ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-67


Sesampainya di rumah, Joshua langsung menghubungi Nicky karena tidak sabar ingin membahas semuanya. Namun, yang ada justru ia mendapat penolakan. Nicky tidak mau jika membahas hal sepenting itu hanya lewat panggilan suara. Harus dibicarakan langsung. Tidak ada yang dilakukan oleh Joshua selain mengiyakan perintah calon kakak iparnya tersebut. 


Joshua tidak tahu jika Nicky pun sedang sibuk mengurus pernikahannya dengan Rere. Ia ingin menikah secara resmi dan diakui oleh negara. 


***


Dua Minggu kemudian. 


Tanpa terasa waktu yang ditunggu pun tiba, Joshua tidak sabar menunggu kedatangan Nicky yang sekarang sedang dalam perjalanan. Walaupun ia tidak akan membahas langsung, tetapi Joshua tetap merasa tenang jika Nicky sudah sampai di Indonesia. 


Sepulang dari bekerja, Joshua langsung menuju ke rumah Zifana untuk menjenguk wanita itu. Semenjak berpisah dengan Clay, Zifana menjadi sakit-sakitan karena wanita itu kehilangan selera makan dan terus saja memikirkan Clay. 


Jason sampai lelah menasehati Zifana. Ia sungguh tidak menyangka jika berpisah dari Clay, membuat Zifana sefrustrasi ini. Bahkan, satu minggu yang lalu, Zifana sampai dirawat di rumah sakit dan hal itulah yang membuat Jason melarang keras Zifana datang ke kantor. Ia hanya ingin istrinya beristirahat di rumah sampai kesehatannya benar-benar pulih. 


"Kau belum makan juga, Zi?" tanya Joshua heran saat melihat piring Zifana masih berisi makanan utuh, sedangkan wanita itu justru sibuk bermain ponsel. 


"Nanti, Bang. Aku belum laper." Zifana menjawab cuek dan terlihat sangat sibuk dengan ponselnya hingga membuat Joshua yang merasa geram pun langsung merebut ponsel itu. 


Ia tidak peduli meskipun Zifana sudah berteriak dan memintanya untuk mengembalikan ponsel tersebut. Joshua melihat apa yang membuat Zifana bersikap seserius tadi sampai tidak peduli pada kehadiranya, dan ketika melihat gambar Clay terpampang jelas di layar, Joshua pun langsung mendes*h kasar karenanya. 


"Zi, Abang harap kau berhenti untuk terlalu memikirkan Clay. Aku tahu, kau merasa kehilangan dia, tetapi bukan berarti kau jadi abai pada dirimu sendiri. Clay sudah hidup bahagia bersama orang tuanya, jadi sekarang waktunya kau menata hidupmu. Menjalin hubungan bahagia bersama Jason. Fokus pada rumah tangga kalian." Joshua memberikan nasehat sekaligus membuka hati Zifana agar menerima dengan lapang. Ia tidak mau jika Zifana terus larut seperti itu. 


Mungkin sikap Zifana berlebihan. Namun, hal itu termasuk wajar karena tidak mudah kehilangan sesuatu yang kita jaga dan kita sayangi dengan sungguh-sungguh. 


Setelah menjenguk Zifana, Joshua pun tidak langsung pulang. Ia bertemu dengan Nicky dan membahas semuanya. Nicky pun tidak ingin terlalu lama dan akhirnya pernikahan Joshua akan digelar dalam waktu dua bulan mendatang. 


Sebagai seorang adik yang sangat sayang pada kakaknya, Zifana benar-benar membantu Joshua agar acaranya itu berjalan dengan sempurna. 


***


"Zi, kau jangan sampai kelelahan." Jason terus saja menasehati istrinya yang mulai mengurangi jam istirahatnya. Ia khawatir jika Zifana akan kembali sakit. Namun, Zifana begitu keras kepala hingga membuat Jason terkadang kesal sendiri. 


"Jason, aku harus memastikan bahwa pernikahan Bang Joshua berjalan dengan lancar. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Semua harus sempurna," sahut Zifana.


"Ya, itu sangat bagus, tetapi bukan berarti kau melupakan kesehatanmu. Apa kau ingin jika saat pernikahan Joshua nanti, kau justru jatuh sakit," kata Jason kesal. 


Zifana melotot tajam ke arah Jason dan hanya ditanggapi dengan des*han napas kasar oleh lelaki tersebut. "Kau mendoakan hal jelek untukku!" 


"Tidak. Aku hanya ...." 


"Kau menyebalkan!" Zifana memotong ucapan Jason. Lalu bergegas bangkit dan berjalan dengan langkah menghentak menuju ke kamar. Namun, belum juga menaiki tangga, Zifana langsung berhenti ketika merasakan pandangannya berputar-putar. Ia memegang kepala dan hampir saja terjatuh kalau Jason tidak langsung menahannya. 


"Kepalaku pusing sekali," keluh Zifana. 


"Bukankah aku baru selesai bicara tadi. Kau harus beristirahat. Lebih baik, sekarang kita ke kamar dan kau harus segera tidur karena ini sudah larut malam." Jason membopong Zifana dengan perasaan khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya, sedangkan Zifana hanya diam dan menikmati denyutan yang membuat kepalanya seperti akan pecah.


"Aku benar-benar harus beristirahat. Ini membuatku sangat pusing," keluhnya.