
Ruby tertegun saat namanya disebut. Mungkinkah ia yang dipanggil atau hanya kebetulan saja namanya dengan ratu di pesta sekarang ini sama. Ruby tidak mau terlalu percaya diri dulu. Ia takut kalau itu hanyalah kebetulan nama yang sama dan akan mematahkan harapannya membuat rasa sakit di dada.
Ia berpikir bahwa dirinya tidak akan mungkin mendapat kejutan seperti itu.
"Nona Ruby, silakan naik ke atas panggung." Pembawa acara itu menatap Ruby sangat lekat hingga membuat Ruby makin merasa heran. Bahkan, Ruby merasa kalau semua orang memusatkan pandangannya kepada dirinya.
Wanita itu pun menatap Zifana dan Jason dengan tatapan yang begitu menuntut jawaban. Namun, hanya senyuman mereka yang menjadi jawaban dan makin menambah rasa heran Ruby.
Belum juga selesai rasa heran itu, terdengar alunan musik yang begitu mendayu hingga membuat semua larut dalam suasana itu.
Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersama ku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Lupakan dia pergi denganku
Lupakanlah ragu denganku
Ooooo... Aku...
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu)
Tetap jadi milikku (Jangan ulangi ragu)
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu)
Yang menjadi milikku (Setengah jalanmu denganku)
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Layak untuk cantikmu, itu aku
~Adu Rayu
Lagu Glenn Fredly, Tulus, dan Yovie Widianto~
Joshua keluar dengan membawa gitar. Menyanyikan lagu romantis untuk istri tercinta. Ruby pun menutup mulut dan menahan air mata haru. Ia bangkit berdiri dan menatap Joshua yang masih bernyanyi untuknya. Tatapan Joshua yang sangat lekat, seketika membuat Ruby tak mampu lagi menahan air mata yang memaksa keluar dari setiap sudutnya.
Tepuk tangan yang meriah, menjadi pemungkas bagi Joshua menyanyi untuk istri tercinta. Lelaki itu berdiri tegak di tengah panggung dan menatap semua orang yang datang satu-persatu. Barulah ia menatap ke arah istrinya.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia datang dan juga untuk keluarga yang membantu saya menyiapkan acara kejutan ini. Saya yakin kalau istri saya tidak akan menyangka bahwa saya ada di sini. Sayang, maafkan aku sudah berbohong padamu dan mengatakan sedang berada di luar kota. Kuharap kau tidak akan menyuruhku tidur di luar setelah ini." Joshua cengengesan, sedangkan yang lain pun tergelak mendengar ucapan lelaki tersebut.
Joshua menghirup napas dalam untuk melanjutkan ucapannya.
"Tentu saja kejutan ini bukanlah kejutan yang biasa. Sayang, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Semua doa terbaik dan semoga kita bisa hidup bahagia bersama selamanya. Aku tahu kau selalu sedih karena belum juga mendapatkan garis dua, untuk itu saya akan meminta doa dari kalian semua yang hadir di sini agar mendoakan kami. Semoga lekas diberi amanah. Sayang ... percayalah bahwa ada atau tidak adanya anak di antara kita, aku akan tetap menyayangimu sampai kapan pun."
Acara itu pun dilanjutkan dengan adegan romantis yang membuat Ruby merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka bahwa dirinya adalah wanita beruntung yang ia sebutkan tadi. Sebuah kejutan yang membuat Ruby merasa terharu sekaligus tidak percaya.
Acara yang berlangsung cukup lama membuat Ruby merasa pusing karena ia kurang istirahat. Terlalu memikirkan Joshua membuat Ruby merasakan ada yang tidak baik dengan tubuhnya. Tidak bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan enak karena menahan rindu.
"Kau kenapa?" tanya Joshua cemas saat melihat Ruby yang terus memijat pelipisnya. Bahkan wajah wanita itu sudah terlihat sangat pucat. Joshua pun meminta agar musik dihentikan.
"Kepalaku pusing sekali." Baru saja selesai berbicara, Ruby sudah tidak sadarkan diri. Membuat semua orang begitu tersentak. Tanpa menunggu lama, Joshua langsung membawa Ruby ke rumah sakit. Wajahnya yang tadi bahagia pun kini diselimuti oleh kekhawatiran yang teramat besar.
Suasana yang tadinya meriah pun kini mendadak menjadi tegang karena mereka khawatir pada keadaan Ruby.
***
Ruby mengerjapkan mata secara perlahan untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di ruangan itu. Ruangan yang didominasi oleh warna putih membuat Ruby tersadar bahwa saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
Ruby hendak bangkit, tetapi Joshua yang berdiri di samping brankar pun langsung menahan.
"Mas, kenapa aku di sini." Ruby bertanya dengan suara lemah. Joshua duduk di samping wanita itu. Tatapannya begitu dalam hingga membuat Ruby mendadak curiga.
"Kau pingsan." Jason mengusap puncak kepala Ruby dengan lembut. "Kau pasti tidak bisa tidur dan makan dengan baik selama aku pergi."
Ruby hanya mengangguk lemah. "Mas, maafkan aku karena sudah mengacaukan semua pesta tadi. Aku sungguh merasa bersalah."
"Untuk apa kau merasa bersalah. Tadi adalah pestamu dan kau berhak melakukan apa pun tanpa harus merasa bersalah." Jason kembali tersenyum simpul.
"Ya, tapi aku tetap saja merasa bersalah. Kau sudah menyiapkan pesta yang sangat meriah untukku, tapi aku justru mengacaukannya." Ruby masih saja merasa tidak enak hati.
"Kau tenang saja. Semua tidak ada masalah. Kejutan itu belum ada apa-apanya dengan kejutan yang kau berikan untukku, Sayang." Jason mengecup kening Ruby dengan sangat dalam.
"Maksudnya?" tanya Ruby bingung.
"Dokter bilang kalau kau bukan masuk angin, tapi sedang hamil," ucap Joshua disertai senyuman yang lebar.
"Ha-hamil?" Ruby menatap tidak percaya. Joshua pun mengangguk cepat.
"Setelah ini kita akan melakukan USG untuk memastikan semuanya."
Ruby yang mendengar itu pun langsung begitu antusias. Ia meminta dokter untuk segera melakukan USG dan benar saja, ada janin yang sedang tumbuh di rahim wanita itu.
"Ma-Mas, aku hamil?" Bola mata Ruby tampak berkaca-kaca. Joshua mengangguk mengiyakan sambil tersenyum lebar. Ia pun sama bahagianya seperti Ruby.
"Ya Tuhan ... terima kasih banyak."
Kedua orang itu pun berpelukan erat saling meluapkan kebahagiaan masing-masing. Begitupun dengan Zifana dan yang lain. Juga merasa bahagia mendengar kabar kehamilan Ruby.
***
Pada akhirnya, semua merasa bahagia dengan apa yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk mereka. Zifana dan Rere sama-sama merasa bahagia karena sudah melahirkan seorang putri. Begitu pun dengan Ruby yang tak kalah bahagia karena apa yang dinantikan akhirnya bisa ia dapatkan.
Janin yang sedang tumbuh di rahimnya akan ia jaga dengan sepenuh hati. Memastikan semuanya sehat dan aman sampai lahiran nanti.
Kita punya rencana, begitupun dengan Tuhan. Rencana yang kita susun dengan rapi, akan kalah dengan rencana Tuhan. Walaupun rencana Tuhan tidak semulus jalan tol. Ada sakit, kecewa, suka duka yang harus dilalui, tetapi percayalah bahwa akhir rencana Tuhan akan lebih indah daripada rencana kita sendiri.
_TAMAT_