysa mengenakan dress brokat berwarna putih, dengan Kai yang mengenakan batik hitam berpadu motif bunga kecil berwarna putih.
Kedua sejoli yang tengah berbahagia itu terlihat tengah bertukar cincin setelah beberapa saat lalu melaksanakan prosesi penyerahan uang antar pihak keluarga.
Hanya tanggal pernikahan yang belum ditentukan, sebab kedua keluarga yang berbeda suku itu ingin mencari waktu dan tanggal baik terlebih dulu.
“Cie, yang wajahnya berseri-seri!" ejek Rena yang datang menghampiri Meysa dan Kai setelah dua sejoli itu selesai berfoto ala pasangan tunangan seperti orang kebanyakan.
Meysa melayangkan pukulan pada Rena. Sahabatnya yang tengah hamil muda itu terlihat lebih berisi dari sebelumnya, bahkan pipi Rena terlihat begitu cabi.
“Ck, suka sekali memukul!" omel Rena sambil mengelus-elus perutnya, seakan mengadu pada calon bayi jika Meysa baru saja menganiayanya.
“Ututu bumil sensitif!" lirih Meysa seraya memeluk sahabat luckutnya yang sudah berubah 180 derajat menjadi wanita kalem dan tak lagi bar-bar semenjak hamil.
Rena mencebikkan bibir seraya melambaikan tangan pada Erza yang masih duduk di dekat Albi dan Faza. Ketiga pria itu terlihat begitu dekat. Erza yang tengah asyik berbincang dengan Faza dan Erza balas memberi kode, mengisyaratkan ia akan menyusul sebentar lagi setelah obrolannya dengan Albi dan Faza selesai.
Sementara Kai yang memerhatikan interaksi kedua sahabat itu mengarahkan pandangan sepenuhnya pada Rena setelah mendengar Meysa menyebutkan kata 'bumil'.
“Rena hamil?" tanya Kai memastikan.
Meysa yang mendengar pertanyaan Kai lantas mengangguk sambil tersenyum penuh semangat, Ia menyampaikan kebahagiaan Rena dan Erza yang tengah menanti kehadiran sang buah hati.
“Iya, Kai. Alhamdulillah sudah jalan tiga bulan." Rena menyahuti dengan wajah berseri-seri.
“Wah, selamat ya!" ujar Kai memberikan selamat.
Keesokan harinya, seluruh keluarga Meysa terlihat sedang berkumpul di halaman rumah yang Keluarga Kai tempati selama di kampung itu.
Hari ini Albi, Bu Yuliati dan Pak Ahmad juga Pak Mawardi berniat kembali ke Pekanbaru. Toh semua prosesi lamaran sudah selesai malam tadi. Mereka akan datang kembali saat menjelang hari-H nantinya.
“Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan ya, buk!" ujar Buk Samsuri sambil bercipika-cipiki dengan calon besan.
Mamak dan Eka memberikan bingkisan sebagai oleh-oleh pada kedua orang tua Kai.
“Iya buk, makasih ya!" balas Buk Yuliati seraya mengusap lembut lengan calon besan yang memiliki perawakan sedikit lebih tinggi darinya.
"Semoga bisa secepatnya bertemu lagi."
“Aamiin, semoga kita semua diberi kesehatan sampai harinya tiba."Mamak menjawab ucapan bu Yuliati dengan begitu ramah.
Kai dan Meysa yang berhadapan dan berdiri di sisi keluarga masing-masing terpantau saling tatap. Keduanya sama-sama tersenyum melihat interaksi kedua wanita yang sudah melahirkan mereka. Ada rasa haru yang menyeruak karena sebentar lagi keluarga mereka akan benar-benar disatukan.
“Kalau sudah dapat tanggal, kabari saja. Biar semua persiapan bisa selesai secepatnya!" Bapak yang berdiri di sisi kiri Meysa pun ikut menimpali. Sebagai bentuk toleransi dan menghargai adat budaya mereka yang berbeda, Bapak memberikan wewenang kepada keluarga Kai untuk menentukan tanggal yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.
Pak Ahmad mengangguk dengan senyuman penuh. “Pastinya Pak, nanti kalau sampai, kami akan langsung mencari tanggal yang tepat!" ujar Ayah. Yang mana membuat semua turut mengangguk mengerti.
“Oh iya Bu Samsuri, Pak Rusdi!" Semua orang kembali menoleh pada Emak yang terlihat bersemangat, hendak mengatakan sesuatu pada calon besan.
“Kalau acara di Riau nanti, kami harapkan semua keluarga bisa ikut mengantar." Emak menatap seluruh keluarga Kai yang menyambut keinginannya dengan senyuman.
“Insya Allah nanti kami usahakan ikut!" jawaban Mamak membuat Emak senang.
Selesai berpamitan, keluarga Kai dengan diantar Erza dan Faza seperti biasa pun sudah berangkat. Meninggalkan Kai yang ternyata belum ikut pulang. Sebab harus tinggal mempersiapkan beberapa hal dengan Meysa terlebih dulu.
“Jadi mau langsung ke kantor KUA atau mau foto-foto dulu?" tanya Bapak pada Kai setelah kepergian semua.
“Mau stor berkas dulu," sahut Kai. Kebetulan Ia yang sudah mempersiapkan semua secara matang sudah membawa segala berkas yang diperlukan dan besok, saat Albi sampai di kampung. Ia akan membantu Kai mempersiapkan surat-surat persyaratan nikah dengan mengurus berkas langsung ke KUA dan kantor pemerintah setempat di kampung mereka.