ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-49


"Kau kenapa, Zi?" tanya Joshua saat melihat raut wajah adiknya yang mendadak muram ketika sedang bertukar suara dengan Jason. 


Zifana tidak menjawab. Hanya menggeleng lemah bahkan menaruh ponselnya tanpa mematikan panggilan tersebut. Joshua yang merasa curiga pun segera mengambil ponsel sang adik. 


"Hallo, Son. Ada apa?" tanya Joshua masih bersikap biasa saja.


"Jo, suami Rere kecelakaan dan koma. Sekarang ini aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Aku harus menemani Rere karena dia tidak punya siapa pun," sahut Jason. 


Dengan kuat, Joshua mencengkeram ponsel milik adiknya. "Lalu? Bagaimana dengan pernikahanmu? Ingat, besok pagi ijab-kabul akan dilangsungkan dan kita tidak mungkin menundanya." 


"Aku akan berusaha bisa datang sepagi mungkin, Jo. Kalau pun tidak bisa mungkin acara ijab kabul akan ditunda selama beberapa jam." Nada bicara Jason terdengar penuh memohon. 


"Kalau begitu, lebih baik dibatalkan saja. Mumpung belum mulai," cetus Joshua begitu enteng. 


"Kau jangan gila, Jo! Ingat, ini situasi darurat dan kuharap kau jangan egois! Seharusnya kau punya sedikit rasa kemanusiaan!" bentak Jason. 


"Kuharap kau juga tidak egois, Son. Ini bukan soal punya rasa kemanusiaan atau tidak, tapi seharusnya kau tahu mana yang harus diutamakan. Yang kutahu, kau memiliki anak buah yang tidak sedikit untuk melihat keadaan suami Rere tanpa meninggalkan acara pentingmu. Jadi, kutunggu keputusanmu sampai nanti malam. Kalau kau tidak bisa tegas maka aku akan menggagalkan semuanya." 


Joshua langsung mematikan panggilan tersebut. Bahkan, ia juga mematikan ponsel milik adiknya. Sementara itu, Zifana hanya duduk dengan wajah murung. Tidak protes ataupun sekadar membuka suara. 


"Kalau sampai nanti malam Jason tidak juga memberi kabar, maka pernikahanmu dengannya akan Abang batalkan. Apa kau keberatan, Zi?" tanya Joshua penuh penekanan. 


"Jadi apa? Jadi dia bebas meninggalkan acara penting kalian? Daripada dia tidak datang besok saat acara ijab kabul dan kita akan menanggung malu. Lebih baik kita batalkan sekarang juga! Kalau memang dia ingin melihat ke sana, seharusnya dia menyuruh anak buahnya terlebih dahulu. Setelah acara kalian selesai, barulah dia bisa datang ke sana mengajakmu. Harusnya dia mikir!" 


Joshua menunjuk pelipis dengan nada penuh kekesalan. Sungguh, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang tidak bisa bersikap mana yang mestinya lebih dipentingkan. 


Mendengar ucapan sang kakak, Zifana hanya bisa diam menunduk. Tidak tahu harus menjawab apa. Hanya bisa merem*s ujung baju yang dikenakan dan menatap sang kakak dengan sendu. Hatinya merasa bimbang. Ia pun sepemikiran dengan sang kakak, tetapi dalam hati kecilnya juga terbesit rasa tidak tega. 


Ia pun mungkin akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan  oleh Jason ketika mendengar kabar kesedihan yang sedang dialami oleh sahabat kita. 


"Lebih baik sekarang kau istirahat saja. Abang akan bicarakan dengan papa dan mama." Joshua hendak pergi dari sana, tetapi Zifana langsung menahannya. 


"Bang, jangan bilang papa dan mama dulu. Aku tidak mau mereka tahu soal ini. Kita tunggu saja sampai Jason datang. Kalau dia tidak datang maka aku akan menurut pada perintah Abang," pungkas Zifana. 


"Baiklah. Kalau begitu kau istirahat dulu." Joshua mencium kening adiknya lalu pergi dari kamar itu. 


Zifana hanya menatap punggung sang kakak dengan tatapan yang susah dijelaskan. Ketika pintu kamar sudah tertutup rapat, Zifana pun langsung menghirup napasnya secara dalam. Berusaha mengurangi beban yang terasa menghimpit dada hingga membuatnya serasa sesak karena lara. 


Ya Tuhan, tunjukanlah jalan terbaik untukku dan Jason. Jika memang harus dengan perpisahan tidak apa. Aku tidak mau memaksa bersama dengan orang yang tidak pernah menghargai keberadaanku.