
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah."
Ucapan syukur menggema di ruangan tersebut saat Jason berhasil mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas. Tidak ada salah mengucap apalagi drama yang membuat acara tersebut batal.
Saat ini, Zifana dan Jason sudah resmi menyandang gelar sebagai suami-istri. Sebuah kebahagiaan yang tiada terkira rasanya. Air mata Zifana sampai mengalir saking terharunya.
Ia sudah cemas sebelumya jika ada kendala lagi, tetapi ternyata tidak. Semua berjalan lancar sesuai harapan dan hal itu membuat Zifana tidak henti terus mengucap syukur.
Setelah acara ijab kabul selesai, dilanjutkan dengan resepsi yang sangat meriah. Jason dan Zifana terlihat sangat menikmati itu. Walaupun terkadang hati Jason merasa gelisah saat teringat Rere. Namun, ia berusaha untuk menepis karena saat ini ia harus fokus pada Zifana.
Ia harus sadar diri mana yang harus diprioritaskan.
"Em, bagaimana kabar Rere? Sepertinya hari ini kau sama sekali tidak memikirkan dia. Bukankah suaminya masih koma?" tanya Zifana penasaran saat mereka sudah berada di kamar pengantin.
Tempat yang akan menjadi saksi bisu percintaan panas mereka nanti—semoga lancar jaya. Aamiin.
Jason mencubit hidung istrinya dengan manja. Ah, rasanya belum menyangka jika sekarang Zifana sudah resmi menyandang gelar sebagai istrinya. Sebuah kebahagiaan indah yang selalu ia bayangkan sebelumnya.
"Kau tenang saja, sekarang suami Rere sudah sadar dan tinggal menjalani pemulihan. Aku sudah meminta anak buahku untuk terus berjaga di sana. Sekarang, aku ingin fokus pada hubungan kita saja." Senyum Jason terlihat mengembang sempurna. Membuat Zifana pun ikut menarik kedua sudut bibirnya.
"Terima kasih banyak. Kau sudah menjadikanku sebagai prioritas," ucap Zifana penuh haru.
"Tentu saja. Sudah banyak hal yang kita lewati dan sekarang aku ingin kita menua bersama. Menjalani kisah cinta yang indah hanya berdua. Saling menjaga dan saling mengasihi. " Jason mengusap wajah Zifana dengan sangat lembut.
Kemudian, ia membenamkan ciuman yang sangat dalam di kening wanita tersebut. Seolah menyalurkan segala perasaan yang sudah tumbuh dalam dada. Zifana pun hanya diam dan merasakan kecupan itu dengan perasaan yang sudah dijelaskan.
"Kau sudah siap untuk malam pertama?" tanya Jason meminta. Sorot matanya terlihat memohon.
Awalnya Zifana ragu karena ia masih takut melewati malam yang katanya menyakitkan. Namun, tubuhnya serasa berkhianat ketika sentuhan tangan Jason mulai mengusap lembut wajah hingga ke leher dan membuat seluruh tubuh wanita itu terasa meremang.
Pada akhirnya, pengantin baru itu bisa melewati malam yang indah tanpa gangguan siapa pun. Jason sengaja belum menghidupkan ponsel karena tidak ingin ada gangguan. Soal suami Rere yang sudah sadar, salah seorang anak buahnya menghubungi papa Jason akan hal tersebut.
***
"Morning kiss!"
Zifana terkejut saat baru membuka mata, ia langsung mendapat sebuah kecupan di bibir dari suaminya. Wanita itu menutup wajah dan salah tingkah sendiri.
"Aku baru bangun tidur dan belum gosok gigi. Pasti masih sangat bau iler dan kau sudah langsung menciumku begitu saja," timpal Zifana. Namun, tidak ada sahutan lagi.
Krik krik krik
Zifana heran karena tidak ada suara apa pun. Bahkan, tidak ada tanda-tanda keberadaan Jason. Zifana pun segera menurunkan tangannya, tetapi ia terkejut ketika Jason kembali mencium bibirnya. Kali ini justru lebih dalam daripada tadi.
"Jason!!" pekik Zifana.
"Apa, hm? Kau mau lagi? Baiklah. Kita coba di kamar mandi." Jason dengan santainya menggedong Zifana menuju ke kamar mandi. Tanpa peduli pada Zifana yang sudah menolak.
Ketika Jason bersikap seolah hendak menjatuhkan Zifana, sontak wanita itu pun melingkarkan tangan di leher suaminya.
Tahulah, pengantin baru itu lagi kenceng-kencengnya. Mereka pun mengulang percintaan panas tersebut di kamar mandi.
Ronde kedua ketiga dan seterusnya. Haha.
***
"Ciee ... manten baru. Pagi-pagi udah keramas aja, nih." Joshua langsung menggoda sang adik. Padahal Zifana dan Jason baru saja menuruni tangga.
"Apa, sih, Bang! Jangan bikin kesel," cebik Zifana sambil bersedekap seperti anak kecil yang merajuk.
"Manten baru itu harusnya seneng, dong. Semalam berapa ronde, Son?" goda Joshua. Tidak peduli pada sahabatnya yang sudah salah tingkah.
"Diamlah! Aku mau sarapan habis ini tidur lagi. Badanku masih capek sekali," ucap Jason.
Ia duduk di samping Zifana dan bersiap untuk sarapan bersama.
"Jo, jangan kau goda adikmu terus. Kasihan dia nanti tidak jadi sarapan." Dyah berusaha mengingatkan.
Joshua hanya mengangguk paham, tetapi sesekali masih terus menggoda pengantin baru tersebut.
Ketika baru selesai sarapan, Zifana dan Jason bersiap hendak kembali ke kamar karena tubuh mereka rasanya masih remuk redam. Namun, baru saja menaiki satu anak tangga, langkah Jason tertahan ketika ada seorang anak buahnya yang memanggil.
"Ada apa?" tanya Jason penasaran.
"Tuan, ada telepon dari Nona Rere. Katanya beliau ingin berbicara dengan Anda," sahutnya.
Jason menatap Zifana terlebih dahulu sebelum akhirnya mengambil ponsel dari tangan anak buahnya.