
Beberapa bulan kemudian.
Clay yang sudah berusia delapan bulanan sekarang ini bisa merangkak dan mengoceh meskipun tidak jelas apa ocehan bocah itu. Zifana dan Jason pun tidak pernah melewatkan setiap momen-momen perkembangan bocah itu. Mereka benar-benar menyayangi Clay seperti anak sendiri.
Hampir setiap hari juga, Rere melakukan video call untuk melihat putranya. Jika ada hal baru yang bisa dilakukan oleh putranya, Rere pun akan menangis haru. Rasanya ia tidak sabar ingin segera pulang. Menggendong bocah itu dan menghujani dengan banyak ciuman.
Jika dulu Rere keras kepala dan bersikukuh menitipkan Clay pada Zifana, tetapi sekarang Rere ingin sekali berada di samping putranya dan melewati momen-momen indah bersama Clay.
"Bagaimana perkembangan di situ, Re? Apa urusan Nicky hampir selesai?" tanya Jason saat mereka masih melakukan panggilan suara.
"Sudah hampir beres. Nicky bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Bahkan, sudah bisa membuat Bibi Gracia bertekuk lutut dan menyerahkan rumah orang tua Nicky kembali."
Mereka pun menghela napas lega. Mengucapkan rasa syukur karena tidak ada kendala yang rumit.
"Aku sudah tidak sabar ingin pulang. Nicky bilang dua minggu lagi kami akan pulang ke Indonesia. Rasanya aku ingin sekali memeluk Clay, tapi aku takut dia tidak bisa menerimaku bahkan tidak mengenaliku." Bola mata Rere berkaca-kaca. Terlihat jelas bahwa wanita itu menyimpan kerinduan dan kesedihan yang teramat dalam. Mungkin saja, penyesalan karena sudah meninggalkan bayinya dalam waktu yang cukup lama.
Setelah puas, Rere pun berpamitan dan mematikan panggilan tersebut karena Nicky sudah pulang. Ketika panggilan itu sudah terputus, wajah Zifana yang barusan penuh senyum saat mengobrol dengan Rere, kini terlihat sedih.
Jason tahu dengan pasti apa yang membuat perubahan wajah istrinya hanya dalam hitungan detik tersebut.
Tidak pernah lepas mengawasi perkembangan Clay dan membesarkan bayi itu dengan kasih sayang, membuat Zifana merasa berat apabila harus berpisah dari bocah itu. Hanya dengan membayangkan saja sudah membuat Zifana merasa sedih apalagi jika waktu itu tiba.
Waktu yang tinggal sebentar. Zifana tidak yakin apakah ia akan sanggup melepas Clay. Terlebih lagi sampai saat ini ia belum mendapatkan rezeki yang berupa garis dua. Walaupun mereka terus berusaha, tetapi Tuhan belum berkehendak untuk memberikan amanah pada mereka.
Jason pun terus menenangkan hati istrinya. Menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja dan suatu saat mereka akan mendapat hal yang indah. Jika memang Rere mengambil Clay maka Zifana harus mengikhlaskannya karena memang itu hak dia.
Zifana pun mengangguk lemah. Ia sedang menyabarkan hatinya sendiri.
****
Semakin waktu berlalu hubungan Ruby dan Joshua pun makin dekat. Setiap hari Joshua mengantar jemput Ruby menuju ke tempat kerja di sebuah butik ternama karena kebetulan butik tersebut berada tidak jauh dari kantor Joshua. Selain itu, Ruby juga belum memiliki kendaraan apa pun. Lebih tepatnya, wanita itu belum berani mengendarai motor sendiri. Apalagi suasana yang terkadang macet.
Setiap hari bersama dengan wanita itu membuat Joshua mulai 'terbiasa' dan akan merindukan wanita itu jika mereka tidak bertemu. Begitu pun dengan yang dirasakan oleh Ruby. Tidak ada laki-laki yang dekat dengannya selain Joshua.
Ruby tidak suka dengan suasana itu. Sungguh, ia merasa seperti ada yang hilang dari sosok seorang Jason.
"Kau kenapa diam saja? Apa aku ada salah padamu?" tanya Ruby memecah keheningan yang tercipta sejak tadi.
"Tidak!" Joshua menjawab singkat, padat, jelas.
"Lalu? Tidak biasanya kau diam seperti ini. Kalau boleh jujur, aku merasa kau seperti orang asing." Ruby benar-benar tidak bisa menutupi hal yang membuat hatinya gelisah.
"Tidak papa. Aku sedang malas berbicara saja. Oh, ya, nanti saat pulang bekerja, kau pulang bersama anak buahku saja. Aku sudah menyuruhnya untuk mengantarmu dengan selamat sampai apartemen," ucap Joshua.
Ruby pun menatap lelaki itu dengan sangat heran. "Kenapa begitu? Aku tidak mau pulang dengan orang asing. Aku takut."
"Kenapa mesti takut? Dulu waktu kita pertama bertemu kau sama sekali tidak takut ikut denganku." Joshua masih berbicara dengan nada dingin.
"Itu karena aku percaya kalau kau orang baik." Ruby menjawab lirih. Ini sungguh tidak menyenangkan hati. Justru menciptakan kegelisahan saat sikap Joshua benar-benar berubah.
"Anak buahku juga orang baik. Kau tenang saja. Kalau sampai dia berani melukai ataupun hanya sekadar menyentuh maka aku akan memberinya pelajaran," kata Joshua penuh ketegasan. Membuat Ruby mengangguk mengiyakan dan percaya pada ucapan lelaki tersebut.
"Em, kalau boleh tahu, memangnya kau mau ke mana?" tanya Ruby antara penasaran dan kepo.
Joshua menghentikan mobilnya di depan tempat kerja Ruby. Lalu menatap wanita yang saat ini masih duduk di kursinya tanpa berniat untuk turun.
"Kau tidak mau turun?" tanya Joshua karena sampai beberapa detik berlalu, Ruby masih bergeming di tempatnya.
"Aku akan turun setelah kau menjawab pertanyaanku." Ruby bersedekap kesal.
"Pertanyaan yang mana?" Joshua benar-benar ingin menguji kesabaran Ruby.
"Kau mau ke mana? Kenapa kau menyuruh anak buahmu untuk menjemput dan mengantarku pulang?" Ruby mengulangi pertanyaannya.
"Oh, yang itu." Joshua menatap Ruby sekilas lalu duduk tegak dan menghadap ke depan. Lelaki itu menghirup napas dalam dan mengembuskan dengan cepat. "Aku akan melamar seorang wanita yang sudah mampu mengambil hatiku."