
Zifana berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya yang terlihat cantik dengan polesan make-up yang terkesan natural, gaun panjang yang begitu pas di tubuh membuat kecantikan Zifana makin terpancar.
Senyumnya terlihat mengembang. Sangat berbeda jauh dengan jantungnya yang sedang berdebar sangat kencang. Zifana merasa begitu gugup. Malam ini ia akan menemui kedua orang tua Jason sekaligus untuk makan malam bersama.
Sungguh, ia sangat menyesali jawabannya yang langsung mengiyakan saat Jason mengajaknya untuk bertemu dengan orang tua lelaki itu. Jika dulu saat akan menemui orang tua Jayden, ia merasa biasa saja. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda.
"Kau sangat cantik, Zi. Pasti Tante Amel sangat suka kepadamu." Joshua datang-datang langsung memuji sang adik.
"Bang, aku gugup. Nanti kalau ternyata orang tua Jason tidak suka padaku, gimana? Kalau ternyata ...."
"Sudah! Jangan berpikiran macam-macam. Kau percaya diri saja. Tante Amel sama Om Indra itu sangat baik. Apalagi kalau tahu kau ini adikku, sudah pasti mereka akan menerimamu dengan baik," kata Joshua berusaha menenangkan hati sang adik.
"Tapi, Bang. Aku tetep aja gugup." Zifana mengerucutkan bibir.
"Dah, ayo berangkat. Abang akan nganter kau sampai sana." Joshua menggandeng tangan Zifana lalu mengajaknya untuk segera berangkat.
Tak lupa, kedua kakak-beradik itu berpamitan kepada orang tua mereka. Bahkan, dia mendoakan banyak hal termasuk kelancaran agar Jason dan Zifana bisa segera menikah. Ia sungguh tidak sabar ingin melihat putrinya menikah, selain itu setidaknya ia merasa tenang karena Zifana menikah dengan seorang pria yang sudah ia kenal.
***
"Jason, duduklah. Kenapa kau terlihat sangat tidak sabar." Amel—mamanya Jason— mulai merasa sebal karena Jason terus saja mondar-mandir seperti setrikaan hingga membuat kepalanya mendadak pusing.
"Ih, Mama." Jason mencebik karena Amel sudah menarik tangannya hingga ia terpaksa duduk di samping wanita paruh baya tersebut.
"Duduklah. Bukankah kau setiap hari bertemu dengan Zifana, tapi kau justru gugup seperti ini. Mama yang belum pernah melihat wajahnya saja, tetap tenang," cibir Amel.
Melihat kedatangan tamu spesialnya, Jason bahkan sampai menyusul Zifana sampai ke mobil.
"Maaf, aku agak telat, Son. Aku memang sengaja ingin membuat kau cemas," celetuk Joshua. Tidak peduli pada raut wajah sahabatnya yang sudah terlihat marah.
Tidak mau makin merusak suasana hati, mereka pun segera masuk dan langsung disambut oleh Amel. Bahkan, Amel langsung memeluk Zifana erat seolah mereka sudah mengenal sangat dekat.
Zifana yang awalnya merasa sangat gugup pun kini mulai terlihat lebih tenang. Tidak segrogi tadi karena sikap Amel yang ramah. Seperti apa yang dikatakan oleh Joshua.
"Mama sangat senang karena sebentar lagi akan memiliki anak menantu. Rasanya sungguh tidak sabar." Amel semringah sendiri. Berbeda dengan Zifana yang mulai tidak karuan rasanya.
"Iya, Ma. Makanya cepet dilamar. Jason tidak mau kalau sampai dia diembat cowok lain," ucap Jason. Menatap Zifana sambil menunggingkan senyumnya.
"Tapi, Tante. Saya dan Jason hanyalah sebatas atasan dan bawahan," timpal Zifana. Ia tidak ingin jika wanita itu salah paham terhadap hubungannya dengan Jason.
"Ah, itu sekarang. Mama sangat berharap semoga kalian lekas dipersatukan. Mama sudah mengenal Joshua dan orang tua kalian dengan baik. Jadi, sudah pasti mama akan menerima kau karena mama yakin kalau kau ini baik dan cantik pula."
Sungguh, Zifana merasa seperti diterbangkan saat mendengar ucapan wanita tersebut. Suasana pun mendadak canggung bagi Zifana karena gadis itu sejak tadi hanya diam dan tidak tahu harus berbicara apa.
Di saat mereka saling diam, terdengar suara salam dari arah pintu masuk dan Zifana tersentak saat melihat siapa yang datang ke sana.
"Mama ... Papa ... kok ke sini?"