Three Siblings Indigo

Three Siblings Indigo
Kejadian yang menimpa Rendy


Di sekolah Rendy merasa gelisah entah apa yang membuatnya gelisah, di jam pelajaran Rendy berusaha mengabaikan hantu wanita berbaju merah juga bertaring. Rendy memakai baju putih merah dengan dasi.


Rendy tidak memiliki altar seperti kedua kakaknya jadi ia jarang di bully tapi bocah berusia 10 tahun itu memiliki pemikat yang membuatnya memikat gadis seusianya sejak umur 6 tahun, pemikat itu di wariskan dari mendiang ibunya sedangkan ia bisa melihat tentang aura atau warna tubuh seseorang yang di wariskan dari Nathan.


Hantu perempuan berbaju merah itu selalu menjahili Rendy dengan meniupkan sesuatu membuat buku-buku Rendy terbang, tapi Rendy tetap tak menghiraukannya sampai hantu perempuan berbaju merah itu muak.


Akhirnya salah satu murid perempuan dengan rambut kepang samping di rasuki dan mulai tertawa, Rendy yang tak mau mencari resiko memilih keluar kelas. Para murid terutama yang anak perempuan di suruh keluar kelas.


Hantu yang merasuki anak perempuan itu berkata dengan suara khas nenek-nenek juga dengan suara berat, “Rendy biarkan aku mengikuti mu!!” ucapnya. Seorang guru yang bisa ilmu kebatinan berusaha mengeluarkan mahluk itu dari tubuh murid perempuan tersebut.


Murid perempuan yang di rasuki tadi berteriak meronta bahkan memohon ampun pada Pak Guru, Rendy hanya bisa memejamkan mata sambil melihat apa yang terjadi. Padahal sebelumnya murid perempuan yang bernama Tania itu sedang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya.


Hantu itu ingin mengikuti Rendy tapi bocah itu menolaknya dengan alasan sudah punya banyak pengikut, keadaan Tania sangat lemas ia di bawa ke UKS dengan di temani salah satu perawat.


Kasihan sekali anak perempuan itu demi ambisi hantu bocah itu menjadi korban, jam pulang sekolah Rendy pulang dengan berjalan kaki bersama teman-temannya ia sekalian ingin ke makan sang ibu karena sangat merindukannya.


Di perjalanan Rendy merasa ada yang yang mengikutinya tapi malah ia hiraukan dan tak di pedulikan jadi bocah berusia 10 tahun itu melanjutkan perjalanan. Rendy menaiki angkutan umum untuk sampai ke makam sang ibu dengan masih mengenakan seragam sekolah.


Saat naik angkutan umum Rendy berhenti di toko bunga untuk membeli Bungan mawar kecil seharga sepuluh ribu, ia turun dari angkutan umum membayar dua ribu. Saat sudah membelinya ia menaiki lagi angkutan umum ke arah rambutan.


Sesampainya di makam sang ibu hari sudah menjelang sore ia tak peduli karena rasa rindu bocah itu pada sang ibu yang tak tertahankan ia melihat makam sang ibu yang sudah penuh rerumputan.


Anak berusia 10 tahun itu membersihkan makam sang ibu seorang diri, ia membawa tisu dan air pertama ia mencabuti rerumputan lalu mengelap makam sang ibu yang keramiknya berwarna hitam.


Rendy membaca surah pendek untuk ibunya yang bernama Nadia Sabrina, setelah selesai dengan rasa rindunya bocah yang masih berseragam putih-merah itu pamit pulang tak lupa ia menancapkan setangkai mawar di atas makam sang ibu.


“Mama aku pamit pulang dulu ya,” pamitnya sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu.


Rendy yang ingin pulang seperti di ikuti oleh kucing hitam seolah ada sesuatu, saat Rendy ingin mendekati penjaga makam itu. Rendy melihat matanya merah dan seperti ada hal aneh.


Rendy di buat kesasar di kuburan itu sampai senja, bocah yang masih berseragam putih merah itu mulai ketakutan karena banyak mahluk berwujud aneh selama hidupnya belum pernah ia mengalami hal ini.


Rendy yang masih takut tiba-tiba tangannya di tarik dan tak tahu harus kemana, ia melihat sosok nenek yang membawanya duduk lalu menyuguhkan sesuatu. Bocah itu menolaknya meski sudah di paksa oleh nenek itu.


“Gak Nek, aku gak lapar.” Rendy yang memiliki kemampuan Indigo melihat apa yang di suguhkan nenek itu. Di depan matanya ia melihat kotoran manusia juga air yang berbau pesing.


Karena Rendy yang keras kepala dan kekeh tak ingin nenek itu lalu mengubah wujud aslinya, bocah yang masih berseragam putih merah itu melihat sosok wanita tinggi besar, rambutnya kusut dan panjang, juga p*yudara menjuntai panjang.


Rendy langsung berlari ke pojokan lalu menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya, energi sosok ini begitu kuat Rendy yang masih kecil belum bisa menandinginya. “Bang Satria!! Kak Dania!! Papa!! Toloooong!!” teriak Rendy.


************


Di rumah Dania menghawatirkan adiknya. “Aduh Rendy kok belum pulang ya,” ujar Dania dengan khawatir.


Dania segera menuruni tangga melihat kakaknya malah asyik ngobrol mengundang teman-teman kesatuannya bertugas sambil menyalakan motor, “astagfirullah emang kelakuan ya?” dengus gadis berusia 15 tahun itu.


Nathan tidak di rumah ia ada tugas di kantor yang membuatnya tidak kunjung pulang, Dania yang jengkel pada kakaknya malah melempar panci keluar membuat canda ria para tentara berpangkat itu terhenti.


“Bener-bener ya lu Bang?!” maki Dania.


“Kenapa sih lu!!” balas Satria tak terima.


“Bang lu gak khawatir apa?! ama Rendy dari tadi siang belum pulang!!” maki Dania pada kakaknya.


“Hah!! Dari tadi siang?!” ujarnya.


“Ini udah jam tujuh malem!! Kalo sampai kejadian apa-apa ama Rendy gimana?!!” ujar Dania dengan suara lantang keras. Satria memaki Dania dengan sebutan bocah yang tak punya sopan santun.


Dania yang sakit hati dengan ucapan kasar kakaknya memilih masuk rumah ia menganti pakaiannya dengan jeans dan jacket lalu menggunakan masker tak lupa wajahnya di tutupi masker, dan turun dari tangga. “Lu mau kemana?” tanya Satria.


“Gua mau cari Rendy!! Lu terusin aja mabar lu!!” sindir Dania lalu pergi meninggalkan kakaknya menuju gerbang.


Saat ingin pergi tangannya di tahan oleh Satria di ikuti oleh Amir dan yang lainnya, “kita ikut!” ucap Satria.


“Baru sekarang lu nyadar dari tadi siang kemana aja?!” makinya. Saat perdebatan antara Dania dan Satria berlanjut Amir selaku bawahan ayah mereka menengahi.


“Udah!!” lerai Dokter Amir.


“Ini bukan waktunya berkelahi!! Satria kita akan bantu kau cari adik kau,” ucap salah satu teman kesatuannya.


Tangan Dania di Tarik oleh Amir agar tidak ada yang mengganggunya mahluk halus karena Cakra di kepala yang Dania miliki akan sempurna saat usia menginjak 16 tahun, “Dania lu ikut Amir biar gua ama temen gua naik mobil.”


“Bang sebentar!!” perintah Dania.


“Apalagi!!” maki Satria yang emosi dan kesal.


“Kita gak tahu keberadaan Rendy dimana?” ujarnya.


“Iya juga ya,” kata Satria.


“Yaudah Bang Satria ama Bang Amir bantu terawang,” perintah Dania.


Mereka bertiga melihat Rendy yang masih memakai seragam sekolahnya di buat kesasar di makam sang ibu, setelah melihat apa yang semua terjadi mereka bertiga saling menatap dan langsung buru-buru.


“Ada apa? Gimana?” teman-teman kesatuan menanyakan tapi Satria menjawab nanti gua ceritain di jalan kalo sekarang gak bakalan sempet, akhirnya para teman Satria menaiki mobil sedangkan Dania menaiki motor berboncengan bersama Dokter Amir.


Dania merasakan perasaan aneh dengan Dokter Amir ia tak bisa berbuat apapun ia hanya cukup fokus dengan sekolahnya, Dokter Amir juga merasakan perasaan yang sama tapi sayang keduanya berbeda usia yang cukup jauh yakni 13 tahun.


Mereka semua menuju ke makam malam-malam tapi ada juga yang takut tapi terpaksa ikut karena tidak ingin nanti di ledekin dengan sebutan penakut, Dania perasaannya kalut di satu sisi ia menikmati saat bersama Dokter Amir tapi disisi lain ia amat mengkhawatirkan adiknya.


Sesampainya di makam beruntung belum di tutup mulai di tutup jam 9 malam mereka semua masuk makam dengan di bantu penjaga kuburan, Dania membawa senter dan ponselnya mereka berpencar.


Tapi saat mencari Dania melihat kucing hitam ia memperhatikan kucing itu. Lalu kucing itu seolah memberikannya petunjuk untuk mengikutinya, “Bang!! Coba kita kesana!!” perintah Dania.


“Lu yakin?” ujar Satria meyakinkan.


“Yakin aja ama gua,” ucap Dania.


Mereka semua mengikuti kucing hitam itu di area tengah-tengah makam ada pohon besar dan usianya sepertinya sudah puluhan tahun, “Neng jangan!!” peringatan penjaga makam membuat Dania menoleh dan menghentikan Langkah kakinya.


“Kenapa Pak?” tanya Dania.


“Itu teh pohon besar ada wewe gombelnya.” Mendengar itu semua Satria dan teman-teman kesatuannya langsung merinding dan mendekat satu sama lain, kecuali Amir dan Dania yang tetap kekeh dengan pendiriannya.


Sayang sekali meskipun ketiga saudara itu memiliki kemampuan Indigo tapi Satria tak memiliki keberanian seperti yang di miliki Dania sang adik.


#Bersambung