ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-59


Waktu yang ditunggu telah tiba, hari ini Rere dan Nicky akan terbang ke luar negeri. Sesuai dengan rencana yang telah dirancang jauh-jau hari. Sebelumnya mereka berpamitan dulu kepada semuanya, terutama Clay. Bahkan, ketika akan berpisah dengan Clay, air mata Rere tak bisa dibendung lagi. Rere memeluk bayi itu dengan sangat erat dan seperti tidak ingin melepaskan. 


"Maafkan mama harus meninggalkanmu dulu, Nak. Mama janji akan segera pulang jika urusan mama sudah selesai." Rere mencium Clay dengan sangat dalam. Merasa berat, tetapi inilah keputusannya sendiri. 


Tidak mau kian larut pada kesedihan, Rere pun segera pergi dari sana.


Bukan hanya Rere yang sedih, tetapi Zifana juga menangis. Tidak tega dan ya perasaannya susah sekali dijelaskan. Jason pun mengajak Zifana agar segera pulang. Untuk beristirahat karena tidak ingin istrinya kelelahan. Sekaligus ingin membuat wanita itu menjadi tenang. 


"Sabar ya, Sayang. Mama dan papamu sedang berjuang mengambil hak mereka. Kita tunggu kepulangannya. Doakan saja semoga semua urusannya lekas selesai," ujar Zifana mengusap wajah imut Clay yang masih terlelap. 


Jason yang mendengarnya pun langsung mendaratkan ciuman di kening wanita itu untuk memberikan ketenangan. Lalu mengajaknya beristirahat. 


***


Ruby pun sama sedihnya saat ditinggal sang kakak. Ia sudah memaksa untuk ikut bersama mereka, tetapi dirinya benar-benar tidak boleh ikut. Padahal ia ingin sekali bersama dengan kakaknya ke mana pun bahkan jika harus terluka atau mati bersama pun, Ruby akan ikhlas karena hanya Nicky yang ia punya sekarang dan hanya lelaki itu juga yang sangat menyayanginya dengan tulus. 


"Jangan cemberut seperti itu. Wajahmu sangat jelek ketika dihiasi dengan senyuman," ujar Joshua berusaha menggoda. Rasanya tidak tega melihat kesedihan di wajah Ruby. 


"Biarkan saja." Ruby memalingkan wajah untuk mengusap air matanya, sedangkan Joshua hanya fokus pada setir kemudi untuk  mengantar wanita itu pulang ke apartemen. "Ice cream!" 


Teriakan Ruby seketika membuat Joshua tersentak dan langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Tubuh mereka sampai terhuyung ke depan dan bahkan kening Ruby hampir saja berbenturan dengan dashboard jika Joshua tidak segera menghalangi dengan tangannya. 


Joshua melirik Ruby dengan sangat tajam seolah akan menerkam wanita itu secara habis-habisan. Ruby pun mendadak takut saat menyadari bahwa Joshua akan mengomel padanya. "Bisakah kau tidak berteriak dan membuatku terkejut! Kalau sampai ...." 


Omelan Joshua berhenti ketika Ruby menutup wajahnya dan terisak keras. Joshua pun segera menepikan mobilnya terlebih dahulu saat mendengar bunyi klakson dari arah belakang.


"Kenapa kau menangis? Maafkan aku." Joshua tidak enak hati sendiri. Ia menarik tangan Ruby dan menurunkan dari wajahnya. Lalu membantu mengusap air mata wanita itu dengan lembut. 


"Aku paling takut dibentak meskipun aku tahu kalau aku salah," ucap Ruby sesenggukan. "Mama dan papaku, maupun Kak Nicky tidak pernah membentakku sejak dulu. Hanya Bibi Gracia yang melakukan itu." 


"Maafkan, aku tidak sengaja dan tidak sadar tadi. Lain kali jangan membuatku mengerem mendadak. Kau tahu, itu sangat berbahaya," ucap Joshua lebih lembut. 


Ruby mengangguk mengiyakan lalu bergegas turun bahkan tanpa bilang apa pun pada Joshua. Lelaki itu hanya bisa menggeleng dan ikut turun dari mobil. Menyusul Ruby yang sudah memesan ice cream. 


Joshua terbelalak saat melihat Ruby membawa ice cream sebanyak itu. Ia tidak yakin apakah wanita tersebut bisa menghabiskannya dalam sekali makan. Joshua berusaha merayu agar cukup membeli satu box saja, tetapi Ruby sama sekali menolak. Ia bersikukuh akan membeli kedua box ice cream tersebut. Ya, walaupun akhirnya menggunakan uang Joshua karena Ruby lupa tidak membawa dompet.


"Terima kasih banyak, Tuan." Ruby tersenyum senang, Joshua pun ikut tersenyum tanpa sadar. "Kau tampan jika tersenyum seperti itu, Tuan." 


"Jangan memujiku! Aku malas dan muak dengan mulut manis seperti buaya!" sergah Joshua meskipun ia salah tingkah sendiri. 


"Ya sudah. Kau sangat jelek, galak, dan ...." Ruby menunjukkan dua jari tanda damai saat Joshua sudah mendelik tajam ke arahnya. 


Tidak mau terlalu banyak berbasa-basi, Joshua pun langsung melajukan mobilnya lagi. Ia terlihat fokus pada jalanan, tetapi sesekali melirik Ruby yang sedang sibuk makan ice cream. Terlihat sangat bersemangat sekali seperti anakk kecil. Tanpa disadari, Joshua menarik kedua sudut bibirnya tersenyum dengan tingkah wanita itu. 


***


"Kau yakin tidak mau menjenguk orang tuamu dulu, Re? Mungkin mereka merindukanmu." Nicky berbicara selembut mungkin kepada Rere saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. 


Rere menggeleng lemah dan mengatakan bahwa ia belum siap. Ia masih takut jika mendapat penolakan. Saran Rere, untuk saat ini mereka harus fokus pada keluarga Nicky dulu. Barulah setelah itu memikirkan ke depannya akan bagaimana. 


"Ya sudah, sekarang kita tidur dulu setelah itu menjenguk mama dan papaku." Nicky memberi perintah dan langsung disetujui oleh Rere.


Setelah hampir dua jam beristirahat, mereka pun menuju ke pemakaman untuk berkunjung ke makam orang tua Nicky. Di tempat tersebut, tangis Nicky pecah. 


Ia merasa tidak berguna sebagai anak. Ketika orang tuanya meninggal saja, Nicky sampai tidak mengetahuinya. Lelaki itu terus saja meminta maaf kepada orang tuanya meski hanya batu nisan yang menjadi saksi bisu. Nicky berjanji akan membalas apa yang dilakukan oleh Bibi Gracia dan juga akan mengambil alih semua harta mereka. 


Wanita serakah itu harus mendapat pembalasan yang setimpal. 


Tangan Nicky terkepal erat dengan rahang mengetat. Apa pun caranya akan ia lakukan. Rere yang melihat kemarahan suaminya pun langsung mengusap punggung lelaki itu dengan lembut. 


"Kau harus mengontrol emosimu. Jangan sampai kelewatan. Ingat, ada aku dan Clay yang tidak ingin kehilangan apalagi jauh darimu," ucap Rere. 


Nicky mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


Ya, ucapan Rere memang benar. Ia harus bisa mengontrol emosinya.