ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-57


Nicky meminta berbicara berdua bersama dengan Rere karena ia masih tidak setuju dengan keinginan wanita itu. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Rere tega menitipkan putranya yang bahkan baru lahir beberapa jam lalu kepada orang lain. Ya, walaupun orang itu adalah sahabat dekat Rere sendiri. 


Nicky berusaha merayu Rere agar menarik ucapannya kembali. Ia sungguh tidak ikhlas. Namun, Rere sangatlah keras kepala. Wanita itu bersikukuh untuk tetap menitipkan bayinya pada Zifana dan ikut ke luar negeri. 


Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Nicky mengalah. Ia akan membawa Rere ke luar negeri dalam waktu sekitar dua bulan lagi agar kesehatan wanita itu benar-benar pulih dan bayinya pun sudah bisa ditinggal. 


Begitu pun dengan Zifana dan Jason. Sebenarnya ia merasa sangat senang karena ada bayi di antara mereka. Namun, ia pun merasa tidak enak hati. Tidak tega melihat bayi tersebut, tetapi bagaimana lagi. Sekali lagi yang perlu ditegaskan bahwa keputusan Rere sudah tidak bisa diganggu gugat. 


"Kau yakin bisa mengasuh bayi ini?" tanya Jason cemas. Ia masih ragu, tetapi Zifana mengangguk cepat. 


"Aku akan meminta baby sitter profesional untuk mengasuh bayi ini sampai aku pulang bekerja. Sepertinya akan seru kalau ada bayi di antara kita." Zifana justru begitu antusias. 


"Baiklah." Jason mengusap puncak kepala Zifana penuh sayang. "Aku akan mengikuti apa pun keputusanmu."


Walaupun waktu masih sekitar dua bulan, tetapi bayi tersebut sudah tinggal bersama Zifana. Rere sengaja melakukan itu karena ia tidak mau jika nantinya akan berat untuk berpisah. 


Terkadang, dalam hati kecilnya menentang keputusannya tersebut, tetapi Rere juga butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya karena jujur, ketika melihat bayi itu, Rere akan teringat pada lelaki brengsek yang sudah menodai bahkan menanam benih di rahimnya. 


Walaupun ia bersedia mengandung dan berniat akan membesarkan darah dagingnya, tetapi untuk saat ini, hati Rere butuh ketenangan. 


***


Merasa ada pergerakan dari tempat tidur, Jason pun segera membuka mata dan melihat Zifana yang sedang berjalan keluar dari kamar. Ia tahu, istrinya pasti akan membuatkan susu untuk bayi yang sudah diangkat menjadi anak mereka. 


Baru saja Jason hendak turun untuk menyusul istrinya, terdengar tangisan bayi yang menggema. Dengan gegas, Jason mengangkat tubuh mungil Clay dan berusaha untuk menenangkan sampai Zifana kembali. 


Terbiasa digendong oleh Jason dan Zifana, tangisan Clay pun mereda seketika. 


"Ah, dia sudah bangun." Langkah Zifana melebar dan segera mendekati Jason. Lalu mengambil alih bayi tersebut dan memberinya susu. 


Zifana duduk di tepi ranjang dengan Clay yang berada di pangkuannya. Sementara Jason duduk di samping wanita itu. Tatapannya begitu lekat ke arah Zifana yang sejak tadi terus saja tersenyum. 


"Kau tidak lelah?" tanya Jason. Merasa kasihan karena gurat di wajah Zifana tidak bisa membohongi  kalau sebenarnya wanita itu merasa lelah. 


"Tidak. Aku justru senang karena bisa menimang bayi lucu seperti ini." Zifana menjawab antusias. Jason pun mengecup pipi istrinya dengan mesra. "Setelah Rere pulang dari luar negeri dan Clay sudah kembali ke mamanya. Semoga saat itu juga kita bisa memiliki momongan sendiri." 


Mendengar ucapan Jason, seketika membuat wajah Zifana mendadak murung. Jason pun merasa heran melihat perubahan raut wajah istrinya. 


"Kenapa kau terlihat sedih?" tanya Jason penasaran. 


"Aku tidak yakin jika Rere mengambil Clay. Apakah aku sanggup harus berpisah dari Clay, sedangkan aku sudah menganggap dia seperti anakku sendiri," ucap Zifana sedih.