After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
13. Bertemu Setelah Sekian Lama


Keesokan harinya, Meysa masih saja tidak tenang karena memikirkan hal semalam. Ia benar-benar tidak enak pada keluarga Kai.


Rasa cemas membuat Ia memutuskan untuk menghubungi Kai. Beberapa hari ini, Ia dan Kai memang belum pernah kontekan sejak kedatangan pria itu di kampungnya.


Meysa yang merasa tidak enak karena memikirkan hal semalam pun mengirim pesan untuk mengajak Kai bertemu di salah satu taman bermain yang tak begitu jauh dari rumah, hanya beda lorong saja.


“Habis ini kemana lagi, bee?" tanya Kai yang tengah mengemudikan motor. Setelah membalas pesan Meysa yang katanya ingin berbicara, beberapa saat kemudian gadis itu datang ke rumah yang Kai dan keluarga tempati.


Keluarga Kai yang baru pertama kali melihat Meysa dibuat terpana dengan kecantikan alami bakal calon menantu mereka yang kelihatan masih malu-malu, meski begitu Meysa tetap menyapa mereka dengan begitu ramah. Membuat semua berkesan dan senang.


“Di depan sana belok kiri, abis itu lurus aja terus. Nanti sehabis lapangan bola ada taman, kita ngomong disitu aja." Meysa yang dibonceng menjelaskan panjang lebar sambil menunjukkan jalan pada Kai yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung itu.


Selain itu, pertemuan kali ini merupakan pertemuan kedua bagi sejoli tersebut setelah sekian lama menjalin LDR.


Jantung Meysa dan Kai berdetak tak karuan, bertemu kembali setelah sekian lama tidak saling melakukan panggilan video atau bertukar foto semenjak hubungan mereka yang sempat karam delapan bulan lalu itu benar-benar membuat suasana terasa berbeda dan sedikit ada kecanggungan. Apalagi kedatangan Kai kali ini dengan tujuan melamar Meysa untuk dijadikan istri. Itu artinya hubungan keduanya sebentar lagi akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.


“Kita bicara di dekat sana!" tunjuk Meysa ke arah sebuah bangku yang terdapat di paling ujung.


Gadis itu turun dan melangkah lebih dulu, meninggalkan Kai yang baru akan menyusul setelah meraih kunci motor.


Kai menyusul Meysa dengan senyuman tak pernah pudar, tangannya tergerak menyimpan kunci motor milik Meysa ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.


Dalam hati Kai tak henti-hentinya mengucap syukur melihat kondisi Meysa baik-baik saja, bahkan tubuh wanita yang Ia cintai itu sepertinya lebih berisi dari pertemuan terakhir mereka.


“Disini?" tanya Kai dengan menatap Meysa melalui ujung mata sembari mendudukkan diri di sebuah bangku. Sedangkan Meysa masih berdiri sambil membelakanginya.


Kai tersenyum, Ia tahu Meysa pasti sedang salah tingkah. Namun, Kai sama sekali tak mau melayangkan perkataan apapun. Apalagi menanyakan kenapa Meysa malah mengajak ke taman di saat matahari terik begini.


Pria itu lebih memilih menoleh ke sekitar taman, tak jauh dari sana ada beberapa fasilitas olahraga lengkap yang saling berdekatan. Seperti, lapangan bola, lapangan volly, takraw, basket dan bahkan badminton pun ada disana. Semua terletak saling berdekatan. Kai dibuat sedikit salut dengan penataan desa, semua fasilitas olahraga disusun saling berdekatan. Menarik! Puji Kai yang jiwa-jiwa arsiteknya mulai membayangkan merancang sebuah tata ruang yang menakjubkan.


“Aku mau bicara."


Ucapan Meysa membuat pikiran Kai tentang merancang dan mendesain buyar seketika. Ia kembali fokus pada hal yang lebih menarik di depan mata. Menatap Meysa yang ada di depannya membuat pandangannya teralih dengan cepat, seakan Meysa adalah pusat dunianya.


“Mau bicara soal apa?" Kai bertanya dengan begitu lembut, tatapan teduhnya sama sekali tak teralih dari Meysa yang berdiri di hadapannya.


“Soal yang semalam."


Kai hanya tersenyum, setelah itu Ia sedikit bergeser ke ujung kursi. "Sini duduk dulu, biar gak capek berdiri!" ujarnya sembari menepuk sisi kursi yang menyisakan banyak ruang kosong.


Dengan ragu Meysa duduk di samping Kai yang masih terus menatapnya.


Tanpa aba air mata Meysa perlahan mulai menetes. Membuat Kai yang melihat itu seketika mengernyitkan kening heran.


“Aku mau minta maaf soal semalam." Kening Kai makin mengkerut mendengar apa yang Meysa sampaikan. Meski begitu Ia sama sekali tak berniat memotong. Kai tetap diam sambil mendengar apa yang ingin Meysa katakan selanjutnya.


Meysa yang diperlakukan seperti itu oleh Kai benar-benar merasa canggung. Ia bisa melihat perubahan sikap pada Kai sangat begitu besar, sikap lelaki yang masih memegang tahta di hatinya itu semakin tenang dan dewasa.


Menyadari Kai yang masih menunggu Ia segera meneruskan ucapan.


“Maaf karena semua tidak berjalan seperti kesepakatan yang kita buat, Aku nggak enak sama kamu, sama Abang Albi, Ayah dan juga emak." Meysa menghela napas panjang setelah menyampaikan apa yang membuatnya gusar sejak semalam.


Dengan Kai yang terlihat mengangguk mengerti mendengar ucapan Meysa. Ia paham akan apa yang membuat calon istrinya itu cemas.


“Kenapa harus minta maaf?" tanya Kai dengan mata yang masih fokus menatap Meysa yang sejak tadi terlihat menghindari sorot matanya.


Gadis itu menghela napas berat sebelum akhirnya menjawab, “Mamak terlalu banyak meminta dan memberatkan kalian! Padahal aku sudah menyampaikan kesepakatan dan permintaanku. Bapak dan kak Faza juga setuju."


“ Aku malu sama Emak dan Ayah, bee! Aku gak enak karena keluargaku mempersulit kalian!" kelakar Meysa tanpa jeda. Tak memberi kesempatan pada Kai yang seperti hendak bicara.


Mendengar itu Kai menggeleng, tangannya terulur menghapus air mata dari wajah gadis berbalut hijab sport mocca di hadapannya. “Jangan nangis, sayang!" Melihat Meysa seperti ini membuat Kai tak bisa menahan diri untuk tidak menarik Meysa ke dalam rengkuhannya.


“Gak usah dipikirin!" Kai berusaha menenangkan, Ia mengerti jika Bulannya ini sangat tidak ingin menyusahkan dirinya. Kai bersyukur diberikan sosok Meysa yang begitu memikirkan semua hal tentangnya.


Bahkan Kai yang sejak awal menampakkan raut wajah tenang seketika nampak berat. Ucapan Meysa membuatnya sedikit goyah. Ia yang semalam selalu berusaha bersikap tenang di hadapan keluarga ternyata menyimpan kegundahan tersendiri. Namun, berada di dekat Meysa dan berbicara dengan wanita yang Ia cintai itu membuat Kai seperti ingin menumpahkan seluruh keluh kesahnya pada orang yang selalu mengerti dan paham dengan keadaannya.


Meski begitu Kai tak ingin mengeluh di hadapan Meysa, Ia tak ingin hal ini membebani sang wanitanya. Kai juga tak ada pilihan lain selain menyanggupi keinginan calon mertua, karena Ia tak mungkin menyerah di tengah jalan. Kai tahu dan sadar jika ini merupakan salah satu ujian menuju pernikahan.


“Emak dan Ayah gak marah kok, bee! Kami gak keberatan!" Meski sebenarnya berat, Kai berusaha menenangkan Meysa dan tetap terlihat baik-baik saja, cukup Ia yang memikirkan solusi dari semua ini. Walau harus menguras tabungan yang ia siapkan untuk biaya hidup setelah menikah dengan Meysa nantinya.


Berada di dekat Meysa bagai sebuah magnet yang tak bisa dielakan, menarik dan membawa Kai mendaratkan satu kecupan di puncak Kepala gadis yang terlihat begitu nyaman dalam dekapan orang yang selama ini sangat dirindukan.


“Kamu gak perlu mikirin apa-apa, Insya Allah aku bisa menyanggupi keinginan mamak, bee!"


Meysa kian melingkarkan tangan dengan erat di tubuh Kai. Ia masih menumpahkan tangisnya, rasa haru semakin terasa ketika mendengar ucapan Kai barusan. Tadinya ia pikir Kai tak akan bisa menyanggupi permintaan Mamak karena tidak sesuai dengan kesepakatan dan sudah tentu hal itu akan membuat segala impian mereka terhambat. Namun, nyatanya Kai tak akan menyerah, dia akan berusaha memenuhi semua.


“Jujur Aku takut kalau kita sampai gak bisa bersama!" lirih Meysa pilu, hatinya terasa sesak jika memikirkan hal itu. Ia benar-benar takut Kai tak mampu menyanggupi dan hubungan mereka akan berakhir sampai disini. Sungguh semua ini membuat hatinya gundah.


Kai menggeleng seraya mengusap kepala Meysa dengan penuh sayang. “Aku gak akan melakukan itu bee, Aku gak mungkin kembali sebelum mendapat kepastian jika kamu akan menjadi milikku!"


Dengan mata berkaca-kaca Meysa mendongak menatap wajah teduh yang tengah menatapnya begitu dalam.


“Jangan khawatir, ya! Aku kan pernah janji akan perjuangkan kamu bee, kita akan sama-sama sampai akhir sayang!”