
Suasana kian menegang saat sudah hampir satu jam berlalu, tetapi Jason belum juga datang ke sana. Acara yang seharusnya sudah berjalan sejak tadi pun, terpaksa ditunda. Yang paling menaruh kemarahan di sini adalah Joshua. Ia berjanji tidak akan menganggap Jason sebagai sahabat lagi kalau sampai lelaki itu tidak datang.
Sungguh, membuatnya kecewa.
"Bang, Jason belum datang juga. Apa dia menemui Rere?" tanya Zifana sedih. Wajah cantiknya yang seharusnya dipenuhi oleh senyum bahagia, kini justru tampak murung dan sedih. Joshua pun segera memeluk sang adik dan berusaha untuk menenangkan wanita tersebut.
"Mungkin sekarang ini sedang dalam perjalanan. Kita tunggu dulu. Kalau dia memang tidak datang maka Abang akan beri perhitungan untuk dia," kata Joshua tegas. Tangannya sudah terkepal erat. Rahangnya mengetat karena emosi yang sudah mulai naik ke ubun-ubun dan hampir sampai ke puncaknya.
"Apa kau tidak bisa menghubungi Jason? Mama khawatir ada apa-apa di jalan," kata Dyah. Yang juga terlihat sangat cemas.
"Tidak, Ma. Nomornya tidak ada yang aktif," balas Joshua kesal.
"Kalau begitu kita tunggu sepuluh menit lagi. Kalau lebih dari itu maka saya akan pulang, Tuan. Maaf, masih ada banyak acara yang harus saya selesaikan hari ini." Pak penghulu mulai tidak sabar. Beberapa kali ia melihat jam tangan seolah seperti sedang diburu waktu.
Semua yang berada di sana pun mendadak tegang. Zifana bahkan rasanya ingin menejrif dan menangis. Jika memang Jason tidak datang maka Zifana tidak mau lagi mengenal lelaki itu. Ia benar-benar akan melupakannya sama seperti ia melupakan Jayden.
"Jo, bagaimana? Apa kau bisa menghubungi Jason atau kedua orang tuanya?" tanya papanya Zifana, mulai ikut merasa cemas.
Joshua menggeleng cepat. Ia pun sama tegangnya bahkan dalam hati terus saja mengumpati sahabatnya. Ia bahkan sudah lelah menghubungi Jason dan tidak akan menghubunginya lagi. Biarlah menunggu waktu sampai Jason menghubungi balik atau datang ke tempat tersebut.
Kalau sampai kau tidak datang maka aku akan sangat ....
"Maaf, aku terlambat." Jason datang dengan napas tersengal. Dadanya terlihat naik turun bahkan keringat tampak membasahi dahi. Kedatangannya mengalihkan perhatian semua orang yang berada di sana. "Maaf, Zi. Aku terlambat. Tidak bisa datang tepat waktu. Mobilku terjebak macet dan aku harus naik ojek dan sialnya ban motornya malah kempes. Akhirnya aku harus terpaksa berlari sampai di sini," jelasnya. Napasnya masih tidak beraturan.
Zifana mengusap air mata dengan cepat agar tidak merusak riasan di wajahnya. Jason pun langsung menangkup wajah wanita itu tanpa peduli pada tatapan orang-orang termasuk Joshua yang seperti akan menerkamnya. Bukan karena marah, tetapi karena gemas dengan Jason yang sudah membuat suasana menjadika kalang kabut seperti tadi.
"Jangan menangis, Zi. Maaf, kalau aku sangat menyakitimu dan susah membuatmu khawatir." Jason berbicara lirih dan penuh kelembutan.
"Aku tidak papa. Aku menangis karena terharu. Terima kasih kau sudah datang menepati janjimu. Kupikir kau tidak akan datang," ucap Zifana.
"Aku pasti datang. Ya, walaupun penuh perjuangan saat datang ke sini." Jason terkekeh sendiri.
"Kau ini orang kaya, tapi kadang bodoh, Son! Uangmu banyak, kenapa kau tidak menyewa pengawalan? Agar tidak terjebak macet," cibir Jason. Wajahnya masih nampak kesal.
"Mana aku tahu kalau keadaan bakal seperti ini. Kupikir semua akan semulus jalan tol, tapi nyatanya ... sudahlah. Aku mau minum dulu sebelum mulai ijab kabul, napasku hampir habis tadi," kata Jason. Menyuruh salah seorang pelayan untuk mengambilkan air minum untuknya.
Semua menggeleng melihat tingkah calon pengantin pria yang tidak ada jaim-jaimnya. Selang beberapa lama, orang tua Jason tiba di tempat acara bersama dengan keluarga yang lain.
Raut wajah Jason yang barusan tenang kini mulai terlihat menegang ketika ia sudah berjabat tangan dengan papanya Zifana. Tinggal menghitung mundur, sontak membuat Jason memejamkan mata sembari menghirup napas dalam berkali-kali.
Jangan sampai ia salah saat mengucap ijab kabul. Jangan sampai ia mengacaukan semua acara ini.
"Anda sudah siap, Tuan Jason?" tanya Pak Penghulu. Jason mengangguk cepat. "Baiklah, kalau begitu acara ijab kabul langsung kita mulai saja."
Bismillahirrahmanirrahim.