
Dania pagi ini menyisir rambutnya ia memakai seragam batik hijau dan rok biru, ia memejamkan matanya lalu menatap ke cermin yang tadi malam membuatnya mengalami hal aneh.
“Victoria?” batinnya bertanya. Dania melanjutkan menyisir rambutnya lalu ia mengingat saat pria Belanda dalam pingsannya memeluknya ia malah mengingat sikap Nathan yang cenderung berbalik dengan pria Belanda itu.
“Ya allah seandainya Papa punya sikap kaya tuh pria Belanda itu pasti hamba akan bahagia,” kata Dania dengan penuh harapan. Selesai berias diri ia mengambil tas sekolahnya lalu pergi sarapan.
Kakinya menuruni tangga menuju dapur yang mengarah kolam renang dengan di batasi pintu kaca, Nathan makan dengan daging steak dengan kentang. “Aku berangkat pagi ini ada apel(upacara) pagi,” kata Nathan berdiri dari kursi lalu pergi berlalu.
Satria hanya menghembuskan nafas lelah melihat tingkah ayahnya yang kurang memahami Dania, seharusnya Nathan bisa menjelaskan secara kasih sayang kepada Dania. Satria hanya menganggukkan kepalanya memberikan ketenangan pada adiknya.
“Rendy ayo kamu papa antar!” kata Nathan tanpa memanggil atau menunggu putrinya yang malang.
Rendy segera memasukan bekal makan siangnya lalu mengambil tas sekolahnya, “Kak Dania gua duluan.” Rendy meninggalkan meja makan ia hanya sarapan sedikit menatap kakaknya. Setelah kepergian ayah dan adiknya Satria mendekati Dania lalu menyendokan daging panggang untuk adiknya yang akan sarapan.
“Bang Satria udah gak perlu lakuin ini gua bisa sendiri,” ujar Dania pada kakaknya sangat dekat seperti memiliki ikatan batin.
“Gua ini Abang lu? Gua sekarang punya tanggung jawab yaitu lu,” ucapnya.
“Makasih Bang buat semalem lu nolongin gua,” ungkap Dania kepada kakaknya.
“Yaudah abisin dulu sarapannya nanti telat, soal lu berangkat gua anter jangan naik gojek.” Satria duduk di sebelah adiknya yang berseragam batik hijau dan rok biru.
“Bang semalem gua ngalamin hal aneh,” kata Dania sambil mengunyah daging bakarnya.
“Hal aneh apa?” tanya Satria sambil mengerutkan keningnya.
**********
Sesampainya di sekolah Dania menyalami kakaknya. “Hati-hati belajar yang bener,” ujar Satria sambil meledek adiknya lalu mencubit pipinya dengan gemas.
“Iya Abangku.” Dania lalu berlari menuju gerbang sekolah, Satria hanya menatap adiknya sambil mengendarai motornya ia mengingat tadi saat Dania bercerita tentang hal yang dialaminya semalam.
“Lu harus cari tahu sendiri,” batin Satria. Sebenarnya pria berusia 25 tahun itu tahu sebuah rahasia tapi ia tak mau bercerita pada adiknya, biarkan Dania belajar melatih kemampuan indigonya.
Di rumah Satria masuk ke dalam rumah ia mengerutkan keningnya melihat Bi Jum menatapnya dengan tatapan tajam dan marah, “Bi Jum? Ngapain disana?” tanya Satria. Tiba-tiba pria itu merasa hal aneh pada asisten rumah tangganya.
“Bi Jum?” tanya Satria tiba-tiba wanita berusia paruh baya itu mengeluarkan pisau matanya berubah menjadi mata seperti hewan reptile bermata hijau, “Bi Jum kalo mau ngeprank mainnya gak lucu!!" kata Satria dengan kesal.
"Kamu keturunan pembunuh!!” makinya sambil mendekat menodongkan pisau dapur, Satria melihat tubuh pembantu di rumahnya berubah menjadi seperti bersisik buaya. “Ibumu pembunuh Kang Mas Argani!!” makinya.
“Bi Jum!! Tolooooongggg!!” teriak Satria pada siapapun di rumah.
Tiba-tiba Dokter Amir seorang ajudan Mayor Jendral Nathan Aditya Rejaya, “Letnan Satria?!” tanya Amir yang datang untuk memberikan laporan tapi ia melihat Bi Jumi. “Astagfirullah!! Bi Jumi sadar!!” peringat Dokter Amir.
Dokter Amir berusia 28 tahun pangkatnya sudah Kolonel. Amir dan Satria akhirnya membacakan doa membuat jin yang merasuki tubuh Bi Jumi kepanasan dan berteriak, lalu pisau dapur di tangannya terlempar ke lantai.
Tubuh Bi Jumi lalu merangkak berjalan seperti buaya matanya di penglihatan Satria seperti Reptil berwarna hijau, tapi di penglihatan Amir di dalam diri Bi Jumu di rasuki perempuan yang sepertinya menyimpan dendam berpuluh tahun pada ayah atau ibu Satria.
“Jason putra dari Nadia Sabrina,” ujarnya dengan suara perempuan tapi serak.
“Ayeuna kaluar!! Anjeun ngagunakeun awak awéwé polos pikeun dendam!!” perintah Amir karena pria itu tahu jin ini adalah Kanjeng putri dari kerajaan Anggalarang yang terletak di daerah bantaran sungai di daerah Bogor.
“Kamu keluar atau kamu saya bakar!!” ancam Amir pada iblis itu.
Akhirnya Satria yang sudah emosi menarik ubun-ubun kepala Bi Jumi lalu wanita itu berteriak kesakitan dan akhirnya Iblis yang merasuki tubuhnya keluar, Bi Jumi lemes dia tidak sadar kepalanya sakit.
Satria dan Amir membantu Bi Jumi berdiri dan membantunya duduk di sofa ruang tamu yang mengarah ke pintu depan, “aduh saya tadi ngapain ya?” tanya Bi Jum dengan bingung dan ia mengeluh sakit kepala.
Satria memberinya minum yang sudah di bacakan doa, setelah meminumnya. “Tadi saya lagi mengupas bawang mau saya taro di tempat tupperware biar gak busuk, kok saya bisa ada disini ya? Bi Jumi bertanya pada dua orang Perwira itu.
“Yaudah Bi Jumi istirahat aja di kamar.” Satria memberitahu Bi Jumi.
“Tar dulu saya mau rapikan dapur mana berantakan nanti Tuan bisa marah,” ucap Bi Jumi.
Amir memberi kode pada Satria untuk mengikuti Bi Jumi agar tak kerasukan lagi, setelah semuanya selesai Bi Jumi masuk ke kamar yang terletak dekat dapur. Amir menatap anak atasannya dengan selidik.
“Jason Van Buthjer,” ucapnya.
“Iya itu nama Altar gua emang kenapa?” kata Satria dengan lelah.
Amir dan Satria sudah seperti Circle atau lingkaran geng waktu mengikuti Taruna, “soal keris itu lu taro mana?” tanya Amir pada Satria.
“Kamar gua...kemaren tuh keris hampir mau nyakitin Dania ama Rendy,” kata Satria sambil memijat kepalanya tanda ia hampir menyerah dan lelah.
“Serius lu?” tanya Amir membeo.
“Tigarius, kalo lu mau ambil bawa pulang paling lu di selengket ama tuh penunggu dalem keris.” Satria memijat pelipisnya sambil mengejek Amir.
Mereka berdua jika sudah di luar jam kerja sudah seperti anak geng yang sangat akrab tapi jika di dalam kerja atau tugas Satria memanggil Amir dengan sebutan Komandan, “udahlah lu pokoknya jagain aja Dania.”
Amir mengeluarkan rokok dari dalam saku celananya lalu menyalakannya sambil menatap Satria yang rebahan di sofa panjang, “laper nih pesen gofood dong.” Ide Satria, “mau pesen apa?” tanya Amir yang masih setia menghisap rokoknya.
“Gua mau Nasdang atau MCD,” ucap Satria.
Satria dan Nathan sama di masa muda mereka tidak seperti anggota lainnya yang cenderung bicara bahasa Indonesia dengan baku, karena Satria hidup dengan sangat gaul dan sangat hits.
Bahkan Satria sering bicara dengan Dania dan Rendy tentang bahasa gaul yang sekarang sedang tren, keduanya memilih memesan nasi padang dengan ikan bakar dan belut dua lauk sekaligus.
Keduanya makan dengan lahap, “eh BTW nanti adek lu balik mau makan apa? Bi Jumi ‘kan lagi lemes?” tanya Dokter Amir.
Satria yang tengah mengunyah dan menyuapkan nasi padang ke mulutnya bicara dengan mulut yang penuh nasi. “Yaelah gampang gua kasih duit aja pesen Hokben atau Pecel lele, Dania ‘kan Wibu.” Satria bicara dengan mulut penuh.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama bermain mobile legend, makan nasi padang dan lainnya. “Nanti Komandan pulang jamber?” tanya Amir pada Satria.
“Yaelah paling balik bentar lagi bawa Friendnya,” ucap Satria
“Oh yaudah gua tungguin,” ucapnya.