
Reyna Putri Assyifa.
Nama yang tersemat untuk putri pertama Jason dan Zifana. Sebuah nama yang cantik secantik sang pemilik nama tersebut. Pasangan itu sungguh merasakan bahagia yang tidak terkira. Dengan kehadiran Baby Reyna atau yang akan dipanggil Nana membuat hidup Jason dan Zifana terasa begitu berwarna.
Bayi itu menjadi pelengkap kebahagiaan untuk siapa pun. Baru lahir saja, Nana sudah berhasil membuat banyak orang terpikat.
"Lihatlah, Clay. Dia ini calon istrimu, cantik bukan," celetuk Rere saat ia sedang melakukan panggilan video dengan putranya. Padahal Rere ingin sekali mengajak Clay ke rumah sakit, tetapi tidak diizinkan. Akhirnya, Clay hanya bisa bertemu Nana nanti ketika sudah boleh dibawa pulang.
"Kau jangan gila, Re! Putriku baru lahir dan kau langsung berbicara seperti itu. Masih panjang jalan yang harus mereka tempuh," ujar Jason tidak terima.
Namun, Rere justru tergelak melihat wajah kesal sahabatnya. Sepertinya wanita hamil itu sengaja menguji kesabaran seorang Jason yang sekarang sudah resmi menjadi seorang ayah.
"Aku justru senang kalau Clay berjodoh dengan Nana." Zifana menimpali.
"Dengarlah, istrimu saja setuju." Rere tersenyum penuh kemenangan.
Jason tidak menjawab lagi. Hanya melawan Zifana saja sudah kalah apalagi ditambah dengan kekuatan super Rere. Sudah pasti ia akan mengibarkan bendera putih.
Ingatlah pasal bahwa wanita selalu benar. Sekuat apa pun, ia tidak akan pernah menang melawan klan emak-emak.
"Wah, keponakanku," ucap Joshua mengalihkan perhatian mereka. Lelaki itu langsung menggedong Nana bahkan beberapa kali menciuminya.
"Mas, jangan terlalu sering dicium. Kasihan dia." Ruby protes.
"Bilang saja kalau kau cemburu dan ingin dicium juga," ledek Joshua. Mendekati istrinya dan langsung mencium pipi wanita itu dengan penuh sayang.
"Ya Tuhan, kalian pamer kemesraan di sini. Memuakkan." Kali ini, Jason yang protes. Kembali berdecak kesal dan memasang wajah tidak bersahabat.
"Iri? Bilang, Bos!" Joshua juga sungguh pintar menguji kesabaran Jason.
"Kau berani meledekku maka jangan menggendong putriku." Jason mengancam, tetapi ancaman tersebut justru disambut tawa oleh Joshua.
Entah mengapa, mood Jason benar-benar buruk apalagi mereka semua meledeknya membuat Jason makin merasa dongkol saja.
Sungguh, suasana di ruangan itu terasa ramai dan hidup. Mereka merasakan kebahagiaan yang lengkap. Terutama Jason dan Zifana.
Ruby baru masuk kamar, tetapi wajahnya terlihat lesu. Tidak ada semangatnya sama sekali. Joshua yang melihat perubahan raut wajah istrinya pun menjadi heran. Padahal saat di rumah sakit tadi, Ruby terlihat sangat bersemangat. Tanpa ada kesedihan sama sekali. Ia yakin pasti ada yang mengganjal di hati istrinya.
"Kau kenapa?" tanya Joshua karena tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Tidak papa." Ruby menjawab singkat.
Jika wanita menjawab tidak apa-apa, justru itu artinya ada apa-apa. Begitulah bunyi pasal tentang wanita.
"Aku tidak percaya itu." Joshua memfokuskan pandangan pada Ruby yang sudah naik ke ranjang bahkan langsung tidur membelakangi Joshua. "Jangan menutupi apa pun dariku, Ruby. Kau tahu aku adalah suamimu. Kalau memang kau ada masalah atau hal yang mengganjal pikiran dan hatimu maka kau bisa mengatakan padaku."
Ruby menghirup napas dalam. Seolah sedang mengeluarkan beban berat yang terasa menghimpit dada. Entahlah, Ruby merasa dirinya ini terlalu berlebihan, tetapi di sisi lain ia memaklumi kalau wanita memang lebih sering menggunakan perasaan.
"Aku hanya sedih saja." Ruby berbicara dengan suara berat.
"Kenapa?" Joshua naik ke ranjang dan tidur di samping istrinya.
"Kak Zi sudah melahirkan, Kak Rere hampir melahirkan, tapi kenapa aku belum hamil juga. Padahal kita menikah sudah beberapa bulan yang lalu," keluhnya.
"Jangan baperan seperti itu." Joshua memeluk istrinya.
"Sepertinya seru saat sudah memiliki bayi. Aku jadi ingin, tapi sampai sekarang belum juga mendapatkannya." Suara Ruby mulai terdengar bergetar.
"Apa semua wanita sama. Zifana juga dulu mengeluh sepertimu. Memangnya wanita itu kalau sudah menikah langsung ingin punya anak, ya. Padahal, semua itu sudah ada garis takdirnya masing-masing." Joshua menjeda ucapannya sesaat.
Ruby tidak membuka suara lagi. Hanya mendengar nasehat suaminya agar hatinya tenang.
"Menikah dan memiliki anak itu bukan hal yang buru-buru. Yang terpenting itu, kita menikah, hidup saling menyayangi dan mengasihi. Saling mengerti dan menguatkan dalam segala keadaan. Kalau memang kita belum dipercaya untuk mendapat momongan. Ya, tugas kita hanya berusaha dan bersabar saja. Semua ada masanya. Buktinya, Zifana satu tahun lebih usia pernikahan baru saja memiliki momongan."
Joshua mencium kening Ruby sangat lembut. "Kuharap kau mau bersabar dan jangan terlalu memikirkan hal ini. Semakin kau memikirkan justru itu tidak baik untukmu. Kau harus tahu itu."
Ruby mengangguk lemah lalu memeluk suaminya dengan erat. Melepaskan segala kegelisahan hatinya.
Ia tahu ini berlebihan, tetapi hatinya hanya sedih saja. Ia berjanji setelah ini akan baik-baik saja dan menunggu kebahagiaan yang sempurna itu datang.