
"Aku ikut, Bang." Zifana hendak ikut turun untuk bertemu dengan Jason. Ingin memastikan bahwa keadaan lelaki itu baik-baik saja. Namun, langsung ditolak tegas oleh Joshua.
Pasrah. Zifana hanya bisa duduk di kamar dengan perasaan gelisah yang memenuhi relung hati. Ia berdoa semoga Joshua tidak melakukan apa pun pada lelaki yang esok akan sah menjadi suaminya.
Langkah Joshua begitu tegas ketika menuruni tangga demi tangga. Raut wajahnya terlihat sangat datar meskipun hatinya merasa lega karena Jason akhirnya datang ke rumahnya. Ketika sampai di ruang tamu, Joshua langsung menemui Jason yang saat ini sedang duduk mengobrol dengan kedua orang tuanya.
"Jo, di mana Zifana?" tanya Jason. Sampai bangkit berdiri saat Joshua sudah berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah tidur. Kupikir kau tidak akan sampai di sini," ucap Joshua setengah menyindir. Melihat respon sahabatnya yang tidak bersahabat, Jason pun hanya bisa menghela napas panjang.
"Tentu saja aku pasti sampai. Aku tidak mau jika sampai semuanya batal." Jason menjawab tegas.
"Baguslah. Lebih baik kita berbicara di kamarku." Joshua pun berpamitan mengajak Jason ke kamarnya. Lelaki itu hanya menurut saja.
Jason tidak menginginkan ada permasalahan di antara mereka dan hati mereka pun bisa sama-sama saling merasa tenang.
"Son, apa kau yakin akan menikah dengan adikku? Apa perasaanmu sudah pasti untuk Zifana? Kalau kau tidak atau belum yakin, lebih baik kau mundur sebelum semua terjadi. Aku tidak mau jika adikku akan disakiti oleh pria lain apalagi oleh sahabatku sendiri," ucap Joshua setengah mengancam.
"Jo, kau jangan bercanda. Tentu saja aku mencintai adikmu dan serius akan menikah dengannya. Acara pernikahan tinggal besok jadi mana mungkin aku akan menggagalkan semuanya. Jo, jangan berburuk sangka. Aku sudah datang ke sini menuruti perintahmu untuk membuktikan bahwa aku memang serius." Jason berdecak kesal. Tidak habis pikir dengan sikap Joshua yang sangat protective kepada Zifana. Padahal hal tersebut wajar jika sang kakak akan merasa khawatir kepada adiknya apalagi jika itu adalah adik satu-satunya.
"Kalau begitu, sekarang kau pulanglah. Kuharap kau tidak pergi lagi sampai acara kalian selesai." Joshua mengusir sahabatnya. "Aku juga tidak akan membiarkanmu menghubungi Zifana agar kau bisa merasakan jika tidak mendapat kabar darinya."
Dengan lesu, Jason pun bergegas pulang karena ia tidak mau jika ada perselisihkan ataupun perdebatan di antara mereka. Ia ingin acara pernikahannya besok akan berjalan lancar tanpa suatu kendala.
Padahal, dalam lubuk hati Jason, lelaki itu ingin sekali bertemu Zifana, meski hanya sekadar melihat wajahnya saja. Menatap cantiknya wanita itu dan meminta maaf karena sudah membuatnya gelisah. Namun, Joshua benar-benar tidak memberikan kesempatan padanya hingga yang dilakukan Jason hanyalah pasrah dan menerima.
Jason mengirim pesan tersebut kepada Rere. Lalu mematikan ponselnya sampai besok. Jason akan benar-benar fokus pada acaranya tanpa ada gangguan apa pun. Ia tidak ingin jika pernikahannya akan gagal dua kali.
***
Hari ini Zifana bangun pagi sekali, lebih tepatnya terbangun karena ia tidak bisa tidur karena terus kepikiran Jason. Ia sungguh khawatir terhadap lelaki itu. Padahal semalam Joshua sudah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, tetapi Zifana tetap saja merasa tidak tenang jika belum bertemu dengannya.
Setelah bangun dan membersihkan diri, Zifana pun bersiap untuk dirias dan memakai gaun pengantin. Kegugupan nampak terlihat jelas ketika kegelisahan memenuhi relung hatinya. Di sela rasa cemas itu, ia berdoa semoga tidak ada halangan apa pun lagi. Ia berharap semuanya akan berjalan lancar.
Ia ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Ia juga ingin semua menjadi hal indah yang membahagiakan hatinya.
"Kau sudah siap, Zi?" tanya Dyah saat jam sudah menunjuk angka delapan dan sebentar lagi acara ijab kabul akan dilangsungkan.
"Sudah, Ma." Zifana mengangguk pelan. Mengagumi kecantikannya yang terlihat jelas di kaca karena wajahnya sudah selesai dipoles.
"Syukurlah. Jason sedang dalam perjalanan ke sini," ucap Dyah. Zifana hanya mengangguk mengiyakan karena masih fokus untuk menetralkan debaran jantungnya.
Jam sudah menunjuk angka setengah sembilan. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Jason. Membuat mereka seketika merasa cemas. Terutama Joshua dan Zifana. Ada sebersit rasa khawatir jika Jason kembali menemui Rere.
Joshua berusaha menghubungi ponsel Jason, tetapi tidak bisa terhubung sama sekali. Ia terus mencoba sampai beberapa kali, tetapi hasilnya tetap sama saja. Saking geramnya, Joshua sampai merem*s ponsel miliknya.
"Mungkinkah Jason tidak jadi datang ke sini dan memilih untuk kembali menemani Rere," gumam Joshua geram. Jika memang kenyataanya seperti itu, Joshua berjanji tidak akan memberi izin bagi Jason untuk menemui adiknya. Biarlah semua acara itu batal asal Zifana tidak jatuh pada lelaki yang salah.
Begitulah pikir Joshua.