
Setelah menidurkan Clay, Zifana langsung merebahkan tubuhnya di samping bayi itu, sedangkan Jason tidur di belakangnya dan memeluk Zifana dengan erat. Jason bahkan sudah menaruh dagunya di ceruk leher istrinya.
"Kau sedih?" tanya Jason karena sejak tadi tidak melihat Zifana tersenyum meski tipis. Bibir wanita itu terus saja cemberut dan menatap Clay tanpa lelah.
"Aku hanya sedih jika membayangkan harus berpisah dengan Clay. Bayi ini sangat lucu dan sudah kuanggap sebagai anakku sendiri." Zifana mendes*hkan napasnya ke udara secara kasar.
Tangan Jason pun makin melingkar erat di perut istrinya.
"Jangan bersedih. Kita asuh Clay dengan ikhlas. Jika suatu saat Rere mengambil Clay dari kita, itu memang sudah hak dia. Percayalah, kita pasti bisa memiliki bayi sendiri." Jason membalik tubuhnya istrinya, lalu menatapnya lekat. Berusaha menyelami bola mata istrinya yang terlihat sendu.
"Ya, aku akan berusaha ikhlas. Sekarang aku akan menikmati waktu bersama dengan Clay." Zifana memaksa senyumnya.
Ia tahu, ini berlebihan. Namun, entahlah. Baru beberapa hari bersama Clay saja sudah membuatnya merasa senang seperti seorang ibu sungguhan. Ikatan hatinya begitu kuat dan ia sama sekali tidak merasa berat meski merawat bayi itu sangat melelahkan. Apalagi ia yang masih bekerja sebagai sekretaris suaminya.
Jason pun mengusap punggung istrinya sambil memeluknya erat agar wanita itu bisa tidur karena Zifana butuh istirahat yang cukup.
***
Nicky sudah mempersiapkan semuanya. Ia pun harus selalu menenangkan hati Rere jika sedang teringat Clay. Beberapa kali ia meminta Rere agar membatalkan semua rencananya dan tetap tinggal di Indonesia bersama Clay. Namun, Rere menolak.
Entah, Nicky benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
Semakin waktu berlalu maka semakin dekat pula kepergian mereka dan Rere harus bersiap untuk jauh dari Clay. Walaupun begitu, hatinya merasa tenang dan yakin kalau Zifana dan Jason bisa membantu merawat putranya dengan baik.
Ia sangat percaya pada mereka.
Selain itu, Ruby juga dipaksa untuk tinggal di apartemen milik Rere. Sama sekali tidak boleh ikut kembali ke luar negeri karena Nicky khawatir, sang adik akan disakiti oleh bibinya yang serakah.
"Tidakkah Anda memiliki lowongan pekerjaan untukku, Tuan? Sebagai penjaga toko atau apa pun itu. Aku bosan setiap hari harus selalu di apartemen. Sangat jenuh." Ruby mengeluh di depan Joshua.
"Bukankah seharusnya kau justru menikmatinya. Kau bisa bermain ponsel semaumu dan pergi ke mana saja tanpa menunggu hari libur." Joshua menyesap secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas.
"Apa kau tidak dengar kalau aku bilang, aku bosan, Tuan." Ruby mengerucutkan bibir. Lalu meminum jus alpukat di depannya.
"Masa, sih?"
"Masa, sih?" Ruby menirukan pertanyaan Joshua dengan nada dibuat-buat. "Semakin lama aku menjadi tim rebahan maka tubuhku akan melebar. Menggendut seperti badut, pipi tembem seperti apem dan ...."
"Kau ini, astaga, bisa ya bilang seperti itu." Joshua menggeleng cepat. "Nanti kalau aku ada lowongan pekerjaan maka aku akan bilang padamu."
"Tidak apa. Lebih baik sekarang kita makan saja." Joshua berusaha mengusir kecanggungan di antara mereka.
Bukan tanpa alasan. Jujur, dalam hati Jason merasa tersipu dengan apa yang dilakukan oleh Ruby karena baru pertama kali ini ada wanita yang bersikap seperti itu padanya. Benar-benar membuatnya salah tingkah.
Setelah puas dengan acara dinner ala-ala Ruby, Joshua pun segera mengantar wanita itu pulang ke apartemen. Barulah ia pulang ke rumahnya sendiri.
Setibanya di rumah, Joshua langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Bergabung dengan orang tuanya yang sedang mengobrol di sana.
"Kau dari mana, Jo? Tumben jam segini baru pulang," tanya sang papa heran.
"Kencan, Pa." Joshua menjawab tidak sadar sambil memijat pelipisnya.
"Kencan?" Suara Dyah yang meninggi seketika membuat Joshua tersentak kaget. Bahkan, ia baru menyadari kalau tadi salah menjawab. "Kau kencan dengan siapa, Jo? kau sudah punya pacar?"
"Aku ngantuk, Ma. Mau tidur dulu." Joshua langsung berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya karena tidak ingin mendapatkan rentetan pertanyaan yang bisa saja membuat kepalanya berdenyut sakit.
Lelaki itu berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya yang masih terlihat tampan dalam balutan jas meskipun wajahnya sedikit berantakan.
Tiba-tiba bayangan Ruby melintas hingga membuat Joshua menggeleng dengan cepat untuk mengusirnya.
"Kenapa aku malah kepikiran wanita itu." Joshua terus menatap cermin dan ia pun tanpa sadar mengangkat tangan dan membuat tanda cinta dengan jarinya.
"Sarangheo."
Ia tersenyum simpul sambil menirukan apa yang dilakukan oleh Ruby tadi. Namun, setelahnya ia berdecak kesal.
Sepertinya aku mulai gila.
***
Kisah berjudul DEANA, akan rutin update mulai awal bulan, sedangkan DIAMNYA SEORANG MENANTU, kisah itu update suka-suka ya.
Karena hanya sebagai kisah penghibur saja.
Jangan lupa dukungan kalian selalu ditunggu.
salam hangat dari aku, Bestie. Ini hanyalah sekadar pemberitahuan buat kalian.