
Zifana sungguh tidak menyangka jika kedua orang tuanya ternyata sudah mengenal keluarga Jason. Bahkan, hal yang seharusnya hanya sekadar pengenalan dan makan malam, justru menjadi hal yang mengejutkan karena saat itu juga Jason langsung melamar Zifana.
Awalnya Zifana merasa ragu dan belum sepenuhnya yakin, tetapi Jason terus saja memberi penegasan bahwa mereka bisa hidup bahagia. Jason juga berjanji akan selalu membuat Zifana bahagia. Akhirnya, Zifana pun menerima pinangan lelaki itu.
"Terima kasih, Zi. Aku tidak menyangka kalau kau mau menerimaku. Semoga apa yang menjadi urusan kita akan lancar nantinya dan kita bisa membina rumah tangga yang bahagia."
Binar bahagia terlihat memenuhi wajah Jason. Terpancar jelas dan menjadi tanda betapa lelaki itu merasa sangat bahagia sekarang ini.
"Aku juga berterima kasih padamu. Kuharap kita bisa selamanya bahagia." Zifana pun mengulas senyum.
Ia pun sama bahagianya dan berdoa semoga ia tidak akan merasakan sakit hati lagi seperti saat bersama Jayden.
"Kalau begitu, bersiaplah karena selama tiga bulan mendatang, kita akan disibukkan dengan persiapan pernikahan."
Zifana hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah menentukan tanggal, pernikahan Jason dan Zifana akan dilangsungkan tiga bulan mendatang. Agar semua persiapan bisa matang.
Tiada harapan yang diucapkan selain semuanya bisa lancar sampai hari pernikahan itu tiba karena jujur dalam hati kecil Jason ia merasa khawatir. Takut, kejadian yang lalu terulang lagi dan akan kembali menorehkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Jason berusaha menepis perasaan itu dan meyakinkan hatinya bahwa ia bisa hidup bahagia bersama Zifana.
***
"Nanti sepulang kerja, kita mampir ke toko perhiasan. Kita harus mencari cincin yang pas," ajak Jason saat jam kerja hampir usai. "Kau ingin cincin yang seperti apa?"
"Baiklah. Aku tidak mau cincin yang terlalu berlebihan. Cukup yang biasa saja, tetapi terlihat elegan," balas Zifana.
"Tentu saja. Aku akan membebaskanmu memilih perhiasan yang seperti apa pun. Aku hanya bisa menurut." Jason berbicara yakin dan Zifana hanya mengangguk paham.
Ia kembali fokus pada pekerjaannya meskipun tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi.
Setelah jam pulang kantor, Jason memenuhi ucapannya. Mengajak Zifana menuju ke sebuah toko perhiasan yang terkenal di kota. Jason ingin memberikan yang terbaik untuk wanita itu.
Ketika sudah berada di dalam sana, Zifana justru bingung sendiri. Banyak cincin dengan pilihan model yang membuatnya terpikat. Namun, ia harus mencari salah satu yang benar-benar pas di hati.
"Sepertinya ini sangat cantik." Zifana menunjuk sebuah cincin dengan permata 0kecil di tengah. Desainnya pun terlihat sangat sederhana, tetapi elegan dan tidak berlebihan.
"Yang ini saja. Itu terlalu sederhana menurutku." Jason justru menunjuk sebuah cincin yang berbeda. Dengan permata lebih besar daripada yang tadi, tetapi sama-sama terlihat elegan.
Zifana memilih untuk menimang. Namun, hati kecilnya masih lebih mantap pada cincin pilihannya.
Setelah semuanya beres, mereka pun bergegas kembali ke mobil karena sudah jam makan malam. Namun, Jason merasa heran karena Zifana justru terus diam.
Sama sekali tidak membuka suara dan ketika Jason bertanya pun, wanita itu hanya menjawab 'ya' atau 'tidak'.
"Kenapa kau cemberut gitu? Apa aku ada salah padamu?" Jason menghentikan mobilnya di sebuah jalan yang sepi.
Zifana tidak menjawab apa pun. Ia justru melemparkan pandangan ke luar jendela karena masih malas jika harus berbicara dengan Jason.
"Zi ... katakan apa salahku." Jason sengaja memajukan tubuhnya hingga jarak mereka sangat dekat. Semakin Zifana mencoba menghindar, Jason justru semakin mendekatkan tubuhnya. "Kalau kau tidak mau menjawab maka jangan salahkan aku kalau malam ini, aku menciummu."
Jason mengaduh saat Zifana sudah menampar pipinya meski tidak terlalu kencang. "Sakit, Zi. Kau ..."
"Kau menyebalkan! Kau bilang akan membebaskanku memilih perhiasan yang kumau, tapi kau malah mengambil pilihanmu sendiri. Padahal aku lebih suka pada pilihanku!" Zifana merajuk.
"Oh Ya Tuhan. Hanya masalah itu. Baiklah, sekarang kita kembali ke sana dan membeli perhiasan yang kau mau itu. Aku tidak mau jika kau marah dan aku yang akan terkena amukanmu," ucap Jason santai.
"Aku tidak mau!" tolak Zifana tegas.
"Kenapa?" tanya Jason. Tanpa memundurkan tubuhnya.
"Aku tidak mau kau membuang uangmu. Sudah, aku pakai yang kau beli saja." Zifana berbicara setengah kesal.
"Kau yakin tidak mau mengganti dengan yang tadi?" tanya Jason lagi.
"Ya!" Zifana menjawab cepat. Jason pun makin memajukan tubuhnya.
"Kau yakin itu?" tanya Jason makin mengikis jarak di antara mereka hingga membuat Zifana merasa sangat gugup.
"Te-tentu saja."
"Awas kalau setelah ini kau masih marah-marah."
Toktoktok!
Kedua orang itu tersentak ketika ada yang mengetuk kaca mobil. Jason pun dengan bermalasan segera menurunkan kaca mobilnya.
"Selamat malam, Tuan. Mohon maaf mengganggu. Saya akan menghimbau kepada Anda agar tidak berbuat mesum di dalam mobil."
Zifana memukul lengan Jason cukup keras. "Gara-gara kau!" umpatnya kesal.