
"Jason," panggil Rere. Wajah wanita itu terlihat memenuhi layar ponsel. Zifana hanya diam dan mengamati dengan jelas. Mata Rere terlihat sembab. Jelas sekali jika wanita itu sering menangis. Hal itu pun sontak membuat Zifana merasa iba padanya.
"Hai, Re. Sebentar aku ke kamar dulu." Jason pun berbicara kepada anak buahnya untuk meminjam ponselnya sebentar saja. Lalu ia menarik tangan Zifana agar segera masuk ke kamar karena ia tidak ingin jika orang tua Zifana ataupun Joshua akan salah paham.
Zifana hanya menurut saja. Menaiki satu persatu anak tangga dengan lesu. Ketika sudah sampai di dalam kamar, Jason pun segera merebahkan diri di kamar dan meminta Zifana agar tiduran di sampingnya. Bahkan, lelaki itu menjadi lengannya sebagai bantalan dan satu tangannya memegang ponsel.
"Ya Tuhan, jangan bilang kau mau pamer kemesraan padaku," protes Rere sembari mengerucutkan bibir.
"Tidak. Aku memang sedang ingin bermanja dengan istriku. Tahulah, pengantin baru itu masih anget dan lengket seperti lem." Jason mencium pipi Zifana tanpa malu. Justru Zifana yang memalingkan wajah karena salah tingkah. Ia yakin, Rere pasti melihatnya tadi.
"Ya, ya, ya. Kau sama seperti Nicky. Setelah menikah dia seperti lem bagiku." Rere terkekeh. Mengingat perlakuan manis Nicky padanya.
"Oh iya, soal Nicky. Bagaimana keadaannya sekarang? Anak buahku bilang dia sudah sadar," tanya Jason.
"Sudah. Sekarang tinggal pemulihan. Aku bersyukur sekali Nicky masih bisa sadar. Aku selalu berdoa supaya dia lekas sehat seperti sedia kala.
"Syukurlah." Rere mengembuskan napas lega, begitupun dengan Zifana.
Walaupun ia terkadang merasa cemburu akan kedekatan Jason dan Rere, tetapi ia juga tidak mau egois dan hati kecilnya masih menaruh rasa kasihan kepada Rere.
"Oh ya, aku sampai lupa. Aku sengaja meneleponmu karena ingin mengucapkan selamat. Ponselmu dari kemarin sama sekali tidak bisa kuhubungi. Semoga hubungan kalian langgeng sampai kakek-nenek, menua bersama dan ya ... pokoknya doa terbaikku untuk kalian," kata Rere langsung diamini oleh kedua orang itu.
Mereka pun mengobrol banyak hal sebelum akhirnya Rere mematikan panggilan tersebut karena suaminya mencari.
"Jason," rengek Zifana. Saat baru meletakkan ponsel, Jason langsung menindih tubuh Zifana. "Aku capek."
"Sama. Aku juga." Jason membalas santai.
"Makanya turun. Kalau kau terus menindihku seperti ini. Aku yakin kalau tubuhku akan makin tipis seperti triplek," celetuk Zifana.
Bibirnya yang mengerucut maju membuat Jason tak kuasa untuk tidak menciumnya.
"Ayo tidur, sebelum kembali ...."
"Hmm." Zifana langsung membalik badan ketika Jason tidak lagi menindihnya. Jason pun melingkarkan tangan di perut wanita tersebut lalu mencium tengkuk Zifana hingga membuatnya meremang seketika.
"Dah tidurlah!"
***
Zifana tidak lagi menaruh cemburu kepada Rere karena ia tahu bahwa hubungan kedua orang itu hanyalah sebatas sahabat. Rere juga sudah hidup bahagia bersama dengan Nicky, dan Jason pun sudah paham bagaimana cara menjaga perasaan Zifana.
Walaupun hubungan mereka sudah resmi sebagai sepasang suami istri, tetapi Zifana masih bekerja sebagai sekretaris Jason. Bukan tanpa alasan, Jason ingin istrinya selalu berada di dekatnya.
Ciee pengantin baru mana bisa jauhan. Beda sama pengantin usang yang mau pergi aja enggak mesti dicari. Wkwkw curhat, nih, bos.
"Kau mau makan apa?" tanya Jason saat jam makan siang sudah tiba.
"Mie ayam ceker," balas Zifana.
"Ya Tuhan, kau memesan makanan itu. Kau tidak ingin steak atau ...."
"Aku bosan. Aku ingin mie ayam ceker dan makan di tempatnya langsung. Sepertinya akan lebih terasa nikmat." Zifana mengusap bibir saat merasa air liurnya sudah menetes.
Jason hendak menolak, tetapi Zifana selalu punya seribu satu cara untuk membuat suaminya luluh. Akhirnya, dengan bermalasan Jason mengajak Zifana. Memenuhi keinginan wanita tersebut meskipun sampai saat ini mereka belum diberkahi garis dua.
Maklum lah, ya. 'Kan masih pengantin baru. Nikmati saja waktu kalian. Hihi.
Jason sebenarnya merasa kesal karena Zifana meminta makan di tempat sembarangan. Harus di tempat langganan wanita itu pula. Namun, demi istri tercinta, Jason pun mengiyakan saja tanpa protes.
"Itu dia!" Zifana menunjuk sebuah warung mie ayam ceker. Lalu bergegas turun dari mobil. Jason pun menyusul wanita tersebut dengan cepat.
Ketika sudah sampai di dalam, Zifana langsung memesan dua porsi mie ayam tanpa menawarkan apakah Jason mau atau tidak. Tak lengkap jika sudah ada mie ayam, tidak ada es teh atau es jeruk.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Zifana yakin, orang kaya di luar sana belum tentu mau makan seperti dirinya. Hihi. Zifana terkekeh sendiri di dalam hati.
"Ya ampun, Zi."
"Kenapa? Kau tidak suka makan di sini?" Zifana mulai sewot. Jason pun mengambil jalan aman dengan menggeleng cepat.
Ingat, wanita itu tidak pernah salah.
Sambil menunggu pesanan datang, Zifana mengambil ponsel dan mengambil gambarnya bersama Jason. Lalu mengupload foto tersebut ke akun sosial medianya. Namun, Zifana menutup wajah Jason dengan stiker buaya warna hijau dan mata bergambar love. Jason yang melihat itu pun langsung tidak terima. Baginya ini tidak baik.
"Kenapa wajahku harus ditutupi, Zi? Apa kau malu punya suami sepertiku?" Jason ngambek mode-on. "Stiker buaya pula, kau pikir aku ini buaya darat."
"Tidak, buaya ini sangat lucu makanya aku memilihnya. Aku justru senang memiliki suami tampan seperti dirimu. Sumpah." Zifana mengerlingkan satu matanya menggoda Jason. Kemudian, menunjukkan dua jari tanda damai setelahnya.
"Lalu?"
"Aku sengaja memasang stiker ini karena aku tidak mau ada bibit pelakor yang ngefollow aku, terus lihat wajahmu dan mereka terpikat padamu. Apalagi sampai merebutmu dariku. Biar mereka tahunya kau adalah buaya darat meskipun sebenarnya bukan. Kau tahu, Suamiku. Aku cuma mau kau menjadi milikku."
Aahh ... mulut Zifana sangat manis sekali sekarang. Membuat Jason gemas dan ingin sekali mengecup bibir wanita itu. Namun, ia harus ingat kalau saat ini mereka sedang berada di tempat umum. Tidak mungkin ia melakukan hal tersebut.
"Ini pesanan Anda, Mbak." Penjual itu menaruh dua mangkuk mie ayam di depan mereka.
"Loh, aku tidak pesan, Zi." Jason heran sendiri saat melihat dua mangkuk tersebut.
"Memang tidak. Aku memesan ini untukku sendiri."
"Ya Tuhan, apa kau sanggup menghabiskannya?" tanya Jason tidak percaya.
"Tentu saja. Tubuhku memang kecil, tapi makanku banyak seperti ...."
"Barongan."
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa."
"Apa Barongan itu saudara kembarnya Barongsai? Nama mereka hampir mirip," celetuk Zifana.
"Hmmm."