
Jason menggeleng saat melihat istrinya berlari kalang kabut hanya karena mendengar tangisan Clay. Dia tidak menyangka bahwa Zifana akan sesayang itu pada Clay. Ketika pintu kamar sudah terbuka lebar, benar saja bahwa Rere sedang menggendong Clay. Bocah itu terus menangis bahkan meronta meminta turun dari gendongan Rere.
Dengan sigap, Zifana mengambil alih bocah itu dari gendongan Rere, sedangkan Jason yang sudah mendekat langsung membuatkan susu untuk Clay.
"Tenang, Sayang. Mama di sini." Zifana pun terus menenangkan Clay dan bocah itu baru diam ketika Jason sudah memberinya susu.
Rere merasa sedih karena ia yang sebagai ibu kandungnya, tidak bisa membuat bocah itu diam. Menyadari tatapan Rere yang terlihat nanar, Zifana pun menghela napas panjang.
"Re, mumpung aku belum pulang. Bagaimana kalau kita tidur bersama. Saat Clay terbangun nanti, dia tidak akan menangis sekeras ini dan anggap saja ini latihan supaya kau bisa mengurus Clay," ajak Zifana. Rere pun langsung menyanggupi ajakan wanita tersebut.
Jason mengalah. Ia yang tidak bisa tidur jauh dari istrinya pun, akhirnya tetap harus tidur terpisah. Biarlah ia menjalani seperti ini dulu, karena setelah ini ia akan puas tidur dengan istrinya.
***
Setelah lima hari berada di sana, Zifana merasa senang ketika Clay sudah mau bersama dengan Rere bahkan hubungan Rere dengan orang tuanya pun sangat baik. Walaupun di sisi lain Zifana merasa belum sepenuhnya ikhlas, tetapi ia meyakinkan hatinya bahwa akan ada hal indah setelah ini.
Zifana pun harus merelakan Rere yang akan tinggal di luar negeri bersama dengan Nicky. Membuat ia akan semakin jauh dari Clay. Namun, apa pun keadaannya, Zifana tetap menganggap Clay adalah putra sulungnya. Walaupun suatu saat ia diberi amanah untuk memiliki anak, Clay tetap akan menjadi putra pertamanya.
Ketika akan kembali ke Indonesia pun, Zifana tidak langsung pergi begitu saja. Ada drama tangis-menangis yang membuat Jason tidak pernah lelah untuk menenangkan hati istrinya.
"Aku kasihan dengan Kak Zi." Ruby merasa tidak tega saat teringat beberapa kali melihat mata Zifana yang sudah sembab.
"Tidak apa. Nanti juga akan terbiasa. Bagaimanapun juga, Rere lebih berhak atas Clay. Oh iya, bagaimana dengan kakakmu? Kapan kita akan membahas soal pernikahan?" tanya Joshua tidak sabar.
"Kakakmu sedang sibuk, jadi aku pikir lebih baik menundanya beberapa saat." Joshua menghentikan mobilnya di depan apartemen. Lalu menatap wanita di sampingnya dengan sangat lekat. "Semoga kita bisa menikah secepatnya. Aku tidak suka dengan hal yang penuh basa-basi."
"Kau sungguh tidak sabaran!" cibir Ruby.
"Pastilah. Kau lihat, adikku sudah menikah selama setahun dan aku masih bujangan. Aku tidak mau kalau sampai kalah dari Zifana."
"Kau pikir menikah itu ajang perlombaan? Siapa yang duluan, itu yang menang? Bukan, Tuan! Menikah itu tentang kemantapan hati dan siap untuk menjalani hubungan bersama. Saling menguatkan dan mengerti dalam segala situasi." Ruby terdiam ketika Joshua sudah menangkup wajahnya dengan erat. Membuat pipi gadis itu serasa berkumpul di tengah dan bibir Ruby mengerucut seperti bebek.
"Jangan memanggilku tuan. Aku bukan tuanmu, tapi aku adalah tunanganmu yang sebentar lagi akan menjadi suamimu. Jadi, panggil aku Mas Jo." Joshua memerintah dan hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Ruby. "Satu lagi, kau bisa berbicara seperti itu, habis terbentur di mana? Jalan pikiranmu benar-benar di luar dugaan. Ucapanmu sepeti orang dewasa."
Ruby diam, tetapi bibirnya kian mengerucut hingga membuat Joshua merasa gemas dan tanpa sadar langsung mendaratkan ciuman di kening wanita itu.
Ruby terpaku saat merasakan ciuman yang terasa menentramkan jiwanya tersebut. Mata Ruby pun terpejam. Ciuman kening itu terasa dalam dan seolah mengalirkan perasan Joshua untuknya. Begitu terasa di hati Ruby.
"Sudah. Aku takut khilaf nanti." Joshua menyudahi ciuman tersebut lalu menyuruh Ruby agar segera turun. Ia takut jika terus bersama seperti itu, yang ada dirinya tidak bisa mengontrol diri.
Joshua pun belum pergi dari sana sebelum Ruby masuk ke apartemen. Ia harus memastikan bahwa Ruby sampai dengan selamat.
"Aku harus menghubungi Nicky dan membicarakan semuanya. Aku sungguh tidak bisa menunggu terlalu lama," gumam Joshua sebelum akhirnya memilih pergi dari sana.
Ia harus beristirahat sekarang karena esok ia akan membicarakan banyak hal dengan Nicky walaupun sekedar lewat panggilan suara.