ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)

ZIFANA (Kubalas Pengkhianatanmu!)
Zifana-62


"Kak Zi, aku takut kalau Tuan Joshua akan marah padaku karena datang ke acaranya. Pasti dia akan bilang kalau aku ini seorang pengacau," keluh Ruby sejak tadi. Hati wanita itu masih merasa takut. Padahal wajahnya sudah dirias cantik dan hampir selesai.


"Kau tenang saja. Kalau Bang Joshua marah maka suruh dia untuk memarahiku saja," balas Zifana sangat santuy.


"Baiklah. Aku akan berkata seperti itu nanti." Ruby pun merasa sedikit lebih tenang. "Pokoknya awas saja kalau kau tidak mau bertanggung jawab, Kak." 


Sementara itu, Jason berpamitan ke luar dari salon karena mendapat panggilan dari Joshua. Sudah berapa puluh kali lelaki itu menghubunginya, tetapi Jason memang sengaja tidak menerima. Mengikuti ide sang istri untuk mengerjai kakak iparnya.


"Jason! Kau benar-benar sialan! Kau bawa Ruby ke mana?" Joshua langsung berbicara dengan nada tinggi padahal Jason belum membuka suara sama sekali.


"Aku tidak tahu. Kenapa kau bicara aku yang membawa Ruby? Kau jangan asal tuduh, Jo," tanya Jason berpura-pura. Berusaha menahan tawa karena ia yakin sekarang ini Joshua sudah sangat kesal. Jika berada di dekatnya, sudah pasti ia akan mendapat amukan lelaki tersebut. 


"Kau bilang tidak tahu? Rasanya aku ingin merobek mulutmu! Kau pikir aku bisa kau bohongi dengan mudah!" Lelaki itu masih membentak, tetapi Jason hanya terkekeh. "Aku sudah menyiapkan kejutan untuknya, tapi kau hancurkan semuanya! Dasar adik ipar laknat kau itu!" Suara Joshua masih memburu. Bahkan, deru napasnya bisa terdengar jelas oleh Jason.


"Hahahaha." Tawa Jason meledak dan percayalah kalau hal itu makin membuat Joshua merasa sangat geram. "Memangnya di tempat mana kau menyiapkan kejutannya? Sepertinya kau belum bilang padaku." 


"Jangan berlagak pikun! Aku sudah memberi tahumu dan kau bilang tidak tahu! Sumpah, kau menyebalkan!" bentak Joshua. 


"Ya sudah. Kalau begitu aku tidak jadi membawa Ruby ke tempat itu." Jason berbicara sangat enteng. Joshua pun menggeram marah. 


Di saat Joshua masih akan terus mengomel, Jason langsung mematikan panggilan itu. Membuat lelaki itu kian geram dan berusaha mencari di mana keberadaan mereka. Namun, Jason dengan mudahnya mematikan GPS agar tidak terdeteksi oleh Joshua. 


"Aku sudah siap," kata Zifana dari arah belakang. Jason berbalik dan terpesona pada kecantikan istrinya. 


Jarang sekali berdandan membuat Zifana terlihat sangat cantik apalagi dalam balutan gaun hitam elegan. Dengan tidak sabar, Jason segera memeluk istrinya sangat erat. Lalu mendaratkan ciuman di kening wanita itu. 


"Kau cantik sekali," pujinya. Pipi Zifana terlihat merah merona. 


"Kak Zi, jangan pamer kemesraan. Aku sedang galau," sela Ruby merusak suasana romantis itu. Gadis itu juga sudah terlihat cantik. 


"Kenapa galau? Seperti anak ABG saja," tanya Zifana bingung. 


"Aku merasa terlalu berlebihan jika memakai gaun seperti ini. Aku bukan seperti tamu pesta, tetapi ratu di dalam pesta. Bagaimana kalau penampilanku mengalahkan calon tunangan Tuan Joshua. Aku takut dia akan marah," keluh Ruby. 


"Kau tenang saja. Bang Joshua tidak akan marah padamu. Justru dia akan terpesona pada kecantikanmu. Nona Ruby." Zifana justru menggoda. Tidak peduli meskipun Ruby masih terlihat begitu cemas dan khawatir. 


Setelah dirasa sangat siap, Jason pun langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat acara yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Padahal Jason sudah mengetahui di mana acara tersebut akan digelar, tetapi ia berpura-pura tidak tahu tadi karena Joshua memang belum mengatakan di mana tempatnya sebelumnya. Hanya mengatakan bahwa ia akan melamar Ruby. 


Zifana yang tahu sang kakak sedang kelimpungan mencari Ruby pun, segera mengajak Ruby berfoto bersama lalu mengirimkannya kepada Joshua. 


Aku membawa Tuan Putri untukmu, Pangeran. 


Zifana memberi pesan seperti itu untuk membuat Joshua makin kesal. Benar saja, selang beberapa detik ada sebuah panggilan masuk dari Joshua, tetapi Zifana dengan sengaja mematikan panggilan tersebut. 


****


Sungguh, Joshua merasa geram dan kesal kepada adiknya maupun adik iparnya. Ingin sekali ia merem*s mereka berdua karena sudah mengerjai dirinya sampai seperti ini. Namun, dalam hati Joshua merasa lega karena ternyata Zifana mengajak Ruby untuk berdandan. 


Ah, baru lihat foto Ruby yang terlihat cantik dalam balutan gaun itu saja sudah membuat Joshua terpikat. Bagaimana saat mereka bertemu nanti. Joshua tidak sabar ingin melihatnya langsung. 


Sesampai di tempat acara, Joshua turun dari mobil dan bergegas masuk. Namun, ketika sudah sampai di dalam. Yang ada di sana hanyalah orang tuanya dan beberapa kerabat yang sengaja diundang. Joshua sengaja tidak mengundang rekan kerja karena takut jika nanti Ruby akan menolak lamaran ini karena wanita tersebut belum tahu hal ini sebelumnya.


Kalau dirinya ditolak, bisa-bisa ia malu. Tapi, semoga saja tidak.


"Loh, di mana Ruby?" tanya Dyah yang memang sudah mengenal Ruby sebelumnya karena Zifana beberapa kali membawa wanita itu ke rumah orang tuanya. 


"Lagi di jalan, Ma. Putri Mama yang cantik jelita itu sangat menyebalkan. Dia membawa ...." 


"Maaf, kami telat." Suara Zifana berhasil menghentikan ucapan Joshua. Semua mata pun langsung tertuju pada mereka. 


Menyadari banyak pasang mata yang mengarah padanya, apalagi Joshua yang sejak tadi tidak memutuskan pandangannya. Seketika Ruby menunduk dalam. Jemarinya yang bertautan saling merem*s satu sama lain. 


"Maaf, saya sudah menganggu acara kalian." Ruby justru membungkuk hormat dan hendak pergi dari sana, tetapi Joshua langsung menahannya.


"Kau mau ke mana?" tanya Joshua tidak sabar.


"Pulang. Maaf, Tuan. Saya diajak Kak Zifana  ke sini. Padahal seharusnya saya menolak karena ini acara keluargamu. Mungkin ...." 


"Ini acaramu juga. Bukan hanya acaraku," sela Joshua membuat kening Ruby mengerut dalam. 


"Maksudnya?" 


"Ini acaramu juga karena malam ini aku akan melamarmu." Joshua berjongkok di depan Ruby dan menyodorkan kotak cincin tepat di depan wanita itu. 


Ruby terpaku. Masih belum bisa mencerna semuanya. Ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Joshua. 


"I-Ini apa maksudnya?" 


"Kau belum paham apa maksudku?" Joshua berdecak kesal karena Ruby mendadak seperti orang oon. Wanita itu mengangguk lemah. Joshua pun menghirup napas dalam saat akan melanjutkan ucapannya.


"Bisa tolong jelaskan yang sejelas-jelasnya. Aku justru pusing memikirkannya." 


Otak Ruby benar-benar nge-blank. 


"Ruby, aku tahu kita belum lama saling mengenal dan dekat, tapi entah mengapa sejak pertemuan pertama kita, aku sudah jatuh cinta padamu. Berkali-kali aku menepis perasaan itu, tetapi nyatanya aku tidak mampu. Hatiku tetap memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku dan kini aku merasa yakin untuk melamarmu. Ruby ...." Joshua kembali menghentikan ucapannya, sedangkan Ruby menunggu dengan tidak sabar. "Will you Marry me?"