ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-8


"Sudahlah! Kalian jangan berdebat apalagi sampai bertengkar. Ingat, tujuan kita itu sama. Untuk mencari keberadaan Zifana, bukan untuk saling berdebat." Joshua menengahi. Berusaha membuat suasana agar tidak sangat tegang seperti itu. 


"Benar sekali. Lebih baik kalian tenang." Pak polisi itu pun berusaha menenangkan. "Jika kalian berdebat seperti ini yang ada kita tidak akan pernah bisa menemukan keberadaan mereka." 


"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Di sini tidak ada Zifana sama sekali." Jason mulai cemas lagi. Ia masih khawatir dengan gadis itu. 


"Sekarang kita keluar saja. Kalau memang mereka di sini, aku yakin saat ini mereka sedang bersembunyi di suatu tempat. Mungkin mereka kabur karena tempat ini seperti habis dihuni sebelumnya."  Joshua  menerka. 


Mereka pun bergegas pergi karena semua juga percuma. Ia tidak akan pernah menemukan apa pun di sana. Satu-persatu dari mereka masuk ke mobil masing-masing. Namun, ketika mobil itu baru saja melaju, mereka terpaksa berhenti saat melihat seseorang berdiri di tengah jalan untuk menghalangi. 


Joshua mengamati dengan seksama sampai akhirnya ia mencengkeram setir kemudi dengan kuat karena menyadari bahwa wanita di depan sana adalah Leli.


Dengan gegas, Joshua keluar dari mobil bahkan dengan membanting pintu hingga membuat yang lain ikut keluar. 


"Jal*ng!" bentak Joshua langsung. Ia mendekati Leli yang sedang ketakutan lalu mencengkeram leher wanita itu. Seandainya Jason tidak segera melepaskan cengkraman tangan Joshua, sudah pasti saat ini Leli sudah meninggal dunia. 


"Ingat, Jo. Jangan sampai kau lepas kendali dan hal ini akan membuat kita makin sulit mencari keberadaan Zifana. Apa kau mau dipenjara ketika adikmu belum ditemukan?" Jason menahan lengan Joshua saat lelaki itu hendak maju lagi. 


"Maafkan aku, Bang. Aku memang salah karena sudah menculik Zifana, tapi aku melakukan itu karena terpaksa." Suara Leli terdengar lirih bahkan raut wajahnya terlihat menyedihkan membuat siapa saja akan menaruh simpati. 


Namun, mereka mencoba untuk tidak menatapnya karena khawatir itu hanyalah akal bulus. Bisa saja Leli hanya dijadikan alat oleh Rizal. 


"Jangan berlagak kau menjadi korban, Lel! Aku benci itu!" Joshua menatap Leli dengan sangat tajam seolah akan melahap wanita itu secara hidup-hidup. 


"Katakan padaku, Nona. Siapa yang sudah menculik Zifana? Aku akan memberikan imbalan apa pun padamu." Jason mulai merayu dengan kelembutan. "Kau mau berapa ratus juta? Seratus? Dua ratus? Aku akan memberikannya." 


"Cih! Apa kau tidak tahu kalau wanita ini sangat matre, Son. Awas, kau bisa saja dimanfaatkan oleh dia," tukas Joshua. Ia justru gemas sendiri kepada sahabatnya dan beberapa kali mengumpati lelaki itu sebagai orang bodoh. Namun, Joshua hanya mengumpati di dalam hati saja. 


"Bang, aku beneran menyesal. Aku tahu kalau selama ini aku salah. Aku sadar, kalau aku tidak mungkin bersama dengan Jayden karena hati ...." 


"Jangan banyak basa-basi! Aku muak! Kau akan menunjukkan di mana Zifana disekap atau aku tidak akan segan membunuhmu!" Joshua tidak sabar sendiri. Seandainya tidak ada dosa di dunia ini, sudah pasti Joshua akan menghabisi wanita itu. 


"Nona, katakan dulu siapa yang menyuruhmu untuk menculik Zifana. Apa kau mengenalnya?" Jason masih berusaha sabar.


Joshua sungguh sangat gemas dan ingin sekali merem*s wajah sahabatnya. Ia merasa ini tidak seperti Jason yang biasanya. Ketika Joshua hendak protes, Jason memberi kode agar tidak melontarkan pertanyaan apa pun. 


"Aku tidak tahu siapa yang menyuruhku karena dia tidak menyebutkan nama. Tapi, aku pernah mendengar Jayden memanggil dia dengan nama Rizal," kata Leli. Membuat mereka terdiam untuk beberapa saat. 


"Kau yakin itu?" Jason tidak percaya. Leli mengangguk lemah. 


Jason pun segera mengambil ponsel miliknya dan menunjukan foto Rizal yang berada di sana. "Apakah ini orangnya?" 


Leli mengamati foto tersebut sebelum akhirnya mengangguk cepat. "Ya. Memang dia orangnya. Aku tahu ke mana mereka membawa Zifana pergi setelah tahu ada yang mengikuti mereka."